Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Friday, October 15, 2010

Hakekat Dzikir

Dzikir secara harfiah berarti ingat dan sebut. Ingat adalah gerak hati, sedangkan sebut adalah gerak lisan. Dzikrullah berarti mengingat dan menyebut Allah. Adapun perpaduan keduanya barulah makna awal dari “khusyuk”.

Dzikir terdiri dari empat bagian yang saling terikat, tidak terpisahkan, yaitu: dikir lisan (ucapan), dzikir qalbu (merasakan kehadiran Allah), dzikir ‘aql (menangkap bahasa Allah di balik setiap gerak alam), dan dzikir amal (taqwa: patuh dan taat terhadap perintah Allah dan meninggalakan larangan-Nya). Idealnya dzikir itu berangkat dari kekuatan hati, ditangkap oleh akal, dan dibuktikan dengan ketaqwaan, amal nyata di dunia ini.

Dzikir adalah perintah Allah SWT kepada orang-orang yang beriman (QS al-Ahzab: 41-42). Maka orang yang beriman adalah orang yang banyak berdzikir. Kurang iman, kurang dzikir. Tidak beriman tidak akan berdzikir. Berdzikir berarti taat pada perintah Allah. Prakteknya bisa jadi dalam keadaan bediri, duduk, atau berbaring (QS Ali Imran: 191), di Masjid (QS An-nur: 36), Mushalla, rumah, kantor, atau jalanan sekalipun, dan bisa dilakukan sendiri-sendiri (QS al-A’raf: 205) atau berjamaah (dalam majelis).

Raulullah SAW bahkan menyebut majelis dzikir sebagai taman surga. Bliau bersabda, “Apabila kalian melewati taman surga, maka bersimpuhlah.” Para sahabat bertanya, “Apa itu taman surga?” Beliau menjawab, “Yaitu majelis dzikir.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi).

Dzikir adalah pangkal ketenangan dan kedamaian (QS ar-Ra’d: 28). Allah adalah sumber ketenangan dan kedamaian (as-Salam). Maka untuk mencapai ketenangan dan kedamaian itu jalannya adalah mendatangi sumbernya dan membersamakan diri dengan-Nya. Dzikit itulah jalan pembersamaan (ma’iyyatullah). Adapun meninggalkan dzikir sama dengan membuka keleluasaan bagi setan untuk menungganginya (QS Az-Zuhruf: 36), menciptakan kepengapan hidup serta membutakan mata hati (QS Thaha: 124). Selain sebagai wujud ketaatan, dzikir merupakan identitas utama seorang mukmin (QS al-Anfal: 2).

Sejatinya, dzikir membentuk pribadi yang bertaqwa. Yaitu amat taat terhadap perintah Allah dan berjuang maksimal menjauhi larangan Allah. Orang yang berdzikir sadar betul bahwa ia senantiasa berada di bawah tatapan dan perintah-Nya.

Tidak Semua Orang Dapat Bertemu Alloh SWT...

Didunia ini, pasti tidak sembarang orang dapat bertemu dengan orang- orang penting. Betemu dengan raja/ratu, kepala Negara, para pejabat tinggi, konglomerat, bilyuner atau trilyuner, dll. Selain mereka sangat sibuk, lagi pula sangat banyak orang yang memerlukan dan berkepentingan dengan mereka. Mereka harus memilih siapa saja orang- orang yang dapat bertemu dengan mereka. Seberapa penting dan besar manfaatnya bagi mereka/negara jika memang harus menemui orang-orang tersebut.

Bayangkan jika tiba-tiba kita mendapat undangan untuk bertemu presiden Indonesia, pasti banyak sekali waktu yang kita sisihkan untuk bersiap-siap. Mulai urusan pakaian, bahan pembicaraan yang akan disampaikan, sampai urusan dandanan pun kita perhatikan. Persiapannya bisa berminggu-minggu jika undangan tersebut tidak datang mendadak. Apalagi jika diundang raja/ratu atau orang-orang penting dari negara lain, mungkin kita harus kursus bahasa mereka dahulu berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Walaupun biasanya didampingi penterjemah.

Lalu bagaimana pertemuan kita dengan Allah swt. ? Sang Pencipta, Raja dari semua Raja. Apakah terlintas bahwa kita dapat bertemu dengan Allah swt.

Siapa yang banyak mendapat pertolongan dari Allah swt, biasanya ia rindu untuk bertemu denganNya. Rasa ingin tahu dan rasa sayang kepada Allah juga membuat kita ingin sekali bertemu denganNya. Seperti apa DIA?

Dia yang mengatur seluruh urusan dibumi, langit dan seluruh jagat raya ini, sehingga semua berjalan pada posisinya. Dia yang menciptakan manusia, hewan, tumbuhan, langit, bumi, bulan,tata surya, malam dan siang, malaikat dan iblis. Dia yang menghidupkan dan mematikan kita. Allah swt lebih sibuk dari siapapun dimuka bumi ini.

Allah swt adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Rasanya Allah tidak memiliki kepentingan atas siapa orang-orang atau hamba- hambaNya yang pantas bertemu denganNya kelak di hari akhir. Malah, jika kita mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Allah swt, hasilnya adalah untuk kita sendiri.

"Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." [18:110]

Amal shaleh, kebaikan yang kita lakukan didunia, sujud dan patuh kepada Allah swt, semua bermanfaat bagi diri kita sendiri. Hasilnya bahkan bisa lebih dari hidup yang bahagia, hati yang lapang dan tenang, keluarga yang sakinah,rezeki yang selalu cukup, dll.

Apabila persiapan kita untuk bertemu dengan orang-orang terpenting dimuka bumi ini membutuhkan waktu berminggu-minggu. Maka, bertemu Allah swt, Tuhan, Sang Pencipta pasti membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Bertahun-tahun, bahkan sejak didalam kandungan, atau lebih dari itu.

Bagaimana ibadah yang Allah swt perintahkan, bagaimana agar tidak menyekutukan/menduakan Allah swt, bagaimana agar Allah menyayangi kita.., dll. Semua ada di Al-quran. Nabi Muhammad saw (dan juga nabi- nabi sebelumnya) telah Allah utus untuk mencontohkannya yang kemudian dikumpulkan dalam hadis shahih. Sebenarnya semua sudah dimudahkan oleh Allah swt untuk persiapan bertemu denganNya.

Namun, tidak semua orang dapat bertemu dengan Allah swt.

"Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, dalam keadaan pandangan tunduk ke bawah lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (didunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera" [68:42-43]

Hanya orang-orang mau dipanggil untuk sujud (patuh) kepada Allah selama didunia yang dapat sujud dihadapan Allah swt dihari akhir. Insya Allah.

Thursday, October 14, 2010

Para Ulama Ahlul Hadits

Muhammad bin Maslamah (wafat 43 H)

Sahabat asal Ansar dari suku Aus ini termasuk yang mempunyai keutamaan. Dia termasuk orang yang bernama Muhammad di zaman Jahiliah. Beliau ikut membunuh Kaab bin Asyraf yang menghasut suku Quraisy untuk memerangi Nabi . Beliau ini sempat mengikuti perang penaklukan Mesir dan Syam. Beliau tidak mengikuti perang Jamal dan Shiffin karena menghindari terjadinya fitnah. Beliau meninggal di Madinah

Semasa hidupnya, Nabi Muhammad dikelilingi sahabat-sahabat yang memiliki keunikan dan kelebihan. Baik dalam tampilan fisik maupun sifat mulia yang ditampakkannya. Ini kerap menjadi sebuah kelebihan para sahabat. Kelebihan dan keunikan mereka juga membantu Muhammad dalam menjalankan tugas kenabiannya. Salah satu sahabat tersebut adalah Muhamad Ibn Maslamah.

Ia berperawakan tinggi dan besar. Hingga di kalangan sahabat, ia mendapatkan julukan ‘raksasa’. Meski tampilan fisiknya seperti itu, Maslamah merupakan seorang pendiam, pemikir, amanah, dan selalu taat menjalankan ajaran agamanya. Ia juga dikenal sebagai orang pemberani. Dalam medan pertempuran, ia bahkan selalu berada di barisan terdepan.

Meski bernama Muhamad Ibn Maslamah, ia tidak terlahir sebagai Muslim. Namun ia merupakan generasi pertama di Yatsrib atau Madinah yang memeluk Islam. Ia masuk Islam di bawah bimbingan Musab ibn Umayr, yang merupakan utusan pertama Nabi Muhammad di Madinah. Muhamad Ibn Maslamah memeluk Islam sebelum orang-orang yang berpengaruh di Madinah memeluk Islam, seperti Usayd ibn Hudayr dan Sad ibn Muadh.

Tak heran jika ia selalu bergabung dalam setiap pertempuran untuk mempertahankan kemuliaan Islam. Pernah sekali ia tak bergabung dalam sebuah pertempuran yaitu Perang Tabuk. Sebab saat itu ia mendapatkan tugas bersama sahabat Ali bin Abi Thalib agar tetap di Madinah untuk menjaga kota tersebut.

Nabi Muhammad melihat pula kesetiaan dan kegigihannya dalam membela Islam. Beliau tak jarang pula mempercayakan pasukan Islam kepada Maslamah. Pada Perang Uhud, ia dipercaya untuk membawahi 50 prajurit dan memberinya tugas untuk melakukan patroli sepanjang malam di perkemahan pasukan Islam.

Dalam peperangan tersebut, pasukan Islam sedikit kewalahan dalam menghadapi musuhnya. Saat itu, sekitar tujuh puluh prajurit Muslim gugur dan lainnya kocar-kacir menyelematkan diri. Sedangkan prajurit lainnya, termasuk Maslamah, membentuk pasukan kecil untuk melindungi keselamatan Nabi Muhammad.

Semangat berkorban demi Islam juga terlihat dalam peristiwa lain. Pada masa awal Rasulullah Muhammad tinggal di Madinah, ia mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi di kota tersebut. Namun pemimpin Yahudi melanggar perjanjian tersebut. Dan membujuk suku-suku lainnya yang ada di Madinah untuk melakukan pemberontakan.

Mereka melakukannya dengan cara adu domba hingga melemahkan kekuatan umat Islam di Madinah. Salah satu kelompok Yahudi yang melakukan penghasutan adalah Bani Qaynuqa. Namun upaya mereka dapat dipatahkan dan Rasul memerintahkan mereka keluar dari Madinah secara damai. Sayang, kejadian ini tak menyurutkan orang-orang Yahudi menghentikan perlawanan.

Salah satu tokoh perlawanan adalah Kab ibn al-Ashraf. Saat itu, ia adalah pihak yang sangat membahayakan keutuhan umat Islam. Rasul berpikir bahwa keadaan ini harus dicarikan pemecahannya. Kemudian Nabi menyatakan kepada para sahabatnya, siapa yang akan menjadi sukarelawan untuk melakukan pembicaraan dengan Kab ibn al-Ashraf.

Tak lama kemudian, Muhamad ibn Maslamah mengajukan dirinya untuk mengemban tugas tersebut. Meski ia pun akhirnya bingung bagaimana caranya berhadapan dengan Kab. Menurut sebuah riwayat, ia bahkan mengurung diri di rumahnya selama tiga hari tanpa makan dan minum, memikirkan bagaimana menghadapi Kab.

Rasulullah akhirnya mendengar kabar tersebut lalu memanggil dan menanyakan mengapa Maslamah sampai melakukan hal itu. Saat itu Maslamah menyatakan bahwa ia telah telanjur sanggup menghadapi Kab namun belum menemukan cara yang tepat untuk menghadapinya.

Rasul yang bijak, menenangkan gejolak hati yang dialami Maslamah dengan mengatakan bahwa apa yang harus Maslamah lakukan adalah hanya berusaha. Setelah mendengar nasihat tersebut, Maslamah merasa lebih tenang. Dan bergegas menemui sahabat lainnya untuk meminta masukan, termasuk kepada Abu Nailah, yang sebelumnya adalah saudara Kab ibn al-Ahsraf.

Di saat lain, tepatnya tahun keempat hijrah, Nabi Muhammad menemui sebuah suku Yahudi yaitu Bani Nadir untuk meminta bantuan atas sebuah masalah. Namun ternyata suku tersebut sedang merencanakan upaya pembunuhan terhadap Nabi. Segera Nabi kembali ke pusat kota Madinah. Ia memanggil Muhammad Ibn Maslamah dan mengirimnya ke suku tersebut.

Maslamah membawa perintah dari Nabi bahwa Bani Nadir harus meninggalkan Madinah dalam jangka waktu sepuluh hari. Ini dilakukan karena keculasan mereka. Beragam kepercayaan ini merupakan bukti bahwa Muhamad Ibn Maslamah merupakan sahabat yang setia, pemberani, dan jujur.

Kepercayaan yang ia dapatkan tak hanya selama masa hidup Nabi. Setelah masa hidup Nabi, Maslamah juga mendapatkan kepercayaan yang berlimpah. Contohnya, pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Khattab, ia dipilih menjadi salah satu menteri. Tak hanya itu, ia juga dianggap sebagai teman dan penasihat terpercaya sang khalifah.

Sebelum dia diangkat menjadi menteri, ia dikirim ke Fustat, Mesir, untuk menopang pasukan Amr Ibn Al-Aas. Karena saat itu Amr memang meminta Khalifah Umar untuk mengirimkan bala bantuan untuk memperkuat ekspedisinya. Umar mengirimkan empat detasemen yang setiap detasemen terdiri dari seribu prajurit.

Salah satu detasemen tersebut dipimpin oleh Muhamad Ibn Maslamah. Kepada Amr, Umar menyampaikan sebuah pesan bahwa ia mengirimkan Muhamad Ibn Maslamah untuk membantu meraih kejayaan dalam menjalankan misinya. Maka Amr harus menerima Maslamah dan memaafkannya jika Maslamah melakukan sebuah kesalahan.

Nyatanya, Maslamah memberikan kontribusi yang berharga bagi kesuksesan misi yang dijalankan Amr di Fustat tersebut. Setelah kepemimpinan Umar digantikan oleh Usman Ibn Affan, Maslamah juga tetap mendapatkan kedudukan yang terhormat di mata khalifah ketiga tersebut.

Nahas, di kemudian hari ia meninggal bukan karena pertempuran melawan musuh. Ia terbunuh pada saat terjadi perang saudara antar umat Islam. Kala itu ia tak lagi mau menggunakan pedang yang diberi oleh Rasulullah Muhammad dan selalu ia gunakan dalam setiap pertempuran. Ia tak tega untuk menhujamkan pedang kepada saudaranya sesama Muslim. Ia meninggal dalam usia 77 tahun.

Qudratulloh

Banyak orang yang bersungguh sunguh

Dalam keduniaan

Padahal Alloh SWT…

Tak meletakkan janjinya dalam Asbab

Bahkan asbab ikut Qudratulloh

Atau apa yang di takdirkan…

Sedangkan Qudratullah

Itulah amal yang kita buat…



Ketika usaha asbab

Mencapai titik maksimal

Justru beberapa banyak orang

Yang kecewa dan putus asa…



Tak jarang…

Asbab telah dijadikan ARBAB

Atau sesembahan…

Justru oleh orang yang sukses

Dalam usaha atas asbab.



Bahkan terkadang..

Orang yang mati matian dalam asbab

Tak merasakan jerih payah mereka



Seorang Pakistani

Telah berjuang di Negeri Petro Dollar

Untuk merubah dunianya…



Saat telah berhasil kumpulkan uang

Membangun rumah

Di tanah kelahirannya



Rumah telah siap..

Dia akan melihat hasil kerjanya

Menuju Bandara Dubai

Jantungnya terasa sakit yang sangat



Ajal menjemputnya..

Dan sang istri diberitahu..

Suami anda telah meninggal dunia

Dimana jasadnya akan di kebumikan?

Di Pakistan atau di Dubai?



Sang Istri tak mau repot

Dia katakana :

‘’Makamkan saja di Dubai..!’’



Mari kita Renungkan kisah ini..




Wednesday, October 13, 2010

PANJANG UMUR

Rasulullah SAW bersabda :

“SEBAIK-BAIK KAMU ADALAH ORANG YANG PANJANG UMURNYA DAN BANYAK PULA AMALNYA.” (HR.TIRMIDZI)

Barang siapa yg memohon dipanjangkan umurnya agar dapat melakukan amal sholeh yg dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT serta betul-betul ada usaha ke arah itu dan dia bersemangat dalam beramal kemudian menjauhkan dirinya dari dunia, maka orang tersebut adalah orang-orang yang benar (shodiqin).

Tetapi jika dengan keinginannya tersebut dia bermalas-malasan dan mengabaikan amal sholih, maka nyatalah dia adalah seorang pendusta (kadzibin) karena menuntut sesuatu tanpa ada faedahnya.
Dunia adalah tempat untuk beramal (Daarul ‘amal) sedangkan akhirat adalah tempat panen dan ganjaran (Daarul jaza’).

Bedakan antara UMUR BIOLOGIS dan UMUR AMAL...
Sebaik-baiknya manusia adalah UMUR AMALNYA lebih panjang dari UMUR BIOLOGISNYA.
Orang yang pendek umurnya namun setelah kematiannya kebaikannya masih selalu diceritakan orang dan amalnya masih ditiru orang, itulah orang beruntung dan sholeh. Namun sebaliknya umurnya panjang, tapi tidak ada kebaikan sedikitpun yang ditiru dan dikenang orang, sia-sialah hidupnya dan merugilah ia ...na’udzubillah!

SETIAP TAHUN UMUR KITA BERTAMBAH, ARTINYA JATAH UMUR KITA BERKURANG. JADI ANEH KALAU ADA ORANG BERPESTA PORA BERLEBIHAN UNTUK MERAYAKAN ULANG TAHUNNYA. ARTINYA KAN, SAMA SAJA DIA SEDANG MERAYAKAN KEMATIAN YANG SEMAKIN DEKAT. SEHARUSNYA SETIAP ULANG TAHUN DIA MERENUNG; APA SAJA YANG SUDAH DILAKUKAN DAN APA SAJA YANG AKAN DILAKUKAN UNTUK MEMANFAATKAN SISA UMUR.

Oleh karena itu, pilihlah yang akan mendatangkan manfaat bagi dirimu kelak, selagi anda dapat memilih. Semoga Allah SWT merahmati dan meningkatkan derajat kita, sebab jika kita sudah mati, kita tak dapat memilih lagi.

Salam Ikhlas!
--------------------------

Indahnya Sholat Malam

Hukum sholat malam adalah sunah muakkad. Waktunya adalah setelah sholat ‘isya sampai dengan sebelum waktu sholat shubuh. Akan tetapi, waktu yang paling utama adalah sepertiga malam yang terakhir dan boleh dikerjakan sesudah tidur ataupun sebelumnya.

Sedangkan jumlah rokaatnya paling sedikit adalah 1 rokaat berdasarkan sabda Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, “Sholat malam adalah 2 rokaat (salam) 2 rokaat (salam), apabila salah seorang di antara kamu khawatir akan datangnya waktu shubuh maka hendaklah dia sholat 1 rokaat sebagai witir baginya.” (HR. Bukhori dan Muslim). Dan paling banyak adalah 11 rokaat berdasarkan perkataan ‘Aisyah radhiyallohu ‘anha, “Tidaklah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam sholat malam di bulan romadhon atau pun bulan yang lainnya lebih dari 11 rokaat.” (HR. Bukhori dan Muslim), walaupun mayoritas ulama menyatakan tidak ada batasan dalam jumlah rokaatnya.

Keutamaan Sholat Malam

Ketika menyebutkan

ciri-ciri orang yang bertakwa, Alloh Subhanallohu wa Ta’ala berfirman yang artinya, “Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 17-18)

Karena pentingnya sholat malam ini Alloh berfirman kepada Nabi-Nya yang artinya, “Hai orang yang berselimut, bangunlah pada sebagian malam (untuk sholat), separuhnya atau kurangi atau lebihi sedikit dari itu. Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. AlMuzammil: 1-4)

Berikut ini akan kami sampaikan beberapa keutamaan sholat malam dengan tujuan agar seseorang lebih bersemangat dan terdorong hatinya untuk mengerjakannya dan selalu mengerjakannya.

1. Sebab masuk surga.

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali persaudaraan dan sholatlah ketika manusia terlelap tidur pada waktu malam niscaya engkau akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah, dishohihkan oleh Al Albani)

2. Menaikkan derajat di surga.

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh di dalam surga tedapat kamar-kamar yang bagian dalamnya terlihat dari luar dan bagian luarnya terlihat dari dalam. Kamar-kamar itu Alloh sediakan bagi orang yang memberi makan, melembutkan perkataan, mengiringi puasa Romadhon (dengan puasa sunah), menebarkan salam dan mengerjakan sholat malam ketika manusia lain terlelap tidur.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)

3. Penghapus dosa dan kesalahan.

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian melakukan sholat malam, karena sholat malam itu adalah kebiasaan orang-orang sholih sebelum kalian, dan ibadah yang mendekatkan diri pada Tuhan kalian serta penutup kesalahan dan sebagai penghapus dosa.” (HR. At Tirmidzi, dihasankan oleh Al Albani)

4. Sholat yang paling utama setelah sholat fardhu.

Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sholat yang paling utama setelah sholat wajib adalah sholat malam.” (HR. Muslim)

5. Kemulian orang yang beriman dengan sholat malam.

Ketika Jibril datang pada Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Hai Muhammad, kemuliaan orang beriman adalah dengan sholat malam. Dan kegagahan orang beriman adalah sikap mandiri dari bantuan orang lain.” (HR. Al Hakim, dihasankan oleh Al Albani)

Nasihat Imam Madzhab

Assalamualaikum..

Semoga keselamatan senantiasa menyertai ummat Rasulullah yang memperjuangkan agamanya, yang menjauhi apa-apa yang dibencinya dan mengamalkan apa-apa yang beliau senantiasa lakukan.

Insya Allah teteh kutip dari salah satu blog yang sepertinya bermanfaat untuk kita semua ambil hikmah didalamnya dan menjadikan pembelajaran untuk kita amalkan dan menyampaikan kepada saudara muslim kita yang lain.

Perkataan Imam Empat Madzab tentang Wajibnya Mengikuti Hadits Rosulullooh

”Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amatlah sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)” [al-A’raaf ayat 3]

Imam madzhab Tidaklah mereka menganjurkan untuk taklid pada pendapat mereka, bahkan mereka menganjurkan sebaliknya, yakni mengikuti Al Quran dan As Sunnah yang shohih. Setiap dari mereka menyebutkan, jika dijumpai pendapat mereka yang bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah, maka orang yang mengetahui harus mengikuti Al Quran dan As Sunnah, dan meninggalkan pendapat mereka. Oleh karena itu, hal ini merupakan pelajaran yang sangat bagus bagi orang-orang yang mengaku mengikuti salah satu dari imam-imam tersebut, namun tidak mau tunduk kepada Al Quran dan As Sunnah yang shohih.

Berikut perkataan-perkataan mereka yang dicatat oleh Al Imam Al Faqih Nashiruddin Al Albani rohimahullooh dalam pendahuluan kitab Sifatu sholatin nabiyy.


Imam Abu Hanifah

Abu Hanifah yang pertama adalah Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit. Telah diriwayatkan darinya pendapat-pendapat dan ungkapan-ungkapan beragam yang semuanya bermuara pada satu makna. Yaitu kewajiban mengambil hadits sebagai dalil dan meninggalakan pendapat-pendapat yang bertentangan dengannya. Beliau berkata,

1. Bila suatu hadits itu benar maka itulah mazhabku.

2. Tidak halal bagi setiap orang untuk mengambil pendapat kami tanpa mengetahui dari mana kami mengambilnya. Dalam sebuah riwayat disebutkan ”Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku berfatwa dengan pendapatku”. Dalam riwayat lain ditambahkan ”Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengemukakan pendapat hari ini dan (boleh jadi) berubah pendapat pada keesokan harinya”. Disebutkan juga dalam riwayat lain ”Apa-apaan engkau wahai Ya’kub (Abu Yusuf)!, jangan engkau tulis semua yang engkau dengar dariku. Karena aku mengemukakan pendapat hari ini dan keesokan harinya mungkin aku meninggalkannya. Besok aku berpendapat sesuatu dan lusanya aku tinggalkan”

3. Apabila aku mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan kitab Alloh dan khabar dari Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam, hendaknya kalian meninggalkan pendapatku.


Imam Malik bin Anas

1. Sesungguhnya aku adalah manusia yang terkadang salah dan terkadang benar, maka lihatlah pendapatku. Apabila sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah maka ambillah. Setiap yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah, maka tinggalkanlah.

2. Setiap perkataan orang boleh dipakai atau ditinggalkan kecuali perkataan Nabi shollalloohu ‘alaihi wa sallam.

3. Ibnu Wahab berkata, ”Aku mendengar Malik ditanya tentang menyela-nyela jari-jari kedua kaki dalam wudlu. Ia berkata ’Hal itu tidak wajib’. Lalu saya meninggalkannya sampai orang-orang yang mengelilinginya sedikit. Saya katakan kepadanya, ’Hal ini menurut kami sunnah’ Malik bertanya ’Apa haditsnya?’ Saya menjawab, ’Dikatakan Laits bin Sa’ad, Ibnu Luhai’ah dan Amru bin Harits, dari Yazid bin Amru al-Ma’afiri, dari Abu Abdurrahmanal-Habli, dari al-Mustaurid bin Syadad al-Qurasyi,

ia berkata ’Aku melihat Rasulullah SAW menggosokkan jari-jari manisnya pada cela-cela jari kedua kakinya’ Lalu Malik menyela ’Hadits ini hasan, aku tidak pernah mendengarnya kecuali sekarang ini.’ Kemudian di lain waktu ia ditanya dengan masalah yang sama dan ia menyuruh agar menyela-nyela jari-jari kedua kakinya.”


Imam Syafi’i

Perkataan-perkataan dari Imam Syafi’i dalam masalah ini lebih banyak dibandingkan dengan 2 imam yang telah disebutkan di atas. Di antara ucapan beliau adalah sebagai berikut:

1. Tidak ada seorangpun yang bermazhab melainkan (harus dengan) mazhab Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam. Apapun pendapat yang aku kemukakan atau yang aku sebutkan, sedangkan terdapat hadits yang bertentangan dengan pendapatku maka yang benar adalah sabda Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam. Dan itulah pendapatku.

2. Kaum muslimin telah sepakat bahwa orang yang telah mengetahui sebuah hadits dari Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh meninggalkannya untuk mengambil pendapat seseorang.

3. Jika kalian mendapati dalam kitabku yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam, ambillah sunnah Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkanlah pendapatku. Dalam sebuah riwayat dikatakan ’Maka ikutilah dan janganlah kalian mengikuti pendapat siapapun’

4. Bila sebuah hadits dinyatakan sahih, maka itulah mazhabku.

5. Kalian lebih mengetahui hadits dan rawi-rawinya daripada aku. Bila suatu hadits dinyatakan sahih maka beritahukanlah kepadaku darimanapun asalnya, dari Kufah, Basrah atau Syam. Bila benar sahih, aku akan menjadikannya madzabku.

6. Setiap masalah yang ada haditsnya dari Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam menurut ahli hadits yang bertentangan dengan pendapatku, niscaya aku cabut pendapatku baik selama aku masih hidup atau setelah matiku.

7. Bila kalian melihatku mengemukakan suatu pendapat, dan ternyata ada hadits sahih yang bertentangan dengan pendapatku maka ketahuilah bahwa pendapatku tidak pernah ada.

8. Semua yang aku ucapkan sedangkan ada hadits Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam yang sahih bertentangan dengan pendapatku, maka seharusnya diutamakan hadits Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam, janganlah bertaklid kepadaku.

9. Setiap hadits yang sahih dari Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam adalah pendapatku, sekalipun kalian tidak mendengarnya dariku.


Imam Ahmad bin Hambal

Imam Hambali adalah salah seorang imam yang terbanyak mengumpulkan hadits dan yang paling teguh memegangnya. Beliau berkata sebagai berikut,

1. Janganlah bertaklid kepadaku, Malik, Syafi’i, Auza’i dan tidak pula Ats Tsauri, ambillah dari mana mereka mengambil. Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Janganlah bertaklid dalam masalah agama kepada para imam, ikutilah apa yang mereka dapat dari Rasulullah shollalloohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sedangkan apa yang berasal dari tabi’in, maka boleh memilihnya (menolak atau menerima).

2. Al-Auza’i berpendapat, Malik berpendapat, dan Abu Hanifah berpendapat. Menurutku semuanya adalah ra’yu (buah pikiran semata), sedangkan yang dapat dijadikan hujjah dalam masalah-masalah agama adalah atsar (hadits).

3. Barangsiapa menolak hadits Rasulullah SAW maka ia berada di tepi kehancuran.


Catatan:

Dari riwayat-riwayat tersebut, kita dapat melihat bahwa setiap imam empat madzab menganjurkan untuk senantiasa berpegang teguh pada hadits, dan melarang untuk bertaklid terhadap pendapat mereka tanpa ilmu.

Hal ini sangat jelas sekali bagi orang yang mau menelaah. Oleh karena itu, barangsiapa berpegang teguh terhadap hadits, meskipun bertentangan dengan pendapat para imam, tidak berarti menyalahi pendapat mazhab yang dianut dan juga tidak berarti telah keluar mazhab yang ditempuhnya.

Bahkan, dengan melakukan hal tersebut, dia telah mengikuti jalan dan pendapat para imam madzab yang sebenarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang meninggalkan sunnah yang shahih hanya karena berbeda dengan pendapat para imam madzab, konskuensinya dia telah menyelisihi dan menentang para imam madzab tersebut.

Alloh berfirman, ”Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dangan sepenuhnya” [An-Nisaa’ ayat 65].

Dalam ayat yang lain,

”Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” [QS. An-Nur ayat 63].

Afwan jiddan akhy wa ukhti, berhubung ini adalah yang pertama buat teteh mengirim artikel mengenai Madzhab,
teteh tidak ada maksud sama sekali menulis note ini dan menyampaikannya kepada kalian untuk atau dengan maksud mengajari kalian karena teteh tau kalian semua lebih pandai dan lebih paham agama dibandingkan teteh, teteh hanya belajar cara menyampaikan kepada orang lain hal yang menurut teteh perlu teteh sampaikan.

Semoga catatan ini bermanfaat dan lebih meningkatkan keinginan kita untuk semata-mata beribadah berdasarkan perintah Alloh melalui sunnah baginda Rasulullah.

Syukran Katsir ^_^
Salam Ukhuwah,..