There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Tuesday, April 10, 2018

Harta yang mendekatkan dan menjauhkan

*HARTA YG MENDEKATKAN & MENJAUHKAN*

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Sahabat...

Seorang mukmin hendaknya memandang harta sebagai sebuah _Sarana_ bukan _Tujuan._

Oleh karena itu harta terbaik bukan dinilai dari _banyaknya jumlah_ tapi _seberapa sering dengannya kita bisa membantu sesama._

*Harta terbaik* adalah harta yang _dimiliki seorang yang shalih_ yang dengannya ia *semakin dekat dengan Allah Ta'ala dan manusia.*

Sedangkan *harta terburuk* adalah harta yang dengannya ia *menjadi terbelenggu dari kebaikan,jauh dari Alloh dan jauh dari manusia, harta yang melalaikan diri dari berdzikir hanya akan menjauhkan kita dari RahmatNya.*

_Dekatkan harta untuk *menggapai ridhoNya*_ dan _lepaskan semua belenggunya yaitu *hak orang lain yang masih tersimpan*,_ niscaya _Allah Ta'ala akan menggantinya dengan *harta berkah* yang melimpah, *hati yang tenang* dan *keluarga yang tentram dan  bahagia*._

Jemputlah rezeki yg telah Allah Ta'ala sediakan bagi kita dari _*sumber* yang baik, dengan *cara* yang baik dan *dibelanjakan* dengan baik._

_When Allah Ta'ala blessing you financially_
_Don't rise your *Standard of Living*_
_Rise your *Standard of Giving*_

_It's not about how much *money* you give_
_But it's about how much *love* you put in your give_

_sahabathikmah_

Monday, March 26, 2018

Menebar angin menuai badai

*Menebar Angin Menuai Badai*

Assalamualaikum
Sahabat...
Amal seorang manusia yg dilakukan sepertinya kecil/sepele/tdk berdampak luas, padahal amalan manusia itu ibarat _angin_ yg seketika berdampak _badai_

Amal itu ada amal baik (sholeh) ada juga amal buruk (lalai & maksiat)

Seseorang beramal sholeh maka dia sedang *menebar angin sholeh* maka dan akan *menuai badai kebaikan...*

Sebaliknya...

Seseorang beramal buruk maka dia sedang *menebar angin keburukan* maka dan akan *menuai badai keburukan...*

Karena amalan manusia ini *menembus batas ruang & waktu, menumbus 7 petala langit & 7 petala bumi, menembus alam sd akhirat*

Amalan manusia ini begitu pentingnya sehingga diutus malaikat yg mulia agar *tiada satupun perbuatan & ucapannya* yg tidak dicatatnya.

Amalan manusia ini begitu pentingnya karena *dilakukan, diketahui, didengar & dilihat langsung oleh Allah yg Maha Tahu, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Besar & Kuasa...*

Amalan manusia ini begitu pentingnya sehingga segala _amalan yg dilakukannya di Alam dunia yg sekejap ini... *menentukan nasibnya di Akhirat yg selama-lamanya*_

Amalan manusia ini begitu pentingnya sehingga kelak diadakan *Makhkamah Illahi...*

Hakimnya Allah Ta'ala sendiri...
Pembelanya... Rasulullah SAW bagi orang2 yg tergolong ummatnya (syafaat).

Semua saksi dihadirkan dari mulai golongan manusia, Jin, malaikat, tanah, Batu, gunung, udara, tumbuhan, hewan dst ...yg semuanya akan menjadi saksi atas amal manusia yg dilakukannya ketika di dunia.

Setiap amalan manusia akan diaudit & ditimbang bobotnya di alam mizan dengan seadil-adilnya, seteliti-telitinya, sedetail-detailnya dan disaksikan seluruh makhluk ciptaan Allah.

Sahabat...
Mari kita menebar Amal sholeh disetiap saat, disetiap tepat, situasi & keadaan... Agar InsyaAllah kita dapat menuai badai kebaikan, keselamatan & kesuksesan dunia akhirat.

Aamiin Ya Robbal'aalamiin

Friday, March 9, 2018

Dunia ini cermin

*DUNIA INI CERMIN*

Assalamu'alaikum
Sahabat...

Ibnu Athailah dalam Kitab Al Hikam menggambarkan dunia ini ibarat cermin.

Misal muka kita kotor/cemong lalu kita bercermin...
Lalu kita melihat dan tau ada kotoran/cemong...
Lalu kita ambil lap tapi yg kita lap/bersihkan malah cerminnya ... apakah akan hilang kotoran/cemong di muka kita? Tentu saja tidak 😊
Kalau mau bersih yang di bersihkan bukan cerminnya sekalipun cermin tsb bisa jadi kotor... tapi utamanya adalah muka kita yg kotor/cemong tsb lah yg semestinya harus dibersihkan.

Itulah gambaran dunia...

Jika kita melihat keburukan di rumah misalnya, istri/suami kok begini... anak kok begitu...
Terlihatnya mereka yg jelek padahal mereka semua itulah "cerminan" kita, maka segeralah bersihkan diri kita dengan bertobat, perbanyak istighfar, koreksi diri dst.

Begitu juga jika melihat Lingkungan sekitar rumah kok begini...di kantor kok begitu... Rejeki seret atau banyak tapi ngga jelas habisnya dst.... Terlihatnya karyawan kita yg jelek, bos yg jelek, tetangga yg jelek dst.

Mereka itu cerminan kita juga, maka bertobat lagi, istighfar lagi, koreksi/islah diri lagi...terus begitu.

Situasi keadaan buruk di luar diri kita ini, diperlihatkan oleh Allah kepada kita ... adalah salah satu cara Allah Ta'ala untuk *menegur kita, mengingatkan kita agar kita sibuk bertobat & islah diri bukan sibuk melihat keburukan orang lain.*

Allah Ta'ala menciptakan _masalah_ berikut dengan _solusinya_, seperti Allah ciptakan _penyakit_ dengan _obatnya_, _malam_ dan _siang_, _pria_ dan _wanita_ dst... selalu berpasang-pasangan krn Allah Maha Adil.

Seringkali *solusi* yang telah Allah sediakan atas *masalah* yang sedang kita hadapi ... jadi tidak terlihat karena *terhalang/tertutup* oleh dosa2 kita.

Itulah sebabnya Rasulullah SAW menganjurkan perbanyak istighfar, khususnya jika menghadapi masalah.

Keburukan sebesar gunung sekalipun di orang lain, itu bahayanya ya... di orang lain tsb
Tapi Keburukan walau hanya setitik pada diri kita, ini bahayanya kepada diri kita

Maka sibuklah melihat aib diri sehingga kita tidak sempat lagi melihat aib orang lain
Sibuklah bertobat & islah diri...smp akhir hayat.

Orang yg terus bertobat akan semakin bersinar, dirinya akan menjadi cahaya penerang bagi sekelilingnya.
Semakin terang cahayanya, semakin sirna kegelapan.
Semakin kita bertobat & koreksi diri... Semakin Allah perbaiki keadaan kita & segala urusan kita...

Nabi Yunus AS sibuk bertobat dalam perut ikan, maka Allah keluarkan beliau AS dari 3 kegelapan yaitu : gelapnya perut ikan, gelapnya dalam lautan & gelapnya malam.
Allah damparkan Nabi Yunus AS ditepi pantai...
Allah tumbuhkan seketika pohon untuk meneduhinya dari terik matahari...
Allah gerakkan binatang2 untuk suplay makananan kpd Nabi Yunus AS...
Setelah Nabi Yunus AS cukup kuat utk berjalan, beliau kembali kpd kaummnya yg menolak dakwahnya selama ini... Allah balikan hati mereka sehingga seluruh kaum tsb masuk Islam.
Allah selesaikan seluruh urusan Nabi Yunus AS, urusan pribadinya dan urusan pekerjaannya asbab dari bertobat sungguh2 dan koreksi diri sungguh2.

Semoga kita semua tergolong sebagai Ahli Tobat karena Ahli Tobat akan dicintai oleh Allah Ta'ala dan ditolong segala urusannya oleh Allah....
Aamiin Ya Robbal'aalamiin

Wednesday, February 28, 2018

Pentingnya tabayyun

Renungan senin ..pagi
                                                                             *Matinya Singa Tanpa Tabayyun*

Dulu sekali.
Tepatnya waktu saya masih di bangku Sekolah Dasar.
Ada sebuah cerita rakyat menarik. Alurnya sangat menyentuh dan membekas.

Jujur, saat membaca cerita itu saya menangis.
Bahkan rasa sedih terbawa setiap hendak tidur.
Sungguh, banyak hikmah yang bisa dipetik.

Ceritanya bertutur tentang seorang petani miskin yang menemukan anak singa yang ditinggal mati induknya.

Lantaran iba, petani itu memungut dan merawatnya sepenuh hati, layaknya anak sendiri. Tidak dapat dilukiskan ikatan kedua makhluk Alloh itu. Jiwa mereka seakan bersatu. Sang Singa pun telah menganggap petani itu sebagai orang tuanya.

Waktu merangkak cepat. Anak singa itupun telah dewasa. Di waktu bersamaan, sang petani pun mendapat karunia besar. Isterinya melahirkan seorang bayi lelaki mungil dan lucu.

Seluruh anggota keluarga begitu bahagia, tak terkecuali sang singa. Gerak- gerik dan pancaran sinar matanya, menyiratkan Kebahagiaan luar biasa.
Maka mulai saat itu, sang singa mendapat tugas baru, menjaga "adiknya" kala sang petani dan isterinya berangkat ke ladang.

Suatu hari, saat petani miskin Itu bekerja di ladang dat isterinya mencari kayu bakar di hutan, tiba-tiba terdengar jeritan bayi mereka dari dalam pondok.
Sang petani terlonjak kaget.
Firasatnya memburuk.

Secepat kilat ia menyambar goloknya, lalu bergegas menuju sumber jeritan tadi.

"Apa yang terjadi? Dimana singa itu?" Batin sang petani.

Setibanya di halaman pondok, ia tidak mendengar suara apapun. Senyap...
Hanya suara nafasnya menderu saling memburu.

Hatinya galau. Ketakutan mulai merayapi pembuluh darahnya. Dan pada saat yang sama, sang singa keluar dari pondok.
Mulut, taring dan cakarnya belepotan darah.

Seperti biasa, setiap sang petani pulang, Singa itu segera mendekat. Menggerak-gerakkan ekornya, lalu mengelus manja di kaki "Ayahnya".

Jangan-jangan..., Ia telah memangsa bayiku??!!, Jerit batin sang petani.

Menyaksikan hal  ini, sang petani kalap.
Darahnya seakan berkumpul di ubun-ubun. Sambil berteriak, ia mengayunkan goloknya ke arah sang singa

"Makhluk terkutuk, tidak tahu balas budi kau..". Singa itu tidak berusaha menghindar, apalagi lari menjauh. Bahkan tatapannya memelas, memohon agar "ayahnya* tidak melakukan hal bodoh itu.

Namun seluruhnya sudah terlambat. Dalam sekejap singa itu roboh berlumuran darah. Kepalanya sobek akibat sabetan golok sang petani, menggelepar, lalu mati seketika.

Sang petani, segera menghamburkan diri menuju pondok miliknya. Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan pintu. Samar-samar ia menangkap celoteh dan tawa bayinya. Hatinya mulai ragu.

Ia menengok ke belakang. Di sana sang singa telah terkapar mati. Sambil gemetar, ia mendorong pintu. Sungguh pemandangan yang sangat mengejutkan.

Sekujur tubuhnya dingin...
Lututnya goyah...
Pandangan matanya kabur...

Ternyata, bayinya masih hidup. Di samping pembaringan bayi itu, tergeletak bangkai seekor ular besar.

"Ya Alloh, apa yang telah aku lakukan??!! Celaka diriku, celaka diriku...". 

Ia berbalik dan lari ke arah singa yang telah kaku itu. Dipeluknya tubuh sang singa. Ia menangis, meratap dan meraung-raung, sembari mengutuki dirinya.

Hingga isterinya kembali dari hutan, sang petani masih duduk memeluk jasad singa yang malang itu.

Air matanya telah kering meninggalkan perih di kelopak matanya. Penyesalan meruangi hatinya. Namun apa mau di kata, ibarat nasi telah menjadi bubur. Semua sudah terlambat.

Saudaraku, begitu pentingnya Tabayyun itu. Keputusan tanpa proses Tabayyun (Klarifikasi), di pastikan melahirkan penyesalan.
Ya penyesalan tak berujung dan abadi sepanjang hidup.

Karena kita menimpakan keburukan atas diri orang lain. Padahal, mungkin saja mereka berlepas diri darinya.

Makanya, Alloh ta’ala tegas menyuruh agar selalu mengedepankan tabayyun.

Dan hikmahnya jelas,

“… agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum, tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurot, 49 : 6).

Menulis ulang cerita ini emosi saya kembali teraduk-aduk. Bagaimana jika petani itu adalah diriku?
Bagaimana menjalani sisa-sisa hidup di bawah bayang-bayang rasa bersalah yang menghimpit.
Terlebih pada orang yang telah berjasa dalam hidupku.

Sungguh, andai ada satu permintaan, sudah tentu sang petani akan memohon supaya waktu memutar kembali.

Namun begitulah, penyesalan itu, selamanya pasti kan datang terlambat.

Allohu a’lam ...

hidup adalah ujian
مسلم_انتيد@

Rizki ku ada di langit bukan di tempat kerja

("Rizki-ku ada di langit, bukan di tempat kerja.!")

📚Belajar Tawakal Kepada Putri 10 Tahun

Hatim Al Ashom, ulama besar muslimin, teladan kesederhanaan dan tawakal.

Hatim suatu hari berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi utk menuntut ilmu.

Istri dan putri putrinya keberatan. Krn siapa yg akan memberi mereka makan.

Salah satu dari putri-putri itu berusia 10 tahun dan hapal Al Quran.

Dia menenangkan semua: Biarkan beliau pergi. Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!

Hatim pun pergi
Hari itu berlalu, malam datang menjelang...

Mereka mulai lapar. Tapi tdk ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri 10 tahun yg tlh mendorong kepergian ayah mereka.

Putri hapal Al Quran itu kembali meyakinkan mereka: Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!

Dlm suasana spt itu, pintu rumah mereka diketuk. Pintu dibuka. Terlihat para penunggang kuda. Mereka bertanya: Adakah air di rumah kalian?

Penghuni rumah menjawab: Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air.

Air dihidangkan. Menghilangkan dahaga mereka.

Pemimpin penunggang kuda itu pun bertanya: Rumah siapa ini?

Penghuni rumah menjawab: Hatim al Ashom.

Penunggang kuda terkejut: Hatim ulama besar muslimin.....

Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi uang dan dilemparkan ke dalam rumah dan berkata kpd para pengikutnya: Siapa yg mencintai saya, lakukan spt yg saya lakukan.

Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong mereka yg berisi uang. Sampai pintu rumah sulit ditutup, krn banyaknya kantong-kantong uang. Mereka kemudian pergi.

Tahukah antum, siapa pemimpin penunggang kuda itu...?
Ternyata Abu Ja'far Al Manshur, amirul mukminin.

Kini giliran putri 10 thn yg telah hapal Al Quran itu memandangi ibu dan saudari-saudarinya. Dia memberikan pelajaran aqidah yg sangat mahal sambil menangis:

JIKA SATU PANDANGAN MAKHLUK BISA MENCUKUPI KITA, MAKA BAGAIMANA JIKA YG MEMANDANG KITA ADALAH AL KHOLIQ!
***
Terimakasih nak, kau telah menyengat kami yg dominasi kegelisahannya hanya urusan dunia.
Hingga lupa ada Al Hayyu Ar Rozzaq

Hingga lupa jaminan Nya: dan di LANGIT lah RIZKI kalian...

Bukan di pekerjaan...bukan di bank...bukan di kebun...bukan di toko...tapi DI LANGIT!

Hingga kami lupa tugas besar akhirat
اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا

Duhai Allah, jangan Kau jadikan dunia sebagai kegundahan terbesar kami.....
Barokallahu fiikum....

Saturday, February 24, 2018

Aku Malu

*AKU MALU...*

Aku malu PadaMu karena lebih sering yakin pada _makhluk ciptaanMu_ daripada _Engkau yang menciptakan segalanya_ padahal makhluk tidak bisa apa2... Engkau yg Maha Kuasa...
Sgala yg ada karena Engkau adakan, sgala yg hidup karena Engkau hidupkan, sgala yg bergerak karena Engkau gerakkan, sgala yg mati karena Engkau matikan, sgala yg hidup kembali karena Engkau hidupkan kembali.

Aku malu PadaMu karena lebih yakin pada _uang yang hanya berupa kertas bertuliskan angka_ daripada Engkau _Sang Pemberi Rezeki._

Aku malu PadaMu karena lebih sering _mengeluh_ daripada _bersyukur_ padahal Engkau nikmat hambaMu yg bersyukur dan Engkau benci hambaMu yg mengeluh karena kuffur nikmat.

Aku malu PadaMu karena lebih sibuk _membangun dunia_ yang pasti kutinggalkan daripada _membangun akhirat_ yang pasti abadi.

Aku malu PadaMu karena lebih sibuk melihat _aib orang lain_ daripada _aib diri._sehingga aku malah sibuk _mengkritik orang lain_ daripada _bertobat._

Aku malu PadaMu karena ketika ku _bersujud dihadapanMu_ ketika  shalat sekalipun... namun _pikiranku melayang kepada hal selain dariMu._ padahal sujud dalam Shalat adalah sedekat-dekatnya jarak antara DiriMu dengan HambaMu

Aku malu PadaMu karena aku tahu bahwa memberi itu Mulia...tapi aku ternyata lebih senang _diberi_ daripada _memberi_... lebih senang _dilayani_ daripada _melayani_... lebih senang _dimuliakan_ daripada _memuliakan_...

Aku malu PadaMu karena _sulit memaafkan kesalahan orang lain_ sementara aku ingin mudah Engkau ampuni atas dosa2ku yg lebih banyak daripada buih-buih ombak di lautan... lebih besar dari seluruh gunung di muka bumi...

Aku malu PadaMu Ya Allah Ya Ghofururrohim...
Maka ampuni aku...
Besarkan rasa malu ku PadaMu sehingga aku bertobat sungguh2, taat PadaMu & RasulMu sungguh2, bersyukur sungguh2, menjadi Rahmat bagi Semesta Alam... Aamiin Ya Robbal'aalamiin

_sahabathikmah_

Tuesday, February 13, 2018

Ujub

UJUB

Ujub ialah PERASAAN kagum atas diri sendiri. Merasa diri HEBAT. Bangga diri. Terpesona dengan kehebatan diri. Perasaan ujub boleh datang pada bila-bila masa.

Orang yang rajin ibadah merasa kagum dengan ibadahnya.
Orang yang berilmu, kagum dengan ilmunya.
Orang yang cantik, kagum dengan kecantikannya.
Orang yang dermawan, kagum dengan kebaikannya.
Orang berjawatan tinggi, kagum dgn jawatannya.
Orang yg bijak berpidato, kagum dgn pidatonya,
Orang yang berdakwah, kagum dengan dakwahnya.
Orang yang pandai masak, kagum dengan masakannya.
Orang yang pandai menjahit, kagum dengan jahitannya.
Orang yang pandai menghias, kagum dengan hiasannya.

Walhal semua kelebihan atau keistimewaan itu adalah milik Allah dan diberikan kepada manusia.

Sufyan at-Tsauri mengatakan ujub adalah perasaaan kagum pada dirimu sendiri sehingga kamu merasa bahawa kamu lebih mulia dan lebih tinggi darjat.

Muthrif rahimahullah telah berkata, “Kalau aku tidur tanpa tahajud dan bangun dalam keadaan menyesal, adalah lebih baik dari aku bertahajud tetapi berasa kagum dengan amalan tahajud tadi.”

Seorang sahabat Nabi Abu Ubaidah al-Jarrah yang menjadi imam. Setelah selesai beliau berkata, “Syaitan sentiasa menghasut aku supaya merasa aku ini lebih hebat dari orang di belakangku. Aku tidak mahu jadi imam sampai bila-bila.”

Ingatlah, semua kelebihan adalah anugerah dari Allah, oleh itu kagumlah hanya kepada Allah, bukan diri sendiri.
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."
(Surah An-Nisaa', sebahagian ayat 36)

Nabi saw. bersabda, "Apabila seorang lelaki sedang berjalan dengan memakai baju yang kemas dan rambut yang disikat menyebabkan dia rasa kagum dengan pakaian dan dandanan rambutnya (perasan lawa). Lalu Allah tenggelamkan dia ke dalam muka bumi dan dia terus ditenggelamkan sampai hari kiamat.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Nabi saw. bersabda, "Ada tiga hal yang dapat membinasakan diri seseorang iaitu kedekut yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujub (rasa kagum dengan diri sendiri).”
(HR Al-Bazzar dan Al-Baihaqi)

Imam Nawawi rahimahullah berkata,”ketahuilah bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit ujub. Sesiapa ujub dengan amalnya sendiri maka akan terhapus amalnya".
(Syarh Arba’in)