Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Friday, July 6, 2018

Komentarmu menentukan nasibmu

#selfreminder 🙏🏻

*KOMENTAR MU MENENTUKAN NASIB MU, bukan nasib orang yang kamu komentari.*

Ubahlah cara berpikirmu maka Nasibmu akan segera berubah.

******
Seorang murid bertanya pada gurunya;

"Guru kenapa ya hidup ini selalu banyak masalah?"

Guru:  "Bukan hidup yang banyak masalah tapi pikiranmulah yang bermasalah...?" 

"Kamu selalu berprasangka buruk pada apa saja dan siapa saja, itulah sebenarnya masalahnya"

Murid: "Tapi faktanya aku selalu mendapat masalah dalam hidupku"

Guru:  " Ya itu karena pikiranmu bermasalah",  Setiap kejadian dalam hidup itu netral pikiran kamulah yang menilai itu "bermasalah" atau "menguntungkan".

Murid : "Maksudnya?"

Guru :  "Misalnya apakah Hujan itu bermasalah atau malah menguntungkan".

Murid : "Bagiku bermasalah, karena kalau aku naik motor dan lupa bawa jas hujan pasti basah kuyup"

Guru :  "Lantas kalau hujan bagi tukang Baso dan Tukang Payung apakah itu bermasalah?"

Murid : " Tentu saja tidak", bagi mereka malah menguntungkan.

Guru :  "yang jadi masalah Hujannya atau orangnya...?

Ingatlah selalu

Ketika kita selalu berprasangka baik/Husnudzon maka hal-hal baiklah yang akan kita jumpai di sepanjang waktu kehidupan kita.

dan ketika kita selalu berprasangka buruk/Suudzon maka hal-hal buruklah yang akan selalu kita jumpai setiap hari.

Jadi jangan mengeluh jika kita termasuk orang-orang yang selalu merasakan pengalaman yang negatif dan tidak menyenangkan di sepanjang hidup kita.

Karena kita dan pikiran kita sendirilah penyebabnya.

Bisa jadi ketika kamu membaca tulisan ini sebenarnya Tuhan sedang mencoba membantu kamu untuk memperbaiki cara berpikirmu, agar hidupmu tidak selalu dirundung masalah.

Jadi mari kita ubah cara berpikir kita saat ini juga agar kita tidak lagi menjumpai pengalaman negatif dan tidak menyenangkan. 

Nah sekarang mari kita cek cara berpikir  kita masing2 yang tercermin dari komentar-komentar kita setiap hari :

1.  Melihat rekan kerjanya naik jabatan
*Orang postif :*
Saya akan belajar dari dia.
*Orang negatif:*
Pasti dia  pinter banget cari muka

2.  Melihat orang pergi Haji
*Orang positif :?*
Ya Allah semoga kelak aku bisa seperti dia
*Orang negatif:*
Hajinya paling cuma buat pamer-pamer doang.

3. Membaca status di WA/FA
*Orang Positif :* terimakasih untuk infonya izin share ya
*Orang negatif:*
ah infonya basi saya sudah pernah baca kok

4. Membaca status humor di WA/FB
*Orang positif:* terimakasih telah bisa membuat saya tersenyum pagi ini
*Orang negatif:* Garing ! gak lucu !

5.  Turun Hujan
*Orang Positif :* Alhamdullilah udaranya jadi sejuk
*Orang Negatif :*
Ah kalo pas lagi perlu terang malah hujan, Dasar Sial !!

6.  Dapat Gaji
*Orang positif :*  Alhamdullilah bisa buat bayar-bayar kebutuhan
*Orang Negatif:* Percuma gajian juga gak cukup buat bayar2 kebutuhan

7.  Punya Suami baik
*Orang Positif :* Alhamdullilah meskipun gajinya tidak besar tapi suamiku baik dan penuh perhatian.
*Orang negatif :* Percuma punya suami baik, kalo gak bisa cukupin kebutuhan rumah tangga.

8. Melihat orang berpakaian Sederhana
*Orang positif :*
duh dia orang yang sederhana sekali ya meskipun pejabat.
*Orang Negatif:* Pejabat Tinggi  tapi penampilannya kok kampungan gitu sih.

9. Punya Motor
*Orang Negatif :*
Begini neh kalo naek motor,  kalo pas ujan basah kuyup gak kayak orang yang punya mobil.

*Orang Positif:* Alhamdullilah punya motor, enaknya naik motor itu kalo pas panas gak kehujanan dan kalo pas hujan gak kepanasan.

10. Membaca postingan ini
*Orang Positif:* Terimakasih sudah diingatkan, mohon izin sharing ya biar manfaat bagi yang lain.

*Orang Negatif:* 
"Gak mau baca" karena dianggap menyindir dan menyinggung atau terlalu kasar.

Tipe yang manakah kita....? 
akan menentukan nasib kita.

*Mau ubah nasib ?*
*Segera ubah cara berpikir kita dan komentar kita setiap hari.*

di tulis dari pengalaman pribadi setiap hari bertemu dengan orang-orang berpikir positif dan negatif.

*Dari Sahabat*

Thursday, June 28, 2018

Ruh

*RUH*

Sahabat...
Suatu saat seorang Ulama menerangkan tentang hakikat kehidupan kepada para santrinya...
Bahwa segala sesuatu itu *hidup* karena ada *ruh* jika tidak ada ruhnya, misal manusia maka dikatakan mati sekalipun jasadnya lengkap...

Matanya, telinganya, mulutnya, tangan, kaki, jantung, otak dst... masih ada... tapi sdh tdk bisa melihat, mendengar, bicara, bergerak, berdetak, berpikir dst.
Maka manusia tsb dikatakan sdh mati, tubuhnya sdh tidak lagi dikatakan badan tapi jenazah atau mayat.

_Segala sesuatu atau *jasad* jika *masih ada ruh-nya* maka dikatakan *hidup*_
_Segala sesuatu atau *jasad* jika *tidak ada ruh-nya* maka dikatakan *mati*_

Begitu juga kehidupan ini...
Ada jasad ada ruh...

*Dunia ini jasad... Ruhnya adalah Dienul Islam (Agama)*
Hidup di alam dunia tanpa Amal Agama, maka sama saja dengan mati alias zombie 😊

*Agama ini jasad... Ruhnya adalah Dakwah*
Dakwah adalah _tulang punggung agama_... tidak _tegak_ Agama tanpa dakwah... Sebagaimana tidak tegak tubuh ini tanpa tulang punggung.
Ciri orang hidup itu _bergerak_ maka dakwah inilah yg _menggerakkan_ Agama ini di muka bumi.

*Dakwah itu jasad... Ruhnya adalah Silaturahmi*
Tidak akan hidup dakwah tanpa silaturahmi, tanpa saling bertemu di mesjid2, di rumah2, dimanapun... tanpa pembicaraan & akhlaq mulia...
Karena kita bisa enak kenal Allah & RasulNya, syahadat, Shalat, shaum dan Ibadah lainnya...karena ada orang2 terdahulu yg memperkenalkannya.
Agama ini tidak datang dibawa angin, air atau udara... Tapi asbab *pengorbanan* Rasulullah SAW & Para Sahabat RA serta orang2 yg mengikutinya dari masa ke masa Kerja dakwah sampaikan Agama ini ke seluruh Alam.

*Silaturahmi itu jasad... Ruhnya adalah Ikhlas*
Siapapun kita datangi tanpa pilih2...
Sebagaimana Rasulullah SAW contohkan...
Abu Bakar RA didatangi dan diajak kpd Allah...
Abu Lahab pun didatangi dan diajak kpd Allah...
Rakyat jelata didatangi, begitupun Raja/Tokoh/Bangsawan...
Laki2/Perempuan, Tua/Muda, Kaya/Miskin, Orang yg menyenangkan/tidak menyenangkan, Satu suku, bangsa atau beda suku atau bangsa... semua didatangi utk diajak beriman kpd Allah & RasulNya.
Dan semua itu dilakukan dgn Ikhlas... tidak melihat siapa yg didatangi...tapi semata2 krn Perintah Allah.

*Ikhlas itu jasad... Ruhnya adalah Sunnah Rasulullah SAW*
Amalan ikhlas dilakukan berdasarkan Sunnah (contoh) Rasulullah SAW & Para Sahabat RA dan arahan Para Ulama selaku warisatul Anbiyya (Pewaris Nabi).

Maka jika ingin "HIDUP"
Hiduplah dalam *Dienul Islam atau Amal Agama yg Sempurna*
Jangan sholeh sendirian, *Dakwahlah/Ajaklah* Keluarga, Tetangga dan sebanyak2nya orang lain kpd Allah & RasulNya
Hidupkan *Silaturahmi*, makmurkan mesjid2, peduli kpd Tetangga, jadilah Ahli Sedekah, berjamaah lah ... Ber silaturahmi lah sd Semesta Alam bukan hanya Semesta Bandung, Jabar, Indo, Arab... tapi Semesta Alam....

*Ikhlas* lah dalam setiap Amal Agama.
Jangan beramal karena pertimbangannya *Makhluk* tapi beramal sholeh lah karena pertimbangannya utk gapai *RidhoNya*

Kita baik sama orang lain bukan krn orang tsb baik ama kita... Tapi kita baik sama orang lain karena kita diperintahkan oleh Allah utk baik kpd orang lain. Titik!
Perkara orang yes membalas kebaikan kita atau tidak, atau bahkn dzolimin sekalipun... itu urusan ybs dgn Allah bukan lagi urusan kita 😊

Amalkan *Sunnah Rasulullah SAW*
Kita tiru habis2an Rasulullah SAW & Para Sahabat RA, Kita belajar & minta bimbingan Para Ulama selaku pewaris Nabi SAW sbg orang yg paham ilmu agama ini shg kita Sempurnakan terus menerus amal Agama ini untuk memancing Ridho Allah Ta'ala dan smoga kita smua beroleh Ridho Allah Ta'ala.... Aamiin

Tuesday, June 26, 2018

Penguasa/Raja adalah cerminan dari rakyatnya

*PENGUASA/RAJA ADALAH CERMINAN DARI RAKYATNYA*

Karena _Allah Ta'ala akan beri *Pemimpin Sholeh* jika *Rakyatnya Sholeh*._
Sebaliknya...
Allah Ta'ala akan _beri *Pemimpin Dzalim* jika *Rakyatnya Dzalim*_

Pemimpin adalah *produk* dari *rakyatnya*
Pemilu bagi Da'i adalah sepanjang hayat bahkan diteruskan smp akhir zaman dari generasi ke generasi... mengajak Ummat kepada Allah & RasulNya.

Allah ta’ala berfirman:

“وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”

_“Dan kami jadikan sebagian orang zalim itu pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan kezaliman dan maksiat yang mereka kerjakan”_
(Al An’am:129)

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah ketika menjelaskan ayat ini

“Perhatikanlah hikmah Allah Ta’ala yang menjadikan pemimpin, penguasa dan raja segenap hamba-Nya berdasarkan jenis amal yang mereka kerjakan. Bahkan seolah-olah *penguasa adalah CERMINAN dari perbuatan rakyatnya.*

Jika umat istiqomah berjalan diatas kebenaran maka demikian pula penguasanya. Jika masyarakat berlaku adil, maka yang memimpin mereka pun insan yang adil. Bila tipu daya dan makar tersebar dan dipraktekkan secara luas oleh rakyat, maka rajanya pun demikian -gemar menipu rakyatnya-.

Bila rakyat TIDAK menunaikan hak-hak Allah, bakhil dalam mengeluarkan zakat dan ENGGAN menunaikan kewajibannya sebagai hamba…. Maka pemimpin yang menguasai mereka akan berlaku demikian terhadap mereka. Tidak mau menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin dan enggan menunaikan hak-hak rakyat.

Andai rakyat mempraktekan hukum rimba. Dimana yang lemah diantara mereka diambil haknya secara paksa oleh yang kuat. Maka penguasa yang memimpin mereka akan berlaku serupa. Yakni mengambil harta rakyat secara zalim. Semakin keji pemeras menguras harta yang lemah. Semakin besar tekanan dan paksaan penguasa dalam rangka mengambil kekayaan rakyatnya tanpa alasan yang benar

Ketika kondisi umat bercampur. Ada diantara mereka yang zalim, dan sebagian yang lain adalah orang baik. Maka pemimpin yang menguasai mereka pun bergilir -terkadang orang saleh, dilain waktu orang fasik.

Pemimpin kita itu SESUAI dengan kondisi kita. Dan penguasa orang-orang sebelum kita -para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in- sesuai dengan keadaan mereka (saleh, adil, tidak suka menipu sesama, tidak gemar bermaksiat, ed).

Sekian penuturan Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah

oOo

Bila kita berharap dikuasai oleh orang-orang saleh, adil dan jujur. Maka PERBAIKI KONDISI KITA agar menjadi RAKYAT yang SHOLEH, tidak gemar menipu dan berdusta kepada sesama dan tidak MENZALIMI orang lain.

Pemimpin BERIMAN lahir dari Rakyat yg BERIMAN, maka jangan BERMIMPI lahir pemimpin yg baik kalo rakyatnya tdk baik juga.
Jadi kritiklah diri kita habis2an supaya segera bertobat dan koreksi diri, lalu hidupkan DAKWAH yaitu saling ajak utk sama2 tobat & islah diri… saling ASAH, ASIH, ASUH…dalam kebaikan…

Save your ENERGY… utk memperbaiki diri dan ummat/rakyat, jangan kau sia2kan energi mu utk berkeluh-kesah, menghujat sana-sini…apalagi meng-kafir-kan orang/kelompok lain, karena menjaga martabat/kehormatan sesama Muslim adalah Keutamaan.

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: _"Apabila seorang laki-laki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut."_

Jadi jika ada orang yg menganggap kafir sesama saudara muslimnya...dan ternyata yg dituduh kafir tsb, *di mata Allah tidak kafir* maka SI penuduh tsb lah yg menjadi kafir akibat dari tuduhan yg dibuatnya. Na'udzubillah

(HR. Muslim: 91) - http://hadits.in/muslim/91

Para pemimpin zolim adalah CERMINAN kita rakyat yg banyak melakukan kezaliman…yang sudah lama tinggalkan DAKWAH…,sudah lama tinggalkan saling ajak mengajak dalam kebaikan, sudah lama tinggalkan SILATURRAHIM…tinggalkan MESJID sbg jantungnya ummat, tinggalkan SEDEKAH, tinggalkan PERSAUDARAAN sesama muslim, tinggalkan AKHLAQ mulia…, tinggalkan Islam sebagai Rahmat bagi Semesta Alam yg menyebarkan Kasih Sayang krn Allah & RasulNya kpd seluruh alam…, bukan hanya kpd sesama muslim…tapi kepada seluruh alam dan isinya… menebarkan kedamaian, keadilan, dan teladan yg luhur & mulia…

Bahkan sembarang menuduh, berprasangka, walaupun bukan masalah kafir/laknat/munafik juga masalah besar.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ  اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا   ۗ  اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ   ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ   ۗ  اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Saturday, June 23, 2018

Malu

*MALU*

Sahabat...
Malu adalah salah satu ciri keimanan.
Adalah Ustman Bin Affan R.A yg terkenal dengan sifat malunya sehingga Para Malaikat yg mulia pun malu padanya... bahkan Iblis laknatullah pun ... malu utk menggodanya.

Orang beriman akan malu pada Allah Ta'ala... karena merasa bersyukur mendapat Kasih SayangNya yg Sempurna, slalu dicukupi rejekinya, diberi curahan nikmat dari segala penjuru...

Sehingga *malu jika tidak TAAT pada Allah Ta'ala*, malu kalo ngga nurut ama Perintahnya sangat malu jika sampai maksiat.

_Malu kalo ngga yakin sempurna PadaNya_ sementara pembuktian KekuasaanNya & KebenaranNya tak henti2 diperlihatkan & dibuktikan.

Malu _ngga shalat_ padahal shalat ada pertemuan Hamba dgn Tuhannya, shalat utk kebaikan kita sendiri dlm rangka mencegah perbuatan  keji & mungkar, shalat menyelesaikan sgala permasalahan kita, shalat adalah tiang agama... tegakah kita meruntuhkan agama yg mulia ini dgn merobohkan tiangnya yaitu shalat?

_Malu masih mau memilih yg haram sementara Allah sediakan banyak pilihan yg halal._

Malu kalo _susah maafin kesalahan orang lain..._ sementara *Allah Maha Pemaaf Pengampun* dan _mencintai HambaNya yg bertobat sungguh2 sekalipun dosa2nya sebanyak buih2 ombak di lautan._

_Malu meminta2 dan berharap kpd makhluk padahal Allah Maha Kaya, Maha Pemberi, Pengasih & Penyayang dan Allab senang dipinta dan janjinNya pasti._

Malu kalo _takut kepada selain Allah_ padahal Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa yg menciptakan segala yg ada... menghidupkan sgala yg hidup, menggerakkan sgala yg bergerak, mematikan sgala yg mati, menghidupkan kembali sgala yg dihidupkan kembali.

Malu jika akhlaq buruk karena agama ini _mengajarkan sgala kebenaran, kebaikan & keindahan, memberi petunjuk selamat alam dunia yg sekejap ini dan akhirat yg abadi.

Malu jika ngga dakwah, ngga mau berbagi kebaikan sementara kita merasakan lezatnya iman & amal sholeh, paham jalan selamat dunia akhirat...

Malu pada Rasulullah SAW, pada Para Sahabat RA dan orang2 yg mengikutinga yg mana mereka mengorbankan segalanya demi menyelamatkan sebanyak2nya ummatnya sd akhir zaman.

Malu kalo lebih senang meminta daripada memberi krn tangan di atas lebih mulia daripada tangan di atas.

Malu kalo mengeluh, ngga bersyukur padahal setiap detik umur kita tdk akan pernah cukup utk bersyukur atas sgala nikmatNya jika kita menyadarinya.

Malu kalo ngga sabar krn Allah menguji sesuai kapasitas kita, ngga mungkin salah dosis, dan ada hikmah dibalik setiap keadaan & kejadian.

Malu jika kita pandai lihat keburukan orang lain tapi bodoh lihat keburukan diri.

Malu jika tidak bertobat karena sadar diri penuh dosa & khilaf.

Malu lah pada Allah & RasulNya sampai akhirnya Allah pun malu untuk hisab diri kita

Monday, May 28, 2018

Lapar n Nafsu

Puasa melatih kita utk membedakan mana lapar &  mana nafsu.

Nafsu itu semua dibeli buat buka.. akhirnya banyak sisa ngga kemakan...

Lapar itu.. selesai pake teh manis & bala2... :)

Jadi selama ini yg kita beri makan itu... lapar atau hawa nafsu kita?

Puasa mengajarkan kita tentang cukup... karena kalo lebih batas

Ternyata malah hawa nafsu yg kita beri makan sehingga
menjadi semakin kuat

Wednesday, May 16, 2018

Ramadhan

*RAMADHAN*

Assalamualaikum Wr Wb
Sahabat...

Puasa Ramadhan sebentar lagi akan kita jalani.
Sudah seberapa jauh persiapan kita menyambut bulan suci? Sudahkah memaknai puasa sebagai sebetul-betulnya ibadah, bukan sekadar menahan lapar belaka?

Ibadah puasa ramadhan adalah jalan menuju ilmu *“makan sejati”*
Puasa membantu kita *memberi jarak antara makan dengan nafsu*.
Puasa pula yang akan membuat kita mengerti bahwa ilmu makan sebetulnya hanya perlu dipenuhi oleh sesuatu yang dapat meredakan lapar. Tidak kurang dan tidak lebih hanya itu saja.

Kita pasti pernah dengar ungkapan *“makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”.*
Ilmu ini datang dari baginda Rasulullah SAW dan diketahui oleh kita semua sebagai umatnya sebagai ilmu makan yang turun-menurun.

Ketika berpuasa kita menahan lapar setelah sahur dan sangat menantikan waktu berbuka puasa tiba. Sepanjang puasa itu, kita membayangkan banyak makanan untuk berbuka di magrib, nanti. Nasi goreng, mi goreng, soto, ayam penyet, bakso, sate, semua terasa menggiurkan untuk disantap. Padahal ternyata, ketika sampai di rumah untuk berbuka, teh manis saja terasa sudah lebih dari cukup, bukan?

Pertanyaannya adalah mengapa di hari lain yang tanpa puasa, sarapan apa pun selain nasi membuat kita seakan belum makan apa-apa? Sebetulnya apa yang kita beri makan selama ini: *perut atau nafsu?*

Jika pertanyaannya seperti itu, sebenarnya jawabannya pun sederhana.
Kita hanya perlu memahami ilmu “makan sejati” yang sederhana ini: “makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”.
Jika kita cermat memahami makan sebagai pemenuh kebutuhan perut, maka makanan apa pun harusnya terasa cukup. Jika es teh manis cukup, mengapa memaksakan harus ada nasi padang sebagai dalih pelengkap?

Disadari atau tidak, selama ini, _kita lebih sering menuruti nafsu alih-alih memenuhi kebutuhan._
Kita dituntut oleh berbagai hal di luar diri yang mengharuskan kita untuk mencapai “lebih” dan bukan sekadar “cukup”.
Ketika makan siang dengan client, misalnya, kita punya budaya “malu” pasti enggan mengajak makan siang di warung tenda pinggir jalan dan lebih memilih makan di restoran.

“Alangkah sedih menyaksikan betapa dunia ini diisi oleh banyak manusia yang tak henti-hentinya makan, padahal ia tak lapar, serta oleh banyak manusia yang tidak habis-habisnya makan padahal ia sudah amat kekenyangan.”

Maka marilah di momentum Ramadhan ini, jadikan ibadah puasa sebagai tempat berlatih untuk mencapai ilmu “makan sejati”.

Menjadikan bulan ramadan sebagai tempat untuk *menguji keberhasilan kita untuk selalu merasa “cukup” dan tidak menuntut “lebih”.*

PUASA itu melatih “tidak” karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan “ya”. Sekurang-kurangnya mengendalikan “ya”. Mental manusia lebih berpihak pada “melampiaskan” dibanding “mengendalikan”.

Padahal, keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan, tata kelola manajemen, kepengurusan negara dan kemasyarakatan lebih mengacu pada *pengendalian* daripada *pelampiasan*.

Bahkan idiom “kemerdekaan” kita selama ini sedemikian tidak terkontrol sehingga identik dengan “pelampiasan”. Maka Ramadhan menjadi sangat penting untuk melatih “tidak” itu.

_Matahari berdzikir, angin bertasbih dan pepohonan memuji keagungan-Mu._
_Semua menyambut datangnya malam Seribu Bulan._
_Selamat datang Ramadhan, Selamat beribadah puasa._
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Hukum meminta maaf sebelum Romadhon

*Hukum minta maaf sebelum Ramadhan*

Ketika Rosululloh sedang berkhotbah pada suatu Sholat Jum'at (dalam bulan Sya'ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasulullah mengatakan amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan amin.

Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasulullah berkata Aamin sampai tiga kali.

Ketika selesai sholat Jum'at para sahabat bertanya kepada Rosululloh, kemudian menjelaskan: "ketika aku sedang berkhotbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasulullah
amin-kan doaku ini", jawab Rasulullah.

Do'a Malaikat Jibril adalah sbb: Yaa Alloh tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

- Tidak memohon ma'af terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

- Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri;

- Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasulullahpun amin sebanyak 3 kali.

(Hadis shahih diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ahmad, dan Al Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah ra)

Dari lubuk hati yang paling dalam, memohon maaf untuk...

lisan yg tidak berkenan...
janji yg terabaikan..
.hati yg berprasangka buruk..
sikap yg menyakitkan...

Mohon maaf atas semua kekhilafan  🙏🙏🙏

*Alllhumma baariklanaa fii Rojaba wa Sya'bana wa ballighnaa Romadhoona waghfirlanaa dzunuubanaa...*

Aamiin yaa Robbal Alaamiin.
*1 Sha'ban 1439*