Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Saturday, June 23, 2018

Malu

*MALU*

Sahabat...
Malu adalah salah satu ciri keimanan.
Adalah Ustman Bin Affan R.A yg terkenal dengan sifat malunya sehingga Para Malaikat yg mulia pun malu padanya... bahkan Iblis laknatullah pun ... malu utk menggodanya.

Orang beriman akan malu pada Allah Ta'ala... karena merasa bersyukur mendapat Kasih SayangNya yg Sempurna, slalu dicukupi rejekinya, diberi curahan nikmat dari segala penjuru...

Sehingga *malu jika tidak TAAT pada Allah Ta'ala*, malu kalo ngga nurut ama Perintahnya sangat malu jika sampai maksiat.

_Malu kalo ngga yakin sempurna PadaNya_ sementara pembuktian KekuasaanNya & KebenaranNya tak henti2 diperlihatkan & dibuktikan.

Malu _ngga shalat_ padahal shalat ada pertemuan Hamba dgn Tuhannya, shalat utk kebaikan kita sendiri dlm rangka mencegah perbuatan  keji & mungkar, shalat menyelesaikan sgala permasalahan kita, shalat adalah tiang agama... tegakah kita meruntuhkan agama yg mulia ini dgn merobohkan tiangnya yaitu shalat?

_Malu masih mau memilih yg haram sementara Allah sediakan banyak pilihan yg halal._

Malu kalo _susah maafin kesalahan orang lain..._ sementara *Allah Maha Pemaaf Pengampun* dan _mencintai HambaNya yg bertobat sungguh2 sekalipun dosa2nya sebanyak buih2 ombak di lautan._

_Malu meminta2 dan berharap kpd makhluk padahal Allah Maha Kaya, Maha Pemberi, Pengasih & Penyayang dan Allab senang dipinta dan janjinNya pasti._

Malu kalo _takut kepada selain Allah_ padahal Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa yg menciptakan segala yg ada... menghidupkan sgala yg hidup, menggerakkan sgala yg bergerak, mematikan sgala yg mati, menghidupkan kembali sgala yg dihidupkan kembali.

Malu jika akhlaq buruk karena agama ini _mengajarkan sgala kebenaran, kebaikan & keindahan, memberi petunjuk selamat alam dunia yg sekejap ini dan akhirat yg abadi.

Malu jika ngga dakwah, ngga mau berbagi kebaikan sementara kita merasakan lezatnya iman & amal sholeh, paham jalan selamat dunia akhirat...

Malu pada Rasulullah SAW, pada Para Sahabat RA dan orang2 yg mengikutinga yg mana mereka mengorbankan segalanya demi menyelamatkan sebanyak2nya ummatnya sd akhir zaman.

Malu kalo lebih senang meminta daripada memberi krn tangan di atas lebih mulia daripada tangan di atas.

Malu kalo mengeluh, ngga bersyukur padahal setiap detik umur kita tdk akan pernah cukup utk bersyukur atas sgala nikmatNya jika kita menyadarinya.

Malu kalo ngga sabar krn Allah menguji sesuai kapasitas kita, ngga mungkin salah dosis, dan ada hikmah dibalik setiap keadaan & kejadian.

Malu jika kita pandai lihat keburukan orang lain tapi bodoh lihat keburukan diri.

Malu jika tidak bertobat karena sadar diri penuh dosa & khilaf.

Malu lah pada Allah & RasulNya sampai akhirnya Allah pun malu untuk hisab diri kita

Monday, May 28, 2018

Lapar n Nafsu

Puasa melatih kita utk membedakan mana lapar &  mana nafsu.

Nafsu itu semua dibeli buat buka.. akhirnya banyak sisa ngga kemakan...

Lapar itu.. selesai pake teh manis & bala2... :)

Jadi selama ini yg kita beri makan itu... lapar atau hawa nafsu kita?

Puasa mengajarkan kita tentang cukup... karena kalo lebih batas

Ternyata malah hawa nafsu yg kita beri makan sehingga
menjadi semakin kuat

Wednesday, May 16, 2018

Ramadhan

*RAMADHAN*

Assalamualaikum Wr Wb
Sahabat...

Puasa Ramadhan sebentar lagi akan kita jalani.
Sudah seberapa jauh persiapan kita menyambut bulan suci? Sudahkah memaknai puasa sebagai sebetul-betulnya ibadah, bukan sekadar menahan lapar belaka?

Ibadah puasa ramadhan adalah jalan menuju ilmu *“makan sejati”*
Puasa membantu kita *memberi jarak antara makan dengan nafsu*.
Puasa pula yang akan membuat kita mengerti bahwa ilmu makan sebetulnya hanya perlu dipenuhi oleh sesuatu yang dapat meredakan lapar. Tidak kurang dan tidak lebih hanya itu saja.

Kita pasti pernah dengar ungkapan *“makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”.*
Ilmu ini datang dari baginda Rasulullah SAW dan diketahui oleh kita semua sebagai umatnya sebagai ilmu makan yang turun-menurun.

Ketika berpuasa kita menahan lapar setelah sahur dan sangat menantikan waktu berbuka puasa tiba. Sepanjang puasa itu, kita membayangkan banyak makanan untuk berbuka di magrib, nanti. Nasi goreng, mi goreng, soto, ayam penyet, bakso, sate, semua terasa menggiurkan untuk disantap. Padahal ternyata, ketika sampai di rumah untuk berbuka, teh manis saja terasa sudah lebih dari cukup, bukan?

Pertanyaannya adalah mengapa di hari lain yang tanpa puasa, sarapan apa pun selain nasi membuat kita seakan belum makan apa-apa? Sebetulnya apa yang kita beri makan selama ini: *perut atau nafsu?*

Jika pertanyaannya seperti itu, sebenarnya jawabannya pun sederhana.
Kita hanya perlu memahami ilmu “makan sejati” yang sederhana ini: “makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”.
Jika kita cermat memahami makan sebagai pemenuh kebutuhan perut, maka makanan apa pun harusnya terasa cukup. Jika es teh manis cukup, mengapa memaksakan harus ada nasi padang sebagai dalih pelengkap?

Disadari atau tidak, selama ini, _kita lebih sering menuruti nafsu alih-alih memenuhi kebutuhan._
Kita dituntut oleh berbagai hal di luar diri yang mengharuskan kita untuk mencapai “lebih” dan bukan sekadar “cukup”.
Ketika makan siang dengan client, misalnya, kita punya budaya “malu” pasti enggan mengajak makan siang di warung tenda pinggir jalan dan lebih memilih makan di restoran.

“Alangkah sedih menyaksikan betapa dunia ini diisi oleh banyak manusia yang tak henti-hentinya makan, padahal ia tak lapar, serta oleh banyak manusia yang tidak habis-habisnya makan padahal ia sudah amat kekenyangan.”

Maka marilah di momentum Ramadhan ini, jadikan ibadah puasa sebagai tempat berlatih untuk mencapai ilmu “makan sejati”.

Menjadikan bulan ramadan sebagai tempat untuk *menguji keberhasilan kita untuk selalu merasa “cukup” dan tidak menuntut “lebih”.*

PUASA itu melatih “tidak” karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan “ya”. Sekurang-kurangnya mengendalikan “ya”. Mental manusia lebih berpihak pada “melampiaskan” dibanding “mengendalikan”.

Padahal, keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan, tata kelola manajemen, kepengurusan negara dan kemasyarakatan lebih mengacu pada *pengendalian* daripada *pelampiasan*.

Bahkan idiom “kemerdekaan” kita selama ini sedemikian tidak terkontrol sehingga identik dengan “pelampiasan”. Maka Ramadhan menjadi sangat penting untuk melatih “tidak” itu.

_Matahari berdzikir, angin bertasbih dan pepohonan memuji keagungan-Mu._
_Semua menyambut datangnya malam Seribu Bulan._
_Selamat datang Ramadhan, Selamat beribadah puasa._
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Hukum meminta maaf sebelum Romadhon

*Hukum minta maaf sebelum Ramadhan*

Ketika Rosululloh sedang berkhotbah pada suatu Sholat Jum'at (dalam bulan Sya'ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasulullah mengatakan amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan amin.

Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasulullah berkata Aamin sampai tiga kali.

Ketika selesai sholat Jum'at para sahabat bertanya kepada Rosululloh, kemudian menjelaskan: "ketika aku sedang berkhotbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasulullah
amin-kan doaku ini", jawab Rasulullah.

Do'a Malaikat Jibril adalah sbb: Yaa Alloh tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

- Tidak memohon ma'af terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

- Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri;

- Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasulullahpun amin sebanyak 3 kali.

(Hadis shahih diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ahmad, dan Al Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah ra)

Dari lubuk hati yang paling dalam, memohon maaf untuk...

lisan yg tidak berkenan...
janji yg terabaikan..
.hati yg berprasangka buruk..
sikap yg menyakitkan...

Mohon maaf atas semua kekhilafan  🙏🙏🙏

*Alllhumma baariklanaa fii Rojaba wa Sya'bana wa ballighnaa Romadhoona waghfirlanaa dzunuubanaa...*

Aamiin yaa Robbal Alaamiin.
*1 Sha'ban 1439*

Istana Sang Pemaaf

*ISTANANYA SANG PEMAAF...*

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya...
Di tengah perbincangan dengan para sahabat, tiba-tiba Rasulullah SAW tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya.

Umar r.a. yang berada di situ, bertanya :
" apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah ?"

Rasulullah SAW menjawab :
" Aku diberitahu Malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah SWT."

"Salah seorang mengadu kepada Allah sambil berkata :

‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku."

Allah SWT berfirman :
"Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikitpun..?"

Orang itu berkata,:
" Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya"

Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca.
Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya.

*Beliau menangis...*

Lalu, beliau Rasulullah berkata,:
*_"Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosa nya."_*

Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi :

*" Sekarang angkat kepalamu.."*

Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata :

" _Ya Rabb, aku melihat di depan ku *ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan puri dan singgasananya yang terbuat dari emas & perak bertatahkan intan berlian*..! "_

" _Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb?"_

_" Untuk orang shiddiq yang mana, ya Rabb?

_"Untuk Syuhada yang mana, ya Rabb?"_

Allah SWT berfirman :
*_" Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya."_*

Orang itu berkata,:

*_"Siapakah yang  mampu membayar harganya, ya Rabb?"_*

Allah berfirman :

*"Engkaupun mampu membayar harganya."*

Orang itu terheran-heran, sambil berkata,:

*_" Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?"_*

Allah berfirman,:

_*‘CARAnya, engkau MAAFkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.*_

Orang itu berkata,:

*_"Ya Rabb, kini aku memaafkannya."_*

Allah berfirman :

_*'Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu..."*_

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah Saw. berkata,:

*_"Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian SALING BERDAMAI dan MEMAAFkan, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin."_*

*(Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih.)*

oOo

*Saudaraku tercinta...*
Amalan hati yang nilainya tinggi di hadapan Allah adalah *meminta maaf, memberi maaf, dan saling memaafkan...*

*"Maafkan diriku, keluargaku ya sahabat2ku dan saudaraku sekiranya pernah menyakitimu. Semoga kita bersama-sama masuk syurga..."*

*salam persaudaraan*
آمِيّنْ  آمِيّنْ  آمِيّنْ  يَا رَبَّ العَـــالَمِيْن.....

_Mohon maaf lahir bathin_
_Selamat menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan_

Thursday, May 10, 2018

Iktiar Vs Hasil

*IKHTIAR VS HASIL*

Assalamu'alaikum Wr Wb
Sahabat...

Allah Ta'ala telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi 50.000 tahun sebelum Alam Semesta ini diciptakan.

Allah tetapkan takdir yg tidak bisa ditolak, seperti kita ditakdirkan lahir dari Ibu & Bapak kita, di suatu negeri, dengan wajah & jasad seperti ini tanpa bisa menolak & memilih. 

Allah tetapkan umur kita di Alam dunia ini, sesuai dengan jatah rejekinya. Jika orang tsb mati, berarti memang jatah/qouta rejekinya sudah habis.  Orang tsb masih hidup karena memang jatah/quota rejekinya belum habis.

Allah juga tetapkan nasib yang mana kita diberi ruang untuk usaha & mengubahnya, singkat kata...nasib adalah takdir yang Allah tetapkan dengan mempertimbangkan usaha yang kita lakukan.
Allah tidak mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mengubahnya.

Jadi ikhtiar adalah sarana _amal sekaligus ujian_ juga bagi kita. Karena ikhtiar adalah Perintah Allah tapi hasil dari yg kita usahakan...itu Allah yg tetapkan.
Ujiannya adalah bagaimana kita _yakin tetap lurus kepada Allah bukan kepada Ikhtiar yg kita lakukan._

Yang menyembuhkan kita itu Allah bukan _dokter & obat._
Tapi kita berobat bertemu dokter dan minum obat adalah _ikhtiar yg merupakan Perintah Allah_ jua.

Yang beri rejeki itu Allah, bukan kantor, ladang, Toko, bisinis kita.
Tapi usaha menjemput rejeki dgn bekerja, dagang dst... itu juga Perintah Allah.

_Meninggalkan Ikhtiar itu Haram_
_Yakin kepada Ikhtiar itu Musyrik_

_Wajah menghadap dunia_
_Hati menghadap Allah_

Orang beriman adalah orang yg _sibuk bersyukur_ sampai dirinya _tidak punya waktu untuk mengeluh._

Ikhtiar adalah bentuk _syukur & doa terbaik kita._

Orang yang bersyukur akan _mengoptimalkan segala Anugerah yang Allah berikan kepada kita._

Orang yg bersyukur akan _mempersembahkan Ikhtiar Terbaiknya._

Janji Allah kepada orang yg bersyukur adalah akan _ditambah nikmatnya._
Maka Tak heran jika orang2 yg bersyukur dengan mempersembahkan Ikhtiar Terbaiknya akan Allah beri kesuksesan dunia & akhirat.

Perkara hasil, itu urusan Allah yg tetapkan karena Dia Maha Tahu yg Terbaik bagi kita... Allah pasti tetapkan hasil yg terbaik & tercocok buat kita, tidak mungkin salah ukuruannya, dosisnya, waktunya dst.
Allah yg menciptakan Kita, pasti lebih tahu tentang apa yg kita butuhkan persisnya daripada kita sendiri.

Anak kita saja yg sedang sakit flu, ngga akan kita beri eskrim sekalipun dia mengangis & merengek2... Karena kita sebagai orang tuanya, tahu eskrim tidak baik buat anak kita yg sedang sakit flu tsb.  Nanti jika sudah sembuh, baru Kita bawa dia ke mall utk memilih eskrim mana saja yg dia sukai....😊

_Yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah_
_Yang buruk menurut kita, belum tentu buruk menurut Allah_

Ikhtiar apapun yg kita lakukan...itu urusannya karena Allah bukan yang lain.
Kita makan bukan karena lapar & ingin kenyang tapi semata2 karena Perintah Allah.
Kita menikah bukan karena harta, tahta, keturunan, kecantikan dst...tapi semata2 karena Perintah Allah.
Apapun aktivitas & usaha Kita...semuanya adalah urusannya ibadah, makan Ibadah, dagang Ibadah dst.

Usaha yg kita lakukan adalah usaha atas agama bukan usaha atas dunia
Usaha dunia yang dilihat _hasilnya_, untung atau rugi, menang atau kalah, panen atau gagal panen dst.

Tapi usaha atas agama, yg ALLAH pandang adalah _prosesnya,_ apakah Kita tetap taat KepadaNya, apakah yakin Kita tetap lurus PadaNya?

Jadi ketika kita Ikhtiar lalu _menjaga yakin Sempurna PadaNya, mempersembahkan yg terbaik dan menerima apapun hasil Ketetapannya karena kita jaga Prasangka Baik PadaNya, yakin bahwa Allah pasti berikan yg terbaik....maka saat itu juga kita sudah sukses._

Mari kita Ikhtiar menggapai RidhoNya dengan cara kita Ridho untuk taat PadaNya di segala situasi dan keadaan.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Sunday, May 6, 2018

Dunia Ini Cermin

*DUNIA INI CERMIN*

Assalamu'alaikum WR WB
Sahabat...

Ibnu Athailah dalam Kitab Al Hikam menggambarkan dunia ini ibarat cermin.

Misal muka kita kotor/cemong lalu kita bercermin...
Lalu kita melihat dan tau ada kotoran/cemong...
Lalu kita ambil lap tapi yg kita lap/bersihkan malah cerminnya ... apakah akan hilang kotoran/cemong di muka kita? Tentu saja tidak 😊
Kalau mau bersih yang di bersihkan bukan cerminnya sekalipun cermin tsb bisa jadi kotor... tapi utamanya adalah muka kita yg kotor/cemong tsb lah yg semestinya harus dibersihkan.

Itulah gambaran dunia...

Jika kita melihat keburukan di rumah misalnya, istri/suami kok begini... anak kok begitu...
Terlihatnya mereka yg jelek padahal mereka semua itulah "cerminan" kita, maka segeralah bersihkan diri kita dengan bertobat, perbanyak istighfar, koreksi diri dst.

Begitu juga jika melihat Lingkungan sekitar rumah kok begini...di kantor kok begitu... Rejeki seret atau banyak tapi ngga jelas habisnya dst.... Terlihatnya karyawan kita yg jelek, bos yg jelek, tetangga yg jelek dst.

Mereka itu cerminan kita juga, maka bertobat lagi, istighfar lagi, koreksi/islah diri lagi...terus begitu.

Situasi keadaan buruk di luar diri kita ini, diperlihatkan oleh Allah kepada kita ... adalah salah satu cara Allah Ta'ala untuk *menegur kita, mengingatkan kita agar kita sibuk bertobat & islah diri bukan sibuk melihat keburukan orang lain.*

Allah Ta'ala menciptakan _masalah_ berikut dengan _solusinya_, seperti Allah ciptakan _penyakit_ dengan _obatnya_, _malam_ dan _siang_, _pria_ dan _wanita_ dst... selalu berpasang-pasangan krn Allah Maha Adil.

Seringkali *solusi* yang telah Allah sediakan atas *masalah* yang sedang kita hadapi ... jadi tidak terlihat karena *terhalang/tertutup* oleh dosa2 kita.

Seperti orang yg menutup hidungnya dengan tangannya sendiri, lalu berteriak," Aku tidak bisa bernafas, tidak ada udara!"
Padahal kalau dia buka tangannya sendiri yg menutupi hidungnya sendiri maka dia bisa bernafas, bukan karena tidak ada udara 😊
_Tangan kita yg menutupi hidung kita sendiri, itulah gambaran dosa-dosa yg menutupi kita, menutupi solusi yg sebenarnya sudah Allah sediakan._

Itulah sebabnya Rasulullah SAW menganjurkan *perbanyak istighfar*, khususnya jika menghadapi masalah.

Keburukan sebesar gunung sekalipun di orang lain, itu bahayanya ya... di orang lain tsb
Tapi Keburukan walau hanya setitik pada diri kita, ini bahayanya kepada diri kita

_Maka sibuklah melihat aib diri sehingga kita tidak sempat lagi melihat aib orang lain_
Sibuklah bertobat & islah diri...smp akhir hayat.

Orang yg terus bertobat akan _semakin bersinar, dirinya akan menjadi cahaya penerang bagi sekelilingnya._
Semakin _terang cahayanya_, semakin _sirna kegelapan._
*Semakin kita bertobat & koreksi diri... Semakin Allah perbaiki keadaan kita & segala urusan kita...*

Nabi Yunus AS sibuk bertobat dalam perut ikan, maka Allah keluarkan beliau AS dari 3 kegelapan yaitu : _Gelapnya perut ikan, Gelapnya dalam lautan & Gelapnya malam._

Allah damparkan Nabi Yunus AS ditepi pantai...
Allah tumbuhkan seketika pohon untuk meneduhinya dari terik matahari...
Allah gerakkan binatang2 untuk suplay makananan kpd Nabi Yunus AS...

Setelah Nabi Yunus AS cukup kuat utk berjalan, beliau kembali kpd kaummnya yg menolak dakwahnya selama ini... Allah balikan hati mereka semua sehingga seluruh kaum tsb masuk Islam.

_Allah selesaikan seluruh urusan Nabi Yunus AS, urusan pribadinya dan urusan pekerjaannya asbab dari *bertobat sungguh2 dan koreksi diri sungguh2*_

Nabi Musa AS sepertinya tidak punyai apa2...
Firaun sepertinya miliki segalanya... Kerajaan, Kekuasaan, Bala tentara, Kekayaan, Tekhnologi dst.
Tapi Nabi Musa AS miliki satu hal yg tidak dimiliki oleh Firaun yaitu _Yakin Sempurna kepada Allah Ta'ala sehingga datanglah *Pertolongan Allah.*_

Sepertinya kebutuhan kita itu banyak...😬
Padahal kebutuhan kita itu cukup satu saja...😊
Yaitu *Pertolongan Allah disegala situasi dan keadaan*

_Punyai Allah maka punyai segalanya..._
_Tidak punyai Allah maka kehilangan segalanya..._

Semoga kita semua tergolong sebagai Ahli Tobat karena Ahli Tobat akan *dicintai oleh Allah Ta'ala* dan *ditolong segala urusannya oleh Allah*....
Aamiin Ya Robbal'aalamiin

Wassalamu'alaikum WR WB

_sahabathikmah_