There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Sunday, May 30, 2010

BATU  KECIL   


Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. 

Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya  yang ada di bawahnya. 

Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya  karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja. 

Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, a mencoba melemparkan uang logam di depantemannya. 

Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. 

Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yang sama. Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. 

Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit, temannya menengadah ke atas? Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya. 

Alloh Swt kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita  menengadah kepada-Nya. 

Seringkali Alloh Swt melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. 

Karena itu, agar kita selalu mengingat kepada-Nya, Alloh Swt sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.

Saturday, May 29, 2010

Be Blessed...


Seorang professor berdiri di depan kelas filsafat dan mempunyai beberapa barang di depan mejanya.

Saat
kelas dimulai, tanpa mengucapkan sepatah kata, dia mengambil sebuah
toples kosong mayones yang besar dan mulai mengisi dengan bola-bola
golf.

Kemudian dia berkata pada para muridnya, apakah toples itu sudah penuh. Mereka menyetujuinya.

Kemudian
dia mengambil sekotak batu koral dan menuangkannya ke dalam toples. Dia
mengguncang dengan ringan. Batu-batu koral masuk, mengisi tempat yang
kosong di antara bola-bola golf.

Kemudian dia bertanya pada para muridnya, apakah toples itu sudah penuh. Mereka setuju bahwa toples itu sudah penuh.

Selanjutnya
profesor mengambil sekotak pasir dan menebarkan ke dalam toples ...
Tentu saja pasir itu menutup segala sesuatunya Profesor sekali lagi
bertanya apakah toples sudah penuh ... Para murid dengan suara bulat
berkata, "Yes" ...

Profesor kemudian menyeduh dua cangkir kopi dari bawah meja dan menuangkan isinya ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir. Para murid tertawa ....

"Sekarang," kata profesor ketika suara tawa mereda, "Saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu. "

"Bola-bola golf adalah hal-hal yang penting – Tuhan (Alloh), keluarga, anak-anak, kesehatan, teman dan para sahabat"

"Jika segala sesuatu hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."

"Batu-batu koral adalah segala hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil."

"Pasir adalah hal-hal yang lainnya -- hal-hal yang sepele."

"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples," lanjut profesor, "Maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu-batu koral ataupun untuk bola-bola golf. Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu."

"Jika
kalian menghabiskan energi untuk hal-hal yang sepele, kalian tidak akan
mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian"

"Jadi ..."

"Beri perhatian untuk hal-hal yang kritis untuk kebahagiaanmu. "

"Bermainlah dengan anak-anakmu. "

"Luangkan waktu untuk check up kesehatan."

"Ajak pasanganmu untuk keluar makan malam"

"Akan selalu ada waktu untuk membersihkan rumah dan memperbaiki perabotan."

"Berikan
perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola golf -- Hal-hal yang
benar-benar penting. Atur prioritasmu. Baru yang terakhir, urus
pasir-nya."

Salah satu murid mengangkat tangan dan bertanya, "Kopi mewakili apa?"

Profesor tersenyum

"Saya senang kamu bertanya."

"Itu
untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah begitu
penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama
sahabat..."

* * * * *

Bagikanlah dengan "bola-bola golf" yang lain

Seperti yang telah saya lakukan ....

Nobody is perfect

Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.
Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, “Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan” katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.

“Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia…”

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama.
Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing. Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.

“Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman… Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir…

“Maaf, apakah aku harus berhenti ?” tanyanya.
“Oh tidak, lanjutkan…” jawab suaminya.
Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia.
“Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”.

Dengan suara perlahan suaminya berkata “Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…”

Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya… Ia menunduk dan menangis…

*Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depresi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut.
Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan. Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita? Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.

Keutamaan Hari Asyura



Rosululloh saw bersabda melalui : Al Hakim Abul Hasan Ali bin Al Husain As Sirdiri, melalui Abu Ja'far Ahmad bin Hatim, melalui Ya'qub bin Jundub, melalui Hamid bin Adam dari Habib bin Muhhamad dari ayahnya dari Ibrahim Ash Shani dari Maimun bin Mihram dari Abdullah bin Abbas ra

“Barangsiapa yang berpuasa pada hari Asyura (tanggal 10) dari Muharram, maka Allah Swt akan memberi kepadanya pahala 10.000 malaikat. Barangsiapa yang berpuasa pada hari Asyura dari Muharram, maka ia akan diberi pahala 10.000 orang yang menunaikan ibadah haji dan umrah, dan 10.000 orang yang mati syahid. Barangsiapa yang tangannya mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, maka Allah Swt mengangkat satu derajat pada setiap rambut yang di usapnya. Barangsiapa yang memberi buka puasa seorang mukmin pada malam Asyura, maka seolah-olah ia memberi buka dan mengenyangkan perut segenap ummat Muhammad saw”

Para sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, sungguh Allah mengutamakan hari Asyura melebihi hari-hari yang lain” Beliau bersabda : “Ya Allah Swt menciptakan gunung pada hari Asyura, Dia menciptakan lautan pada hari Asyura, Dia menciptakan lauh dan qalam pada hari Asyura, Dia menciptakan Nabi Adam pada hari Asyura, Dia menciptakan Hawa pada hari Asyura, Dia menciptakan surga dan memasukkan Nabi Adam ke dalam surga pada hari Asyura, Nabi Ibrahim lahir pada hari Asyura dan memerintahkan menyembelih Ismail pada hari Asyura dan menyelamatkan anaknya Ismail dari penyembelihan pada hari Asyura, Dia menenggelamkan Fir’aun pada hari Asyura, Dia menghilangkan cobaan Nabi Ayyub pada hari Asyura, Allah menerima taubat Nabi Adam pada hari Asyura, Dia mengampuni dosa Nabi Dawud pada hari Asyura, Dia mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman pada hari Asyura, Nabi Isa dilahirkan pada hari Asyura, Allah mengangkat derajat Nabi Idris dan mengangkat Nabi Isa ke langit pada hari Asyura, Nabi saw lahir pada hari Asyura dan hari kiamat nanti jatuh pada hari Asyura.”

GARAM DAN TELAGA

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.

Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.

Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.

“Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.

“Segar.”, sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan
memang akan tetap sama.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Do'a Bepergian

Doa saat berangkat dari rumah

Bismillahi, tawakkaltu alalla, walaa haula walaa quwwata illa billaah. Allahumma innii a'uudzu bika an adhilla au uddhalla, au azilla au uzalla, au azhlima au uzhlama, au ajhalaau yujhala'alaiya.
Dengan nama Allah, saya bertawakal kepada Allah,dan tiada daya maupun tenaga kecuali dengan ijin Allah,aku berlindung kepada-Mu dari sesat atau disesatkan, dari tergelincir atau digelincir, menganiaya atau dianiaya, dan juga dari kebodohan atau dibodohi orang.

Doa saat duduk dikendaraan

Bismillah alhamdulillah,subhaanal ladzii sakhkhara lanaa haadzaa wamaa kunnaa lahuu muqriniin, wainnaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun.alhamdulillah 3x,Allahu akbar 3x
Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah. maha suci Allah yang mengerahkan kendaraan ini tunduk kepada kami,sedang kami pasti akan kembali lepada tuhan kami itu. segala puji bagi Allah,Allah Maha Besar.

Doa saat pulang ke rumah

Subhaanal ladzii sakhkhara lanaa haadzaa wamaa kunnaa lahu mauqriniin wainnaa ilaa rabbinaa lamunqalibun. Allaahumma innaa nasaluka fil safarinaa haadzal birra wattaqwa waminal 'amali maa tardlaa. Allaahumma hawwin 'alainaa safaranaa haadzaa waathwu 'annaa bu'dah. Allaahumma antash shaahibu fis safari wal khaliifatu fil ahli.
Allaahumma innii a'uudzuu bika min wa 'tsaais safari wa ka aabatil munqalabi wa suu'il mandhari fil ahli wal maal. Aayibuuna taaibuuna'aabiduuna lirabbinaa hamiduun.

Maha suci Allah yang telah mengerahkan kendaraan ini tunduk kepada kami, sedang kami sendiri tiada kan mampu untuk menguasainya, dan kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, kami memohonkan kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketaqwaan, serta segala yang Tuhan ridhoi dari amal perbuatan. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami dan dekatkanlah jaraknya yang jauh. Ya Allah, Engkaulah kawan sejati dalam perjalanan, wakil sejati bagi keluarga.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, dari kesedihan waktu kembali dan mendapatkan keluarga dan harta dalam keadaan buruk. Kami pulang seraya bertaubat dan berbakti dan tetap memuji kepada Tuhan kami.

Peringatan Allah SWT bagi Umatnya Menurut Al-Quran
Dan janganlah engkau berjalan dibumi ini dengan congkak, sebab engkau tidak akan mampu membelah bumi, tidak pula akan pula dapat menjulang setinggi gunung.
( Alquran 17 : 37 )

...Janganlah engkau berjalan dimuka bumi ini dengan angkuh, Allah sungguh-sungguh tidak senang terhadap semua orang yang sombong dan angkuh. ( Alquran 31 : 18 )
...Lagi pula janganlah mempergunakan kesempatan yang ada padamu untuk berbuat kerusuhan di muka bumi, sebab Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusuhan.
( Alquran 28 : 77 )

Do'a Bepergian

Doa saat berangkat dari rumah

Bismillahi, tawakkaltu alalla, walaa haula walaa quwwata illa billaah. Allahumma innii a'uudzu bika an adhilla au uddhalla, au azilla au uzalla, au azhlima au uzhlama, au ajhalaau yujhala'alaiya.
Dengan nama Allah, saya bertawakal kepada Allah,dan tiada daya maupun tenaga kecuali dengan ijin Allah,aku berlindung kepada-Mu dari sesat atau disesatkan, dari tergelincir atau digelincir, menganiaya atau dianiaya, dan juga dari kebodohan atau dibodohi orang.

Doa saat duduk dikendaraan

Bismillah alhamdulillah,subhaanal ladzii sakhkhara lanaa haadzaa wamaa kunnaa lahuu muqriniin, wainnaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun.alhamdulillah 3x,Allahu akbar 3x
Dengan nama Allah, segala puji bagi Allah. maha suci Allah yang mengerahkan kendaraan ini tunduk kepada kami,sedang kami pasti akan kembali lepada tuhan kami itu. segala puji bagi Allah,Allah Maha Besar.

Doa saat pulang ke rumah

Subhaanal ladzii sakhkhara lanaa haadzaa wamaa kunnaa lahu mauqriniin wainnaa ilaa rabbinaa lamunqalibun. Allaahumma innaa nasaluka fil safarinaa haadzal birra wattaqwa waminal 'amali maa tardlaa. Allaahumma hawwin 'alainaa safaranaa haadzaa waathwu 'annaa bu'dah. Allaahumma antash shaahibu fis safari wal khaliifatu fil ahli.
Allaahumma innii a'uudzuu bika min wa 'tsaais safari wa ka aabatil munqalabi wa suu'il mandhari fil ahli wal maal. Aayibuuna taaibuuna'aabiduuna lirabbinaa hamiduun.

Maha suci Allah yang telah mengerahkan kendaraan ini tunduk kepada kami, sedang kami sendiri tiada kan mampu untuk menguasainya, dan kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, kami memohonkan kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketaqwaan, serta segala yang Tuhan ridhoi dari amal perbuatan. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami dan dekatkanlah jaraknya yang jauh. Ya Allah, Engkaulah kawan sejati dalam perjalanan, wakil sejati bagi keluarga.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, dari kesedihan waktu kembali dan mendapatkan keluarga dan harta dalam keadaan buruk. Kami pulang seraya bertaubat dan berbakti dan tetap memuji kepada Tuhan kami.

Peringatan Allah SWT bagi Umatnya Menurut Al-Quran
Dan janganlah engkau berjalan dibumi ini dengan congkak, sebab engkau tidak akan mampu membelah bumi, tidak pula akan pula dapat menjulang setinggi gunung.
( Alquran 17 : 37 )

...Janganlah engkau berjalan dimuka bumi ini dengan angkuh, Allah sungguh-sungguh tidak senang terhadap semua orang yang sombong dan angkuh. ( Alquran 31 : 18 )
...Lagi pula janganlah mempergunakan kesempatan yang ada padamu untuk berbuat kerusuhan di muka bumi, sebab Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusuhan.
( Alquran 28 : 77 )

Ujian Tiga Peristiwa

Proses mendapatkan iman dan amal shaleh tidak semudah membalik telapak tangan. Bukan dengan kesenangan dan kemewahan. Dari dulu, sekarang dan esok, iman hanya dapat diperoleh lewat “Mujahadah”.

Apa itu Mujahadah ? Kaji berdalil kata bermisal, mengambil contoh kepada yang sudah baik, mengambil tuah kepada yang menang, “Alam takambang menjadi guru”, kata pepatah Minang.

Isi jasmani kita tidak lain rohani yang semata datang dari Allah Swt. Rohani baru bisa diisi yang betul jika dihubungkan dengan al Quran dan Hadits. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al Quran dan sesungguhnya Kami memeliharanya” (QS. Al Hijr:9)

Sayang, kebanyakan manusia hari ini, lebih mementingkan membaca koran dari pada al Quran. Mereka terpukau dengan ucapan-ucapan makhluk dan tidak terkesan kepada firman Allah Swt dan sabda Rasulullah saw. Salah satu penyebab rusaknya iman dan amal shaleh karena kita telah menjadikan perkara-perkara yang tidak penting menjadi penting.

Jika kita mau memilih benda, tentu kita akan pilih produk mutakhir atau modern. Tapi, jika kita hendak mendapat cara hidup yang benar, harus merujuk kepada cara awal yang dicontohkan Rasulullah saw dan sahabat r.anhum. Insya Allah kita akan berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat penting, yaitu iman dan amal shaleh. Ketika terjadi peristiwa menyedihkan yaitu wafatnya Khadijah ra juga paman beliau yang membela kerja dakwah, Abu Thalib, berpulang menghadap Allah Swt. Kepergian kedua sosok ini benar-benar membuat luluh hati kekasih kita Muhammad saw. Tapi kerja dakwah sebagai perintah Allah tetap dilanjutkan.

Walau Baginda Rasulullah saw keturunan Quraisy Makkah, tapi dakwah yang diembannya tidak begitu disambut baik oleh orang-orang Makkah, bahkan ada yang memboikot dan ingin membunuh beliau. Baginda Nabi saw berpikir dan membuat rencana hendak pergi ke kampung halaman almarhum ayahnya, Abdullah, di kota Tha’if. Merupakan kota kedua terbesar di Hijaz.

Karena Tha’if merupakan kampung halaman tumpah darah neneknya dari nasab bapak. Rupanya, rencana Nabi saw tersebut tercium Abu Jahal, musuh bebuyutan Baginda Nabi. Abu Jahal cepat-cepat berangkat ke Tha’if dan menemui tokoh negeri itu serta membuat propaganda, “Akan datang ke negeri ini seseorang bernama Muhammad yang akan membawa agama baru dan akan menukar agama nenek moyang kita.” Abu Jahal tokoh kafir Quraisy itu menambahkan, “Jangan disambut kedatangannya dan usir mereka dari kampung ini.”

Setelah mendapat provokasi buruk dari Abu Jahal, maka orang Tha’if yang dikenal lemah lembut berubah menjadi beringas. Tahun ke-9 kenabianlah beliau di kota Tha’if mencoba menemui kaum Bani Tsaqif, agar menerima Islam yang beliau bawa.

Namun apa yang terjadi ? Mereka bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Nabi saw saja mereka tidak mau. Rasulullah saw diperlakukan kasar dan biadab, diusir, dilempari batu sehingga gigi beliau patah dan berlumuran darah. Dalam perjalanan pulang penuh penderitaan, beliau menjumpai suatu tempat berteduh yang agak aman dari kejaran Bani Tsaqif, lalu berdoa.

“Wahai Tuhanku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhanku Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku ? Kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusan aku. Tidak ada keberatan bagiku asal Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang mulia, menyinari langit dan segala yang gelap. Di atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat dari tertimpanya atas diriku kemarahan-Mu atau turunnya azab-Mu atas diriku. Kepada Engkaulah aku adukan keadaan sehingga Engkau ridha kepadaku, tidak ada daya upaya melainkan dengan Engkau.”

Tiga macam penderitaan yang sangat menyedihkan Baginda Rasul ini merupakan perjalanan hidup untuk mendapat kemuliaan tertinggi, yaitu Baginda Nabi dipanggil Allah Swt menghadap ke Sidratul Munthaha, di Arasy Allah, yang dikenal dengan ‘Isra’ dan Mi’raj’.

Shalat Khusyu’ Wal Khudhu’

Artinya :
Shalat yang diiringi konsentrasi batin dan merendahkan diri di hadapan Allah serta dilakukan dengan cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Maksud dan tujuannya :

Membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah yang ada di dalam shalat kedalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, di dalam shalat kita menundukkan pandangan, membaca al Quran, menutup aurat, tidak riya dan sombong, tidak syirik, tidak takabur dan lain lain, begitu pula di luar shalat kita senantiasa menundukkan pandangan, memperbanyak membaca al Quran, juga menutup aurat, tidak riya dan sombong, tidak syirik, tidak takabur dan lain lain.

Keuntungannya :

Allah Swt berfirman :

“Sesungguhnya shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar.”
(QS.al-Ankabut,29:45)

dalam firman-Nya yang lain

“Dan carilah pertolongan dengan sabar dan shalat.”
(QS.al-Baqarah,2:45)

Nabi saw bersabda :

“Shalat adalah sebaik-baik amal yang ditetapkan Allah untuk hamba-Nya.”

Cara mendapatkan hakikat shalat khusyu’ :

1. Selalu mendakwahkan pentingnya shalat khusyu’

2. Latihan shalat khusyu dengan cara :

a. Memperbaiki tertib zhahir shalat dari mulai istinja, wudhu, hingga bacaan-bacaan dan gerakan-gerakan shalat.

b. Menghadirkan keagungan Allah kedalam hati kita ketika sedang melakukan shalat.

c. Belajar menyelesaikan masalah dengan shalat.

d. Berdo’a kepada Allah agar diberi taufik untuk mengerjakan shalat dengan khusyu’ dan khudhu’

Sabar Terhadap musibah dan kesulitan hidup 6

Diriwayatkan dari Mujahid dari Abu Hurairah ra, di mana ia berkata :

“Demi Dzat yang tiada Tuhan kecuali Dia, sesungguhnya kadang-kadang aku terpaksa menekan perutku di tanah karena lapar, dan kadang-kadang aku terpaksa meletakkan batu pada perutku karena lapar. Pada suatu hari aku duduk di jalan yang biasa dipergunakan untuk lewat orang, lantas Abu Bakar lewat lalu aku menanyakan kepadanya tentang salah satu ayat Al-Quran yang sebenarnya aku tidak ingin bertanya melainkan agar ia mengajak aku ke rumahnya, namun ia pergi dan tidak mengajak aku. Kemudian Umar lewat, lalu aku tanyakan kepadanya tentang salah satu ayat Al-Quran yang sebenarnya aku tidak ingin bertanya melainkan agar ia mengajak aku ke rumahnya, namun ia pergi dan tidak mengajak aku. Kemudian Nabi saw lewat lalu tersenyum ketika melihat aku dan mengetahui apa yang ada dalam hatiku, lantas beliau bersabda : “Wahai Abu Hurairah”. Aku menjawab : “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda : “Ikuti aku”. Beliau berjalan dan aku mengikutinya. (Setelah sampai di rumah beliau), aku mohon izin (untuk masuk) lalu beliau mengizinkan aku, maka aku pun masuk, dan di situ aku melihat ada susu yang berada di mangkok, lantas beliau bertanya : “Dari mana susu ini ?”
Orang yang berada di rumah itu menjawab : “Si Fulan atau Fulanah menghadiahkan untukmu.” Beliau bersabda : “Wahai Abu Hurairah.” Aku menjawab : “Labbaik ya Rasulullah.” Beliau bersabda : “Pergilah ke ahli shuffah dan panggilah mereka untuk kemari.” Perintah itu terasa berat bagiku, lalu aku berkata ; “Apakah artinya susu itu bila ahli shuffah datang, aku lebih pantas untuk mendapatkan susu itu untuk diminum sehingga bisa menguatkan badanku, akan tetapi tidak boleh tidak harus taat kepada Allah dan taat kepada rasul-Nya. Maka sampailah aku, dan aku mengundang mereka. Mereka datang (ke rumah beliau), lalu minta izin (untuk masuk) dan beliau pun mengizinkannya, lantas mereka duduk. Beliau bersabda : “Wahai Abu Hurairah, ambilah mangkok susu itu dan berikanlah kepada mereka”. Lalu aku mengambil mangkok itu dan aku berikan kepada orang (ahli shuffah) itu, lantas ia meminumnya hingga merasa puas, kemudian mangkok itu diedarkan ke yang lain, hingga akhirnya sampai kepada Nabi saw.
Setelah semua orang merasa puas, beliau mengambil mangkok itu dan mengangkatnya seraya bersabda : “Wahai Abu Hurairah”. Aku menjawab : “Labbaik ya Rasulullah”. Beliau bersabda : “Tinggal aku dan kamu”. Aku menjawab : “Benar, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda : “Duduk, dan minumlah”, maka aku pun duduk dan minum. Beliau bersabda : “Minumlah”, maka aku pun minum. Beliau terus-menerus menyuruh aku untuk meminumnya sampai akhirnya aku berkata : “Demi Dzat yang mengutus engkau dengan benar sebagai nabi, sudah tidak ada tempat lagi”. Kemudian kuserahkan kembali mangkok itu kepada beliau, lantas Nabi saw memuji kepada Allah dan meminum sisa susu itu”.

Al-Faqih mengatakan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah saw itu berada dalam kesulitan karena gangguan orang-orang kafir dan kelaparan, namun mereka sabar menghadapi semuanya itu, sehingga Allah memberi kelapangan kepada mereka. Setiap orang yang sabar akan diberi kelapangan oleh Allah, karena sesungguhnya kelapangan itu berada dalam kesabaran, dan sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Diriwayatkan dari Utsman bin Yasar, di mana ia berkata : “Aku datang ke Bahrain dan dijamu oleh seorang perempuan yang kaya, banyak anak dan banyak budak, namun aku melihat dia itu sedih. Ketika aku pamitan untuk pergi, ia bertanya kepadaku : “Apakah ada pesan ?” Dia menjawab : “Ya, jika kamu datang ke sini lagi, mampirlah ke rumahku ini”. Kemudian aku meninggalkan dalam waktu sekian lama, lantas aku datang lagi kepadanya, namun aku tidak melihat budak-budak yang menunggu di depan pintunya, lalu aku minta izin untuk masuk, saat itu dia kelihatan gembira dan berseri.
Aku bertanya kepadanya : “Bagaimana keadaanmu ?” Dia menjawab : “Sejak kepergianmu dari sini, setiap kali aku mengirimkan dagangan yang ada di darat selalu merugi, sehingga budak-budak dan anak-anakku habis”. Aku berkata kepadanya : “Semoga Allah mengasihani kamu. Waktu itu aku melihat kamu sedih, akan tetapi kini kamu kelihatan senang”. Dia menjawab : “Benar, ketika aku mempunyai dunia yang melimpah, aku takut bila kebaikan-kebaikanku dibayar kontan oleh Allah di dunia ini, akan tetapi ketika harta, anak-anak, dan budak-budakku telah habis, aku berharap semoga Allah menyediakan simpanan kebaikan di akhirat, maka aku merasa senang.”

Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan bahwa ada salah seorang sahabat melihat seorang perempuan yang dikenalnya sejak zaman Jahiliyah, kemudian ia menyapanya, lantas ia tinggalkan perempuan itu. Sahabat itu menoleh kepada perempuan itu, sehingga mukanya terbentur tembok. Dengan muka yang masih ada bekas benturan itu, ia datang kepada Nabi saw dan menceritakan benturan itu, ia datang kepada Nabi saw dan menceritakan peristiwa itu kepada beliau, kemudian beliau bersabda :

“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah menyegerakan siksaannya di dunia.”

Dari Ali bin Abi Thalib Kw, bahwasanya ia berkata : “Maukah kamu aku beri tahu ayat Al-Quran yang paling bisa memberi harapan ?” Mereka menjawab : “Tentu”. Kemudian Ali membaca ayat :

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu.” (QS.Asy-Syuuraa,42:30)

Sebenarnya musibah-musibah di dunia ini tidak lain merupakan akibat dosa-dosa yang dikerjakan oleh orang yang bersangkutan. Apabila Allah telah menyiksanya di dunia, maka Allah tidak akan mengulangi lagi siksaan-Nya di akhirat nanti, dan apabila Allah memaafkannya, maka nanti pada hari kiamat Allah tidak akan menyiksanya.

Aisyah ra meriwayatkan dari Rasulullah saw, bahwasanya beliau bersabda :

“Tiada satu musibah yang menimpa orang yang beriman sampai-sampai tertusuk duri, bahkan yang lebih ringan daripadanya, melainkan Allah menghapus satu dosa daripadanya.”

Sabar Terhadap musibah dan kesulitan hidup 5

Dari Abu Hurairah ra, di mana ia berkata :

“Ada seseorang datang kepada Nabi saw sewaktu beliau sedang berbaring, kemudian ia bertanya kepada beliau : “Apa yang menyebabkan engkau sakit ? “ Beliau menjawab : “Lapar”. Lantas orang itu menangis, lalu keluar untuk bekerja di mana ia mengambilkan air untuk seseorang dengan upah sebutir korma setiap timba, kemudian ia datang lagi kepada Nabi saw dengan membawa sedikit korma. Beliau lalu bersabda : “Aku berpendapat bahwa kamu tidak melakukan pekerjaan itu, melainkan karena kamu cinta kepadaku”. Ia menjawab : “Benar, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.” Beliau bersabda : “Bila kamu benar, maka siap-siaplah menghadapi musibah dengan baju yang tebal. Demi Allah sesungguhnya musibah itu lebih cepat datangnya kepada orang yang cinta kepadaku daripada datangnya air bah dari atas gunung ke dalam jurang.”

Diriwayatkan dari Amir ra dari Nabi saw di mana beliau bersabda :

“Apabila kamu melihat seseorang dikaruniai oleh Allah Swt apa yang dia inginkan, padahal ia terus-menerus melakukan maksiat kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa yang demikian itu merupakan istidraj (untuk mempesonakan dirinya), kemudian beliau membaca firman Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung : “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (QS.Al-An-aam,6:44)

Abu Hurairah ra meriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya ketika beliau ditanya tentang siapakah orang yang paling banyak tertimpa musibah, beliau menjawab :

“Para Nabi, kemudian orang-orang yang shaleh, lantas orang-orang yang serupa, lalu orang-orang yang serupa.”

Ada yang mengatakan bahwa tiga macam perbuatan termasuk dalam perbendaharaan kebaikan, yaitu : Menyembunyikan shadaqah, menyembunyikan sakit, dan menyembunyikan musibah.

Diceritakan dari Wahb bin Munabbih, di mana ia berkata “Aku mencatat dari kitab salah seorang hawariyyin, yang isinya : “Apabila kamu tertimpa musibah, maka senangkan hatimu kaena sesungguhnya kamu sedang berjalan di jalan para nabi dan orang-orang shaleh. Apabila kamu sedang ditimpa kesenangan maka tangisilah dirimu karena kamu berjalan di jalan yang berbeda dari jalan para nabi dan orang-orang yang shaleh.” Diriwayatkan bahwa Allah Swt menurunkan wahyu kepada Nabi Musa bin Imran as dengan maksud yang serupa.

Diceritakan dari Fathul Maushili, di mana ketika ia ditimpa musibah, ia berdoa : “Wahai Tuhan, seandainya saya tahu karena perbuatan apa saya mendapatkan musibah ini, niscaya saya akan melakukan perbuatan itu lebih banyak lagi.”

Diriwayatkan dari Nabi saw, bahwasanya beliau bersabda :

“Barang siapa yang sedikit hartanya tetapi banyak keluarganya, salatnya baik, dan tidak pernah mengumpat kaum muslimin, maka nanti pada hari kiamat datang bersama aku seperti ini.” Beliau menghimpunkan jari telunjuk dan jari tengahnya.”

Sabar Terhadap musibah dan kesulitan hidup 4

Abdullah bin Al-Harts meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya ia berkata : “Salah seorang di antara para nabi ada yang mengeluh kepada Tuhannya, di mana ia berkata : “Wahai Tuhanku, kenapa hamba yang beriman, di mana ia taat kepada-Mu dan menjauhkan diri dari maksiat kepada-Mu Engkau hindarkan dari dunia bahkan dihadapkan berbagai musibah, sedangkan hamba yang kafir, di mana ia tidak taat kepada-Mu dan selalu melakukan maksiat dihindarkan dari berbagai musibah bahkan dunia dilapangkan kepadanya”. Kemudian Allah menurunkan wahyu kepadanya, di mana Allah berfirman : “Sesungguhnya hamba adalah milik-Ku dan musibah juga milik-Ku, masing-masing bertasbih dengan memuji-Ku. Orang yang beriman itu mempunyai dosa, maka Aku hindarkan dari dunia dan Aku hadapkan kepadanya berbagai musibah sebagai kaffarat (penebus) dosa-dosanya, sehingga ia bertemu dengan Aku, lalu Aku balas kebaikan-kebaikannya. Sedangkan orang kafir itu mempunyai dosa-dosa, namun Aku lapangkan rezekinya dan Aku hindarkan dari musibah, sehingga ia bertemu dengan Aku, lalu Aku balas dosa-dosanya itu.”

Dari Anas bin Malik ra, di mana ia berkata : Rasulullah saw bersabda :

“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang atau menghendaki untuk dijadikan kekasih-Nya, maka Allah menuangkan musibah kepadanya dan digerojok dengan derasnya, dan jika ia berdoa kepada-Nya, malaikat berkata: “Wahai Tuhanku, ada suara yang baik”. Jika ia berdoa yang kedua kalinya, di mana ia berkata : “Wahai Allah, maka Allah Swt berfirman : “Aku sambut doamu dan berbahagialah kamu. Tiadalah kamu memohon sesuatu kepada-Ku melainkan Aku berikan kepadamu atau Aku hindarkan daripadamu apa yang buruk, dan Aku simpan di sisi-Ku apa yang lebih utama daripadanya bagimu. Apabila nanti pada hari kiamat, maka orang-orang yang suka beramal didatangkan lantas ditimbang amal-amalnya, baik itu shalat, puasa, shadaqah maupun haji. Kemudian orang-orang yang banyak tertimpa musibah (sewaktu di dunia) didatangkan lantas tidak dipasang timbangan untuk mereka dan tidak digelar buku-buku catatan, dan pahala dituangkan kepadanya sebagaimana musibah dituangkan kepadanya. Orang-orang yang sewaktu di dunia sehat terus ingin seandainya badan mereka digunting-gunting dengan gunting karena mereka melihat pahala yang diberikan kepada orang-orang yang tertimpa musibah (sewaktu di dunia). Itulah maksud dari firman Allah Swt : “Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar,39:10)

Dalam suatu riwayat diceritakan, bahwa pada zaman dahulu ada orang mukmin dan orang kafir pergi mengail ikan. Orang kafir itu selalu menyebut-nyebut nama berhalanya dan ia mendapat ikan yang banyak, sedangkan orang mukmin itu selalu menyebut-nyebut nama Allah namun tidak mendapatkan ikan, dan menjelang matahari terbenam, ia mendapatkan satu ekor ikan tetapi karena ikan itu bergerak-gerak, maka jatuh lagi ke dalam air. Malaikat yang menjaga orang mukmin itu merasa kecewa, dan ketika malaikat itu naik ke langit, Allah memperlihatkan kepadanya tempat orang mukmin itu di dalam surga, maka malaikat itu berkata : “Demi Allah, penderitaan di dunia itu sama sekali tidak berarti apa-apa, bila kelak masuk ke dalam surga.” Malaikat itu juga diperlihatkan tempat orang kafir itu di dalam neraka, maka malaikat itu berkata : “Demi Allah, kesenangan dunianya itu sama sekali tidak berarti apa-apa, bila kelak ia masuk ke dalam neraka.”

Kelak pada hari kiamat, Allah menolak alasan yang diajukan oleh empat macam golongan manusia dengan empat jenis manusia. Pertama, Allah menolak alasan orang kaya dengan Nabi Sulaiman as. Apabila orang kaya berkata : “Kekayaanku menyibukkan diriku dari ibadah kepada-Mu”, maka Allah berfirman : “Kamu tidak lebih kaya daripada Sulaiman, namun kekayaannya itu tidak menghalanginya untuk beribadah kepada-Ku”. Allah menolak alasan orang yang menjadi budak dengan Nabi Yusuf as. Apabila seorang budak berkata : “Aku adalah seorang budak, dan pekerjaanku itu menghalangi diriku dari ibadah kepada-Mu.” Maka Allah berfirman : “Kebudakan Yusuf itu tidak menghalanginya untuk beribadah kepada-Ku.” Allah menolak alasan orang fakir dengan Nabi Isa as. Apabila orang fakir berkata : “Kemiskinanku menghalangi diriku dari ibadah kepada-Mu.” Maka Allah berfirman : “Apakah kamu lebih miskin dari Isa ? Namun demikian Isa tidak pernah terhalang untuk beribadah kepada-Ku.” Allah menolak alasan orang yang banyak sakitnya dengan Nabi Ayyub as. Apabila orang yang banyak sakitnya itu berkata : “Sakit itu menghalangi diriku dari ibadah kepada-Mu.” Maka Allah berfirman : “Apakah sakitmu melebihi sakitnya Ayyub ? Namun demikian Ayyub tidak pernah terhalang untuk beribadah kepada-Ku.” Oleh karena itu, nanti pada hari kiamat tidak ada satu orang pun yang dapat beralasan di hadapan Allah Swt.

Orang-orang yang shaleh senang dengan sakit dan kesulitan hidup, karena ujian itu menjadi kaffarat (penebus) dosa-dosanya.

Diceritakan dari Abud Darda ra, bahwasanya ia berkata : “Orang-orang tidak senang fakir, namun aku menyenanginya, orang-orang tidak senang mati, namun aku menyenanginya, orang-orang tidak senang sakit, namun aku menyenanginya sebagai kaffarat (penebus) bagi dosa-dosaku. Aku senang fakir karena menyebabkan tawadhu’ kepada Tuhanku, dan aku senang mati karena rindu kepada Tuhanku.”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra dari Rasulullah saw bahwasanya beliau bersabda :

“Ada tiga hal yang barang siapa di karuniai ketiganya, maka ia benar-benar dikaruniai kebaikan dunia dan akhirat. (Ketiga hal itu adalah) : Ridha dengan qadha’ , sabar terhadap musibah, dan berdoa di waktu senang.”

Sabar Terhadap musibah dan kesulitan hidup 3

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib kw :

Ketika ayat ini turun, Rasulullah saw keluar dan bersabda : “Telah turun kepadaku suatu ayat yang bagi umatku lebih baik daripada dunia dan seisinya, kemudian beliau membaca ayat : Man ya’mal suu’an yujza bih : “Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu.” (QS.An-Nisaa,4:123) lalu beliau bersabda : “Sesungguhnya apabila seseorang mengerjakan suatu dosa, kemudian menderita kesulitan hidup atau memperoleh musibah di dunia, maka Allah memuliakannya (membebaskannya) untuk menyiksa orang itu yang kedua kalinya.”

Al-Faqih menjelaskan bahwa seseorang tidak akan dapat mencapai tingkatan orang-orang yang baik, kecuali dengan sabar atas kesulitan dan penderitaan hidup. Allah Swt telah menyuruh Nabi-Nya untuk bersabar, di mana Allah berfirman :

“Maka sabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati.” (QS.Al-Ahqaaf,46:35)

Diriwayatkan dari Khabbab bin Al-Arat ra, bahwasanya ia berkata : “Kami mendatangi Rasulullah saw yang sedang bersandarkan sorbannya di bawah naungan Ka’bah, lalu kami mengeluh kepadanya, di mana kami berkata : “Wahai Rasulullah, kenapa engkau tidak berdoa kepada Allah agar Allah menolong kami ?” Beliau lalu duduk dengan muka merah, seraya bersabda :

“Sesungguhnya umat yang sebelum kamu ada orang yang didatangkan lalu digali tanah, kemudian diambilkan gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya kemudian badannya dibagi dua, namun yang demikian itu tidak memalingkannya dari agama.”

Diriwayatkan dari Humaid dari Anas ra dari Nabi saw, di mana ia berkata :

“Nanti pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling banyak nikmatnya di bumi ini, lalu dicelupkan sejenak ke dalam neraka, kemudian ia keluar dengan hitam terbakar, lantas ditanyakan kepadanya : “Apakah kamu pernah merasakan kenikmatan sewaktu kamu berada di dunia ?” Kemudian ia menjawab :”Tidak, saya selalu berada dalam musibah sejak saya diciptakan”. Dan di datangkan orang yang paling banyak menderita di dunia ini, lalu dicelupkan sejenak ke dalam surga, kemudia ia keluar bagaikan bulan pada malam purnama, lantas ditanyakan kepadanya : “Apakah kamu pernah merasakan penderitaan ?” Ia menjawab : “Tidak, saya selalu berada dalam kenikmatan sejak saya diciptakan .”

Diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ra dari Nabi saw, bahwasanya beliau bersabda :

“Orang yang pertama kali masuk surga adalah orang-orang yang memuji kepada Allah, yaitu orang-orang yang memuji baik dalam keadaan senang maupun susah.”

Oleh karena itu setiap orang wajib untuk bersabar dalam menghadapi kesulitan atau musibah yang menimpa dirinya. Ia hendaklah menyadari bahwa kesulitan atau musibah yang dihindarkan daripadanya itu lebih banyak daripada yang ditimpakan kepadanya, dan untuk itu hendaklah ia selalu bersyukur dengan banyak membaca Al-hamdu lillaah. Seseorang hendaknya bisa mengikuti perilaku Nabi-Nya saw dan melihat bagaimana kesabaran beliau di dalam menghadapi gangguan orang-orang musyrik.

Sabar Terhadap musibah dan kesulitan hidup 2

Dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib kw, di mana ia berkata : “Wahai manusia, jagalah lima hal dari aku, yaitu dua, dua dan satu. Ingatlah, janganlah ada salah seorang di antara kamu takut kecuali kepada dosanya, janganlah sekali-kali ia mengharap kecuali kepada Tuhannya, janganlah merasa malu belajar jika tidak mengerti, janganlah merasa malu untuk mengatakan : “Aku tidak tahu”, jika ia ditanya namun tidak mengerti. Ketahuilah bahwa sabar dalam segala hal itu adalah bagaikan kepala di badan, di mana apabila kepala itu berpisah dari badan, maka rusaklah badan itu, dan apabila sabar itu berpisah dengan segala urusan, maka rusaklah urusan-urusan itu.”

Kemudian Ali bin Abi Thalib berkata : “Maukah kamu aku tunjukkan orang yang benar-benar mendalami agama ? Orang-orang menjawab ; “Tentu, wahai Amirul Mukminin. Ali berkata : “Yaitu orang yang tidak memutuskan harapan orang dari rahmat Allah, orang yang tidak menjamin keselamatan seseorang dari siksaan Allah, orang yang tidak mengajak orang untuk berbuat maksiat kepada Allah, orang yang tidak berani memastikan bahwa orang-orang yang baik itu tentu berada di surga, dan orang-orang yang melakukan maksiat itu tentu berada di neraka, sehingga Tuhan memutuskan mereka. Orang-orang yang baik di antara umat ini janganlah merasa aman dari siksaan Allah Swt, karena Allah berfirman :

“Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.” (QS.Al-A’raaf,7:99)

Demikian juga orang-orang yang berbuat kejahatan di antara umat ini janganlah berputus asa dari rahmat Allah Swt, karena Allah berfirman :

“Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS.Yuusuf,12:87)

“Apabila seseorang masuk kubur (telah dimakamkan), maka shalatnya berdiri di sebelah kanannya, zakat di sebelah kirinya, amal-amal baiknya menaunginya dan sabar membela kepadanya, di mana ia berkata kepada yang lain : “Bila kamu bisa membelanya silahkan untuk membelanya, tetapi bila tidak, aku yang akan membelanya.” Di sini terkandung pengertian bahwa sabar itu merupakan amal yang paling utama, dan Allah Swt berfirman :

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS.Az-Zumar, 39:10)

Diriwayatkan dari Abu Warrad dari Muhhamad bin Muslim yang merafa’kannya kepada Nabi saw, di mana ia menceritakan bahwa ada seseorang berkata : “Wahai Rasulullah, uangku telah habis dan badanku sakit, kemudian Nabi saw bersabda :

“Tidak ada kebaikan pada seseorang yang hartanya tidak habis dan badannya tidak sakit, sesungguhnya apabila Allah mencintai seseorang, maka Allah mengujinya dan bila Allah mengujinya, maka Allah memberinya kesabaran.”

Ali bin Abi Thalib kw berkata : “Barangsiapa yang dipenjara oleh penguasa, sehingga ia mati, maka ia mati syahid, dan apabila ia dipukul kemudian ia mati, maka ia mati syahid.”

Nabi saw bersabda :

“Sesungguhnya adakalanya seseorang itu mempunyai derajat di sisi Allah yang tidak dapat dicapainya dengan amalnya, sehingga di diuji dengan cobaan pada badannya, maka dengan cobaan itu ia dapat mencapai derajatnya itu.”

Diriwayatkan dalam suatu hadits bahwa ketika turun ayat :

“Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu.” (QS.An-Nisaa,4:123)

Maka Abu Bakar berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana bisa merasakan gembira setelah turun ayat ini ?” Kemudian beliau bersabda :

“Semoga Allah memberi ampunan kepadamu wahai Abu Bakar, bukankah kamu sakit, bukankah kamu menderita gangguan, bukankah kamu merasa sedih ? Maka semua ini termasuk apa yang kamu dibalas karenanya.”

Maksudnya bahwa semua apa yang kamu derita itu merupakan penebus dosa-dosamu.

Permohonan seorang Bayi kepada Allah Swt

Pada saat bayi masih didalam kandungan ibunya…sang bayi berdo’a kepada Allah.. Ya Allah jika saya boleh meminta, saya akan meminta kepada Allah untuk diberikan plasenta/tali ari-ari yang panjang dan banyak. Karena sang bayi berpikir untuk apa adanya tangan, kaki, mata dan yang lainnya, karena didalam rahim sang ibu tidak ada fungsinya. Yang aku butuhkan saat ini adalah tali ari-ari untuk menyuplai/memasok makanan ke dalam tubuhku ini. Kata sang bayi. Yang dianggap penting saat bayi di dalam kandungan ibu adalah tali ari-ari tersebut.

Pada saat bayi itu lahir ke alam dunia ini, justru yang pertama kali dipotong dari tubuh sang bayi adalah tali ari-ari. Ternyata yang selama ini dianggap penting sebagai hal yang terpenting dalam kehidupan sang bayi justru dipotong.

Barulah sang bayi menyadari bahwa untuk bekal hidup di dunia, sang bayi membutuhkan tangan untuk bekerja, menulis, makan dan lain sebagainya, begitu juga dengan kaki, sang bayi baru sadar kalau kaki dapat dipergunakan untuk berjalan dan lain sebagainya. Begitu pula halnya dengan kelengkapan tubuh yang lainnya yang selama di dalam kandungan tidak banyak berfungsi. Malahan kalau seandainya sang bayi itu dilahirkan dalam kondisi yang tidak sempurna, maka akan membuat hidupnya di dunia terganggu dan menderita. Kalau pun sang bayi itu meminta untuk dikembalikan ke dalam kandungan sang ibu tentunya hal ini tidak akan mungkin dan sulit untuk dikabulkan.

Saat di alam rahim (kandungan) Allah Swt telah menyempurnakan fisik kita, maka setelah manusia di lahirkan ke dunia ini, Allah perintahkan untuk menyempurnakan iman dan amal shaleh. Jadi dunia in bukan tempat menyempurnakan jasad atau fisik kita tetapi dunia ini sebagai darul imtihan (sarana latihan) untuk menyempurnakan pelaksanaan amal agama. Tali ari-ari pada bayi ibarat dunia dengan kemilaunya (harta, pangkat, jabatan dan lain sebagainya) sementara kaki, tangan dan mata sang bayi saat di alam rahim ibarat iman dan amal shaleh yang tidak kelihatan manfaatnya ketika di dunia. Barulah ketika kita meninggal, amalan agama (shalat, dzikir, tilawah al Quran, dakwah, shaum, sedekah, jihad, dan menuntut ilmu) terasa manfaat dan kegunaannya.

Saat ajal menjemput justru yang selama ini kita anggap penting selama di dunia ini akan Allah Swt putus dan akan kita tinggalkan termasuk kendaraan, anak istri, saudara, harta benda, maupun jabatan. Semuanya akan kita tinggalkan, kalaupun mereka ikut, hanya ikut sampai dengan liang lahat, sampai dengan pemakaman kita saja. Yang ikut kepada kita hanya iman dan amal shaleh yang selama ini kita anggap tidak penting di dunia ini.

Iman dan amal shaleh merupakan satu-satunya bekal untuk kita di kampung akhirat nanti, dimana kita akan hidup disana untuk selama-lamanya. Sekarang tinggal kembali kepada diri kita masing-masing, bekal yang manakah yang penting diantara yang terpenting. Seyakin apakah kita masih dibangunkan kembali keesokan harinya oleh Allah Swt, atau bahkan apakah kita masih bisa melakukan shalat pada adzan dikumandangkan pada waktu sholat berikutnya nanti ?

Mungkin kita lupa, diluar sana masih banyak orang-orang, baik yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal yang sedang menunggu ajalnya, yang sedang terbaring sakit. Dan jangan kita salah, bahwa dimanapun kita berada, ajal dapat menjemput kita dimana saja dan kapan saja, manusia sedang mandi bisa meninggal, manusia sedang mengemudi, bekerja, olah-raga, bahkan sedang tidur sekalipun bisa meninggal.

Be Ware…You are being watch by Allah SWT

Perintah Shalat

Allah Swt mengetahui seluruh kejadian, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, di bumi dan di langit. Melihat Rasulullah saw diperlakukan orang Tha’if dengan kejadian itu, maka malaikat Jibril datang menemui Baginda saw yang sedang duduk termenung menahan sakit dan sedih di bawah pohon, seraya berkata, “Wahai kekasih Allah, malaikat gunung telah diantar Allah ke sini, tinggal lagi menunggu perintahmu ya kekasih Allah Swt. Kedua gunung yang bersebelahan ini akan diangkat untuk menghancurkan kaum Tha’if yang zhalim ini, semua musnah berantakan.”

Nabi saw menjawab, “Jangan…jangan yaa malaikat, saya salah, saya terlambat datang ke sini (Tha’if) pergi dakwah (kedahuluan dengan Abu Jahal datang memfitnah). Walaupun sekarang mereka tak menerima Islam, semoga anak keturunannya kelak akan menerima, menyembah dan beribadah kepada Allah.”

Ternyata doa Rasulullah saw ini makbul. Tercatat dari generasi ketiga, Muhammad bin Qosim masuk Islam dan berhijrah ke India sehingga orang-orang India masuk Islam. Hingga sekarang orang-orang Tha’if dikenal paling taat kepada ajaran Islam. Subhanallah…

Tak lama setelah Nabi saw tiba di Makkah, Allah memerintahkan malaikat Jibril menjemput Nabi saw ke Arasy di langit ke tujuh.

Dalam al Quran disebutkan :

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar kamu perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.al Isra, 1)

Ketika akan dibaca yang tersurat dan tersirat dalam peristiwa penting ini. Ketika itu, di dunia baru ada dua masjid, yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Setelah Nabi saw bermujahadah (bersusah payah) menjalankan usaha dakwah untuk memperbaiki kehidupan jahiliyah di tanah Hijaz dengan tiga penderitaan yang sangat mengharukan, barulah Allah berikan kemuliaan dan kebesaran yang tidak pernah diberikan kepada nabi-nabi terdahulu, yaitu menghadap Allah di Arasy-Nya.

Dalam perjalanan itu pula, Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi saw secara nyata. Dipandu oleh malaikat Jibril dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Dari sinilah baru beliau di Mi’raj kan ke langit. Sesampainya di langit ke tukuh, malaikat Jibril tak sanggup bersama Nabi saw lagi, beliau disuruh naik ke Arasy-Nya sendirian. Sesampainya Nabi saw menghadap Sang Khaliq, Allah menyambut,

“Assalamu’alaika ayyuhannabiyuu warahmatullahi wabarakaatuh.”

Artinya “Salam keselamatan rahmat dan berkah-Ku wahai Nabi Muhammad.” Nabi menjawab, “Assalamu’alaina wa ‘laa ‘ibaadillaahissholihiin.” “selamat atas kami dan untuk seluruh hamba Alalh yang shalih.”

Rupanya nabi kita tidak mau “salam keselamatan” ditujukan untuk beliau sendiri, beliau terlalu berat memikirkan umatnya, maka Nabi saw bersabda, “Keselamatan semoga tetap untuk kami bagi hamba-hamba yang shalih.”

Inilah inti dari perintah shalat lima waktu yang dijemput Nabi saw ke Sidratul Muntaha untuk disampaikan kepada umat di muka bumi. Shalat adalah tiang agama, shalat bagaikan kepala pada badan, shalat adalah ibadah yang pertama kali diperiksa Allah di Yaumil Mashyar, shalat pembeda antara orang kafir dengan Islam, jika shalatnya diterima maka diterima pula amalan lainnya. Shalat pencegah perbuatan keji dan mungkar, shalat anak kunci surga.

Fadhilah tersebut wajib dipelajari sehingga mendorong kita mengamalkan agama dan menyampaikannya ke seluruh alam. Di negeri ini, berapa persenkah kaum muslimin yang mendirikan shalat ? Sepuluh persen, dua puluh persen, lebih atau kurang dari itu? Kajian seperti inilah yang selalu terabaikan oleh kebanyakan pemimpin Islam yang tidak peduli tentang shalat perintah Allah dan Rasul-Nya.

Perasaan Takut Abu Bakar RA

Semua penganut Ahlussunnah wal Jamaah sepakat, bahwa Abu Bakar Siddiq ra adalah orang yang paling utama di kalangan para sahabat Nabi saw dan seluruh manusia selain para Anbiya as. Rasulullah saw sendiri pernah menyampaikan berita gembira kepadanya bahwa ia akan menjadi pemimpim jamaah di Jannah nanti dan semua pintu Jannah akan memanggil nama Abu Bakar. Nabi saw juga bersabda, “Orang yang pertama masuk Jannah di kalangan umatku adalah Abu Bakar”.

Namun demikian, ia masih memiliki perasaan takut (khauf) yang tinggi kepada Allah Swt. Ia sering berkata “Alangkah baiknya seandainya aku menjadi sebatang pohon yang kemudian ditebang dan dijadikan kayu bakar.” Kadang-kadang ia berkata, “Alangkah baiknya kalau aku sehelai rumput yang akan habis dimakan binatang ternak.”

Pada suatu hari ia pergi ke sebuah taman dan melihat seekor burung sedang berkicau, ia berkata, “Wahai burung, sungguh beruntung kamu, kamu makan, minum dan terbang di antara pepohonan tanpa perasaan takut kepada hari akhirat. Andaikan Abu Bakar menjadi sepertimu.”

Rabi’ah Aslami ra bercerita : Aku pernah bertengkar dengan Abu Bakar, dalam pertengkaran itu ia mengeluarkan kata-kata kasar kepadaku. Tetapi kemudian ia segera menyadari kesalahannya itu lalu berkata, “Ucapkanlah kata-kata kasar itu sebagai balasan kepadaku.” Tetapi aku menolaknya. Ia berkata, “Kamu harus mengatakannya, kalau tidak, aku akan mengadukannya kepada Rasulullah saw, “Aku pun tetap menolaknya, maka ia pun berdiri lalu meninggalkanku.

Beberapa orang dari Bani Aslam yang menyaksikan peristiwa ini berkata, “Aneh sekali orang ini, ia yang memulai, ia sendiri yang akan mengadukan kepada Rasulullah saw.”

Aku berkata kepada mereka, “Tahukah kalian, siapa dia ? Dia adalah Abu Bakar, menyakitinya berarti menyakiti Rasulullah saw dan menyakiti Rasulullah berarti menyakiti Allah. Kalau perbuatanku ini menyakiti Allah, siapakah yang dapat menyelamatkanku ?”

Setelah berkata begitu, aku segera berdiri lalu pergi menemui Rasulullah saw. Aku menceritakan peristiwa tadi kepada beliau. Rasulullah saw berkata, “Keenggananmu untuk membalas dan menjawabnya, itu memang baik. Tetapi untuk menyenangkan hatinya, sebaiknya engkau berkata, “Semoga Allah memaafkanmu, wahai Abu Bakar.”

Hikmah: Begitulah perasaan takut yang dicontohkan Abu Bakar ra. Ketakutannya menerima pembalasan di akhirat karena kata-katanya yang sepele, menyebabkan ia memaksa Rabi’ah Aslami untuk membalas perbuatannya. Penyesalan dan penderitaan batinnya akibat kesalahannya menyebabkan ia mengadukan peristiwa itu kepada Rasulullah saw dengan harapan beliau dapat menolongnya.

Sedangkan pada hari ini, di antara kita sering terjadi caci-mencaci. Tetapi tidak ada sedikitpun dalam diri kita rasa takut tentang hari akhirat. Padahal di sana segala perbuatan kita akan dibalas. Bandingkanlah dengan perasaan takt Ab Bakar ra di atas.

Pentingnya Shalat 9

Dari Ibnu Salman ra berkata, “Seorang lelaki dari kalangan sahabat berkata kepada Rasulullah saw, “Ketika kami menaklukan kota Khaibar dalam suatu peperangan, orang-orang mulai mengeluarkan harta rampasan perang yang terdiri dari berbagai macam barang dan tawanan. Maka orang-orang pun mulai berjual beli dengan harta rampasan perang itu. Tiba-tiba seorang lelaki datang menemui Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya pada hari ini aku telah memperoleh keuntungan yang besar, dan tidak ada seorang pun dari penduduk lembah ini yang menandingi keuntunganku.” Dengan terheran-heran Rasulullah saw bertanya, “Berapa keuntungan yang engkau dapatkan ?” Dia menjawab, “Aku terus menerus berjual beli sehingga mendapatkan keuntungan 300 Uqiyah.”

Rasululah saw bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu, sebaik-baik orang yang memperoleh keuntungan ?”
Dia bertanya, “Apakah itu, ya Rasulullah ?”

Beliau saw menjawab, “Dua rakaat shalat sunnat setelah shalat fardhu.”
(HR.Abu Dawud)

Satu Uqiyah sama dengan 400 Dirham, sedangkan satu Dirham sama dengan 4 Anah (25 sen atau ¼ Rupe). Apabila dihitung, maka jumlahnya sama dengan 3.000 Rupe. Akan tetapi apalah artinya keuntungan 3.000 Rupe jika dibandingkan dengan keuntungan yang abadi yang tidak akan pernah habis. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Allah Swt penguasa dua alam, “Apakah ini suatu kemenangan yang besar ?” Seandainya kita memiliki hakekat iman seperti itu, bahwa uang 3.000 Rupe itu tidak bernilai apa-apa dibandingkan dengan dua rakaat shalat, maka hidup ini akan benar-benar menjadi damai. Oleh karena itulah Rasulullah saw bersabda, “Shalat adalah pelipur mataku” Salah satu wasiat terakhir beliau adalah agar kita memperhatikan shalat. (Kanzul Ummal)

Mengenai wasiat beliau yang terakhir ini telah disebutkan dalam beberapa hadits, di antaranya hadits dari Ummu Salmah r.ha, katanya, “Pada waktu menjelang akhir hayat Rasulullah saw, ketika mulut beliau tidak dapat lagi mengucapkan kata-kata dengan sempurna, beliau menekankan tentang masalah shalat dan hak-hak hamba sahaya.” Hadits seperti ini telah diriwayatkan juga dari Ali ra bahwa kata-kata Rasulullah saw yang terakhir adalah menekankan masalah shalat dan agar takut kepada Allah Swt mengenai hak-hak hamba sahaya. (Jami’ush Shaghir)

Pada suatu ketika Rasulullah saw mengirimkan pasukan jihad ke Najd. Dalam tempo yang begitu cepat mereka telah kembali membawa kemenangan dan ghanimah yang sangat banyak. Banyak orang yang merasa heran karena mereka kembali dengan begitu cepat dan membawa kemenangan serta harta rampasan yang begitu banyak. Rasulullah saw bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian mengenai orang yang mendapatkan harta yang lebih banyak dari semua itu dan lebih singkat waktunya ?” Mereka adalah orang yang mengerjakan shalat Shubuh berjamaah dan duduk di tempatnya sampai terbit matahari, kemudian mengerjakan shalat dua rakaat (shalat sunnat Dhuha). Itulah orang-orang yang mendapatkan keuntungan yang sangat banyak dalam waktu yang sangat singkat.”

Syaqiq Balkhi, seorang syaikh dan ahli shufi yang terkenal berkata, “Kita akan mendapatkan lima hal melalui lima cara, yaitu :
1. Keberkahan rezeki melalui shalat dhuha.
2. Cahaya di dalam kubur melalui shalat Tahajjud.
3. Kemudahan menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir melalui bacaan al Quran.
4. Kemudahan melintas titian shirath melalui shaum dan sedekah.
5. Naungan Arasy Allah melalui dzikrullah dalam keadaan bersendirian.

Pentingnya Shalat 8

Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Setiap tiba waktu shalat, seorang malaikat diutus untuk menyeru, “Wahai anak Adam, bangun dan padamkanlah api yang sedang kalian nyalakan untuk membakar diri kalian.” Maka orang-orang pun berdiri, lalu bersuci dan mengerjakan shalat Zhuhur, maka dosa-dosanya antara Shubuh hingga Zhuhur diampuni. Apabila datang waktu Ashar, seperti itu juga, waktu Maghrib seperti itu juga, setelah itu mereka tidur. Maka ada yang menhabiskan malamnya dengan kebajikan dan ada pula yang menghabiskan malamnya dengan keburukan.” (HR.Thabrani)

Dalam beberapa kitab hadits banyak diriwayatkan hadits-hadits yang maksudnya sama dengan hadits diatas. Allah Swt dengan segala kemurahan-Nya akan mengampuni dosa-dosa seseorang melalui keberkahan shalat, karena di dalam shalat itu sendiri terdapat istigfar (permohonan ampun). Sebagaimana telah diterangkan sebelumnya, bahwa yang diampuni itu seluruh dosa – baik dosa kecil maupun dosa besar – dengan syarat seseorang itu harus benar-benar merasa menyesal dalam hati atas dosa-dosanya.
Allah Swt berfirman, “Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada permulaan malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan kejahatan-kejahatan (dosa-dosa)” (QS Hud ayat 14)

Salman ra seorang sahabat yang terkenal berkata, “Setelah shalat Isya, manusia terbagi ke dalam tiga golongan. Golongan pertama, yaitu orang-orang yang menjadikan malam hari sebagai ghanimah (kekayaan). Pada saat orang-orang sedang beristirahat dan tidur nyenyak, mereka menyibukan diri dalam shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Maka malam itu merupakan malam yang penuh dengan ganjaran dan pahala bagi mereka. Golongan kedua, yaitu orang-orang yang menjadikan malam hari sebagai musibah baginya. Mereka menganggap malam hari merupakan kesempatan untuk menyibukan diri dalam perbuatan maksiat. Maka bagi golongan ini malam hari merupakan malam yang penuh azab dan bencana. Golongan ketiga, yaitu mereka yang tidur setelah shalat Isya. Maka malam itu tidak mendatangkan kerugian maupun keuntungan kepada mereka, dan mereka tidak memperoleh pahala apa-apa”. (Durrul Mantsur)

Abu Qatadah bin Rib’I ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Aku telah mewajibkan shalat lima waktu kepada umatmu. Dan Aku berjanji pada diri-Ku, bahwa barangsiapa yang menjaga shalat pada waktunya, niscaya akan Aku masukkan ke dalam Jannah dengan jaminan-Ku. Dan barangsiapa yang tidak menjaga shalatnya, maka Aku tidak memberi jaminan ini kepadanya, apakah Dia akan mengampuni atau mengazabnya.

Betapa besar keutamaan ini, orang yang mengerjakan shalat akan mendapatkan janji dan jaminan Allah Swt. Kita bisa menyaksikan, apabila ada seorang hakim atau pejabat tinggi berjanji bahwa ia akan bertanggung jawab atas suatu tuntutan atau memberikan jaminan kepada seseorang, maka pasti orang itu akan merasa sangat tenang dan ia akan selalu berbuat baik dan taat kepadanya. Begitu pun shalat yang merupakan ibadah yang ringan dikerjakannya dan tidak ada kesulitan sedikitpun dalam mengerjakannya, sedang yang menjaminnya adalah Allah Swt Raja Diraja dan Penguasa dua alam. Walaupun demikian, banyak sekali orang yang melalaikan dan mengabaikannya. Maka tiada seorang pun yang mengabaikan dan melalaikannya, kecuali ia sendirilah yang menanggung segala kerugian, kesialan dan bencananya.

Pentingnya Kerja Dakwah

Mengapa Kita harus berpartisipasi dalam pergerakan ini

Yang perlu kita sadari adalah bahwa hampir lebih dari 80 % kandungan Al Qur’an itu isinya mengenai perjuangan para Nabi AS dalam berdakwah, kisah-kisah ummat yang menolak dakwah para Nabi AS. Tidak ada diterangkan di dalam Al Qur’an ini mengenai jumlah ibadah Nabi-Nabi, berapa banyak sholatnya ? berapa banyak dzikirnya ? berapa banyak puasanya ? tetapi justru yang diceritakan adalah kebanyakan daripada pengorbanan para Nabi. Ini karena Allah ingin kita belajar dari pada pengorbanan para Nabi-nabi ini. Napak tilas pengorbanan merekalah yang telah mendapatkan ridho Allah ini yang patut kita ikuti. Bahkan jantung daripada Al Qur’an itu sendiri yaitu surat yassin, isinya menjelaskan kisah seorang pemuda yang mengajak kaumnya untuk mengikuti daripada ajakan, dakwah, nabi-nabi yang telah datang kepada mereka. Sekarang caranya bagaimana kita mengikuti Napak Tilas mereka yang telah di ridhoi Allah ini.

Allah berfirman :

“ Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” ( 9 : 100 )

Dan dalam ayat ini Allah telah menggambarkan orang2 yang telah Allah Ridhoi :

1. Orang islam yang terdahulu dan yang pertama masuk islam ( Awallun Muslimin )
2. Orang-orang Muhajjir dan Anshor
3. Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik

Jadi yang perlu kita lakukan sekarang adalah dengan meniru-niru pergerakan mereka yaitu menjadi orang-orang yang Muhajirin ( hijrah membawa agama ) dan jika tidak pergi di jalan Allah kita bisa menjadi Anshor ( orang-orang yang menerima Muhajjirin ). Dengan pergi di jalan Allah ini meniru-niru daripada pergerakan dan perjuangan merka yang telah di ridhoi Allah ini, mudah-mudahan Allah juga golongkan kita termasuk daripada “Orang-orang yang mengikuti mereka ( Nabi dan Sahabat, Muhajjir dan Anshor ) dengan baik.” Untuk perkara inilah penting kita ikut mengambil bagian dari pada usaha nubuwah ini.

Allah berfirman :

“Walladzina’amanu wahajaru wajahadu fissabillillahi walladzina awawwa nasharu ulaika humul mukinuna haqqan lahummaghfirotuw warizqun kariim.” ( 8 : 74 )

Artinya : Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah ( Muhajjir ) serta berjuang pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman ( Anshor ) dan memberi pertolongan (kerja sama antara Muhajjir dan Anshor / orang tempatan), mereka itulah orang-orang yang beriman dengan Haq ( yang benar-benar beriman ). Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia.

Jadi orang-orang yang beriman ini, mereka tidak ada keraguan dalam menjalankan perintah Allah dan mereka buktikan dengan berkorban di jalan Allah. Allah telah beritakan bahwa orang yang mau berjuang di jalan Allah lah yang Imannya adalah Haq, Iman yang sebenarnya. Kita tidak bisa mengklaim diri kita beriman jika kita belum bisa membuktikan diri kita kepada Allah, bahwa kita mau berkorban di jalannya sebagaimana nabi SAW dan para Sahabat RA dahulu yang telah membuktikan keimanan mereka dengan pengorbanan yang nyata di jalan Allah.

Allah berfirman :

“Apakah Kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” ( 3:142)

Rasullulah SAW bersabda mahfum :

“Permisalan seorang yang melakukan Jihad di jalan Allah adalah seperti orang yang berpuasa di siang hari, menghabiskan masanya membaca qur’an dalam sholat, bersedekah secara terus menerus sampai si Mujahid itu kembali. Itupun orang yang pergi di jalan Allah masih melebihi daripada itu.”

Jangan sampai yang namanya Dunia menghalangi kita dari Kerja Dakwah ini dan dari berjuang di jalan Allah. Apa itu yang namanya dunia ? segala sesuatu selain Allah yang dapat menjauhkan kita dari perintah Allah adalah dunia.

Allah berfirman :

“Katakanlah : Jika Bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaanmu yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiaannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak akan memberi petunujuk kepada orang-orang yang fasik.” (9 : 24)

Inilah definisi dunia menurut sebagian ulama, dan bagaimana dengan teknologi, ekonomi, kekuasaan, dan kekuatan militer ? Itu hanyalah keperluan manusia saja bahkan hanya seperti hiasan dunia saja. Jadi jangan sampai kita salah faham, bukan berarti kita tidak perlu teknologi, ekonomi, kekuasaan, dan kekuatan militer, hanya saja itu bukan sebagai maksud kita, tetapi hanya sebagai keperluan saja.

Allah berfirman :

“Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya.” (18 : 7)

Dari riwayat Tirmidzi, Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :

“Wahai anak Adam jadikan seluruh hidupmu untuk beribadah kepadaKu, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku akan penuhi kebutuhanmu. Dan apabila engkau tidak mengerjakannya, niscaya Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidak akan memenuhi kebutuhanmu.”

Rasullullah SAW bersabda mahfum :

“Apabila engkau membaktikan dirimu hanya untuk kepentingan perniagaan, dan menyebar lembu-lembumu untuk pertanian, dan engkau puas dengannya, dan meninggalkan Jihad, maka Allah akan melimpahkan kehinaan ke atasmu. Kehinaan ini tidak akan diangkat sehingga engkau kembali kepada agamamu ( dan berjihad di jalannya )”. ( HR Abu Dawud )

Orang-orang yang sibuknya hanya memperbaiki memperbaiki keperluan saja dan melupakan maksud, maka pasti dan pasti kehidupannya akan dipenuhi masalah. Kalau memperbaiki keperluan ini dijadikan maksud maka yang terjadi adalah masalah akan bermunculan. Seperti seorang turis yang naik kapal pesiar lalu dia transit di suatu pulau. Kalau si turis ini ketika dia turun kepulau tersebut lalu membangun rumah membeli mobil dan semua peralatan hidup maka hidupnya akan menjadi masalah ketika dia harus meninggalkan pulau untuk pergi ke kota yang dia tuju. Ini karena transit di pulau itu bukan maksud hanya keperluan, dan itu semua harus kita tinggalkan untuk menuju tempat tujuan terakhir yaitu akheratnya Allah. Jadi harta, teknologi, ekonomi, semua ini hanya keperluan saja bahkan menjadi ujian buat kita, karena semua itu hanya perhiasan dunia yang suatu saat harus kita tinggalkan menuju kampung akherat. Namun bukan berarti kita melupakan keperluan kita di dunia ini, karena walau bagaimanapun yang namanya keperluan ini adalah sarana untuk dapat mencapai maksud.

Ibarat / Kiasan :

Kapal adalah alat atau kendaraan menuju kampung akherat. Namun yang terpenting dari kapal ini yang perlu di jaga agar jangan sampai bolong yang menyebabkan air dapat masuk kedalam kapal. Sehingga menyebabkan kapal bisa tenggelam. Air ini adalah dunia, tanpa air kapal tidak bisa jalan, namun jika air masuk kedalam kapal, maka kapal bisa karam. Jadi penting kita usahakan bagaimana hati kita ini tidak bolong kemasukan air dunia. Jika dunia sudah masuk kedalam hati maka hati kita akan tenggelam sebagaimana tenggelammnya kapal yang kemasukan air. Jadi dunia ini hanya keperluan saja agar kapal kita bisa sampai pada tujuannya yaitu akherat. Orang yang hatinya sudah kemasukan dunia ini akan terjangkit penyakit wahan. Apa itu penyakit Wahan yaitu penyakit cinta dunia (Hubbud Dunia) dan Takut Mati. Lalu bagaimana mengatasi penyakit ini, ulama buat ijtihad yaitu dengan meninggalkan dunia yang kita cintai ini sementara saja dengan pergi di jalan Allah. Pergi di jalan Allah meninggalkan dunia yang kita cintai ini hanya latihan saja sebelum maut menjemput dan kita harus meninggalkan dunia selamannya. Inilah cara kita mempersiapkan diri.

Allah berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan satu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ? yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya, lalu kamu berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri kamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu andaikan jika kamu mengetahuinya. Allah akan mengampuni dosa-dosamu, dan Allah akan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan tempat tinggal yang baik di dalam surga. Itulah Keuntungan ( kemenangan dan kejayaan ) yang besar.”
( 61 : 10 – 12 )

Disini Allah menawarkan kepada orang beriman suatu perdagangan dengan Allah, berbisnis dengan Allah, yang dapat menyelamatkan kita dari pada siksa Allah yang pedih. Padahal Allah tidak memerlukan kita. Jadi tawaran ini hanya sebagai kasih sayang Allah kepada kita agar mau beramal. Tawaran perniagaan yang seperti apa yang Allah tawarkan :

1. Beriman kepada Allah dan RasulNya
2. Berjuang di jalanNya dengan harta dan diri kita

Maka keuntungannya dari perniagaan ini hingga Allah katakan sebagai keuntungan, kemenangan, kejayaan yang besar andaikan saja kita mengetahuinya. Apa keuntungan itu :

1. Ampunan dosa-dosa kita
2. Dimasukkan kedalam Surga

Jadi derajat mereka yang mau berkorban di jalan Allah ini sangat tinggi sekali di sisi Allah, sehingga Allah menawarkan Jihad Fissabillillah ini sebagai suatu perniagaan yang dapat memberikan keuntungan bagi kita. Bahkan Allah mengancam bagi mereka yang tidak mau berkorban di jalan Allah atau mau berhenti atau istirahat daripada jalan Allah ini :

Allah berfirman :

“ Dan belanjakanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu melemparkan diri kamu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. “ ( 2 : 195 )

Asbabun Nuzul daripada ayat ini adalah ketika seorang sahabat hendak cuti atau istirahat, atau tidak mau ikut pergi di jalan Allah karena sedang mempunyai urusan. Sehingga turunlah ayat ini untuk mereka yang ada terlintas untuk istirahat atau berhenti dari berjuang di jalan Allah.

Di dalam Al Qur’an Allah berfirman :

“ Sesungguhnya Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang Ma’ruf (dakwah), dan mecegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah…”
(3 :111)

Disini Allah bilang kita sebagai Choiru Ummat atau Umat terbaik tentu ada sebabnya. Ini dikarenakan kita diamanahkan untuk memikul suatu kerja yang tidak diamanah kepada umat sebelumnya yaitu kerja kenabian atau kerja dakwah. Menyeru manusia kepada yang Ma’ruf dan mencegah yang mungkar atau dakwah ini adalah identitas umat Nabi SAW sebagai pelanjut risalat kenabian. Jika kita tidak melakukan tugas ini maka ini seperti polisi yang berpakaian polisi tetapi tidak mau mengerjakan tugasnya, hanya mau duduk-duduk saja diwarung, pasti dia akan dimarahi atasannya. Baju Polisi yang melambangkan identitas seorang polisi ini seperti kerja dakwah yang merupakan identitas umat ini. Jika kita tidak melakukan tugas yang menjadi identitas kita sebagai umat Nabi SAW maka kita akan dimurkai Allah Ta’ala.

Dalam Mahfum Hadits, Dari Aisyah R.ha berkata mendengar Nabi SAW bersabda :

“ Hai Manusia, Allah SWt berfirman kepada kalian : “Serulah (dakwahlah) kepada manusia untuk berbuat kebaikan dan cegahlah mereka dari perbuatan mungkar”, sebelum datang kepada kalian (akibatnya) dimana kalian berdo’a kepadaKu tetapi Aku tidak akan menerima do’a kalian, kalian meminta kepadaKu tetapi Aku tidak akan memenuhi permintaan kalian, kalian memohon pertolongan kepadaKu tetapi Aku tidak akan menolong kalian.” (At Targhib)

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda mahfumnya :

“Apabila umatku sudah mengagungkan dunia (maksudnya : mendahulukan dunia dibanding perintah Allah), maka tercabutlah dari mereka dari kehebatan islam. Apabila umatku meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar (Dakwah), maka diharamkan bagi mereka keberkahan wahyu (Kefahaman Agama). Dan apabila umatku sudah saling caci mencaci (hujat menghujat) satu sama lain, maka jatuhlah mereka dari pandangan Allah Ta’ala.” (HR Hakim dan Tirmidzi)

Dari Abu Said Al Khudri, Nabi SAW bersabda :

“Barangsiapa melihat suatu kemungkaran maka hendaklah cegah dengan tangannya. Jika tidak mampu cegahlah dengan lidahnya. Jika tidak mampu hendaklah dia merasa benci dalam hatinya dan ini adalah selemah-lemahnya Iman.” (HR Muslim)

Oleh karena itu penting ada diantara kita yang siap melakukan inisiatif untuk mengajak manusia kearah perbaikan seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW. Walaupun itu hanya segolongan orang yang memulainya demi tegaknya agama dan perbaikan atas ummat.

Allah berfirman :

“Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan ummat (jemaah) yang menyeru kepada kebaikan, menyeru kepada yang Ma’ruf, dan mencegah kemungkaran, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (3:104)

Disini bahkan Allah bilang bagi orang yang mau menyeru manusia kepada kebaikan ini sebagai orang-orang yang beruntung. Dan hanya orang-orang yang mencintai Allah, Rasul, dan Agamanya Allah saja yang mampu berfikir ke arah tersebut dan mau membuat usaha perbaikan atas Ummat. Tanda-tanda kecintaan seseorang kepada Allah yaitu terlihat dari keinginan dia mengikuti orang yang paling Allah cintai agar dia bisa mendapatkan cinta dari Allah kepadanya.

Allah berfirman :

“Katakanlah (hai Muhammad SAW) : Jika kamu mencintai Allah , ikutilah Aku, niscaya Allah akan mengasihimu, dan mengampuni dosa-dosamu..” (3:31)

Inilah yang Allah minta kepada orang yang mengaku cinta kepada Allah yaitu dengan mengikuti jalan orang yang paling dicintaiNya yaitu Nabi SAW. Hanya dengan cara Nabi SAW kita akan mendapatkan cinta Allah SWT, ini karena Allah telah mewariskan kepada Nabi Sunnanul Huda atau Jalan-jalan Hidayah (Petunjuk). Jika kita berjalan diluar Sunnanul Huda niscaya tersesatlah kita. Sekarang bagaimana cara mengikuti Nabi SAW ? Apa itu jalan Nabi SAW ?

Allah berfirman :

“Katakanlah (hai Muhammad SAW) : ini adalah jalanku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (manusia) kepada Allah dengan Hujjah yang nyata…” (12:108)

Allah telah perintahkan kepada Nabi SAW untuk menjelaskan jalan hidupnya kepada manusia agar mereka mengikutinya. Apa itu jalan hidup Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya yaitu mengajak orang untuk taat kepada Allah dan semua Perintah-perintahNya. Inilah yang namanya Dakwah yaitu mengajak orang kepada Allah saja dan untuk taat kepada perintah-perintahNya. Inilah maksud dikirimkan rombongan-rombongan dakwah ke seluruh pelosok dunia. Jadi jalan dakwah ini adalah jalan hidup kenabian dan salah satu sunnah Nabi SAW. Hanya dengan mengikuti jalan yang orang kita cintai baru cinta kita ini dapat dibenarkan. Bagaimana kita bisa mengaku cinta sementara kita tidak mau mengikuti orang yang kita cintai.

Dalam Hadits Mahfum Nabi SAW bersabda :

“Barang siapa yang mengamalkan sunnahku berarti dia mencintaiku, dan barang siapa yang mencintaiku maka dia akan di surga bersamaku.” (Al Hadits)

“Semua orang dari ummatku akan masuk surga kecuali yang menolak.” Para sahabat bertanya, “Siapakah yang menolak ya Rasullullah SAW ?” Nabi SAW menjawab, “Mereka yang menolak Sunnahku.” (Al Hadits)

Sedangkan Dakwah ini adalah Sunnah Nabi SAW yang nyata, bahkan kita ini disunnahkan dalam suatu riwayat nabi SAW :

“Balighul Anni Walau Ayyat”

Artinya : “ Sampaikanlah kepada mereka walaupun hanya satu ayat ”

Dalam Haji Wada, Haji Nabi SAW yang pertama dan yang terakhir Nabi SAW bersabda mahfum kepada para sahabat yang hadir :

“ Sudahkah aku sampaikan kepada kamu perintah-perintah Allah ?” para sahabat RA semua menjawab, “Ya, engkau telah menyampaikan risalah itu !” lalu Baginda Nabi SAW berkata : “Ya Allah, saksikanlah ini ( pengakuan umatku ).” Nabi SAW bersabda kembali : “Hendaklah yang hadir disini menyampaikan kepada yang tidak hadir disini…”

Inilah sign, tanda, dari Nabi SAW agar kita siap untuk menyampaikan agama ke suluruh permukaan bumi. Inilah sebabnya banyak maqam sahabat ditemukan di luar negeri. Dari 114.000 sahabat hanya 14.000 sahabat yang ditemukan makamnya antara Mekkah dan Madinnah, selebihnya di luar negeri. Seperti Saad bin Abi Waqqash RA makamnya ditemukan di Cina, Ayub Al Anshori di Turkey, Tariq bin Ziyad RA di Spanyol, dan lain-lain. Andaikata sahabat ini hanya memikirkan ibadah saja di mesjidil haram dan mesjid nawabi maka islam tidak akan tersebar dan kita kemungkinan masih menyembah patung dan kuburan.

Imam Malik Rah. A berkata :

“Tidak ada cara lain untuk memperbaiki ummat ini selain menggunakan cara Nabi SAW ketika memperbaiki Ummat pada kurun Awal.”

Jadi hanya dengan dakwah ummat akan terperbaiki karena dakwah ini adalah sarana atau alat untuk mempromosikan atau menyebar luaskan agama. Sudah tertulis dalam sejarah setiap ummat terdahulu setelah tidak ada lagi kerja dakwah dari nabi-nabi mereka maka kecenderungan mereka akan menjadi kafir melalui tahapan :

1. Tahap Pertama manusia akan meninggalkan amal ibadah
2. Tahap Kedua manusia akan mengerjakan maksiat atau perbuatan mungkar
3. Tahap Ketiga manusia akan meninggalkan agama menjadi kafir atau murtad karena sudah tidak ada lagi keyakinan pada agama bahwa agama dapat menyelesaikan masalah.

Tanpa Dakwah maka agama lambat laun akan pudar hingga tidak ada lagi orang yang mengamalkannya. Bahkan ketika ada yang mengamalkannya akan nampak aneh, bahkan yang mengamalkannya akan dicap seperti orang gila. Jika tidak ada dakwah maka tidak ada orang yang saling ingat mengingati karena Allah. Padahal di dalam Al Qur’an dibilang bahwa peringatan itu baik buat orang beriman. Tanpa Dakwah, agama ini seperti barang bagus tetapi tidak laku atau tidak ada yang mau membeli. Ini karena tidak ada yang mempromosikannya sehingga tidak ada yang mau membeli. Dakwah ini adalah sarana untuk mempromosikan manfaat-manfaat agama dan menjelaskan kerugian yang terjadi bila kita meninggalkannya. Jadi Dakwah ini adalah tulang punggung agama. Tanpa Dakwah yang Haq maka Dakwah yang Bathil akan masuk. Jika Dakwah yang bathil sudah masuk seperti promosi minuman keras, perjudian, prostitusi, pakaian-pakaian yang vulgar, dan lain-lain, maka keimanan orang akan menurun. Jika Iman sudah menurun maka Amal Ibadah akan berkurang, akhlaq manusia akan menjadi buruk, muamalah dan muasyaroh manusia akan rusak. Ketika itu maka do’a tidak akan didengar dan pertolongan Allah tidak akan datang, yang ada hanya kerusakan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Ketika itu semua masalah akan berdatangan. Namun dengan Dakwah maka keimanan akan datang, agama akan tersebar, amal agama akan meningkat, akhlaq manusia akan bagus, perdagangan dan hubungan antar manusia akan baik, dan pertolongan Allah akan datang kepada ummat ini. Atas perkara ini penting kita membantu agama Allah agar Allah perbaiki kehidupan kita.

Allah berfirman :

“Hai orang-orang beriman jika kamu membantu agama Allah maka Allah akan menolongmu dan menguatkankan kedudukanmu.” (47:7)

ini adalah janji Allah bagi mereka yang mau membantu agama Allah maka Allah akan menolong kehidupan kita memperbaiki keadaan rusak dan Allah akan menyelesaikan seluruh masalah yang dihadapi oleh seluruh manusia. Inilah yang dianjurkan ulama yaitu belajar menyelesaikan masalah dengan amal agama. Belajar menyelesaikan masalah dengan pertolongan Allah. Bagaimana cara mendatangkan pertolongan Allah yaitu dengan menjalankan perintahnya. Setiap perintah Allah dibaliknya pasti ada pertolongan Allah. Seperti seorang duta negara yang diperintahkan negaranya jika terjadi sesuatu pasti negara tersebut akan menolong dutanya karena si duta bertindak berdasarkan perintah negara. Apalagi dengan menolong agama Allah, pasti Allah akan menolong kita balik. Hanya dengan agama Allah saja semua permasalahan dapat terselesaikan. Namun syaratnya harus ada niat dan kesungguhan usaha dari ummat tersebut untuk memperbaiki keadaan.

Allah berfirman :

“…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (13 : 11)

Jadi Allah baru mau membantu merubah suatu kaum setelah kaum itu mau berusaha untuk merubah kehidupannya sendiri. Allah akan mendatangkan perbaikan pada suatu kaum jika kaum itu mau buat usaha perbaikan. Apa yang harus diperbaiki pertama kali yaitu kondisi agamanya, karena baik atau buruknya manusia tergantung pada kondisi agama yang ada diri mereka. Sedangkan Agama ini adalah solusi yang Allah berikan untuk menyelesaikan seluruh masalah manusia sampai hari kiamat.

Hidupkan amal-amal mesjid nabawi di setiap mesjid maka akan datang perbaikan dan peningkatan qualitas hidup bagi orang-orang yang tinggal di kampung itu. Sebagaimana terperbaikinya kehidupan ummat di madinah pada jaman Nabi SAW. Bagaimana kehidupan para sahabat terperbaiki dan meningkat qualitasnya setelah Agama tersebar melalui mesjid Nabawi. Syaratnya harus ada orang yang mau bergerak mengajak manusia kepada kebaikan.

Dari Anas RA :

Kami para sahabat RA bertanya “Ya Rasullullah SAW kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami sendiri mengamalkan semua kebaikan dan menjauhi semua kemungkaran.” Maka Nabi SAW bersabda, “ Tidak, bahkan serulah orang untuk berbuat baik, meskipun kalian belum mengamalkan semuanya. Dan cegahlah kemungkaran, meskipun kalian belum menghindari semuanya.”
(HR Thabrani)

Inilah isyarat dari Nabi mengenai pentingnya kerja dakwah walaupun kita belum sempurna mengerjakan kebaikan dan belum sempurna meninggalkan kemaksiatan. Dan hanya dengan mendakwahkan agama saja keadaan akan terperbaiki bukan dengan ekonomi, teknologi, kebudayaan atau dengan kekuasaan itu hanya keperluan saja. Kalau masih memerlukan itu berarti agama belum sempurna karena tidak bisa menyelsaikan masalah manusia. Sedangkan Agama ini sudah sempurna Allah berikan kepada manusia sebagai solusi untuk menyelesaikan seluruh masalah. Siapa saja yang mencari solusi diluar solusi yang telah Allah berikan kepada manusia maka yang akan terjadi hanyalah masalah. Selain dengan agama maka manusia hanya menyelesaikan masalah dengan masalah, bukan masalah selesai tetapi hanya akan menambah masalah.

Allah berfirman :

“…Pada hari ini telah aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Aku sempurnakan nikmatKu kepadamu dan telah Aku relakan islam menjadi agamamu…” (5 : 3)

Semua sudah sempurna Allah berikan dari rumus dan methode untuk menyelesaikan seluruh masalah yang di hadapi oleh manusia sampai hari kiamat, tidak ada cara lain. Selain cara Allah dapat dipastikan akan menemukan kegagalan. Seperti kaum ad yang sukses membuat usaha atas kesehatan dan kekuatan tetapi ingkar terhadap Agama maka mereka berakhir binasa. Kaum Madyan yang sukses membuat usaha atas perbaikan ekonomi dan keuangan juga berakhir binasa karena mereka ingkar terhadap Allah dan AgamaNya. Kaum Saba yang sukses membuat usaha atas pertanian namun ingkar terhadap perintah Allah maka mereka Allah binasakan. Kaum Luth yang sukses membuat usaha atas peningkatan qualitas seksualitas untuk mencapai kebahagiaan, merekapun Allah binasakan. Kaum Tsamud yang sukses membuat usaha atas teknologi arsitektur juga Allah telah hancurkan. Firaun dan Namrud yang sukses membuat usaha atas kekuasaan, sangking berkuasa sampai mengaku sebagai tuhan, juga Allah hancurkan. Qorun yang sukses membuat usaha atas peningkatan harta dan kebendaan juga Allah telah hancurkan. PM Hamman Laknatullah Alaih yang sukses membuat usaha atas karir politik juga telah Allah hancurkan karena ingkar terhadap perintah Allah. Abrahah yang sukses membuat usaha atas kekuatan militer juga telah Allah hancurkan. Hanya dengan cara Nabi dan para sahabat saja keadaan akan terperbaiki selain itu akan berakibatkan kebinasaan. Hanya dengan amal-amal agama saja keadaan terperbaiki, bahkan akan Allah buat ummat islam berkuasa kembali. Lalu Allah akan menukar keadaan mereka yang susah dan penuh dengan masalah dan penderitaan menjadi keadaan yang aman dan sentosa. Dan ini adalah janji Allah yang mutlak kepastiannya. Caranya mendapatkannya bagaimana ? yaitu dengan menghidupkan amal-amal agama didalam kehidupan ummat saat ini.

Allah berfirman :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman diantara kamu dan yang mengerjakan amal-amal sholeh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana mereka telah menjadikan orang-orang sebelum kamu berkuasa, dan sungguh dia akan menguhkan bagi mereka Agama yang telah di RidhoiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa… ” ( 24 : 55 )

Apa yang perlu kita fikirkan dan kita risaukan saat ini. Bagaimana umat yang 6 milyar, tetapi hanya 1.5 milyar yang muslim. Dari 1.5 milyar berapa banyak yang sudah melakukan sholat. Lalu berapa banyak orang yang mati tiap hari tanpa mengucapkan La Illaha Illallah. Tiap hari kurang lebih 200.000 orang mati tanpa mengucapkan La Illaha Illallah, ini siapa yang bertanggung jawab. Kita ini Allah kasih islam bukannya gratis tetapi datang dengan tanggung jawab untuk menyampaikan agama kepada yang belum tau. Akherat adalah tempat untuk saling menagih Hak, nanti asbab orang tidak dakwah ini maka ini bisa menjadi asbab orang tersebut masuk kedalam Neraka. Anaknya, Saudaranya, tetangganya, temannya dan umat akan menagih haknya kenapa tidak disampaikan atau diajak dalam berbuat kebaikan ketika di dunia, kenapa mereka tidak diperingatkan. Asbab ini Allah bisa kirim kita ke Neraka. Tetapi ada orang yang dosanya sejauh mata memandang, tetapi Allah tunjukan suatu buku amalan yang penuh dengan amal Ibadah orang lain asbab dia mengajak satu orang lain untuk tobat dan orang ini mengajak yang lainnya dalam amal dan ibadah. Sehingga Allah duplikatkan amal ibadah mereka kepada orang pertama yang mengajak mereka.

Jika tidak ada risau dan fikir maka agama tidak bisa bergerak atau berkembang. Kalau Kerja Agama tidak jalan maka kerusakan akan timbul dimana-mana. Tanpa agama manusia ini akan rusak dan merusaki, jauh lebih jahat dari binatang sebagaimana kaum jahiliyah terdahulu yang menjadikan ibu hamil sebagai ladang judi. Ibu hamil ini di belah perutnya hidup-hidup lalu diambil anaknya untuk sebagai bahan perjudian. Jadi tanpa Dakwah atas yang Haq maka Dakwah terhadap yang Bathil akan tegak dan merajalela. Seperti Iklan yang ada di TV menawarkan baju-baju ketat yang tidak pantas bagi wanita dikenakan. Dulu di Indonesia tahun 1970-an jika ada orang pakai rok mini atau baju ketat yang terlihat auratnya maka orang ini akan dibilang tidak punya moral. Tetapi kini orang yang berpakaian demikian akan dibilang maju dan modern. Hari ini karena tidak ada usaha atas agama, perempuan bangga memperlihatkan aurat mereka, sehingga laki-laki mudah tergoda untuk bermaksiat. Maksiat dimana-mana, perjudian, perzinahan, dan minum-minuman keras dimana-mana sudah menjadi hal biasa. Saat ini dalam diri ummat sudah ada rasa kebanggaan ketika melanggar perintah Allah, inilah yang namanya Dzoluman Jahula, yaitu Kebodohan yang Paling Jahil. Sahabat dibilang jahil karena belum mengenal agama, sedangkan kita lebih super jahil dari mereka karena kita sudah tahu perintahnya tetapi masih dilanggar. Ini karena tidak ada Kerja Agama atau Dakwah.

Berdasarkan perkiraan, dulu tahun 1980-an jika orang ditanya berapa persen penduduk Indonesia jawabnya 90% penduduk Indonsia adalah orang Islam ( 90% dari 200Jt = 180Jt). Tetapi kini tahun 2003 karena tidak ada kerja Dakwah, umat Islam tinggal 85 % menurut pendataan penduduk. Ini siapa yang salah, butuh berapa lama lagi untuk umat Islam di Indonesia pindah agama jika dalam 20 tahun terjadi penurunan 5% dari jumlah total umat Islam. 5% dari 200 juta orang berarti 10 juta orang pindah agama dalam kurun waktu kurang lebih 20 tahun. Ini berarti satu juta orang tiap 2 tahun lari dari agama Islam. Ini perlu jadi fikir kita jika tidak maka nanti tanpa kita sadari cucu-cucu kita telah tidak kenal Allah lagi. Salah siapa, ini salah kita karena kurang sungguh-sungguh dalam kerja agama. Hanya dengan Dakwah, yang bathil akan hilang dan yang Haq akan tegak. Namun hanya Dakwah yang dicontohkan oleh Nabi SAW yang akan effective dalam menumpas kebathilan. Perancis tidak ada dakwah, maka gereja mereka dijadikan Night Club. Dan inipun bisa terjadi pada kita di indonesia yang mayoritas islam jika kita tidak mau mengerjakan Kerja Dakwah dan Tabligh ini. Di Perancis tahun 1960-an Mesjid hanya satu namun asbab ada kerja dakwah dari orang-orang India yang mengirimkan rombongan jemaah tabligh kesana, sekarang di Paris saja terdapat 700 mesjid, dan diseluruh Perancis terdapat 2000 mesjid. Dulu Nabi SAW asbab kerja bermulai dari 5 orang sahabat dengan sungguh-sungguh berapa banyak umat Islam kini termasuk kita yaitu tidak kurang 1.5 milyar orang telah masuk kedalam Islam. Jika ada Fikir dan Risau yang sungguh-sungguh maka Agama akan wujud dalam diri kita dan dalam diri umat.

Nikmat yang paling tinggi bagi umat ini adalah diwarisinya umat ini atas kerja nubuwah atau kerjanya para Nabi. Nabi tidak diwariskan harta dan takhta, tetapi Nabi dan umat ini diwarisi kerja Nubuwat oleh Allah Ta’ala. Asbab kerja ini umat ini diangkat derajatnya oleh Allah sebagai “Choiru Ummah : Umat Terbaik”, dan telah diberitakan dalam kitab-kitab terdahulu yang membuat nabi-nabi iri terhadap umat ini. Penting kita jadikan Kerja Nubuwat ini menjadi kerja kita, karena ini adalah identitas kita sebagai Umat Nabi SAW dan Amanah dari Allah Ta’ala. Dan semua nikmat di dunia ini akan dihisab oleh Allah Ta’ala termasuk Nikmat terbesar umat ini yaitu kerja Dakwah. Sahabat karena telah menjadikan Kerja, Fikir, dan Maksud Nabi menjadi Kerja, Fikir, dan Maksud hidup mereka, maka kemuliaanpun dan kejayaan Allah datangkan di bawah kaki mereka. Bilal RA sebelumnya menjadi budak lalu meninggal sebagai Gubernur di Yamman. Jaman Umar RA, Romawi dan Persia beserta kemewahannya takluk dibawah kaki Umar RA.

Allah berfirman :

Artinya : Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjuang di jalan Allah dengan harta dan diri mereka adalah lebih tinggi derajat mereka di sisi Allah, dan mereka itulah yang mendapatkan kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padaNya, keridhoanNya, dan Surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal. ( 9 : 20-21 )

Sahabat telah korbankan segala-galanya, anak, istri, harta, dan diri mereka agar kita dapat selamat dari adzab Allah, tetapi lihat kini apa yang kita lakukan, hanya duduk saja sibuk dengan urusan kita masing2x, tidak ada waktu sama sekali buat agama. Apa yang akan kita katakan nanti kepada mereka jika bertemu dengan para Sahabat. Bagaimana Jika sahabat tidak buat kerja Agama. Apa yang terjadi jika kita tidak memeluk Islam pada hari ini, ketika Mati Allah buang kita ke neraka selama-lamanya. Bagaimana perasaan orang yang dilempar Allah ke dalam Neraka selama-lamanya karena kita belum sempat menyampaikan perkara ini kepada mereka.

Nabi SAW menangisi kita tiap hari dan selalu mendo’akan kita hingga kakinya bengkak bengkak dan matanya menjadi sembab karena kebanyakan menangis. Ketika hidupnya, Nabi SAW sudah mengatakan kita sebagai kekasih dan mereka yang lebih beruntung dari Sahabat, yang Imannya paling afdhol, karena mereka tidak pernah melihat Aku dan mukjizatku kata nabi, tetapi mereka beriman kepadaku. Kitalah yang dirindukan dan dirisaukan oleh Nabi SAW siang dan malam dalam do’anya. Sebelum beliau wafat menjelang sakratul maut yang di ingatnya adalah umatnya, Nabi SAW bekata kepada Jibril jika ini sakit yang dirasakan umatku maka timpakanlah seluruh sakit umatku sampai hari kiamat kepadaku saja. Inilah fikir dan risau Nabi. Sebelum Nabi SAW wafat kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Nabi SAW adalah “ummati…ummati : umatku, umatku”. Ketika dibangkitkan yang diingat Nabi SAW pertama kali adalah umatnya, bukan istrinya, keluarganya, sahabatnya tetapi umatnya. Ketika umat Nabi SAW berjatuhan di shirath seperti hujan, Nabi SAW menunggu di ujung shirath sambil bersujud kepada Allah berdo’a : Selamatkan umatku, selamatkan umatku ya Allah. Inilah fikir dan risau Nabi terhadap kita. Jika kita duduk-duduk saja nanti ketemu nabi apa yang akan kita katakan kepadanya.

Allah telah mudahkan agama ini untuk kita, beda dengan sahabat yang harus menjalankan agama dengan sempurna 100%. Inilah standard sahabat dalam menjalankan agama, kurang sedikit maka Allah akan turunkan adzab dan dapat menjadi asbab tercampaknya mereka kedalam neraka. Tetapi kalau kita dalam sebuah mahfum hadits cukup dengan 10% saja sudah bisa menjadi asbab kita selamat dari adzab Allah Ta’ala. Tetapi cara dan modelnya harus sama dengan sahabat. 10% dari 1 tahun adalah 40 hari, 10 persen dari 1 bulan adalah 3 hari. 10% dari 24 jam adalah 2.5 jam, dan ini yang harus kita jaga minimal. Yang penting adalah keistiqomahan kita untuk menjaga 10% waktu kita buat agama Allah. Sehingga Fikir Nabi dan Risau Nabi masuk kedalam diri kita.

Penderitaan Khabbab bin al Arat r.a

Khabbab adalah seorang sahabat Nabi yang tubuhnya penuh dengan keberkahan karena telah mengalami berbagai ujian dan cobaan. Ia orang kelima atau keenam yang memeluk Islam ketika Islam mulai berkembang, karena itu penderitaan yang dialaminya pun lebih lama. Ia pernah dipaksa mengenakan baju besi dan dibaringkan di atas pasir yang panas, sehingga kulitnya mengelupas terkena sinar matahari yang terik. Khabbab adalah hamba sahaya milik seorang perempuan. Ketika tuannya mengetahui ia sering mengunjungi Nabi saw, kepalanya diselar dengan besi panas yang merah menyala.

Ketika Umar ra menjadi khalifah, ia pernah bertanya kepada Khabbab mengenai penderitaannya pada awal ia memeluk Islam. Sebagai jawabannya ia memperlihatkan parut-parut luka di belakang badannya. Kata Umar ra, “Aku belum pernah melihat punggung manusia seperti ini.”

Melanjutkan ceritanya Khabbab mengatakan bahwa dia pernah diseret di atas timbunan bara api sehingga lemak dan darah yang mengalir dari badannya memadamkan bara api itu.

Ketika Islam telah menyebar di segala penjuru, Khabbab sering duduk menangis sambil berkata, “Nampaknya Allah sedang memberi ganjaran atas segala penderitaan yang telah kita alami. Mungkin di akhirat nanti tidak ada ganjaran lagi yang akan kita terima.”

Khabbab ra pernah bercerita: “Suatu hari Rasulullah saw menjadi imam dalam shalat kami, beliau mengerjakan shalat dengan begitu panjang. Setelah shalat kami bertanya tentang rakaat yang panjang tadi. Rasulullah saw menjawab, “Ini adalah shalat yang penuh harapan dan ketakutan. Saya telah mengajukan tiga permohonan kepada Allah. Dua diantaranya dikabulkan oleh-Nya. Aku berdoa, “Ya Allah, jangan umatku mati dalam keadaan lapar.” Permohonanku yang pertana ini kabulkan-Nya. Kemudian aku berdoa. “Janganlah umatku dibinasakan oleh musuh.” Permohonan kedua ini pun dikabulkan-Nya. Dan ketiga aku memohon kepada Allah, “Ya Allah, janganlah terjadi perpecahan dan perselisihan di antara umat-ku.” Tetapi permohonanku yang ketiga ini tidak dikabulkan-Nya.

Khabbab meninggal pada usia tiga puluh tujuh tahun. Ia adalah sahabat yang pertama kali dikuburkan di Kuffah. Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib ra melewati makamnya, ia berdoa, “Ya Allah, rahmatilah Khabbab. Dengan Semangatnya ia telah memeluk Islam, dan dengan ikhlas ia menghabiskan waktunya untuk berhijrah, berjihad, dan mengalami segala penderitaan.

Berbahagialah orang yang senantiasa mengingat hari kiamat, yang senantiasa siap untuk menghadapi hisab di akhirat nanti, yang berpuas hati dengan hidup sederhana di dunia ini, dan perbuatannya mendatangkan keridhaan Allah.

Hikmah : Sesugguhnya keridhaan Alahlah yang menjadi tujuan utama perjuangan hidup para sahabat. Sehingga tidak ada suatu pekerjaanpun dilakukan selama hidup mereka kecuali semata-mata untuk mendatangkan keridhaan-Nya.