Thursday, November 28, 2013

Perbedaan Surga Adam dan Surga Akhirat



Para ulama berbeda pendapat seputar Surga yang dahulu didiami Nabi Adam as dan isterinya, Siti Hawa. Apakah surga tersebut adalah surga balasan ataukah surga dunia yang berarti taman sebagaimana makna etimologisnya ?

Surga yang didiami Nabi Adam as dan istrinya bukanlah surga yang dijanjikan sebagai tempat pembalasan amal perbuatan. Karena surga ini diperuntukkan bagi mereka yang telah mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya pada Hari Penghisaban. Surga balasan adalah bentuk penghargaan atas amal kebaikan yang dilakukan seseorang. Di surga akhirat, sedikitpun tidak ada beban maupun kewajiban. Karenanya setan tidak akan bisa menggelincirkan para penghuninya untuk keluar dari dalamnya seperti halnya Adam as pernah dikeluarkan dari surga gara gara tergoda rayuan iblis.

adapun surga tempat tinggal Adam dahulu, adalah surga tempat dengan prinsip hidup tersendiri. Allah menghendaki untuk mengajarkan Adam dan istrinya suatu misi dan kewajiban yang kelak akan dibebankan kepada keduanya. Perintah pada sesuatu tentunya mengandung pilihan. Pilihan adalah suatu arahan, baik untuk dikerjakan atau dijauhi. Sungguh seluruh manhaj para Rasul Rasul Allah tidak keluar dari misi menunaikan apa yang dititahkan dan menghindari yang dilarang.

Dalam surah Al Baqarah ayat 35, Allah SWT berfirman : "Wahai Adam, diamilah olehmu dan istrimu surga ini dan makanlah makanan makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai." Ayat ini merupakan titah kepada keduanya, berhak menikmati makanan makanan yang ada di surga. Sementara itu, pada saat yang sama Allah juga melarang keduanya, "Dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang orang yang zalim." Perintah jangan mendekati, merupakan arahan Allah kepada keduanya untuk tidak memakan suatu pohon yang telah dilarang Allah.

Betapa indah uslub dan metode Al Quran saat Allah melarang keduanya untuk memakan pohon tersebut dengan ungkapan "jangan mendekati" bukan dengan kalimat "Jangan memakannya". Ini menunjukkan, setiap perbuatan maksiat itu bukan saja tidak boleh dilakukan, lebih dari itu juga tidak diperkenankan untuk coba coba mendekatinya. Karena siapa yang mendekat pada maksiat, maka tinggal selangkah lagi ia terjerumus ke dalamnya. Wallahu a'lam.

No comments:

Post a Comment