Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Thursday, November 12, 2009

Mujahadah Atas Agama


H. Cecep Firdaus
Syuro Indonesia
Bayan Musyawarah Indonesia

Assalamualaikum Wr. Wb.

Para Hadirin yang mulia, untuk dapat melihat sesuatu yang ada disekitar kita ini diperlukan dua sinar :

1. Sinar Luar Matahari, Bulan, Lampu.
2. Sinar dari Diri kita sendiri Mata yang terbuka dan sehat

Diperlukan 2 sinar ini untuk dapat melihat, jika salah satu rusak maka tidak bisa kita melihat. Contoh disiang hari ada matahari bersinar tapi jika mata kita buta atau ditutup, maka kita tidak akan bisa melihat. Walaupun sinar luar ada tapi mata kita buta atau mata kita ditutup, maka kita tidak akan bisa melihat. Begitu juga sebaliknya jika mata kita sehat tapi lampu di kamar tidak ada, matahari tidak ada, bulan tidak kelihatan, maka kita juga tidak akan mampu melihat. Jadi untuk dapat melihat diperlukan dua sinar ini.

Demikian pula untuk dapat memahami agama diperlukan 2 sinar :

1. Sinar luar Al Quran dan Hadits
2. Sinar dalam Mata Hati kita terbuka

Baru bisa paham agama jika ada 2 sinar ini. Kalau hanya diajarkan saja Quran dan Hadits tapi mata hati kita tertutup, tidak terbuka, maka kita tidak akan bisa paham agama. Saat ini banyak di dunia barat, di Eropa ataupun Amerika, di universitas2 mereka ada pelajaran Islamology diajarkan Al Quran dan Hadits. Namun yang belajar Quran dan Hadits ini tidak ada Iman dan tidak Islam sebab mata hatinya tertutup. Rasullullah SAW, untuk memberikan kepahaman agama pada waktu itu kepada sahabat, menempuh jalan kedua-duanya yaitu mengusahakan sinar luar dan sinar dalam. Sahabat RA diajarkan Quran dan Hadits oleh Nabi SAW, tapi juga diusahakan agar mata hati mereka terbuka sehingga nur daripada Quran dan Hadits ini dapat masuk ke hati mereka. Baru Sahabat RA bisa memahami agama.

Cara membuka mata hati ini adalah dengan bermujahaddah. Namun kalau Al Quran dan Hadits tidak diajarkan maka tetap dia akan tersesat. Di kalangan orang2 hindu dan budha banyak Mujahaddah dilakukan, ada yang bertapa di goa2, duduk diatas batu, ada yang berpuasa berbulan2, dan lain-lain, tapi tidak diajarkan Al Quran dan Hadits, maka dia akan tetap tersesat. Didalam islam yang diajarkan oleh Nabi SAW selain diajarkan Al Quran dan Hadits tapi diajarkan pula bagaimana mata hati dapat terbuka. Bukan dengan bertapa di dalam gua ataupun duduk diatas batu tapi dengan bersusah payah dalam mendakwahkan agama Allah Swt. Hati para sahabat terbuka ketika terjun dalam dakwah dengan bermujahaddah dalam memperjuangkan agama Allah. Usaha ini di dalam Al Quran disebut sebagai Tazkiyah, Pembersihan Jiwa. Kalau kita ingin memahamkan agama kepada umat hanya dengan mengajarkan Quran dan Hadits tanpa membuka mata hatinya tetap umat tidak akan paham agama.

Sekarang banyak umat islam tamatan perguruan tinggi, tamatan pesantren, tamatan madrasah, tapi masih berani meninggalkan sholat. Dia paham Quran dan hadits dan hafal, tapi matanya masih melihat yang diharamkan. Kalau diangkat sebagai pejabat masih berani Korupsi. Kenapa ? karena mata hati mereka tidak terbuka. Orang-orang terdahulu disamping mengajarkan Al Quran dan hadits, tetapi juga di ajak bermujahaddah dalam memahami agama. Orang-orang terdahulu bemujahaddah dalam agama, dari para sahabat ra, tabiin-tabiin, para wali-wali Allah, mereka semua bermujahaddah dalam agama, baru mereka bisa menangkap Nur daripada Al Quran dan hadits, baru mereka paham. Sehingga bisa membawa mereka kepada pengamalan.

Kelemahan kita di hari ini, kepada umat ini kita hanya penekanan pada Al Quran dan Hadits, sinar luar saja, tetapi tidak ada penekanan pada pembukaan mata hati. Sehingga orang ada belajar jadi alim, pandai ceramah, dan sebagainya, tetapi islam tidak ada pada dirinya, tidak bisa mengamalkan. Ini kelemahannya karena tidak ada Tazkiyah, tidak ada usaha pembersihan jiwa, tidak ada mujahaddah di jalan Allah Swt. Mari kita lihat faktor sejarah : Bagaimana Rasullullah Saw memahamkan agama kepada para sahabat RA, bagaimana sahabat RA memahamkan kepada para Tabi’in, bagaimana para Tabi’in memahamkan kepada tabi’in tabi’in, dan seterusnya. Ini asbab faktor mujahaddah di jalan Allah ini tidak ditinggalkan oleh mereka. Semenjak bermujahaddah ditinggalkan, akibatnya umat tidak faham agama. Akibatnya pemahaman umat berbeda-beda menurut pemikirannya masing-masing.

Sekarang dimana-mana ada keinginan umat islam untuk memiliki pemerintahan yang adil, yang menjalankan syariat islam, inilah cita-cita dari umat. Tapi masalahnya perjuangan kearah itu mereka tidak pahami, mereka menggunakan cara sendiri. Mereka memilih orang-orang dengan mendirikan partai, memilih di Pemilu, dsb. Mereka memilih orang2 yang menurut pendapat mereka dan menurut pemikiran mereka bisa adil dan bisa amanah. Ternyata dari pengalaman setelah terpilih orang yang mereka anggap baik, taunya sama saja. Ini karena adanya pemerintah yang adil bukan dengan cara seperti itu.

Menurut Al Quran dan Hadits, apabila umat ini taat kepada Allah Swt, menjalankan agama secara sempurna, maka Allah akan turunkan rahmat diantaranya Allah akan angkat pemerintahan yang adil. Jadi pemerintahan yang adil ini adalah karunia dari Allah Swt kepada masyarakat yang taat kepada Allah. Namun jika masyarakat ini mungkar, tidak taat kepada Allah Swt, maka Allah akan turunkan adzab, berdasarkan Al Quran dan Hadits, salah satu adzab itu adalah Allah akan angkat pemerintahan yang tidak adil, yang dzalim dan yang khianat. Kita ini mau berusaha mendirikan pemerintah yang adil ditengah-tengah masyarakat yang tidak taat pada Allah, yang mungkar, ini sama dengan melawan sunnatullah. Tidak mungkin terjadi dan tidak pernah terjadi. Ini sudah menjadi ketetapan Allah Swt kalau manusia tidak taat maka Allah akan hukum kita diantaranya dengan mengangkat pemerintahan yang dzolim. Namun jika masyarakatnya taat kepada Allah sebagai rahmat daripada Allah, maka Allah akan angkat pemerintahan yang adil. Jadi karena kita tidak paham kepada agama, perjuangan-perjuangan menuju arah situ, bukan pada arah yang benar, tetapi berada pada arah yang salah.

Hari ini ada juga yang ingin menegakkan yang Haq, dengan cara menghapuskan kebathilan yaitu dengan cara diperangi, dibunuhin, tempat-tempat mereka dihancurkan. Ini bukanlah yang dicontohkan oleh Nabi Saw dan para sahabat RA. Nabi SAW diutus bukan untuk membunuh orang2 penyembah berhala atau peminum arak. Pada waktu itu oang-orang arab adalah para penyembah berhala dan peminum arak, berbagai macam pelanggaran dan kemakiatan dilakukan mereka, tapi Nabi SAW tidak diperintahkan untuk membunuh mereka. Namun yang dilakukan Nabi SAW adalah bermujahaddah berdakwah mengajak mereka kepada Iman dan taat kepada Allah. Baru Allah berikan mereka Hidayah dan kepahaman agama. Sehingga yang tadinya penyembah berhala dan peminum arak menjadi orang-orang yang taat kepada Allah Swt. Demikianlah apabila mata hati kita tidak terbuka untuk memahami agama sering terjadi kesalah pahaman. Memang diantara perintah Allah dalam Al Quran salah satunya adalah berperang dengan orang kafir. Namun Timingnya harus diperhatikan, karena kata ulama :

“Al Qital qobla Dakwah as sholah Qobla Wudhu”

Artinya :
“Berperang membunuh orang kafir tanpa dakwah seperti sholat tanpa wudhu”

Kalau kita sholat tanpa wudhu tidak akan diterima. Walaupun tingginya nilai sholat tapi kalu tanpa wudhu maka tidak akan diterima. Katakanlah Jihad berperang itu tinggi nilainya disisi Allah tetapi kalau tidak ditegakkan dakwahnya, makanya tidak akan diterima oleh Allah Swt. Tidak ada Nabi yang diutus oleh Allah Swt untuk langsung membunuh orang kafir, membunuh para ahli maksiat, tetapi di dakwah dulu.

Sekarang ini ada keinginan mempelajari agama dengan tenang-tenang saja, dengan asyik- asyik, tidak mau bermujahaddah, sehingga timbullah ketidak pahaman atas agama. Apa yang terjadi di kita hari ini sebagai hukuman dari Allah kepada kita, untuk menghilangkannya, kita hari ini tidaklah menggunakan jalan yang benar. Kita gunakan jalan kejahilan dengan ketidak pahaman sehingga sering tidak berhasil. Sering kita dengar harga barang naik dimana-mana, apa yang dilakukan umat islam ? mereka berdemo tiap hari, supaya harga turun, sehingga timbulah keributan dan kekacauan-kekacauan. Namun harga tetap tidak turun-turun. Jika kita pandang semua ini dengan kacamata Iman, naiknya semua harga di dunia ini atau di suatu negeri bukan kerja pemerintah tapi kerja Allah Swt. Semuanya diatur oleh Allah Swt, dari harga yang penting-penting sampai yang kecil-kecil di pasar dari cabe, gula, garam, semuanya atas izin dan ketentuan Allah Swt. Tidak ada harga yang naik bukan dari ketentuan Allah Swt, hakekatnya semuanya atas ketentuan dari Allah Swt. Namun Allah Swt memberikan pelajaran melalui Al Quran dan Hadits asbab-asbabnya.

Dalam Suatu Hadist Mahfum :

Apabila ummat ini melakukan 3 dosa maka Allah akan datangkan 4 Adzab :

3 Dosa apa saja :
1. Membangun gedung tinggi-tinggi
2. Melaksanakan pesta pernikahan mewah-mewah
3. Membenci dan memusuhi ulama-ulama tidak mau mendengarkan fatwa dan nasehat mereka

Maka akan datang 4 Adzab :

1. Diangkatnya pemerintah yang dzalim
2. Diangkat pejabat-pejabat yang khianat
3. Dinaikkannya harga-harga barang
4. Dicabut keberkahan daripada ummat.

Jadi kita tidak sadar bahwa kondisi yang ada sekarang akibat dari dosa-dosa kita sendiri. Andaikata kita tobat dari dosa tersebut maka dengan sendirinya segala keburukan ini akan Allah perbaiki.

Banyak contoh-contoh bahwa kita ini dalam kekeliruan, tidak memahami. Ada orang berpikir, bahwa untuk menghidupkan islam maka kita harus paksakan syariat islam, dibentuk syariat islam. Supaya islam bisa berjalan harus dengan kekuasaan, dengan pemerintahan, buat undang-undang, jalankan syariat islam, seperti kalo berzina dirajam, yang mencuri dipotong tangan. Ini bukanlah cara yang dicontohkan Nabi SAW, karena harus ada kronologinya.

Ada suatu cerita seorang presiden di pakistan memanggil ulama-ulama. Presiden berkata kepada para ulama, ini kekuasaan ada ditangan saya, silahkan ulama-ulama jalankan syariat islam di pakistan. Kebanyakan Ulama di pakistan menyetujuinya dan segera akan menjalankannya. Namunada ulama dari ahlul dakwah ini berkata kita memperjuangkan agama ini harus ikut cara atau tertib Rasullullah Saw. Nabi Saw diutus bukan untuk menghukum orang bersalah, bukan untuk merajam orang berzina atau memotong tangan orang mencuri, tetapi membuat preventif agar mereka tidak mau berzina ataupun mencuri yaitu dengan ditanamkan Iman. Kalau kita meloncat tanpa membuat usaha preventif bagaimana umat ini jangan sampai berbuat salah, langsung menghukum orang bersalah, maka akan terjadi fitnah. Sebagian besar rakyat pakistan tangannya akan buntung semua, karena pencuri semua. Sebagian besar pejabat-pejabat pakistan ini adalah pejabat-pejabat yang korup. Apa kata dunia nanti sebagian besar rakyat pakistan setelah melaksanakan syariat islam, tangannya buntung semua.

Demikian bahwa usaha pertama dari para Nabi menuju kepada kesempurnaan islam ini adalah dengan dakwah. Mereka bermujahaddah dalam usaha dakwah. Nanti akan Allah berikan hidayah dan Allah akan bukakan mata hati kita, Allah pahamkan agama kepada kita, sehingga kita ada kekuatan untuk melaksanakan agama. Demikian juga para sahabat RA, diajak Nabi SAW untuk bermujahaddah dalam dakwah. Asbab dakwah ini, Allah Swt menurunkan syariat menurut kronologi tergantung kekuatan iman atau setelah terbukanya mata hati para Sahabat RA. Mereka diajak oleh Nabi SAW bermujahaddah secara terus menerus sampai keimanan terbentuk dalam diri sahabat RA, sehingga ada sahabat yang sudah sholat padahal perintah sholat belum turun. Ini karena hatinya sudah terbuka, menginginkan adanya perintah sholat. Sehingga waktu perintah sholat turun, 100% para sahabat melaksanakan perintah sholat. Ini karena hatinya sudah terbuka. Ada sahabat sebelum turun perintah meninggalkan minuman keras, mereka sudah meninggalkan minuman keras. Sehingga waktu turun ayat meninggalkan minuman keras, 100% sahabat segera tidak minum lagi, tanpa menghitung untung-ruginya. Ada yang sedang minum tiba-tiba mendengar pengumuman, saat itu langsung dibuang. Ada yang sudah masuk kemulutnya tapi mendengarkan pengumuman tentang haramnya khamar langsung dimuntahkan lagi. Ada yang sahabat RA bisnis minuman keras, baru belanja besar-besaran, tapi ketika mendengar pengumuman tentang haramnya minuman keras, langsung dihancurkan, tanpa berpikir kerugian yang dia tanggung. Ini karena sudah ada Nur Iman di hati mereka, sudah terbuka mata hati, sudah melihat yang Haq, bahwa perintah Allah ini nilainya lebih dari segala-galanya.

Sekarang dengan ketidak pahaman kita ini, bukannya kita menyelamatkan umat dengan agama, tetapi malah membawa kecelakaan pada umat. Seorang ulama berkata, kalau ada seorang perempuan membuka aurat padahal syariat islam hukumnya harus menutup aurat, maka si perempuan itu hukumnya si perempuan tadi fasik. Namun jika dipaksakan hukum islam dengan perundang-undangan, padahal mata hatinya belum terbuka, saat mereka berdemo menentang daripada perundang-undangan yang isinya adalah perintah Allah, maka dari fasik hukumnya meningkat menjadi Kafir. Ini karena menentang hukum Allah ini adalah membawa seseorang derajatnya menjadi kafir. Selama mereka tidak menjalankan hukum Allah karena lemah iman, tetapi tidak menentang, maka hukumnya hanya fasik. Kita ingin membawa umat kepada keselamatan, tetapi karena tertib yang tidak benar, karena kita tidak paham, kita telah membawa umat kepada kecelakaan.Jadi masalah Takziyah ini, bersusah payah dijalan Allah, adalah masalah penting bukan masalah kecil. Kita tidak akan paham agama tanpa bersusah payah dijalan Allah Swt.

Saya dengar dulu para ulama di pesantren, di pakistan, Bagaimana dulu mereka mengutamakan mata pelajaran tazkiyah bagi para santrinya. Ada seorang ulama mempunyai anak laki-laki, dia berkeinginan anaknya bisa lebih sholeh dan lebih alim dari dia. Walaupun ulama ini mempunyai pesantren, tetapi dia lebih memilih anaknya ini dikirim ke pesantren lain, karena dia berpikir kalau anaknya belajar di pesantrennya sendiri maka akan menjadi manja, tidak mau susah payah.Si ulama khawatir jika dikirim ke pesantrennya sendiri maka tidak akan ada mujahaddah. Maka si anak ini dikirim oleh ulama ini ke pesantren kawannya sesama ulama supaya ada pendidikan khusus agar bisa lebih alim dari beliau dan supaya lebih paham agama dari beliau. Ketika dia masuk ke pesantren, ayahnya si ulama, memberi nasehat bahwa apapun yang diperintahkan oleh gurunya nanti ikuti saja, jangan banyak bertanya dan jangan dibantah, walaupun kamu belum bisa mencernanya dengan pemikiran, jalankan saja.

Setelah masuk ke pesantren, si anak ini tidak langsung diajarkan ilmu agama, tetapi diperintahkan untuk berkhidmat di dapur pesantren. Di dapur si anak ini mencuci piring, memasak, memotong sayur, menyediakan masakan, tidak diajarkan kepada anak ini walaupun satu alif pun. Anak ini dengan tekun dengan ikhlas dia jalankan perintah gurunya berbulan-bulan, tidak ada mengeluh, di dapur untuk khidmat, tidak mempelajari Quran dan Hadits. Si anak ini taat dan selalu inget pesan ayahnya bahwa apapun yang diperintahkan laksanakan saja. Setelah melihat kepatuhan anak ini menjalankan perintahnya, tidak mengeluh dan ikhlas menerimanya, maka si ulama pemimpin pesantren memanggilnya. Si ulama pimpinan pesantren berkata, “Wahai anakku, Kamu sudah khidmat di dapur, bekerja dengan baik, sekarang kamu pindah dari dapur untuk berkhidmat pada WC umum.” Namun WC jaman dulu beda dengan WC jaman sekarang. Dulu WC pakai periuk untuk buang air kecil dan air besar. Jadi untuk membersihkannya dia bawa periuk kotoran itu di kepalanya ke suatu tempat untuk dibuang lalu dibersihkan. Setiap pagi inilah rutinitas yang dilakukan si anak ini dalam waktu yang sangat lama tanpa diajarkan satu alifpun.

Setelah sekian lama si anak berkhidmat seperti itu, akhirnya gurunya memanggil. Si guru berkata, “Anakku kamu sudah berkhidmat di dapur, lalu berkhidmat di wc, sekarang kamu akan ditugaskan sebagai istiqbal, menjaga didepan pintu pesantren, menerima tamu2 pesantren. Sekarang kamu harus berpakian yang bersih dan rapih tidak seperti pakian yang kamu pakai waktu di dapur ataupun ketika khidmat wc.” Maka mendengarkan perintah ini, sama si anak langsung dijalankan, berpakian rapi, menunggu di depan gerbang sebagai istiqbal. Ketika si anak ini sedang bertugas, si guru ini memanggil salah satu santri yang bekerja di khidmat WC. Si guru berkata kepada si santri yang berkhidmat di WC tersebut, “kamu tau anak itu.” Si santri bilang, “Tau stadz.” Si guru berkata, “Nanti ketika kamu bawa periuk kotoran untuk dibersihkan dari wc, kamu bawa periuk itu kedepan dia sehingga periuk itu melewati hidungnya dengan jarak yang dekat sekali. Nanti kamu laporkan kepada saya apa reaksinya.” Mendengar perintah ini si santri besoknya lansung dilaksanakan perintah Ustadznya. Dia bawa periuk wc itu tadi dan dilewatkan kedepan hidung si anak tersebut. Namun si anak tersebut tidak ada reaksi marah atau gaduh ketika periuk itu dilewatkan secara sengaja ke hidungnya. Si santri lapor ke stadnya bahwa tugas sudah dilaksanakan, tetapi si anak tidak memberikan reaksi apa-apa, biasa saja. Si Ustadz berkata, “Bagus, besok kamu lakukan lagi, tapi kali ini kamu pura-pura tersandung lalu percikkan sedikit saja kotoran itu tadi kebajunya. Nanti apa sikap dia kamu laporkan kepada saya.”

Besoknya si santri jalankan perintah si ustadz tadi. Si Santri jalan di depan si anak tadi lalu dia pura-pura tersandung lalu terperciklah sedikit kotoran ke baju anak itu. Namun si anak bukannya marah malah minta maaf, bahwa ini salah dia, tidak seharusnya dia menghalangi jalannya si santri yang bawa periuk kotoran tersebut. Maka dilaporkanlah kejadian tersebut kepada si ulama pimpinan pondok pesantren. Si Ulama bilang, “Bagus, besok kamu lewat lagi kedepan dia kali ini, pura-pura kesandung, lalu tumpahkan seluruh isi periuk kotoran wc tadi ke badan dia.” Besoknya dia jalankan perintah si pimpinan pondok pesantren tadi, dia jalan pura-pura kesandung lalu ditumpahkan periuk kotoran tadi seluruhnya kebadan si anak yang sedang istiqbal tersebut. Namun apa reaksi anak tersebut ? itu anak bukannya marah malah menangis, dia berkata, “Apa saya ini terus-terusan berbuat salah ? kemarin saya mengganggu jalan saudara, hari ini juga begitu, kenapa saya gak belajar-belajar.”

Maka dilaporkanlah kejadian ini pada si ulama tersebut. Kali ini si ulama memanggil si anak tersebut, “Wahai anakku, kamu sudah khidmat di dapur, sudah khidmat di wc, dan sudah khidmat di istiqbal, sekarang ada tugas masih khidmat juga, yaitu mencari daging.” Kalau dulu yang namanya mencari daging yaitu dengan berburu ke hutan. Jadi si anak ini berburu ke hutan dengan membawa anjing pemburu. Caranya dia disuruh memakai ikat pinggang yang kuat yang di ikatkan kepada 6 ekor anjing. Waktu pergi kehutan si anjing mencium bau daging binatang buruan maka si anjing berlari sehingga si anak yang kecil ini badannya terbanting-banting badannya. Si anak tersebut terseret kesana kemari karena kuatnya tarikan anjing-anjing pemburu, sehingga dia pulang ke pesanten dalam keadaan babak belur. Si Ulama pimpinan pondok pesantren bertanya, “Gimana berburunya di hutan ?” si anak menjawab, “Alhamdullilah baik, semuanya lancar tidak ada masalah.” Si anak tidak mengeluh apapun kepada gurunya, bahkan mengatakn semuanya baik-baik saja, padahal dia babak belur. Setelah kejadian ini si ulama pimpinan pondok memeluk anak itu, dan berkata, “Wahai anakku kamu sekarang sudah punya modal untuk belajar agama, kamu boleh pulang, mau belajar disini, atau ditempat lain, ataupun di pesantren ayahmu, silahkan saja, karena kamu sudah ada modal untuk belajar agama.” Maksudnya apa ? si anak ini sudah punya modal belajar agama yaitu kesabaran dan ketabahan.

Kalau kita mempunyai sifat seperti itu maka Nur Quran dan Hadits akan mudah masuk ke hati kita. Tapi kalau kita ingin asik-asik dan senang-senang inilah yang menyebabkan susahnya kita memahami daripada Al Quran dan Hadits, sehingga susah membawa kita kepada pengamalan, apalagi kepada penghayatan.Balik mengomentari cerita tadi kenapa terakhir ini anak disuruh berburu dengan membawa 6 ekor anjing yang banyak hingga dia babak belur terbawa kesana kemari. Ini karena si anak ini adalah calon ulama. Ulama itu akan mengayomi masyarakat, sedangkan keinginan masyarakat itu berbeda-beda, yang satu mau begini, yang satu mau begitu. Jadi ulama-ulama itu harus siap babak belur, supaya masyarakat bisa menerima mereka, tidak memihak kepada siapapun, karena ulama ini calon pimpinan. Demikian orang-orang terdahulu belajar agama tidak dengan senang-senang, tetapi dengan mujahaddah. Ketika kita membuka riwayat hidup imam-imam besar seperti Imam Bukhari, Imam Muslims, Imam Syafei, Imam Hanafi, Imam Hambali, dalam hidup mereka mempelajari agama penuh dengan mujahaddah, baru Allah Swt berikan kemuliaan pada mereka menjadi Imam, dan pemahaman atas agama.

Inilah kekurangan dan kelemahan kita di hari ini, masalah mujahaddah telah ditinggalkan. Arahan dari Nizammuddin, para masyeikh katakan, untuk agama ini bisa tumbuh di diri kita diperlukan 2 syarat :

1. Hidup Sederhana Zuhud terhadap dunia
2. Siap bermujahaddah Rabbah terhadap Akherat

Kalau ada di diri kita ini hidup sederhana dan siap bermujahaddah maka agama akan tumbuh subur di kehidupan kita. Mengapa agama diturunkan di jazirah Arab pada waktu itu ? ini karena sifat ini ada pada orang-orang Arab dibandingkan dengan kehidupan orang-orang persia dan romawi pada waktu itu. Orang-orang arab ketika itu hidupnya sangat sederhana dan mujahaddah, mereka hidup di padang pasir, berpanas-panasan, kurang air, sering lapar dan haus. Sehinggga Allah turunkan agama, karena mereka mempunyai sifat ini, sehingga agama tersebar kemana-mana asbab mereka.

Demikian juga Maulana Ilyas Rah.A, memulai usaha dakwah di mewat, India. Orang Mewat ketika itu mempunyai sifat yang sama, mereka hidup sederhana dan bermujahaddah. Dari korban orang-orang mewat usaha dakwah tersebar keseluruh dunia. Inilah yang menyuburkan agama pada umat ini jika ada hidup sederhana dan mujahaddah. Sedangkan yang meracuni agama dan menyebabkan agama jadi gersang ini juga ada 2 sebab :

1. Hidup Mewah dan Boros
2. Kenyamanan hidup & keinginan senang-senang

Inilah yang menyebabkan agama gersang. Kita harus memiliki Zuhud terhadap dunia dan Rabbah terhadap akherat, baru agama akan mudah diamalkan. Kalau kita Rabbahnya, semangatnya, hanya kepada dunian saja, dan semangat terhadap akherat kita lebih kecil dibanding keduniaan kita, maka Hidyah akan susah masuk. Jadi kita harus ada sifat zuhud pada dunia dan rabbah terhadap akherat, susah payah demi akherat. Diantara sifat-sifat para sahabat RA diceritakan bahwa sahabat ini kalau sholat ada dua tempat, satu tempat yang teduh dan satu lagi tempat yang panas. Para sahabat RA sengaja lebih memilih tempat yang panas agar bisa bermujahaddah. Ini yang dilupakan oleh kita hari ini, sehingga hari ini ada kita temukan pesantren-pesantren dan sekolah-sekolah ingin pelajarnya ini senang-senang. Sementara kalau kita lihat ulama-ulama yang besar itu dulu lahir dari pesantren-pesantren yang mujahaddah. Mereka memasak sendiri, mencuci sendiri, tempat juga sederhana, bersusah payah mempelajari agama. Sekarang hari ini ada keinginan dari orang-orang ingin memahamkan agama tapi dengan menghilangkan mujahaddah. Pelajarnya diberi kemewahan dan kenyamanan, maka tidak paham-paham agama.

Maksud daripada Usaha Dakwah ini adalah sedikit banyak kita belajar bermujahaddah di jalan Allah Swt, sehingga mata hati kita terbuka. Kalau mata hati kita terbuka, kita berjuang dan berkorban di jalan Allah Swt, ikhlas karena Allah Swt, maka Allah ajarkan agama pada diri kita diberi kepahaman tanpa guru di ajarkan oleh Allah Swt. Sering kita lihat orang yang bermujahaddah di jalan dakwah ini, banyak orang yang Allah bukakan hatinya, bisa paham agama walaupun dia jarang duduk di taklim. Inilah yang namanya ilmu laduni, ilmu tanpa guru.

Hadits Mahfum :

“Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang diketahuinya maka Allah akan ajarkan ilmu yang belum diketahuinya”

Walaupun tanpa guru. Andaikata kita mau berkorban di jalan Allah dengan harta dan diri, bermujaddah berjuang dijalan Allah, maka nanti Allah akan masukkan Nur kedalam hati kita untuk memahami Al Quran dan Hadits.

Ada seorang ahli dakwah datang ke Maulana Yusuf Rah.A. Dia mengatakan, “Wahai Maulana, saya sudah keluar 4 bulan, amal maqomi juga sudah saya jalankan, alhamdullillah tiap tahun saya keluar, tetapi kenapa perasaan saya ini keikhlasan belum masuk ke hati saya.” Ini kerisauan orang tersebut. Apa nasehat Maulana Yusuf Rah.A, “Engkau teruskan dakwah, terus dan terus, sampai kamu bertemu dengan si abdurrahman.” Si orang ini bingung siapa ini si abdurrahman. Akhirnya Maulana Yusuf ceritakan siapa si abdurrahman. Jadi si Abdurrahman ini adalah seorang pemuda kampung yang miskin, hidupnya sebagai kuli tani, bekerja di ladang orang untuk mendapatkan upah. Si Abdurrahman ini mempunyai cita-cita belajar agama di pesantren untuk paham agama. Suatu ketika dia mendengar ada pesantren yang terkenal di suatu kampung. Maka dia niat untuk masuk ke pesantren tersebut belajar dari ulama yang kononnya terkenal dengan kealimannya.

Mulailah si Abdurrahman menabung dari hasil upahnya untuk dapat masuk ke pesantren. Singkat cerita akhirnya uangnya terkumpul dari hasil jerih payahnya. Berangkatlah si abdurrahman ke pesantren tersebut untuk mencari ulama yang dia sering dengar untuk dapat belajar dari dia. Setelah sampai di kampung tempat pesantren tersebut, akhirnya dia baru tahu ternyata ulama yang dia cari ternyata udah meninggal. Mendengar hal tersebut sedihlah si abdurrahman, karena sudah sekian lama dia menabung untuk belajar dengan ulama tersebut ternyata setelah datang si kyai sudah meninggal. Si Abdurrahman akhirnya terpikir, biasanya satu pesantren ini kalau kyainya meninggal pasti ada anaknya atau anggota keluarga lainnya yang sama alimnya yang menggantikan posisi kyai tersebut dalam mengajar. Si Abdurrahman mulai bertanya ke penduduk apakah ada pengganti ulama tersebut. Penduduk kampung bilang yang melanjutkan memimpin pondok pesantren itu adalah anaknya si kyai tersebut. Singkat cerita pergila si abdurrahman ini kerumah anak si ulama tersebut.

Sampai di tempat anak si ulama tersebut, memang dasar si abdurrahman ini mempunya hati yang bersih maka dia selalu menjaga prasangka baik kepada si anak ulama tersebut karena kesungguhannya ingin belajar. Abdurrahman ini mempunyai keyakinan kalau bapaknya ini ulama sholeh pasti anaknya juga seorang alim yang sholeh juga. Padahal si anak ulama ini ternyata tidak seperti bapaknya yang alim dan sholeh. Si anak ulama ini ternyata seorang bergajulan, tidak sholat, pemabok, penjudi, dan kerjakan banyak maksiat. Namun si abdurrahman tidak tahu, dia hanya tau kalau si anak kyai ini pasti orang yang sholeh dan alim juga seperti bapaknya, dan dia datang ingin belajar kepada si anak kyai tersebut. Pada waktu datang ke rumah si anak kyai itu kebetulan si anak kyai ini mempunyai pembantu namanya juga si abdurrahman, yang saat itu sedang pergi beli sesuatu di luar.

Jadi waktu si abdurahman ini mengetuk pintu dan mengucapkan salam, si anak kyai ini rupanya sedang kesal rupanya. Baru masuk rumah si anak kyai ini langsung memarahi si abdurahman, disangkanya yang datang ini adalah pembantunya. Si anak kyai ini marah dan berkata, “Kemana saja kamu Abdurrahman, saya sudah menunggu dari tadi ?” mendengar hal ini si abdurahman terkejut, wah dia terpikir anak kyai ini sungguh kasyaf, saya belum datang dan belum mengutarakan maksud saja dia sudah menunggu saya. Makin yakin saja si abdurrahman untuk belajar kepada anak kyai ini. Waktu dia buka pintu dan menongolkan muka, baru nampaklah muka si abdurahman, maka terkejutlah anak si kyai ini ternyata bukan pembantunya. Maka ditanyalah nama, darimana, dan maksud kedatangan si abdurrahman ini oleh si anak kyai ini. Si Abdurrahman mengutarakan bahwa dia ingin belajar kepada si anak kyai tersebut. Mendengar hal ini si anak kyai bingung, dia bilang ke abdurrahman bahwa dirinya ini bukan kyai. Mendengar hal ini si abdurrahman merasa bahwa anak kyai ini Masya Allah sungguh tawadhu. Bagi si Abdurrahman anak kyai ini seorang kyai yang yang tawadhu tidak mau menunjukkan keulamaannya, maka semakin yakin dia mau belajar kepada si anak kyai ini. Si abdurrahman berkata, “Bagaimanapun juga saya mau nyantri di pesantren, belajar kepada kyai.” Si anak Kyai mengatakan bahwa dirinya tidak bisa ngajar. Masya Allah di hati si abdurrahman bahwa tawadhu sekali ini seorang ulama mengaku tidak mampu ngajar. Di satu sisi si abdurrahman memaksa untuk belajar, disatu sisi si anak kyai menolak karena dia tidak bisa ngajar.

Melihat keadaan ini si anak kyai ini yakin bahwa si abdurrahman ini seorang pemuda kampung yang bodoh, sehingga timbullah pikiran jahat untuk menjahili si abdurrahman. Si anak kyai ini bertanya kepada Abdurrahman, “Apa kerja kamu ?” abdurrahman menjelaskan bahwa dia bekerja sebagai kuli ladang di kampungnya. Si anak kyai itu berkata, “Bagus, saya punya ladang disana, kamu balik ke kampung kamu lalu kamu tanami ladang saya, kalau kamu mau belajar sama saya, kamu kerja disana nanti 10 tahun lagi kamu balik kemari untuk belajar agama.” Si Abdurrahman ini hatinya bersih dan karena dia sungguh-sungguh ingin belajar agama, dia setujui persyaratan anak kyai tadi. Pergilah si Abdurrahman ini balik ke kampungnya di gunung untuk menjadi kuli ladang kembali menggarap ladang si anak kyai tadi juga. Dia kembali bekerja dengan niat untuk belajar agama disanalah dia bermujahaddah. Dia terus bekerja disana tanpa mempelajari satu alifpun.

Allah Swt Maha Adil dan Maha mengetahui kesucian dan kebersihan niat si Abdurrahman ini. Persis 10 tahun dia bekerja ada seorang ulama besar meninggal dunia di masa itu. Allah Swt dengan QudratNya memindahkan ilmu agama dan pemahaman agama si Ulama tersebut kepada si Abdurrahman tanpa perantara guru. Asbab ini dengan serta merta jadi alim, si abdurrahman pikirannya terbuka dan pemahamannya bertambah. Bagaimana prasangka Abdurrahman saat ini mengalami kejadian yang demikian ? si Abdurrahman berpikir, “Masya Allah guru saya ini luar biasa, dia mengajarkan agama kepada saya dari jarak jauh.” Begitulah sikap abdurrahman memuji kepada gurunya karena sudah mengajarinya agama dari jarak jauh. Akhirnya si Abdurrahman turun dari gunung pergi mengunjungi si anak kyai untuk berterima kasih. Si anak kyai bertanya, “Bagaimana kabar kamu ?” si Abdurrahman menjawab, “Alhamdullillah berkat ajaran pak kyai dari jarak jauh, kini saya sudah jadi alim, paham mengenai banyak hal tentang agama.” Si anak kyai ini tidak percaya, masa hanya dengan bertani sesorang bisa berubah jadi alim. Melihat hal ini karena penasaran si abdurrahman diajak keliling oleh anak kyai ini untuk bertemu ulama-ulama agar bisa membuktikan perkataan abdurrahman ini. Terkejut si anak kyai ini ternyata setelah di test memang betul bahwa si abdurrahman ini alim.

Asbab si Abdurrahman, Allah berikan si anak kyai ini hidayah, bertaubat, lalu menyantri dengan si abdurrahman ini. Ini adalah kisah nyata yang diceritakan oleh masyeikh kita. Disini ada pelajaran yang bisa kita ambil :

1. Niat ikhlas
2. Mujahaddah
3. Sangka Baik
4. Asbab Hidayah

Begitu kita di dalam kerja dakwah ini, kita terus dakwah walaupun dengan segala kelemahan kita, sampai kita ketemu orang seperti si Abdurrahman ini. Berkah dari orang seperti ini akan kita dapatkan asbab kerja dakwah ini. Ini adalah contoh bagaimana Allah akan berikan kepahaman kepada kita kalau kita mau bersusah payah dalam memperjuangkan agama ini. Tidak ada sejarahnya orang dapat pemahaman agama hanya dengan santai-santai dan senang-senang. Kepahaman agama hanya Allah berikan kepada orang yang mau mujahaddah memperjuangkan agama. Sehingga tidak salah langkah dalam agama. Hari ini agama hanya ditafsirkan menurut akal pikiran dan nafsu kita masing-masing karena telah ditinggalkannya mujahaddah. Sehingga mengamalkan agama menurut hawa nafsu, menurut pikiran kita saja, bukannya mengikuti daripada yang di contohkan oleh Rasullullah SAW dan para sahabat RA.

Kita keluar di jalan Allah ini bukan hal yang baru, ini merupakan syarat untuk memahami agama, dengan cara bersusah payah dijalan Allah. Asbab kita tinggalkan mujahadah sehingga hari ini ummat mudah terbawa daripada keinginan-keinginan dari orang kafir agar hidup ini senang-senang dan mewah-mewah. Sementara untuk agama tumbuh subur kita harus bisa zuhud terhada dunia bukannya mewah-mewah. Oleh karena itu kita semua harus siap untuk bermujahaddah di jalan Allah agar Allah beri kepahaman agama kepada kita. Kita keluar dijalan Allah kita belajar zuhud terhadap dunia, bawa pakaian seadanya, masak sendiri nyuci sendiri, kadang-kadang kepanasan, kadang-kadang kedinginan, tidur dilantai, banyak nyamuk dan lain-lain. Ini adalah faktor-faktor yang membuat datangnya hidayah yaitu dengan mujahaddah. Sementara kalau kita dirumah kita dapat kenyamanan makanan disediakan, baju ada yang nyuci, tidur dikasur, sehingga agama susah masuk kalau kita dirumah saja. Asbab kenyamanan di rumah ini membuat kita tidak paham agama, karena mata hati kita tidak terbuka.

Untuk kepahaman atas Al Quran dan Hadits itu membutuhkan sifat Mujahaddah. Jangan pernah merasa cukup mempelajari Al Quran dan Hadits karena kedalamannya sangat luas,agama itu luas, dibutuhkan mujahaddah yang terus menerus untuk memahaminya. Walaupun kita sudah mengamalkan agama tetap akan masih kurang. Maka acuan kita bukanlah pada orang jaman sekarang dalam pengamalan dan pemahaman tetapi Rasullullah SAW dan para Sahabat RA. Dibanding rasullullah SAW dan para sahabat pengamalan kita dan pemahaman agama kita sangat jauh sekali dibanding mereka.

Inilah mengapa kita harus merintis pengorbanan kita agar seperti mereka. Bagaimana ketaatan kita seperti mereka. Untuk itulah kita lagi dan lagi bermujahaddah. Inilah yang perlu kita pahamkan kepada ummat bahwa didalam untuk memahami agama ini penting untuk bersusah payah dijalan Allah Swt. Hari ini ada pemikiran di masyarakat bahwa untuk apa susah-susah dakwah ke kampung-kampung, padahal hari ini ada TV, ada Internet, ada Handphone, ada Radio, lebih luas cakupannya dan lebih banyak penggunanya sehingga point-point dakwah bisa disebar melalui media itu. Padahal kalau kita perhatikan para sahabat dulu mujahaddah berdakwah ke yaman, lalu orang-orang berbondong-bondong masuk islam. Lalu para sahabat mujahaddah berdakwah ke maghribi, lalu ramai-ramai orang-orang berbondong bondong masuk islam. Masuk ke mesir, ramai-ramai orang-orang masuk islam. Masuk ke Aljazair, ramai-ramai orang masuk islam. Padahal dulu belum ada handphone, televisi, radio, ataupun internet, namun asbab ada mujahaddah para sahabat RA dalam berdakwah orang-orang berbondong-bondong masuk islam. Sekarang dengan alat-alat modern ini adakah kita dengar orang-orang suatu negeri berbondong-bondong masuk islam ? jawabnya tidak. Jadi terbukanya mata hati bukan lah karena hal-hal seperti itu. Kalaulah memang tv, radio, Handphone, dan radio memang bisa memajukan agama pastilah sudah diberikan kepada Rasullullah SAW oleh Allah Swt. Ini karena Allah Swt berfirman :

“Al yauma akmaltu lakum dinnakum…” Artinya : Hari ini telah sempurna Agama

Tidak memerlukan lagi cara yang seperti itu, cara yang dibawa oleh Nabi SAW adalah cara yang sudah sempurna, tinggal mengikuti saja, jangan pakai akal-akalan kita. Kita tidak menafikan kalau orang mau memakai itu silahkan saja tetapi cara Mujahaddah ini jangan ditinggalkan. Kita akan tambah jauh dari agama jika kita tinggalkan cara Nabi SAW. Sehingga sesam islam sekarang mudah di adu domba, dibenturkan, satu sama lain, sampai terjadi perang sesama islam. Ini karena mereka tidak paham sama agama. Andaikata kita paham dengan agama akan timbul kasih sayang, cintai mencintai, rukun, dan satu hati itu akan terjadi.

Kita belum paham agama karena kita kurang bermujahaddah. Dalam beramal ini, Allah akan bukakan mata hati sejauh mana kita bermujahaddah. Kata para ulama kalau kita beramal akan mendapatkan pahala, tetapi kalau dengan bermujahaddah maka akan mendapatkan hidayah. Contoh kalau kita berwudhu ini akan mendapatkan pahala, tetapi kalau kita berwudhu ditempat yang dingin, dalam keadaan ngantuk, dan lain-lain, selain dapat pahala kita akan dapat hidayah. Kita di Indonesia ini puasa tidak terlalu berat, apalagi di Eropa dimusim dingin, siangnya lebih pendek, lebih enak lagi puasanya. Berbeda kalau kita puasa di negeri arab panasnya luar biasa, siangnya lebih panjang, sedikit-sedikit haus. Kita ini kalau hanya di indonesia saja tidak akan mengalami mujahadahnya beramal di negeri orang. Jika kita mengalamin bermujahaddah di negeri mereka ketika musim panas dan musim dingin, maka hidayah akan datang kepada kita. Kita lihat saudara-saudara kita yang bermujahaddah, iman mereka kuat. Sehingga walaupun ditengah-tengah kemaksiatan, Allah berikan kekuatan untuk mengamalkan agama.

Saya lihat waktu kami ke spanyol, saya lihat orang-orang islam dari marokko, maghribi. Di Marokko Quran ini sudah membudaya. Ketika kami ke morokko kami lihat setiap bada maghrib dan bada subuh seluruh mesjid membaca al quran bersama secara berurutan. Setiap hari membaca 1 juz bersama-sama sehingga dalam 1 bulan mereka sudah biasa mengkhatamkan Al Quran. Ketika kami berjaulah baru kami baca ayat pendek mereka yang meneruskan bacaannya anak-anak muda sudah hafal Quran, banyak sekali kami temui di spanyol. Di bulan puasa biasa bagi mereka terawih baca 1 juz. Semangat Ibadah mereka sangat tinggi, ini di negeri kafir, bagaimana dengan kita disini yang kononnya muslim terbesar. Di negeri kafir penuh dengan kemaksiatan, mereka bisa sholat terawih bacaan Qurannya 1 juz. Ketika kami di Barcelona di markaz tabligh yang konon baru dibangun tahun 1987 agama berkembang pesat. Padahal dulunya kalau orang muslim mengucapkan salam saja bisa marah orang karena merasa panggilan kampungan begitu. Namun asbab ada kerja dakwah kini di Barcelona sholat dzuhur saja ramainya sama seperti sholat jumat. Sebelum tabligh datang, dulu orang-orang Maroko di Barcelona tidak sholat, namun asbab tabligh alhamdullillah, dikota maksiat orang-orang tetap menjaga sholat berjamaahnya. Walaupun kita sedang jaulah orang-orang di bar di tempat-tempat ngopi tapi ketika kita datangin waktu jaulah mereka mendengarkan dengan baik.

Kalau di Spanyol ini banyaknya orang Marokko, lain lagi di Portugal orang islam banyaknya orang Afrika dari Mozzambiek. Mereka membangun mesjid besar dan megah, setiap malam mereka menjamu orang buka dan makan malam sekitar 400 orang setiap harinya. Luar biasa semangat mereka dalam beribadah dan bersedekah. Bahkan kita kira pemerintah mereka yang kononnya tidak menyukai islam, pemerintahan kafir, ternyata mereka justru senang dengan orang islam, bahkan ikut nyumbang dalam membangun mesjid. Hubungan mereka orang islam dengan pemerintah ternyata baik ini karena akhlaqnya bagus, tidak membuat kekacauan sehingga pemerintah sana senang. Disana, Portugal, pemerintahnya memberikan banyak kemudahan-kemudahan dalam menjalankan usaha dakwah. Ini karena mereka melihat orang-orang yang ada salam usaha dakwah ini orangnya baik-baik tidak menganggu politik ataupun yang lainnya, umum jalankan usaha agama saja. Demikian asbab bermujahaddah dijalan Allah sehingga Allah bukakan kemudahan-kemudahan dalam usaha dakwah ini.

Lain lagi di perancis, Jaulah kedua lebih banyak dibanding dari jaulah pertama, beda dengan di Indonesia yang jaulah pertamanya lebih banyak dibanding jaulah keduanya. Ini karena banyak mesjid di Indonesia menjalankan mesjid di jaulah pertama tapi jaulah keduanya tidak. Kalau di perancis mereka menggunakan cara misalnya ada 8 orang di mesjid jaulah pertama, maka semuanya akan bergerak bersama-sama. Tetapi kalau jaulah kedua di perancis ini, yang 8 orang dibagi 4 rombongan dibagi per 2 orang untuk jaulah kedua. Di perancis karena jarang mesjid maka caranya mereka gelar tikar dibawah pohon, lalu waktu adzan mereka jaulah ke flat-flat. Alhamdullillah mereka yang ditaman dan dijalan-jalan, mereka berdatangan, mendengar bayan. Para taskilan, mereka dibawa kebawah pohon seperti piknik untuk di iqrom. Waktu sholat berjamaah mereka berbondong-bondong ikut sholat dibawah pohon. Mereka terus menerus sholat dibawah pohon akhirnya Allah ubah keadaan sehingga kini mesjid bertambah menjadi ribuan mesjid. Sekarang total kurang lebih mesjid di perancis ada 3500 mesjid.

Pernah dulu raja Arab Saudi, raja Faisal ketika itu mengajukan proposal kepada pemerintahan perancis untuk mendirikan mesjid karena susahnya dia nyari mesjid untuk sholat. Mendapat tawaran itu presiden perancis konsulasi dengan para pendeta gereja saat itu untuk menyikapi proposal raja Arab. Mereka membalas surat ke Raja Arab ketika itu yang isinya kalau mereka diperbolehkan mendirikan gereja di mekah, maka raja Faisal diperbolehkan membangun mesjid di Perancis. Mendapat jawaban seperti itu Raja Faisal membatalkan niatnya untuk membangun mesjid. Setelah dengan jalan kekuasaan pemerintah untuk menegakkan agama dengan membangun mesjid tidak mampu dilaksanakan. Namun, alhamdullillas asbab kerja dakwah yang dilakukan dengan cara diam-diam, kini mesjid ada dimana-mana di perancis. Di tahun 1960 an di perancis hanya ada 1 mesjid, kini tahun 2009 jumlah mesjid ada ± 3500 mesjid. Ini kelebihan pemerintahan perancis, hak azasi sangat dihargai bagi warga negara sana.

Suatu ketika di salah satu kota perancis ini ketika adzan dikumandangkan, warga non muslim protest, sehingga diangkatlah kasus ini ke pengadilan. Pengacara orang islam ini pintar, mereka berargument kalau memang mereka terganggu karena suara adzan seharusnya mereka lebih terganggu lagi sama suara bising pesawat di airport, karena lokasinya sangat dengat dengan airport. Jadi kalau memang mau ditetapkan seperti itu maka seharusnya airportpun juga di tiadakan. Akhirnya umat islam menang di pengadilan bisa diterima secara akal. Kalau misalnya mereka tidak suka bising bukannya airport yang digusur tapi merekalah yang harus pindah jauh dari Airport. Begitu juga dengan suara adzan kalau memang tidak suka dengan suara adzan yang tidak seberapa jangan di larang adzannya tapi merekalah yang harus pindah. Alhamdullilah akhirnya yang non muslim pada pindah, dan yang islam pindah kedaerah itu. Demikanlah dengan mujahaddah ini Allah berikan kemudahan-kemudahan.

Juga sudah banyak bukti banyak orang-orang masuk islam asbab Akhlaq. Banyak laki-laki di perancis ingin mencari wanita-wanita islam, karena wanita islam ini taat dan tidak khianat kepada suami. Jadi kalau kita terus bermujahaddah di jalan dakwah ini maka nanti akan datang orang-orang berbondong-bondong masuk islam. Seperti dijaman Sahabat RA, bahwa orang-orang akan berbondong-bondong masuk islam ketika umat islam sudah sempurna agamanya : Iman nya betul, Ibadahnya Betul, Muamalahnya Betul, Muasyarohnya betul, dan Akhlaqnya betul. Orang yang hidup di luar agama ini hidupnya tidak ada kebahagiaan hanya sangkaannya, kelihatannya bahagia, padahal rohaninya kosong. Memang betul secara dzohiriyah mereka maju dari makanannya, pakaiannya, transportasinya, rumahnya, namun secara rohaniat mereka kosong dan gersang hatinya. Padahal mereka cukup makan uang ada, dan pakaian banyak, tapi tiap hari mereka bengong saja, sehingga untuk menghilangkan kekosongan dan kesusahan dalam hatinya ini akhirnya mereka buat kebiasaan fly atau mabuk-mabukan agar bisa senang. Seharusnya keadaan mereka ini jangan kita benci tapi harus dikasihani, karena sesungguhnya dengan kehidupan seperti itu kehidupan mereka seperti tinggal menunggu adzab saja. Walaupun hidup mewah dan nyaman tapi jika mati tidak membawa iman maka mereka akan di azab selama-lamanya. Kita yang bertanggung jawab atas mereka ini. Dakwahkan agama, Kita bersusah payah datang kepada mereka. Asbab kerisauan kita ini kepada mereka maka Allah akan bukakan mata hati kita, nanti Allah beri kepahaman. Jika mata hati kita menyanyangi umat, maka Allah akan sayang kepada kita.

Mahfum Hadits :

“Irhamu ma fil ardhi yarhamu suma fissama” Artinya : “Kamu kasihani apa yang ada di muka bumi maka ahli langit akan kasih kepada kamu”

Bukannya kita gunjingi atau diperangi mereka, tetapi justru harusnya kita kasihani mereka, kita dakwahkan mereka menyampaikan Kalimat Tauhid. Mereka ini adalah tanggung jawab kita. Agama Islam ini bukan untuk orang islam saja tapi untuk semua manusia.

Allah berfirman :

Innadeena Indallahiil islam : Agama yang diterima oleh Allah hanya Islam

Selain islam tidak akan diterima, dan Allah ini bukannya tuhan untuk umat islam saja tapi Allah ini Rabbunnaas, Tuhan seluruh manusia, bahkan Rabbul Alamin, Tuhan seluruh alam. Dan Nabi Muhammad SAW bukan hanya nabi untuk umat islam saja tetapi untuk seluruh umat manusia.

Allah berfirman :

Wama arsalnaka illa kaffatan linnas : Kami tidak utus engkau Muhammad melainkan untuk seluruh manusia

Begitu juga Al Quran bukan kitab suci bagi umat islam saja, tapi Hudallinnaas, petunjuk bagi seluruh manusia, bukan huda lilmuslimin, petunjuk bagi muslim saja. Sekarang siapa yang mau bertanggung jawab atas umat pada hari ini, yang sebagian besar tidak kenal pada Allah, tidak kenal pada Nabi Saw, tidak kenal pad Al Quran, sedangkan Nabi sudah tidak akan datang lagi. Ini semua adalah tanggung jawab kita untuk menyampaikan ini kepada mereka. Manusia dalam kecelakaan besar, Kalau kita mati tidak ada harta, tidak ada pakaian, tidak ada rumah, ini tidak bahaya selama ada iman, namun jika mati dalam keadaan tidak beriman maka mereka akan disiksa selama-lamanya. Kita harus melanjutkan fikir Nabi Saw dan usaha Nabi Saw. Kita memang bukan Nabi atau Rasul namun Allah muliakan kita dengan mewariskan usaha kenabian kepada ummat ini untuk dilanjutkan.

Jangan kita kecil hati bahwa kita ini lemah banyak kekurangan sementara penduduk manusia miliaran bagaimana mungkin ? Kita harus ambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim AS. Ketika Nabi Ibrahim AS dibakar oleh Namrud Laknatullah Alaih, ada seekor burung kecil bawa air di paruhnya terbang tinggi diatas apinya membawa air bolak balik agar api padam. Malaikat bertanya, “Apa yang kamu kerjakan wahai burung ?” burung menjawab, “sedang berusaha memadamkan api yang membakar kekasih Allah, ibrahim AS.” Malaikat bilang apa manfaatnya membawa air sedikit itu untuk mematikan api yang demikian hebat, belum sampai ke api sudah menguap. Kata burung biar saja tidak apa-apa, yang penting kata burung nanti di akherat ketika Allah bertanya kepadanya, “Wahai Burung adakah kamu menyaksikan kekasihku dibakar, lalu apa yang kamu lakukan ?” Maka aku akan menjawab, “Ya Allah aku hanya bisa membawa sedikit air saja di paruh aku menurut kemampuanku saja, mudah-mudahan dengan amalku yang sedikit ini bisa diterima.” Jadi jangan lihat besar kecilnya dunia kita tapi lihatlah seberapa kemampuan kita. Allah tidak melihat hasil dalam usaha agama ini tapi yang dilihat oleh Allah Swt adalah usaha kita. Nabi Nuh AS 950 tahun dakwah siang malam tapi yang dapat hidayah cuman 80 orang saja, tapi Nabi Nuh AS tidak dianggap gagal oleh Allah SWT. Walaupun dilempari batu tapi usahanya tidak berhenti. Maka Insya Allah kita niatkan ambil bagian dalam Takaza Agama ini.

Oleh : Buya Athaillah

Wednesday, November 11, 2009

Nasehat Ust. Nadjib


Semua manusia di bumi ini mempunyai cita-cita yang sama yaitu bagaimana hidup di dunia ini bahagia. Semua manusia mempunyai cita-cita dan tujuan yang sama dari yang kaya, miskin, sehat, sakit, dikota, ataupun didesa, yaitu ingin hidup bahagia. Untuk bisa mendapatkan kebahagiaan ini ada 2 asbab yang ditempuh manusia :

I. Al Asbab Ad dzohiroh Asbab-asbab yang nampak :

Dari pakaian, makanan, rumah, transportasi, keluarga, jabatan, status sosial, dan asbab-asbab materi kebendaan yang lainnya. Secara Dzohir memang bisa memberikan kebahagiaan, tetapi tidak mutlak jaminannya. Asbab ini bisa juga menjadi asbab datangnya kesusahan. Contoh : Manusia membeli mobil mewah karena bisa memuaskan nafsu keinginan yang harapannya adalah datangnya kebahagiaan. Tetapi dengan mobil yang sama manusia bisa mendapatkan kesusahaan dan penderitaan. Seperti biaya perawatan yang mahal artinya lebih berat lagi mencari uang untuk menutupi biaya. Bahkan dengan mobil yang sama manusia bisa menderita bila terjadi kecelakaan yang bahkan dapat merengut nyawanya.

II. Al Asbab Al Ghoibiyah Asbab-asbab yang tidak nampak :

Inilah yang menjadi asbab kebahagiaan yang hakiki, yang sebenarnya, yaitu dengan Iman dan Amal. Semua amalan agama ini datangnya dari Allah, maka jaminan kebahagiaannya adalah mutlak kepastiannya. Dibalik perintah-perintah Allah ini ada pertolongan Allah. Jadi inilah asbab mutlak datangnya kebahagiaan. Walaupun dia secara dzohir tidak memiliki apa-apa, tetapi jika dia mau beriman dan beramal maka pasti dan pasti dia akan bahagia, dan pasti Allah akan tolong dia. Contoh : Nabi ditawari gunung emas oleh Allah tetapi ditolak Nabi dan Nabi SAW lebih memilih amalan sabar dan syukur. Padahal kondisi dzohiriah Nabi SAW sangat memprihatinkan seperti 3 hari tidak makan, 2 bulan tidak mengepul asap di dapur, dll. Ini karena beliau SAW yakin kunci kebahagiaan ini ada dibalik amal-amal agama bukan pada kebendaan.

Al Asbab Ad Dzohiroh sangat bergantung pada Al asbab al ghaibiyah untuk bisa mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan. Sedangkan asbab ghaibiyah tidak bergantung kepada asbab dzohiriyah untuk mendatangkan kebahagiaan yang sempurna. Asbab dzohir yang sempurna terlihat dimata manusia, tanpa asbab ghaibiyah, tidak akan mampu mendatangkan kebahagiaan sedikitpun. Contohnya seperti Firaun, Qorun, Namrud LA yang memiliki kesempurnaan asbab dzohiriyah, namun karena mereka tidak mempunyai asbab al ghaibiyah, maka mereka sengsara dunia dan akherat. Beda dengan para Anbiya AS dan para Sahabat RA yang secara asbab dzohiriyah mereka nampak sangat kekurangan, tetapi mereka adalah orang-orang yang bahagia dunia dan akherat asbab sempurnanya asbab ghaibiyah mereka. Nabi SAW bagi beliau sudah biasa tidak makan 3 hari berturut-turut, tidak pernah menyimpan makanan untuk hari esok, atau 2 bulan asap tidak mengepul di dapur beliau SAW, tidur hanya beralaskan anyaman daun kurma sehingga berbekas pada kulit dan pipi beliau SAW. Namun walaupun begitu para ulama sepakat bahwa Nabi SAW adalah orang yang paling bahagia di dunia dan di akherat. Ini dikarenakan Iman dan Amalan, asbab al ghoibiyah, beliau yang sempurna.

Pernah suatu ketika 2 utusan romawi datang untuk melihat kehidupan pimpinan umat islam yang berhasil menaklukkan dataran Persia dan Romawi sebagai bangsa terkuat secara asbab dzohiriyah saat itu. Ketika mereka sampai di madinah ketika itu utusan ini yang pertama kali ditanyakan adalah kehebatan asbab-asbab dzohiriyah yang dimiliki pemimpin orang islam ketika itu. Seperti dimana raja kalian, dimana kerajaannya, namun orang islam ketika itu membantah bahwa pemeimpin mereka bukanlah raja dan tidaklah memiliki kerajaan yang dimaksudkan oleh utusan tersebut. Mereka tidak mempunyai raja yang dilayani tetapi seorang khalifah yang melayani ummatnya, tidak ada istana tempat resmi pejabat pemerintahan, tetapi yang ada hanya mesjid tempat para sahabat sering berkumpul. Lalu dihantarlah utusan tersebut menghadap khalifah Umar RA yang ketika itu tertidur dibawah pohon hanya dengan bermodal tongkat. Umar pulas tertidur setelah beronda keliling kampung tidak ada yang menjaganya, tidak ada satpam, anjing, pengamanan, yang ada hanya Allah di hati Umar RA.. Maka terkejutlah utusan tersebut melihat keadaaan umar RA seorang penakluk bangsa yang besar dibandingkan dengan Raja mereka. Ini Umar seorang pemimpin penakluk 2/3 dunia bajunya bertambal-tambal, tidur tidak ada yang menjaga, beralaskan bumi beratapkan langit, tidak mempunyai pengawal dan kerajaan, namun tidur dengan tenang dan nyenyak. Sementara Rajanya mempunyai lemari baju yang banyak, tidur dikasur yang empuk, dikawal ribuan tentara, tidur di istana yang megah, tetapi hidup selalu dalam ketakutan, tidak ada ketenangan, dan tidak bisa tidur nyenyak. Umar yang miskin dari asbab adzhohiriyah tetapi sempurna asbab al ghaibiyahnya maka ketenangan dan kebahagian telah datang padanya. Sedangkan si Raja yang sempurna asbab adzhohiriyah tetapi kosong dari asbab al ghoibiyah maka yang datang kepadanya adalah ketidak tenangan dan penderitaan. Inilah perbedaan diantara mereke berdua seorang Umar RA dan si Raja Romawi. Umar karena sempurna asbab al ghaibiyahnya Allah masukkan kekayaan ke dalam hatinya sehingga hatinya menjadi kaya seperti kayanya dzohirnya seorang raja.

Tidak ada satu nabipun yang menganjurkan kaumnya untuk kerja lembur banting tulang buat mengurusi dunia untuk bisa mencapai kebahagiaan dengan membangun pabrik, meluaskan sawah, memperbesar toko, memperbaiki perdagangan, dan asbab dzohiriyah lainnya. Tetapi semua Nabi AS mengajak kaumnya hanya kepada Allah dengan jalan menyempurnakan keyakinan dan asbab-asbab ghaibiyah untuk mencapai kebahagiaan yang sempurna. Jika asbab ghaibiyah ini sempurna maka kebutuhan akan asbab dzohiriyah akan berkurang. Ini dikarenakan ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki akan datang melalui asbab ghaibiyah bukan dengan asbab dzahiriyah. Jika asbab ghaibiyah sempurna diamalkan maka asbab dzahiriyah akan datang, namun ketika itu kebutuhan akan asbab dzahiriyah akan berkurang. Sebagaimana di jaman sahabat ketika harta ghanimah datang melimpah ruah ke pintu-pintu rumah para sahabat tetapi semuanya tidak ada yang menyimpannya dibagi-bagikan hingga habis. Ini karena asbab ghaibiyah sempurna diamalkan sehingga kebutuhan akan dzohiriyah berkurang.

Dalam mahfum firman Allah :

“ Siapa yang dipagi hari dari kamu beriman, sedangkan mereka berbadan sehat, dan mempunyai tempat tinggal. Walaupun kamu hanya satu hari makan dan tidak ada jaminan makan untuk esok harinya, maka dia seakan-akan telah mendapatkan dunia beserta seluruh isinya. Hidup bagaikan mendapatkan mimpi para raja.”

Seseorang datang kepada Nabi SAW mengadukan masalah kelebihan orang kaya yang mampu melampaui mereka dalam beramal karena harta mereka. Semua sahabat yang miskin fikirnya adalah bagaimana caranya berprestasi dalam beramal bersaing mengalahkan prestasi amal orang kaya. Disini Nabi SAW tidak menganjurkan para sahabat yang miskin untuk mencari duit yang banyak atau menyempurnakan asbab-asbab dzohiriyah lainnya, tetapi yang diberikan oleh Nabi SAW adalah amalan lagi. Mereka diberi amalan tasbih, tahmid, takbir sebanyak 33 kali, jika disempurnakan dengan tahlil maka dosa-dosamu akan diampuni, dan tidak ada yang bisa melebihi amalan ini kecuali bagi mereka yang mengamalkannya juga. Lalu mereka pergi mengamalkan. Namun keesokan harinya mereka kembali lagi kepada Nabi SAW mengeluh perkara yang sama disebabkan yang kaya ikut mengamalkan apa yang mereka amalkan. Tetapi apa kata Nabi SAW, “Beruntung orang-orang yang telah Allah lebihkan amalnya.” Ini karena mampu tidaknya beramal seseorang bukan karena kemampuan tetapi karena kasih sayang Allah sehingga Allah tolong dia untuk bisa beramal.

Jika orang yang mempunyai asbab ghaibiyah dengan sempurna bertemu orang dengan asbab dzahiriyah yang sempurna, pasti Allah akan menangkan orang yang sempurna asbab ghaibiyahnya dibanding dengan orang yang sempurna asbab dzahiriyahnya saja. Seperti ketika perang Badr, sahabat hanya mempunyai asbab ghaibiyah saja ketika itu yaitu Yakin yang sempurna kepada Allah, Do’a dan Sunnah Nabi SAW. Maka ketika itu kaum kafir yang hanya mempunyai asbab dzohiriyah saja dan jauh lebih siap dibandingkan dengan pasukan sahabat, mampu di porak porandakan oleh para sahabat dengan bantuan Allah Ta’ala. Sahabat perang di Badr dalam keadaan lapar sehingga melempar tombakpun tidak kuat. Namun ketika tombak terlempar, walaupun tidak kena atau meleset, tetapi banyak musuh yang terbunuh ketika dilewati oleh tombak tersebut. Ada sahabat yang berpedangkan hanya dari ranting , tetapi sekali tebas dengan ranting tumpul puluhan kepala orang kafir terpisah dari badan mereka.

Allah berfirman mahfum :

“ Bukan kamu yang melempar, tetapi kamilah yang melempar. Bukan kamu yang membunuh tetapi kamilah yang membunuh mereka.”

Inilah pertolongan yang Allah berikan kepada mereka yang sempurna asbab ghaibiyahnya. Siapa yang membunuh ? Allah, siapa yang memberi kemenangan ? Allah. Inilah kekuasaan Allah, jika Allah sudah menentukan hasil siapa yang mampu merobah dan menghalanginya. Allah berkuasa dan kekuasaannya tanpa batas, dan tidak ada satu mahlukpun yang mampu membatasi kekuasaan Allah walaupun seluruh mahluk dari jin, manusia, malaikat berkumpul untuk membatasi kekuasaan Allah. Orang yang hanya mempunyai asbab dzohir saja tanpa ada asbab ghaibiyah maka hidupnya akan seperti sarang laba-laba gampang hancur. Kelihatannya sukses dan bisa mendatangkan kebahagiaan dengan menangkap nyamuk, semut, dan kebutuhan lainnya, padahal sekali pukul dengan sapu bisa langsung hancur berantakan. Begitulah rapuhnya dan lemahnya kehidupan orang yang hanya melengkapi asbab dzohiriah saja.

Ketika Nabi SAW hendak hijrah ke madinah, Nabi SAW bilang kepada Ali RA bahwa nanti mereka akan bertemu kembali di madinah. Padahal ketika itu jiwa mereka sedang terancam akan dibantai oleh pasukan khusus orang kafir quraish terdiri dari 100 orang pendekar-pendekar tangguh yang mengepung rumah Nabi SAW. Ketika itu justru Ali RA tidak ada rasa takut karena yakin dengan perkataan Nabi SAW bahwa mereka akan bertemu kembali di madinah, dan mereka tidak akan mati malam itu. Bagaimana Nabi SAW menyelesaikan masalah malam itu yaitu dengan asbab ghaibiyah, dengan amal, dengan membaca surat yasin. Sehingga Allah datangkan rasa kantuk kepada para pendekar itu. Walaupun ada satu orang yang dibiarkan terjaga oleh Allah, namun orang tersebut tidak mampu melakukan apa-apa bahkan membangunkan temennya sekalipun ketika Nabi SAW dan Abu Bakar melintasi mereka. Lalu Nabi SAW diperintahkan Allah Ta’ala bersembunyi di goa thur ketika di kejar oleh 100 pendekar pembunuh bayaran kaum quraish. Ketika itu Nabi SAW melihat Abu Bakar RA menangis, sehingga beliau SAW menegur Abu Bakar RA untuk tidak takut. Abu Bakar RA menjawab yang dia takuti bukan keselamatannya tetapi yang ditakutinya adalah keselamatan Nabi SAW. Lalu apa kata Nabi SAW : “Sukakah kamu jika ada 2 orang yang ketiganya adalah Allah. Janganlah takut karena Allah bersama kita.” Disini Allah hendak memberi pelajaran bahwa Allah kuasa membangun tembok baja di depan goa, atau mengirimkan ribuan malaikat untuk melindungi Nabi SAW, atau mendatangkan burung ababil seperti ketika melawan Abrahah, tetapi Allah pilih sarang laba-laba yang lemah untuk mengalahkan 100 kopasusnya orang-orang Quraish. Ini karena Allah hendak menunjukkan betapa lemahnya manusia dan logikanya. Bahkan ketika itu pasukan tersebut tidak mampu menundukkan kepalanya untuk melihat kebawah goa yang tertutupi sarang laba-laba. Inilah yang akan terjadi jika manusia hanya mengandalkan akalnya atau logikanya saja, maka orang seperti ini akan membuat banyak kesalahan dan jauh dari petunjuk Allah. Mereka fikir, “Tidak mungkin Nabi SAW ada di dalam goa, karena goa ini tertutupi oleh sarang laba-laba, jika dia ada di dalam pasti sarang ini sudah hancur.” Inilah lemahnya logika manusia dan hebatnya kekuasaan Allah.

Dalam suatu riwayat kisah sahabat, pernah ada sahabat yang dikirim ke negeri Cina untuk buat dakwah disana. Lalu didapati oleh para sahabat ini bahwa orang cina berdagang beras dengan takaran yang tidak betul dicampur dengan debu agar lebih berat. Orang cina tempatan berdagang dengan cara menipu. Lalu para sahabat ini membeli beras tersebut, membersihkannya, dan dijual kembali dengan harga yang semestinya dan takaran yang benar. Para pedagang cina berkata kepada para sahabat ini, “Bagaimana kalian bisa beruntung jika cara dagang kalian seperti itu.” Ini karena yang dicari sahabat adalah keberkahan dari perdagangan yang jujur dan adil sesuai yang diperintahkan Allah Ta’ala. Inilah yang diyakini sahabat bukannya perdagangan, toko, beras, uang, yang memberi kehidupan kepada mereka, tetapi Allahlah yang memberi rizki dan kehidupan kepada mereka. Asbab cara mereka yang jujur dan adil ini dalam berdagang membuat para sahabat ini menjadi terkenal, sehingga dipanggil ke kerajaan oleh sang raja. Lalu para sahabat ini memberi dakwah kepada sang raja tentang keadilan dan kejujuran dalam berdagang. Asbab dakwah sahabat ini, Raja mengeluarkan Kepres atau surat keputusan bahwa yang boleh berdagang hanya orang islam saja. Asbab ini banyak orang cina berbondong-bondong masuk islam, sehingga nampaklah perubahan dari cara berdagang mereka ketika itu menjadi perdagangan yang islami. Dagang berdasarkan ketaatan kepada Allah inilah yang mendatangkan keberkahan dan pertolongan Allah.

Jika orang beriman ini sempurna ketaatannya kepada Allah maka alam akan berkhidmat kepada mereka. Di dalam hadits Qudsi Allah berfirman mahfumnya Allah akan buat suasana yang membantu hambanya. Matahari terang disiang hari agar manusia bisa bekerja, hujan hanya turun dimalam hari agar pertanian dan alam dapat mendatangkan keberkahan pada manusia. Hujan tidak akan turun disiang hari agar manusia tidak kesulitan untuk bekerja, dan tidak ada halilintar yang memberikan perasaan takut kepada manusia. Semuanya akan dibuat mudah oleh Allah buat manusia. Alam akan berkhidmat kepada manusia jika dia beriman dengan benar dan beramal dengan sempurna. Sebagaimana dijaman Sahabat RA, para sahabat mampu menundukkan alam, dan alam berubah-ubah tergantung keinginan sahabat. Seperti minta hujan disiang terik maka turunlah hujan di kebunnya saja, jalan diatas air, mengeluarkan air dari tanah, menghentikan gempa dengan kakinya, menghidupkan yang mati, dan lain-lain. Ini semua karena mereka sempurna iman dan amalnya sehingga alampun tunduk pada mereka.

Allah berfirman mahfum :

“ Seandainya penduduk suatu negeri beriman kepada kami, maka kami akan datangkan rizki dari atas dan dari bawah mereka. Tetapi mereka ingkar sehingga mereka kami adzab.”

Jadi sebelum kita mati kita targetkan Iman ini agar kita bisa meninggal membawa kesempurnaan Iman. Bagaimana kita targetkan selemah lemahnya Iman atau Iman ini minimal seperti yang Allah mau yaitu dapat taat kepada Allah selama 24 Jam. Dan bagaimana ketinggian Iman kita dapat mencapai taraf atau derajat Iman para sahabat yaitu ketika Iman ini sudah tidak terkesan pada segala keadaan dan segala sesuatu selain Allah. Suatu ketika Abu Hurairoh RA di jamu oleh pendeta dalam suatu hidangan makan. Ketika makan roti yang dipegang Abu Hurairoh ini terjatuh, lalu Abu Hurairoh membersihkannya dan dimakan kembali karena menurutnya ini sunnah. Namun melihat hal itu seseorang menegur Abu Hurairoh untuk tidak melakukan itu seperti orang yang tidak pernah makan saja dan memalukan derajat orang islam. Mendengar teguran itu Abu Hurairoh marah dan berkata: “Mengapa aku harus meninggalkan sunnah kekasihku dan mengikuti orang yang bodoh itu.” Inilah keimanan dan keyakinan sahabat terhadap sunnah, mereka rela dipermalukan daripada harus meninggalkan sunnah Nabi SAW.

Bagaimana kisah sahabat Abdullah ibnu atha’ alias Abu Hanzalah, ketika menjadi tawanan raja romawi, Abu Hanzalah diminta untuk meninggalkan keimanannya dengan imbalan akan diberikan separuh dari kerajaannya. Namun apa kata Abu Hanzalah : “Walaupun engkau berikan seluruh kerajaanmu kepadaku maka aku tidak akan meninggalkan islam walaupun hanya sekejap mata.” Melihat hal itu sang Raja menjadi marah sehingga memerintahkan algojonya untuk memanah Abu Hanzalah kecuali jika dia mau meninggalkan keislamannya. Lalu apa kata Abu Hanzalah : “Aku lebih baik mati dalam keadaan beriman daripada harus hidup dalam keadaan kafir.” Melihat hal ini maka sang Raja tidak kehabisan akal, sehingga memerintahkan prajuritnya untuk menyiapkan tungku panas yang besar untuk menakuti Abu Hanzalah. Para orang-orang muslim yang menjadi tawanan tersebut digilir diceburkan kedalam tungku yang panas dan menjadi syahid. Namun ketika giliran Abu Hanzalah tiba, dia malah menangis. Sang Raja berpikir akhirnya Abu Hanzalah menyerah juga dan mau meninggalkan keislamannya. Ketika ditanya mengapa Abu Hanzalah menangis, dia menjawab : “Aku menangis bukan karena takut mati, tetapi aku menangis karena hanya mempunyai satu nyawa. Andai kata nyawaku sebanyak bulu dibadanku maka aku akan ceburkan semuanya kedalam tungku panas ini.” Mendengar jawaban ini sang raja terkejut dan terkagum melihat keteguhan Iman Hanzalah RA. Atas kekagumannya ini sang Raja hanya meminta Hanzalah untuk menyium keningnya saja. Abu Hanzalah bersedia melakukannya dengan syarat asal raja bersedia membebaskan seluruh orang islam yang menjadi tawanan. Inilah Iqromul Musliminnya sahabat kepada kawan-kawannya. Mendengar kargozari tentang Abu Hanzalah, maka saat itu umar mewajibkan para kaum muslimin untuk mencium jidad Abu Hanzalah dimulai dari umar RA sendiri.

Nabi Ibrahim AS ketika diancam mati dengan kobaran Api, Iman beliau tidak bergeming, walaupun itu dengan tawaran bantuan dari malaikat, tetap Nabi Ibrahim AS tidak terkesan. Nabi Ibrahim AS hanya terkesan dengan bantuan Allah saja dan tidak tertarik dengan bantuan mahluk walaupun itu dari malaikat. Kita hari ini tidak ada yang mengancam dan tidak ada yang menawarkan keduniaan Iman kita mudah tergoyah jika melihat cara hidup orang kafir. Di desa rajin ibadah, lalu ke kota terkesan suasana, sibuk kerja, lalai dari amal, terbawa suasan maksiat, akhirnya jadi ahlul maksiat. Asbabnya karena telah meninggalkan perintah Allah terutama sholat.

Hari ini asbab Ad Dzohiroh kita jauh lebih baik dari jaman para sahabat, namun sahabat asbab Al Ghoibiyah jauh lebih baik dari kita. Karena kita jauh dari Al Asbab Al Ghoibiyah maka akhlaq kita tidak sebaik bahkan jauh dari qualitas akhlaqnya sahabat RA. Kemerosotan akhlaq ini nampak karena kita telah meninggalkan jalannya para sahabat dalam menyempurnakan asbab Al Ghoibiyah. Berapa banyak hari ini kita berutang tetapi berapa banyak yang mau memikirkan pembayarannya, dan bagaimana nasib si pemberi utang jika hutangnya tidak di bayar. Sudah berjanji tidak ditepati bisanya bikin susah orang. Kita harus jadikan diri kita seorang mukmin yang berguna dan seorang mukmin yang tangguh, tidak cengeng sedikit-sedikit mengeluh. Minimal kita harus jadikan diri kita tidak menyusahkan orang lain. Hari ini karena nafsu kita besar, keinginan kita banyak sehingga kita tidak bahagia. Ada satu mobil pingin dua. Ada satu rumah pingin dua, dan seterusnya. Orang seperti ini tidak akan pernah puas dan tidak akan pernah bahagia. Sahabat dapat kepala kambing sangking bahagianya tidak melupakan dirinya terhadap tetangganya. Bukannya ingin lebih tetapi malah memberi seluruhnya kepada tetangganya yang lebih membutuhkan. Inilah kesempurnaan Iman dan Kebahagiaan sahabat.

Jadi perjuangan kita hari ini adalah bagaimana Al Asbab Al Ghoibiyah sempurna diamalkan oleh diri kita, keluarga kita, dan ummat diseluruh alam. Mengapa hari ini masalah manusia tidak selesai-selesai ini bukan karena ekonomi, politik, teknologi, tetapi karena manusia jauh dari agama. Ketika Nabi SAW diutus, semua masalah manusia selesai hanya dengan asbab kalimat : “Ya ayyu hannas qullu La Illaha Illallah Tuflihu : wahai manusia ucapkan tiada tuhan selain Allah maka kamu akan bahagia”. Hari ini kenapa teknologi, ekonomi, pertanian, perdagangan dapat maju ? ini karena manusia meluangkan waktu dan sungguh-sungguh menekuninya. Ingin menjadi Sarjana tetapi tidak ada waktu untuk kuliah bagaimana bisa ? ingin punya anak tetapi tidak mau kawin bagaimana bisa ? Begitu juga dengan Iman dan Amal. Jika kita ingin Iman dan Amal kita sempurna maka kita harus luangkan waktu. Allah berfirman mahfum : “Orang yang beriman tidak akan ragu-ragu berjuang di jalan Allah, dan merekalah orang-orang yang benar.”

Pentingnya Usaha dakwah


Mengapa Kita harus berpartisipasi dalam pergerakan ini

Yang perlu kita sadari adalah bahwa hampir lebih dari 80 % kandungan Al Qur’an itu isinya mengenai perjuangan para Nabi AS dalam berdakwah, kisah-kisah ummat yang menolak dakwah para Nabi AS. Tidak ada diterangkan di dalam Al Qur’an ini mengenai jumlah ibadah Nabi-Nabi, berapa banyak sholatnya ? berapa banyak dzikirnya ? berapa banyak puasanya ? tetapi justru yang diceritakan adalah kebanyakan daripada pengorbanan para Nabi. Ini karena Allah ingin kita belajar dari pada pengorbanan para Nabi-nabi ini. Napak tilas pengorbanan merekalah yang telah mendapatkan ridho Allah ini yang patut kita ikuti. Bahkan jantung daripada Al Qur’an itu sendiri yaitu surat yassin, isinya menjelaskan kisah seorang pemuda yang mengajak kaumnya untuk mengikuti daripada ajakan, dakwah, nabi-nabi yang telah datang kepada mereka. Sekarang caranya bagaimana kita mengikuti Napak Tilas mereka yang telah di ridhoi Allah ini.

Allah berfirman :

“ Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” ( 9 : 100 )

Dan dalam ayat ini Allah telah menggambarkan orang2 yang telah Allah Ridhoi :

1. Orang islam yang terdahulu dan yang pertama masuk islam ( Awallun Muslimin )
2. Orang-orang Muhajjir dan Anshor
3. Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik

Jadi yang perlu kita lakukan sekarang adalah dengan meniru-niru pergerakan mereka yaitu menjadi orang-orang yang Muhajirin ( hijrah membawa agama ) dan jika tidak pergi di jalan Allah kita bisa menjadi Anshor ( orang-orang yang menerima Muhajjirin ). Dengan pergi di jalan Allah ini meniru-niru daripada pergerakan dan perjuangan merka yang telah di ridhoi Allah ini, mudah-mudahan Allah juga golongkan kita termasuk daripada “Orang-orang yang mengikuti mereka ( Nabi dan Sahabat, Muhajjir dan Anshor ) dengan baik.” Untuk perkara inilah penting kita ikut mengambil bagian dari pada usaha nubuwah ini.

Allah berfirman :

“Walladzina’amanu wahajaru wajahadu fissabillillahi walladzina awawwa nasharu ulaika humul mukinuna haqqan lahummaghfirotuw warizqun kariim.” ( 8 : 74 )

Artinya : Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah ( Muhajjir ) serta berjuang pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman ( Anshor ) dan memberi pertolongan (kerja sama antara Muhajjir dan Anshor / orang tempatan), mereka itulah orang-orang yang beriman dengan Haq ( yang benar-benar beriman ). Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.

Jadi orang-orang yang beriman ini, mereka tidak ada keraguan dalam menjalankan perintah Allah dan mereka buktikan dengan berkorban di jalan Allah. Allah telah beritakan bahwa orang yang mau berjuang di jalan Allah lah yang Imannya adalah Haq, Iman yang sebenarnya. Kita tidak bisa mengklaim diri kita beriman jika kita belum bisa membuktikan diri kita kepada Allah, bahwa kita mau berkorban di jalannya sebagaimana nabi SAW dan para Sahabat RA dahulu yang telah membuktikan keimanan mereka dengan pengorbanan yang nyata di jalan Allah.

Allah berfirman :

“Apakah Kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” ( 3:142)

Rasullulah SAW bersabda mahfum :

“Permisalan seorang yang melakukan Jihad di jalan Allah adalah seperti orang yang berpuasa di siang hari, menghabiskan masanya membaca qur’an dalam sholat, bersedekah secara terus menerus sampai si Mujahid itu kembali. Itupun orang yang pergi di jalan Allah masih melebihi daripada itu.”

Jangan sampai yang namanya Dunia menghalangi kita dari Kerja Dakwah ini dan dari berjuang di jalan Allah. Apa itu yang namanya dunia ? segala sesuatu selain Allah yang dapat menjauhkan kita dari perintah Allah adalah dunia.

Allah berfirman :

“Katakanlah : Jika Bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaanmu yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiaannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak akan memberi petunujuk kepada orang-orang yang fasik.” (9 : 24)

Inilah definisi dunia menurut sebagian ulama, dan bagaimana dengan teknologi, ekonomi, kekuasaan, dan kekuatan militer ? Itu hanyalah keperluan manusia saja bahkan hanya seperti hiasan dunia saja. Jadi jangan sampai kita salah faham, bukan berarti kita tidak perlu teknologi, ekonomi, kekuasaan, dan kekuatan militer, hanya saja itu bukan sebagai maksud kita, tetapi hanya sebagai keperluan saja.

Allah berfirman :

“Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya.” (18 : 7)

Dari riwayat Tirmidzi, Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :

“Wahai anak Adam jadikan seluruh hidupmu untuk beribadah kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku akan penuhi kebutuhanmu. Dan apabila engkau tidak mengerjakannya, niscaya Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan memenuhi kebutuhanmu.”

Rasullullah SAW bersabda mahfum :

“Apabila engkau membaktikan dirimu hanya untuk kepentingan perniagaan, dan menyebar lembu-lembumu untuk pertanian, dan engkau puas dengannya, dan meninggalkan Jihad, maka Allah akan melimpahkan kehinaan ke atasmu. Kehinaan ini tidak akan diangkat sehingga engkau kembali kepada agamamu ( dan berjihad di jalannya )”. ( HR Abu Dawud )

Orang-orang yang sibuknya hanya memperbaiki memperbaiki keperluan saja dan melupakan maksud, maka pasti dan pasti kehidupannya akan dipenuhi masalah. Kalau memperbaiki keperluan ini dijadikan maksud maka yang terjadi adalah masalah akan bermunculan. Seperti seorang turis yang naik kapal pesiar lalu dia transit di suatu pulau. Kalau si turis ini ketika dia turun kepulau tersebut lalu membangun rumah membeli mobil dan semua peralatan hidup maka hidupnya akan menjadi masalah ketika dia harus meninggalkan pulau untuk pergi ke kota yang dia tuju. Ini karena transit di pulau itu bukan maksud hanya keperluan, dan itu semua harus kita tinggalkan untuk menuju tempat tujuan terakhir yaitu akheratnya Allah. Jadi harta, teknologi, ekonomi, semua ini hanya keperluan saja bahkan menjadi ujian buat kita, karena semua itu hanya perhiasan dunia yang suatu saat harus kita tinggalkan menuju kampung akherat. Namun bukan berarti kita melupakan keperluan kita di dunia ini, karena walau bagaimanapun yang namanya keperluan ini adalah sarana untuk dapat mencapai maksud.

Ibarat / Kiasan :

Kapal adalah alat atau kendaraan menuju kampung akherat. Namun yang terpenting dari kapal ini yang perlu di jaga agar jangan sampai bolong yang menyebabkan air dapat masuk kedalam kapal. Sehingga menyebabkan kapal bisa tenggelam. Air ini adalah dunia, tanpa air kapal tidak bisa jalan, namun jika air masuk kedalam kapal, maka kapal bisa karam. Jadi penting kita usahakan bagaimana hati kita ini tidak bolong kemasukan air dunia. Jika dunia sudah masuk kedalam hati maka hati kita akan tenggelam sebagaimana tenggelammnya kapal yang kemasukan air. Jadi dunia ini hanya keperluan saja agar kapal kita bisa sampai pada tujuannya yaitu akherat. Orang yang hatinya sudah kemasukan dunia ini akan terjangkit penyakit wahan. Apa itu penyakit Wahan yaitu penyakit cinta dunia (Hubbud Dunia) dan Takut Mati. Lalu bagaimana mengatasi penyakit ini, ulama buat ijtihad yaitu dengan meninggalkan dunia yang kita cintai ini sementara saja dengan pergi di jalan Allah. Pergi di jalan Allah meninggalkan dunia yang kita cintai ini hanya latihan saja sebelum maut menjemput dan kita harus meninggalkan dunia selamannya. Inilah cara kita mempersiapkan diri.

Allah berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan satu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ? yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya, lalu kamu berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri kamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu andaikan jika kamu mengetahuinya. Allah akan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah akan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan tempat tinggal yang baik di dalam surga. Itulah Keuntungan ( kemenangan dan kejayaan ) yang besar.”
( 61 : 10 – 12 )

Disini Allah menawarkan kepada orang beriman suatu perdagangan dengan Allah, berbisnis dengan Allah, yang dapat menyelamatkan kita dari pada siksa Allah yang pedih. Padahal Allah tidak memerlukan kita. Jadi tawaran ini hanya sebagai kasih sayang Allah kepada kita agar mau beramal. Tawaran perniagaan yang seperti apa yang Allah tawarkan :

1. Beriman kepada Allah dan RasulNya
2. Berjuang di jalanNya dengan harta dan diri kita

Maka keuntungannya dari perniagaan ini hingga Allah katakan sebagai keuntungan, kemenangan, kejayaan yang besar andaikan saja kita mengetahuinya. Apa keuntungan itu :

1. Ampunan dosa-dosa kita
2. Dimasukkan kedalam Surga

Jadi derajat mereka yang mau berkorban di jalan Allah ini sangat tinggi sekali di sisi Allah, sehingga Allah menawarkan Jihad Fissabillillah ini sebagai suatu perniagaan yang dapat memberikan keuntungan bagi kita. Bahkan Allah mengancam bagi mereka yang tidak mau berkorban di jalan Allah atau mau berhenti atau istirahat daripada jalan Allah ini :

Allah berfirman :

“ Dan belanjakanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu melemparkan diri kamu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. “ ( 2 : 195 )

Asbabun Nuzul daripada ayat ini adalah ketika seorang sahabat hendak cuti atau istirahat, atau tidak mau ikut pergi di jalan Allah karena sedang mempunyai urusan. Sehingga turunlah ayat ini untuk mereka yang ada terlintas untuk istirahat atau berhenti dari berjuang di jalan Allah.

Di dalam Al Qur’an Allah berfirman :

“ Sesungguhnya Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang Ma’ruf (dakwah), dan mecegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”
(3 :111)

Disini Allah bilang kita sebagai Choiru Ummat atau Umat terbaik tentu ada sebabnya. Ini dikarenakan kita diamanahkan untuk memikul suatu kerja yang tidak diamanah kepada umat sebelumnya yaitu kerja kenabian atau kerja dakwah. Menyeru manusia kepada yang Ma’ruf dan mencegah yang mungkar atau dakwah ini adalah identitas umat Nabi SAW sebagai pelanjut risalat kenabian. Jika kita tidak melakukan tugas ini maka ini seperti polisi yang berpakaian polisi tetapi tidak mau mengerjakan tugasnya, hanya mau duduk-duduk saja diwarung, pasti dia akan dimarahi atasannya. Baju Polisi yang melambangkan identitas seorang polisi ini seperti kerja dakwah yang merupakan identitas umat ini. Jika kita tidak melakukan tugas yang menjadi identitas kita sebagai umat Nabi SAW maka kita akan dimurkai Allah Ta’ala.

Dalam Mahfum Hadits, Dari Aisyah R.ha berkata mendengar Nabi SAW bersabda :

“ Hai Manusia, Allah SWt berfirman kepada kalian : “Serulah (dakwahlah) kepada manusia untuk berbuat kebaikan dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar”, sebelum datang kepada kalian (akibatnya) dimana kalian berdo’a kepadaKu tetapi Aku tidak akan menerima do’a kalian, kalian meminta kepadaKu tetapi Aku tidak akan memenuhi permintaan kalian, kalian memohon pertolongan kepadaKu tetapi Aku tidak akan menolong kalian.” (At Targhib)

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda mahfumnya :

“Apabila umatku sudah mengagungkan dunia (maksudnya : mendahulukan dunia dibanding perintah Allah), maka tercabutlah dari mereka dari kehebatan islam. Apabila umatku meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar (Dakwah), maka diharamkan bagi mereka keberkahan wahyu (Kefahaman Agama). Dan apabila umatku sudah saling caci mencaci (hujat menghujat) satu sama lain, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah Ta’ala.” (HR Hakim dan Tirmidzi)

Dari Abu Said Al Khudri, Nabi SAW bersabda :

“Barangsiapa melihat suatu kemungkaran maka hendaklah cegah dengan tangannya. Jika tidak mampu cegahlah dengan lidahnya. Jika tidak mampu hendaklah dia merasa benci dalam hatinya dan ini adalah selemah-lemahnya Iman.” (HR Muslim)

Oleh karena itu penting ada diantara kita yang siap melakukan inisiatif untuk mengajak manusia kearah perbaikan seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW. Walaupun itu hanya segolongan orang yang memulainya demi tegaknya agama dan perbaikan atas ummat.

Allah berfirman :

“Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan ummat (jemaah) yang menyeru kepada kebaikan, menyeru kepada yang Ma’ruf, dan mencegah kemungkaran, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (3:104)

Disini bahkan Allah bilang bagi orang yang mau menyeru manusia kepada kebaikan ini sebagai orang-orang yang beruntung. Dan hanya orang-orang yang mencintai Allah, Rasul, dan Agamanya Allah saja yang mampu berfikir ke arah tersebut dan mau membuat usaha perbaikan atas Ummat. Tanda-tanda kecintaan seseorang kepada Allah yaitu terlihat dari keinginan dia mengikuti orang yang paling Allah cintai agar dia bisa mendapatkan cinta dari Allah kepadanya.

Allah berfirman :

“Katakanlah (hai Muhammad SAW) : Jika kamu mencintai Allah , ikutilah Aku, niscaya Allah akan mengasihimu, dan mengampuni dosa-dosamu..” (3:31)

Inilah yang Allah minta kepada orang yang mengaku cinta kepada Allah yaitu dengan mengikuti jalan orang yang paling dicintaiNya yaitu Nabi SAW. Hanya dengan cara Nabi SAW kita akan mendapatkan cinta Allah SWT, ini karena Allah telah mewariskan kepada Nabi Sunnanul Huda atau Jalan-jalan Hidayah (Petunjuk). Jika kita berjalan diluar Sunnanul Huda niscaya tersesatlah kita. Sekarang bagaimana cara mengikuti Nabi SAW ? Apa itu jalan Nabi SAW ?

Allah berfirman :

“Katakanlah (hai Muhammad SAW) : ini adalah jalanku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (manusia) kepada Allah dengan Hujjah yang nyata…” (12:108)

Allah telah perintahkan kepada Nabi SAW untuk menjelaskan jalan hidupnya kepada manusia agar mereka mengikutinya. Apa itu jalan hidup Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya yaitu mengajak orang untuk taat kepada Allah dan semua Perintah-perintahNya. Inilah yang namanya Dakwah yaitu mengajak orang kepada Allah saja dan untuk taat kepada perintah-perintahNya. Inilah maksud dikirimkan rombongan-rombongan dakwah ke seluruh pelosok dunia. Jadi jalan dakwah ini adalah jalan hidup kenabian dan salah satu sunnah Nabi SAW. Hanya dengan mengikuti jalan yang orang kita cintai baru cinta kita ini dapat dibenarkan. Bagaimana kita bisa mengaku cinta sementara kita tidak mau mengikuti orang yang kita cintai.

Dalam Hadits Mahfum Nabi SAW bersabda :

“Barang siapa yang mengamalkan sunnahku berarti dia mencintaiku, dan barang siapa yang mencintaiku maka dia akan di surga bersamaku.” (Al Hadits)

“Semua orang dari ummatku akan masuk surga kecuali yang menolak.” Para sahabat bertanya, “Siapakah yang menolak ya Rasullullah SAW ?” Nabi SAW menjawab, “Mereka yang menolak Sunnahku.” (Al Hadits)

Sedangkan Dakwah ini adalah Sunnah Nabi SAW yang nyata, bahkan kita ini disunnahkan dalam suatu riwayat nabi SAW :

“Balighul Anni Walau Ayyat”

Artinya : “ Sampaikanlah kepada mereka walaupun hanya satu ayat ”

Dalam Haji Wada, Haji Nabi SAW yang pertama dan yang terakhir Nabi SAW bersabda mahfum kepada para sahabat yang hadir :

“ Sudahkah aku sampaikan kepada kamu perintah-perintah Allah ?” para sahabat RA semua menjawab, “Ya, engkau telah menyampaikan risalah itu !” lalu Baginda Nabi SAW berkata : “Ya Allah, saksikanlah ini ( pengakuan umatku ).” Nabi SAW bersabda kembali : “Hendaklah yang hadir disini menyampaikan kepada yang tidak hadir disini…”

Inilah sign, tanda, dari Nabi SAW agar kita siap untuk menyampaikan agama ke suluruh permukaan bumi. Inilah sebabnya banyak maqam sahabat ditemukan di luar negeri. Dari 114.000 sahabat hanya 14.000 sahabat yang ditemukan makamnya antara Mekkah dan Madinnah, selebihnya di luar negeri. Seperti Saad bin Abi Waqqash RA makamnya ditemukan di Cina, Ayub Al Anshori di Turkey, Tariq bin Ziyad RA di Spanyol, dan lain-lain. Andaikata sahabat ini hanya memikirkan ibadah saja di mesjidil haram dan mesjid nawabi maka islam tidak akan tersebar dan kita kemungkinan masih menyembah patung dan kuburan.

Imam Malik Rah. A berkata :

“Tidak ada cara lain untuk memperbaiki ummat ini selain menggunakan cara Nabi SAW ketika memperbaiki Ummat pada kurun Awal.”

Jadi hanya dengan dakwah ummat akan terperbaiki karena dakwah ini adalah sarana atau alat untuk mempromosikan atau menyebar luaskan agama. Sudah tertulis dalam sejarah setiap ummat terdahulu setelah tidak ada lagi kerja dakwah dari nabi-nabi mereka maka kecenderungan mereka akan menjadi kafir melalui tahapan :

1. Tahap Pertama manusia akan meninggalkan amal ibadah
2. Tahap Kedua manusia akan mengerjakan maksiat atau perbuatan mungkar
3. Tahap Ketiga manusia akan meninggalkan agama menjadi kafir atau murtad karena sudah tidak ada lagi keyakinan pada agama bahwa agama dapat menyelesaikan masalah.

Tanpa Dakwah maka agama lambat laun akan pudar hingga tidak ada lagi orang yang mengamalkannya. Bahkan ketika ada yang mengamalkannya akan nampak aneh, bahkan yang mengamalkannya akan dicap seperti orang gila. Jika tidak ada dakwah maka tidak ada orang yang saling ingat mengingati karena Allah. Padahal di dalam Al Qur’an dibilang bahwa peringatan itu baik buat orang beriman. Tanpa Dakwah, agama ini seperti barang bagus tetapi tidak laku atau tidak ada yang mau membeli. Ini karena tidak ada yang mempromosikannya sehingga tidak ada yang mau membeli. Dakwah ini adalah sarana untuk mempromosikan manfaat-manfaat agama dan menjelaskan kerugian yang terjadi bila kita meninggalkannya. Jadi Dakwah ini adalah tulang punggung agama. Tanpa Dakwah yang Haq maka Dakwah yang Bathil akan masuk. Jika Dakwah yang bathil sudah masuk seperti promosi minuman keras, perjudian, prostitusi, pakaian-pakaian yang vulgar, dan lain-lain, maka keimanan orang akan menurun. Jika Iman sudah menurun maka Amal Ibadah akan berkurang, akhlaq manusia akan menjadi buruk, muamalah dan muasyaroh manusia akan rusak. Ketika itu maka do’a tidak akan didengar dan pertolongan Allah tidak akan datang, yang ada hanya kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Ketika itu semua masalah akan berdatangan. Namun dengan Dakwah maka keimanan akan datang, agama akan tersebar, amal agama akan meningkat, akhlaq manusia akan bagus, perdagangan dan hubungan antar manusia akan baik, dan pertolongan Allah akan datang kepada ummat ini. Atas perkara ini penting kita membantu agama Allah agar Allah perbaiki kehidupan kita.

Allah berfirman :

“Hai orang-orang beriman jika kamu membantu agama Allah maka Allah akan menolongmu dan menguatkankan kedudukanmu.” (47:7)

ini adalah janji Allah bagi mereka yang mau membantu agama Allah maka Allah akan menolong kehidupan kita memperbaiki keadaan rusak dan Allah akan menyelesaikan seluruh masalah yang dihadapi oleh seluruh manusia. Inilah yang dianjurkan ulama yaitu belajar menyelesaikan masalah dengan amal agama. Belajar menyelesaikan masalah dengan pertolongan Allah. Bagaimana cara mendatangkan pertolongan Allah yaitu dengan menjalankan perintahnya. Setiap perintah Allah dibaliknya pasti ada pertolongan Allah. Seperti seorang duta negara yang diperintahkan negaranya jika terjadi sesuatu pasti negara tersebut akan menolong dutanya karena si duta bertindak berdasarkan perintah negara. Apalagi dengan menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong kita balik. Hanya dengan agama Allah saja semua permasalahan dapat terselesaikan. Namun syaratnya harus ada niat dan kesungguhan usaha dari ummat tersebut untuk memperbaiki keadaan.

Allah berfirman :

“…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (13 : 11)

Jadi Allah baru mau membantu merubah suatu kaum setelah kaum itu mau berusaha untuk merubah kehidupannya sendiri. Allah akan mendatangkan perbaikan pada suatu kaum jika kaum itu mau buat usaha perbaikan. Apa yang harus diperbaiki pertama kali yaitu kondisi agamanya, karena baik atau buruknya manusia tergantung pada kondisi agama yang ada diri mereka. Sedangkan Agama ini adalah solusi yang Allah berikan untuk menyelesaikan seluruh masalah manusia sampai hari kiamat.

Hidupkan amal-amal mesjid nabawi di setiap mesjid maka akan datang perbaikan dan peningkatan qualitas hidup bagi orang-orang yang tinggal di kampung itu. Sebagaimana terperbaikinya kehidupan ummat di madinah pada jaman Nabi SAW. Bagaimana kehidupan para sahabat terperbaiki dan meningkat qualitasnya setelah Agama tersebar melalui mesjid Nabawi. Syaratnya harus ada orang yang mau bergerak mengajak manusia kepada kebaikan.

Dari Anas RA :

Kami para sahabat RA bertanya “Ya Rasullullah SAW kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami sendiri mengamalkan semua kebaikan dan menjauhi semua kemungkaran.” Maka Nabi SAW bersabda, “ Tidak, bahkan serulah orang untuk berbuat baik, meskipun kalian belum mengamalkan semuanya. Dan cegahlah kemungkaran, meskipun kalian belum menghindari semuanya.”
(HR Thabrani)

Inilah isyarat dari Nabi mengenai pentingnya kerja dakwah walaupun kita belum sempurna mengerjakan kebaikan dan belum sempurna meninggalkan kemaksiatan. Dan hanya dengan mendakwahkan agama saja keadaan akan terperbaiki bukan dengan ekonomi, teknologi, kebudayaan atau dengan kekuasaan itu hanya keperluan saja. Kalau masih memerlukan itu berarti agama belum sempurna karena tidak bisa menyelsaikan masalah manusia. Sedangkan Agama ini sudah sempurna Allah berikan kepada manusia sebagai solusi untuk menyelesaikan seluruh masalah. Siapa saja yang mencari solusi diluar solusi yang telah Allah berikan kepada manusia maka yang akan terjadi hanyalah masalah. Selain dengan agama maka manusia hanya menyelesaikan masalah dengan masalah, bukan masalah selesai tetapi hanya akan menambah masalah.

Allah berfirman :

“…Pada hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku sempurnakan nikmatKu kepadamu dan telah Aku relakan islam menjadi agamamu…” (5 : 3)

Semua sudah sempurna Allah berikan dari rumus dan methode untuk menyelesaikan seluruh masalah yang di hadapi oleh manusia sampai hari kiamat, tidak ada cara lain. Selain cara Allah dapat dipastikan akan menemukan kegagalan. Seperti kaum ad yang sukses membuat usaha atas kesehatan dan kekuatan tetapi ingkar terhadap Agama maka mereka berakhir binasa. Kaum Madyan yang sukses membuat usaha atas perbaikan ekonomi dan keuangan juga berakhir binasa karena mereka ingkar terhadap Allah dan AgamaNya. Kaum Saba yang sukses membuat usaha atas pertanian namun ingkar terhadap perintah Allah maka mereka Allah binasakan. Kaum Luth yang sukses membuat usaha atas peningkatan qualitas seksualitas untuk mencapai kebahagiaan, merekapun Allah binasakan. Kaum Tsamud yang sukses membuat usaha atas teknologi arsitektur juga Allah telah hancurkan. Firaun dan Namrud yang sukses membuat usaha atas kekuasaan, sangking berkuasa sampai mengaku sebagai tuhan, juga Allah hancurkan. Qorun yang sukses membuat usaha atas peningkatan harta dan kebendaan juga Allah telah hancurkan. PM Hamman Laknatullah Alaih yang sukses membuat usaha atas karir politik juga telah Allah hancurkan karena ingkar terhadap perintah Allah. Abrahah yang sukses membuat usaha atas kekuatan militer juga telah Allah hancurkan. Hanya dengan cara Nabi dan para sahabat saja keadaan akan terperbaiki selain itu akan berakibatkan kebinasaan. Hanya dengan amal-amal agama saja keadaan terperbaiki, bahkan akan Allah buat ummat islam berkuasa kembali. Lalu Allah akan menukar keadaan mereka yang susah dan penuh dengan masalah dan penderitaan menjadi keadaan yang aman dan sentosa. Dan ini adalah janji Allah yang mutlak kepastiannya. Caranya mendapatkannya bagaimana ? yaitu dengan menghidupkan amal-amal agama didalam kehidupan ummat saat ini.

Allah berfirman :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman diantara kamu dan yang mengerjakan amal-amal sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana mereka telah menjadikan orang-orang sebelum kamu berkuasa, dan sungguh dia akan menguhkan bagi mereka Agama yang telah di RidhoiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa… ” ( 24 : 55 )

Apa yang perlu kita fikirkan dan kita risaukan saat ini. Bagaimana umat yang 6 milyar, tetapi hanya 1.5 milyar yang muslim. Dari 1.5 milyar berapa banyak yang sudah melakukan sholat. Lalu berapa banyak orang yang mati tiap hari tanpa mengucapkan La Illaha Illallah. Tiap hari kurang lebih 200.000 orang mati tanpa mengucapkan La Illaha Illallah, ini siapa yang bertanggung jawab. Kita ini Allah kasih islam bukannya gratis tetapi datang dengan tanggung jawab untuk menyampaikan agama kepada yang belum tau. Akherat adalah tempat untuk saling menagih Hak, nanti asbab orang tidak dakwah ini maka ini bisa menjadi asbab orang tersebut masuk kedalam Neraka. Anaknya, Saudaranya, tetangganya, temannya dan umat akan menagih haknya kenapa tidak disampaikan atau diajak dalam berbuat kebaikan ketika di dunia, kenapa mereka tidak diperingatkan. Asbab ini Allah bisa kirim kita ke Neraka. Tetapi ada orang yang dosanya sejauh mata memandang, tetapi Allah tunjukan suatu buku amalan yang penuh dengan amal Ibadah orang lain asbab dia mengajak satu orang lain untuk tobat dan orang ini mengajak yang lainnya dalam amal dan ibadah. Sehingga Allah duplikatkan amal ibadah mereka kepada orang pertama yang mengajak mereka.

Jika tidak ada risau dan fikir maka agama tidak bisa bergerak atau berkembang. Kalau Kerja Agama tidak jalan maka kerusakan akan timbul dimana-mana. Tanpa agama manusia ini akan rusak dan merusaki, jauh lebih jahat dari binatang sebagaimana kaum jahiliyah terdahulu yang menjadikan ibu hamil sebagai ladang judi. Ibu hamil ini di belah perutnya hidup-hidup lalu diambil anaknya untuk sebagai bahan perjudian. Jadi tanpa Dakwah atas yang Haq maka Dakwah terhadap yang Bathil akan tegak dan merajalela. Seperti Iklan yang ada di TV menawarkan baju-baju ketat yang tidak pantas bagi wanita dikenakan. Dulu di Indonesia tahun 1970-an jika ada orang pakai rok mini atau baju ketat yang terlihat auratnya maka orang ini akan dibilang tidak punya moral. Tetapi kini orang yang berpakaian demikian akan dibilang maju dan modern. Hari ini karena tidak ada usaha atas agama, perempuan bangga memperlihatkan aurat mereka, sehingga laki-laki mudah tergoda untuk bermaksiat. Maksiat dimana-mana, perjudian, perzinahan, dan minum-minuman keras dimana-mana sudah menjadi hal biasa. Saat ini dalam diri ummat sudah ada rasa kebanggaan ketika melanggar perintah Allah, inilah yang namanya Dzoluman Jahula, yaitu Kebodohan yang Paling Jahil. Sahabat dibilang jahil karena belum mengenal agama, sedangkan kita lebih super jahil dari mereka karena kita sudah tahu perintahnya tetapi masih dilanggar. Ini karena tidak ada Kerja Agama atau Dakwah.

Berdasarkan perkiraan, dulu tahun 1980-an jika orang ditanya berapa persen penduduk Indonesia jawabnya 90% penduduk Indonsia adalah orang Islam ( 90% dari 200Jt = 180Jt). Tetapi kini tahun 2003 karena tidak ada kerja Dakwah, umat Islam tinggal 85 % menurut pendataan penduduk. Ini siapa yang salah, butuh berapa lama lagi untuk umat Islam di Indonesia pindah agama jika dalam 20 tahun terjadi penurunan 5% dari jumlah total umat Islam. 5% dari 200 juta orang berarti 10 juta orang pindah agama dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun. Ini berarti satu juta orang tiap 2 tahun lari dari agama Islam. Ini perlu jadi fikir kita jika tidak maka nanti tanpa kita sadari cucu-cucu kita telah tidak kenal Allah lagi. Salah siapa, ini salah kita karena kurang sungguh-sungguh dalam kerja agama. Hanya dengan Dakwah, yang bathil akan hilang dan yang Haq akan tegak. Namun hanya Dakwah yang dicontohkan oleh Nabi SAW yang akan effective dalam menumpas kebathilan. Perancis tidak ada dakwah, maka gereja mereka dijadikan Night Club. Dan inipun bisa terjadi pada kita di indonesia yang mayoritas islam jika kita tidak mau mengerjakan Kerja Dakwah dan Tabligh ini. Di Perancis tahun 1960-an Mesjid hanya satu namun asbab ada kerja dakwah dari orang-orang India yang mengirimkan rombongan jemaah tabligh kesana, sekarang di Paris saja terdapat 700 mesjid, dan diseluruh Perancis terdapat 2000 mesjid. Dulu Nabi SAW asbab kerja bermulai dari 5 orang sahabat dengan sungguh-sungguh berapa banyak umat Islam kini termasuk kita yaitu tidak kurang 1.5 milyar orang telah masuk kedalam Islam. Jika ada Fikir dan Risau yang sungguh-sungguh maka Agama akan wujud dalam diri kita dan dalam diri umat.

Nikmat yang paling tinggi bagi umat ini adalah diwarisinya umat ini atas kerja nubuwah atau kerjanya para Nabi. Nabi tidak diwariskan harta dan takhta, tetapi Nabi dan umat ini diwarisi kerja Nubuwat oleh Allah Ta’ala. Asbab kerja ini umat ini diangkat derajatnya oleh Allah sebagai “Choiru Ummah : Umat Terbaik”, dan telah diberitakan dalam kitab-kitab terdahulu yang membuat nabi-nabi iri terhadap umat ini. Penting kita jadikan Kerja Nubuwat ini menjadi kerja kita, karena ini adalah identitas kita sebagai Umat Nabi SAW dan Amanah dari Allah Ta’ala. Dan semua nikmat di dunia ini akan dihisab oleh Allah Ta’ala termasuk Nikmat terbesar umat ini yaitu kerja Dakwah. Sahabat karena telah menjadikan Kerja, Fikir, dan Maksud Nabi menjadi Kerja, Fikir, dan Maksud hidup mereka, maka kemuliaanpun dan kejayaan Allah datangkan di bawah kaki mereka. Bilal RA sebelumnya menjadi budak lalu meninggal sebagai Gubernur di Yamman. Jaman Umar RA, Romawi dan Persia beserta kemewahannya takluk dibawah kaki Umar RA.

Allah berfirman :

Artinya : Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri mereka adalah lebih tinggi derajat mereka di sisi Allah, dan mereka itulah yang mendapatkan kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhoanNya, dan Surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal. ( 9 : 20-21 )

Sahabat telah korbankan segala-galanya, anak, istri, harta, dan diri mereka agar kita dapat selamat dari adzab Allah, tetapi lihat kini apa yang kita lakukan, hanya duduk saja sibuk dengan urusan kita masing2x, tidak ada waktu sama sekali buat agama. Apa yang akan kita katakan nanti kepada mereka jika bertemu dengan para Sahabat. Bagaimana Jika sahabat tidak buat kerja Agama. Apa yang terjadi jika kita tidak memeluk Islam pada hari ini, ketika Mati Allah buang kita ke neraka selama-lamanya. Bagaimana perasaan orang yang dilempar Allah ke dalam Neraka selama-lamanya karena kita belum sempat menyampaikan perkara ini kepada mereka.

Nabi SAW menangisi kita tiap hari dan selalu mendo’akan kita hingga kakinya bengkak bengkak dan matanya menjadi sembab karena kebanyakan menangis. Ketika hidupnya, Nabi SAW sudah mengatakan kita sebagai kekasih dan mereka yang lebih beruntung dari Sahabat, yang Imannya paling afdhol, karena mereka tidak pernah melihat Aku dan mukjizatku kata nabi, tetapi mereka beriman kepadaku. Kitalah yang dirindukan dan dirisaukan oleh Nabi SAW siang dan malam dalam do’anya. Sebelum beliau wafat menjelang sakratul maut yang di ingatnya adalah umatnya, Nabi SAW bekata kepada Jibril jika ini sakit yang dirasakan umatku maka timpakanlah seluruh sakit umatku sampai hari kiamat kepadaku saja. Inilah fikir dan risau Nabi. Sebelum Nabi SAW wafat kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Nabi SAW adalah “ummati…ummati : umatku, umatku”. Ketika dibangkitkan yang diingat Nabi SAW pertama kali adalah umatnya, bukan istrinya, keluarganya, sahabatnya tetapi umatnya. Ketika umat Nabi SAW berjatuhan di shirath seperti hujan, Nabi SAW menunggu di ujung shirath sambil bersujud kepada Allah berdo’a : Selamatkan umatku, selamatkan umatku ya Allah. Inilah fikir dan risau Nabi terhadap kita. Jika kita duduk-duduk saja nanti ketemu nabi apa yang akan kita katakan kepadanya.

Allah telah mudahkan agama ini untuk kita, beda dengan sahabat yang harus menjalankan agama dengan sempurna 100%. Inilah standard sahabat dalam menjalankan agama, kurang sedikit maka Allah akan turunkan adzab dan dapat menjadi asbab tercampaknya mereka kedalam neraka. Tetapi kalau kita dalam sebuah mahfum hadits cukup dengan 10% saja sudah bisa menjadi asbab kita selamat dari adzab Allah Ta’ala. Tetapi cara dan modelnya harus sama dengan sahabat. 10% dari 1 tahun adalah 40 hari, 10 persen dari 1 bulan adalah 3 hari. 10% dari 24 jam adalah 2.5 jam, dan ini yang harus kita jaga minimal. Yang penting adalah keistiqomahan kita untuk menjaga 10% waktu kita buat agama Allah. Sehingga Fikir Nabi dan Risau Nabi masuk kedalam diri kita.