There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Wednesday, September 28, 2011

Beberapa Ayat dan Hadits yang Menguatkan Kiamat Sudah Dekat dan Manusia Diciptakan pada Periode Terakhir dari Umur Dunia.


Pernyataan para ahli astronomi telah memperkuat ayat ayat al Quran yang menyatakan bahwa kedatangan kiamat telah dekat. Jika kedatangannya belum dekat, tentu Alloh SWT tidak akan menyebutkan sesuatu yang berkaitan dengannya di dalam al Quran. Jika hari kiamat itu masih jauh dari kita, puluhan ribu tahun yang akan datang, Dia tidak akan menyebutkan kata “dekat” dalam al Quran ketika mengungkapkan kiamat dengan gaya bahasa yang indah, jelas, dan lugas.

Alloh SWT berfirman :

Alloh lah yang menurunkan kitab dengan membawa kebenaran dan menurunkan neraca keadilan. Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu sudah dekat ? (QS. Asy Syura: 17)

Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan, Kami memandangnya dekat (pasti terjadi). (QS. Al Ma’arij: 5-7)

…Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. (QS Al Ahzab: 63)

Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. (QS Qamar: 1)

Karena hari kiamat sudah dekat, sebagaimana yang difirmankan Alloh SWT dalam al Quran, itu berarti kita tidak diciptakan pada periode awal dari penciptaan alam yang umurnya, menurut para ahli astronomi, akan melebihi miliaran tahun.

Dalam sebuah hadits, Rosululloh saw menguatkan bahwa manusia diciptakan pada hari terakhir dari umur dunia. Rosululloh saw juga bersabda bahwa Adam as diciptakan oleh Alloh SWT pada hari terakhir (setelah Asar) dari enam hari ketika Dia menciptakan langit dan bumi.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rosululloh saw bersabda :

Alloh menciptakan tanah pada hari Sabtu, lalu menciptakan gunung gunung di dalamnya pada hari Minggu, menciptakan pohon pada hari Senin, menciptakan hal hal yang dibenci pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, lalu menyebarkan binatang melata pada hari Kamis, kemudian menciptakan Adam (setelah Asar) pada hari Jum’at, yaitu pada akhir penciptaan dan jam jam terakhir pada hari Jumat tersebut, antara Asar sampai datangnya malam (HR. Muslim, Ahmad dan Nasa’i). Disebutkan pula oleh Bukhari dalam Sejarah Penciptaan Manusia dan oleh Baihaqi dalam Beberapa Nama dan Sifat Kiamat.

Rosululloh saw juga mengumpamakan umur manusia yang hidup di atas bumi ini dengan satu hari satu malam penuh (24 jam) sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli astronomi dalam muktamar yang diselenggarakan di Brussel, Belgia. Akan tetapi, mereka mengumpamakan seluruh umur dunia dengan satu hari satu malam penuh, sementara Rosululloh saw mengibaratkan umur manusia yang berada di atas bumi ini, sejak Adam as hingga orang terakhir yang diciptakan di atasnya dengan satu hari penuh (24 jam). Rosululloh saw bersabda bahwa keberadaan manusia di atas bumi ini hingga sejarah pengutusannya dan diturunkannya al Quran, sudah berumur 21 jam. Jadi, sisa umurnya tinggal tiga jam, yaitu waktu antara salat Asar dan terbenamnya matahari dari ufuk barat.

Dari Ibnu Umar ra, bahwa Rosululloh saw bersabda :

Sesungguhnya, ajal kalian ada di antara umat ini, seperti antara waktu salat Asar dan terbenamnya matahari… (HR. Turmudzi)

Dalam hadits yang lengkap disebutkan bahwa Alloh SWT memberikan balasan yang besar dan berlipat kepada umat ini (Islam) daripada Yahudi dan Nasrani serta yang lainnya meskipun umur mereka (umat Islam) di atas bumi sangat pendek. Rosululloh saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra secara lengkap :

Sesungguhnya, ajal kalian ada di antara umat ini, seperti waktu antara salat Asar dan terbenamnya matahari, sedangkan perumpamaan antara kalian dengan orang orang Yahudi dan Nasrani, seperti orang yang mempekerjakan beberapa pekerja, lalu ia berkata, “Barangsiapa yang bekerja untuk saya hingga tengah hari demi memperoleh satu qirat maka akan memperoleh satu qirat.” Maka orang orang Yahudi bekerja untuk mendapatkan satu qirat maka akan memperoleh satu qirat. Kemudian, ia berkata lagi, “Barangsiapa yang bekerja untukku dari tengah hari sampai Asar demi memperoleh qirat maka akan memperoleh satu qirat.” Maka orang orang Nasrani pun bekerja untuk mendapatkan satu qirat maka akan memperoleh satu qirat. Sedangkan kalian (umat Islam) bekerja dari setelah Asar hingga terbenarnya matahari, mendapatkan dua qirat. Maka marahlah orang orang Yahudi dan Nasrani, lalu mereka berkata, “Kami lebih banyak amal, tetapi sedikit pemberiannya. “Alloh SWT menjawab, “Apakah Aku telah berbuat zalim terhadap hak kalian ?” Mereka berkata, “Tidak.” Maka Alloh SWT berfirman, “Sesungguhnya hal itu adalah karuniaKu yang Aku berikan kepada siapa saja yang Aku kehendaki.” (HR. Turmudzi). Dikatakan kedudukan hadits ini adalah hasan shahih.

Berdasarkan hadits di atas, kita dapat memahami dan mengerti bahwa tiga jam terakhir dari umur manusia itu telah dilewati di atas bumi, berarti kiamat pun hampir tiba. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, jika umur umat Muhammad saw hanya tiga jam dari umur hari, padahal pengutusan Rosululloh saw telah lebih dari 1.400 tahun, lalu berapa yang tersisa dari tiga jam tersebut, yang sebagiannya telah dilewati ? Dalam hadits lain, Rosululloh saw juga menjelaskan kepada kita tentang zaman yang tinggal sedikit dari umur manusia yang hidup di atas bumi ini .

Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa Rosululloh saw bersabda :

Kesucian dunia telah pergi, dan kini tinggal kekeruhannnya (HR Harits bin Abi Usamah)

Dari Abi Al Kanud dan Abdullah ra bahwa Rosululloh saw bersabda :

Dunia itu ibarat “ats-atsagbu” (kolam yang berada di bukit). Kami bertanya, “Apa itu Ats-Tsagbu ?” Rosululloh saw menjawab, “Yang membiarkan kejernihannya hilang dan tinggallah kekeruhannya maka kematian itu tidak tampak oleh setiap muslim.” (HR Bukhari)

Makna dari kedua hadits di atas adalah sebagian besar bagian dunia telah hilang dan tinggal sisanya yang sedikit. Semua ini menunjukkan kepada kita, dengan jelas, bahwa kebangkitan hari kiamat itu sudah dekat. Hal ini juga sesuai dengan firman Alloh SWT dalam beberapa ayat yang sebagian telah disebutkan di depan, yang menunjukkan telah dekatnya kiamat.

…Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya. (QS Al Ahzab: 63)

Alloh SWT menjelaskan bahwa kiamat itu sudah dekat meskipun menyembunyikan abad, tahun, bulan, hari dan jamnya. Hal ini dimaksudkan agar manusia mengetahui bahwa kiamat itu tidak akan jauh lagi dan menyangkal anggapan yang mengatakan bahwa kiamat itu akan terjadi setelah ribuan tahun lagi.

Hadits Rosululloh saw yang berbunyi “Alloh menciptakan tanah pada hari Sabtu sampai… dan menciptakan Adam pada hari terakhir, setelah Asar sampai datangnya malam.” Atau sampai terbenamnya matahari, menguatkan hadits yang lainnya. Hadits hadits tersebut saling menguatkan satu sama lain karena matan dan maknanya sama, yaitu menerangkan bahwa kiamat sudah dekat. Dengan kata lain, umur dunia ini tinggal sedikit dan kita adalah generasi yang telah melewati lebih dari 1.400 tahun sejak pengutusan Rosululloh saw. Semua ini juga menguatkan apa yang telah ditetapkan oleh para ahli astronomi yang berkumpul di Brussel, Belgia pada tahun 1990 yang mengatakan bahwa manusia diciptakan pada sepuluh menit terakhir dari umur dunia, dan kita berada pada tiga menit terakhir dari sepuluh menit tersebut.

Semua ini menguatkan bahwa hari kiamat itu sudah dekat, bahkan lebih dekat dari apa yang kita bayangkan atau kita khayalkan. Dalil kedekatan datangnya hari kiamat yang tidak diragukan lagi adalah hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa’ad ra.

Aku diutus dan hari kiamat itu seperti ini, lalu beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuknya dan yang sesudahnya. (HR Bukhari dan Muslim)

Makna hadits ini adalah antara pengutusan Rosululloh saw dan hari kiamat merupakan zaman yang sangat dekat, seperti dekatnya jari telunjuk dan jari tengah, serta merupakan kiasan antara umur alam dan umur manusia yang berada fi atas bumi ini. Jika kita menyangkal bahwa kiamat itu masih jauh, sekitar beberapa puluh ribuan tahun lagi (tanpa memerhatikan ayat ayat al Quran dan hadits), berarti kiamat akan datang kira kira seratus, dua ratus, tiga ratus, atau lima ratus tahun lagi.

Semua ilmu tentang kiamat itu ada pada sisi Alloh SWT dan tidak mungkin manusia dapat membatasi dan menentukkannya meskipun ia diberi ilmu yang banyak oleh Nya.

Monday, September 19, 2011

Manusia Merupakan Makhluk Terakhir Yang Diciptakan Di Alam.


Dalam Muktamar ilmiah yang diadakan di Brussel, Belgia tahun 1990 untuk studi ilmu alam (astronomi) yang dihadiri oleh ratusan ilmuwan astronomi dari berbagai penjuru negara, masing masing ilmuwan mengemukakan pendapatnya secara ilmiah tentang keadaan alam, penciptaan bintang bintang, planet planet, bulan dan umurnya. Dari berbagai pendapat tersebut, mereka menyimpulkannya secara ilmiah dan berdasarkan ilmu astronomi, tetapi sulit dipahami oleh kebanyakan orang karena terlalu banyak angka, hitungan dan rumusnya. Lalu mereka mengungkapkan angka satu miliar dengan kode (0) dan seratus miliar dengan (0X). Akan tetapi, hal ini masih terasa sulit untuk dipahami. Akhirnya mereka sepakat bahwa umur alam ini diumpamakan dengan satu hari satu malam, yaitu 24 jam.

Mereka mengatakan bahwa pada jam pertama, Alloh SWT menciptakan bintang bintang (yang jumlahnya miliaran) dan peredarannya. Pada jam kedua, Alloh SWT memisahkan tempat peredaran bintang bintang tersebut. Pada jam ketiga, diciptakan beberapa planet, bulan dan meteor. Pada jam keempat, Alloh SWT menetapkan bintang bintang dan peredarannya pada tempatnya masing masing. Pada jam kelima, Alloh SWT menciptakan banyak planet, setelah dipisahkan dari bintang. Kemudian, pada jam keenam Alloh SWT menciptakan semuanya bertingkat tingkat dan bertahap tahap serta menciptakan langit. Demikianlah seterusnya hingga mereka mengatakan bahwa Alloh SWT menciptakan bumi pada jam terakhir dari umur hari (alam) atau pada permulaan jam kedua puluh empat.

Mereka juga mengatakan bahwa pada bagian bagian awal dari jam terakhir tersebut diciptakan tanah, lalu gunung gunung, lautan dan sungai sungai. Setelah itu, diciptakan berbagai tumbuhan dan pepohonan, lalu berbagai makhluk yang hidup di dalam laut, kemudian binatang binatang dengan puluhan ribu jenis, serta serangga serangga dengan berbagai jenis dan bentuknya. Pada bagian bagian berikutnya, Alloh SWT menentukan rezeki hamba Nya. Yang terpenting dari perkataan dan teori mereka adalah mereka menetapkan bahwa manusia diciptakan dan ada pada sepuluh menit terakhir dari umur alam. Yang terpenting lagi dari perjataan mereka adalah keberadaan manusia di atas bumi ini sudah mencapai tujuh menit dari sepuluh menit secara keseluruhan, yang merupakan umur manusia. Mereka mengatakan bahwa kita hidup di atas bumi ini diibaratkan hanya tinggal tiga menit terakhir.

Di awal tadi, telah disebutkan bahwa para ahli astronomi telah memperkecil umur alam ini dan meringkas miliaran tahun dengan menjadikannya satu hari satu malam (24 jam) untuk mendekatkan pemahaman manusia. Artinya, satu jam dari umur satu hari sama dengan miliaran tahun, sedangkan satu menit sama dengan jutaan tahun.

Para ahli astronomi ingin mengetahui kapan alam ini mulai muncul dan kapan berakhirnya. Mereka mengetahui dan tidak ada perselisihan bahwa alam ini terus berjalan pada kehancuran dan kerusakan. Bagi mereka, segala sesuatu itu mempunyai umur dan penghabisan. Jadi, menurut mereka, alam ini mempunyai umur dan akan habis. Sedangkan, sebagian besar ulama berbeda pendapat kapan alam ini akan berakhir, sebagaimana mereka juga berbeda pendapat kapan alam ini muncul.

Sebagaimana yang dikatakan para ahli astronomi itu, kita berada pada menit terakhir dari umur alam. Apa yang dikatakan, ditetapkan dan disepakati oleh mereka tidak menyangkal apa apa yang telah disebutkan al Quran dan hadits serta tidak menyingkirkan akal, logika, pemahaman dan kemampuan manusia. Artinya, hal ini tidak menyimpang dari logika manusia, pemahaman, kemampuan, agama dan akidahnya.

Mengapa Alloh SWT Menyembunyikan Waktu Kedatangan Kiamat ?


Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, apakah Alloh SWT benar benar menyembunyikan waktu terjadinya kiamat kepada kita ? Tidak diragukan lagi bahwa kiamat benar benar akan terjadi. Kita pun percaya pada hal ini. Namun, apakah Alloh SWT memberikan tanda tanda dan syarat syaratnya ? Atau, apakah kiamat datang dengan tiba tiba, mendadak, tanpa didahului tanda tanda atau peringatannya ? Apakah kiamat itu masih jauh, antara puluhan ribu sampai ratusan ribu tahun ? apakah tanda tanda kiamat yang disebutkan oleh Alloh SWT dan Rosul Nya, akan tampak dalam ribuan tahun ini, kemudian menghilang pada generasi berikutnya, lalu salah seorang di antara mereka akan mengatakan bahwa tanda tanda yang disebutkan Rosululloh saw itu telah terjadi sejak dua puluh ribu tahun lalu atau lima ribu tahun lalu, dan seterusnya ?

Alloh SWT telah memberitahukan dalam banyak ayat Al Quran bahwa kiamat akan datang secara tiba tiba , tanpa ada peringatan terlebih dahulu kepada makhluk Nya.

Alloh SWT berfirman :

Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba tiba sedang mereka tidak menyadarinya. (QS Az Zukhruf: 66)

Pengetahuan tentang terjadinya kiamat memang berada di sisi Nya. Akan tetapi maksud dari al Quran di atas atau ayat ayat lain yang menerangkan bahwa kiamat akan datang secara tiba tiba, bukan berarti tanda tanda yang menunjukkan atas kejadiannya atau kedekatan dan kapan terjadinya.

Dari tanda tanda kiamat yang telah ditentukan Alloh SWT dan Rosul Nya, kita dapat mengetahui bahwa zaman kita hidup ini bukanlah masa kiamat. Di sini, ada beberapa tanda dan syarat wustha (pertengahan) yang belum terjadi. Tanda Tanda kubra (besar) pun belum terjadi. Jadi, maksud “tiba tiba” di sini bahwa Alloh SWT tidak menjelaskan waktu terjadinya karena hanya Dialah yang tahu. Artinya, kiamat akan datang tanpa masa, sejarah, dan kepastian.

Alloh SWT berfirman :

Mereka bertanya kepadamu tentang kiamat, “Kapan terjadinya ?” Katakan, “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada Tuhanku. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu sangat berat (huru haranya) bagi yang di langit dan di bumi. Kiamat itu akan datang kepadamu melainkan dengan tiba tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan akan kamu benar benar mengetahuinya. Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Alloh, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Al A’raf: 187)

Dahulu, umat para nabi dan rosul menanyakan kepada nabi atau rosul mereka tentang kiamat: kapan terjadinya, pada zaman apa, tahun berapa, bulan berapa, dan hari apa. Begitu pula yang ditanyakan beberapa kabilah Arab kepada Nabi Muhammad saw: kapan datangnya, pada masa apa, dan apa sejarahnya. Semua nabi mengembalikan pengetahuannya kepada Alloh SWT semata karena hanya Dialah Yang Maha Mengetahui waktunya dengan tepat dan pasti. Meskipun demikian, bukan berarti ayat ayat tersebut bermakna harfiah, tanpa ada ilmu tentang zamannya. Jika dimaknai secara harfiah, lalu apa arti tanda tanda dan syarat syarat kiamat yang telah disebutkan dalam al Quran dan hadits ?

Bisa saja seseorang mengatakan bahwa kiamat tidak akan terjadi dalam waktu lebih dari seratus ribu tahun atau dua ratus ribu tahun atau pada zaman tertentu dan seterusnya. Umur manusia di atas bumi ini pendek. Alloh SWT menciptakan manusia tidak untuk hidup di atas bumi ini hingga beratus ratus ribu atau berjuta juta tahun. Masa manusia, sejak zaman Nabi Adam as hingga sekarang, tidak lebih dari puluhan ribu tahun. Begitu banyak riwayat dan sejarah yang menguatkannya. Oleh karena itu, kita tidak mungkin mengatakan bahwa kiamat akan datang setelah sekian ribu tahun. Sahl bin Sa’ad ra meriwayatkan bahwa Rosululloh saw bersabda, “Aku diutus dan kiamat hanya seperti dua ini.” (HR Bukhari dan Muslim). Kemudian, Nabi saw mengisyaratkan dengan dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah. Orang yang merenungkan sunatullah akan memahami bahwa dalam menciptakan segala sesuatu, Alloh SWT telah menentukkan waktu, kadar dan umurnya, sesuai dengan ciptaan atau makhluk tersebut. Umur bintang bintang telah ditentukan miliaran tahun, sebagian planet dan bulan jutaan tahun, sebagian lagi ribuan tahun, ratusan tahun, ada yang hanya beberapa tahun, bahkan satu tahun atau tidak lebih dari satu tahun. Buah buahan, tumbuh tumbuhan, sayur sayuran, dan sebagian binatang, umurnya tidak lebih dari sepuluh tahun. Umur manusia paling lama sekitar seratus, sedangkan yang paling pendek hanya beberapa saat.

Manusia diciptakan pada periode akhir umur alam sehingga tidak akan lama berdiam di dunia yang fana ini karena Alloh SWT menciptakannya untuk hidup kekal di akhirat. Dalam muktamar ilmiah yang diadakan di Brussel, Belgia tahun 1990, para ilmuwan falak (astronomi) menyatakan bahwa manusia adalah makhluk terakhir yang diciptakan Alloh SWT pada periode akhir dari umur alam. Pernyataan ini memperkuat apa yang disabdakan Rosululloh saw, bahwa manusia diciptakan pada masa masa terakhir dari umur alam.

Friday, September 16, 2011

Dalil Dalil Tentang Terjadinya Kiamat


Kiamat adalah peristiwa dahsyat yang mengguncangkan, yang kelak pasti terjadi dan tidak diragukan lagi. Hari itu merupakan pemisah atau pembatas antara kehidupan dunia dan akhirat, atau hari yang mengakhiri zaman yang terbatas, yaitu kehidupan dunia, lalu mengizinkan datangnya zaman baru yang tidak akan berakhir. Bisa juga dikatakan, suatu zaman ketika Alloh SWT mengizinkan untuk mengakhiri kehidupan di alam yang luas ini (dengan bumi dan langit Nya yang berlapis tujuh beserta apa apa yang ada di dalamnya), baik kehidupan yang kita ketahui maupun yang tidak.

Karena kiamat merupakan perkara besar yang disebutkan Alloh SWT dalam al Quran dan Rosul Nya dalam hadits. Ia menjadi perkara penting yang diperhatikan manusia dan selalu menjadi pertanyaan sepanjang masa. Alloh SWT tidak menurunkan kitab, rosul dan nabi Nya, kecuali untuk selalu memberi peringatan kepada kaumnya tentang kiamat dan apa apa yang akan terjadi pada hari itu.

Kiamat mempunyai beberapa tanda dan dalil dalil yang telah diterangkan oleh Alloh SWT dan Rosul Nya, baik berupa ayat ayat maupun hadits hadits. Kita tidak bisa mengetahui tanda tanda kiamat sekedar bagaimana yang diterangkan Alloh SWT mengenai hari itu, apa yang terjadi dengannya, dan bagaimana dengan urusan makhluk Nya. Kita juga tidak dapat mengetahui tanda tandanya tanpa terlebih dahulu mengetahui sebab sebab terjadinya. Alloh SWT Maha Kuasa untuk mematikan semua makhluk Nya sebelum hari kiamat, kemudian membangkitkan kembali dan mengangkatnya ke pada mahsyar, bumi perhitungan amal di hadapan Alloh SWT, tanpa melewati kiamat. Oleh karena itu, kita harus kembali pada ayat ayat Alloh SWT yang menerangkan kiamat, tentang kapan terjadinya, apa yang akan terjadi pada hari itu, dan apa yang akan terjadi pada seluruh alam ini.

Berdasarkan ayat ayat al Quran, kita dapat merenungkan dan mengetahui apa itu kiamat, sebab sebabnya dan apa yang akan terjadi pada hari itu. Kita juga dapat mengetahuinya melalui hadits hadits Nabi saw yang diucapkan tidak menuruti nafsunya, yang menjelaskan dan mengajari kita banyak hal tentang kiamat, kapan terjadinya, tanda tandanya, dan kedekatan waktunya. Hal paling penting dari penjelasan hadits hadits Nabi saw tersebut adalah wasiat beliau kepada kita untuk memerhatikan dan bersiap siap menghadapinya, juga penjelasannya betapa penting perkara kiamat itu dalam kehidupan seorang muslim yang mukmin, yang tidak membantah kedatangannya, tidak mendustakannya, dan tidak meragukan kejadiannya karena ia merupakan bagian dari akidah dan imannya.

Alloh SWT berfirman :

…Ketahuilah bahwa sesunguhnya orang orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar benar dalam kesesatan yang jauh. (QS Asy Syura: 18)

Mayoritas manusia mengira bahwa kiamat merupakan perkara remeh yang tidak melampaui batas bumi dan manusia yang hidup di atasnya. Oleh karena itu, di masa lalu, setiap datang seorang nabi kepada mereka, mereka meminta kepadanya agar kiamat disegerakan. Hal itu dilakukan karena mereka mengira kiamat hanya terjadi pada mereka, sebatas pada kampung atau kota mereka, tempat mereka hidup.

Kiamat bisa terjadi ketika Alloh SWT telah mengizinkannya, yaitu setelah semua tanda dan syarat terjadinya telah terpenuhi. Ketika itulah, Alloh SWT akan menghancurkan kehidupan di alam yang luas ini, yang waktunya tidak dapat diketahui oleh siapapun selain Alloh SWT. Seluruh ciptaan dan makhluk Nya juga akan dihancurkan, baik roh maupun jasad kasar.

Alloh SWT berfirman :

Semua yang ada di bumi ini akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (QS Ar Rahman : 26-27)

Apabila matahari digulung dan apabila bintang bintang berjatuhan dan apabila gunung gunung dihancurkan dan apabila unta unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan) dan apabila bintang bintang liar dikumpulkan dan apabila lautan dipanaskan. (QS At Takwir: 1-6)

Kiamat adalah pemusnahan dan penghancuran segala sesuatu, mulai dari matahari, bintang bintang, gunung gunung, lautan hingga langit yang akan dilipat sebagaimana melipat buku. Alloh SWT telah berjanji dan bersumpah mengenai hal itu. Di dunia ini, tidak ada perkara besar, berat, dan menakutkan yang melebihi perkara kiamat dan kejadiannya. Sudah jelas bahwa di antara rahmat Alloh SWT untuk para hamba Nya, terutama orang orang mukmin adalah memberikan dan menjelaskan tanda tanda terjadinya kiamat sehingga mereka dapat mempersiapkan diri menghadapi kejadian dahsyat ini dan tidak ada lagi yang mengatakan “Sesungguhnya, kami lupa dengan perkara ini, atau kami tidak mengetahuinya, atau belum datang kepada kami tanda tandanya”.

Alloh SWT berfirman :

Maka tidaklah yang mereka tunggu tunggu melainkan hari kiamat yaitu kedatangannya kepada mereka dengan tiba tiba karena sesungguhnya telah datang kepada mereka tanda tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang ? (QS Muhammad: 18)

Tanda tanda kiamat yang telah terjadi makin menambah keyakinan seorang mukmin, sedangkan tanda tanda yang belum terjadi merupakan sesuatu yang gaib dan hanya Alloh SWT yang tahu. Dengan ilmu Nya, Dia mengizinkan tanda tanda tersebut terjadi tepat pada waktunya. Dengan ilmu Nya pula, Dia mengetahui masa yang telah lalu, sekarang, dan yang akan datang. Kita hanya tahu bahwa kiamat itu ada dalam ilmu Nya tidak jelas kapan datangnya, dan hanya Dia yang mengetahuinya.

Semua itu merupakan rahmat dari Alloh SWT untuk hamba hamba Nya demi menekankan betapa pentingnya iman pada yang gaib dan alangkah pentingnya arti ujian serta cobaan di dunia ini. Sunatullah menghendaki untuk menyembunyikan yang gaib kepada hamba Nya. Jika sesuatu yang gaib diperlihatkan, tentu hal ini akan bertentangan dengan sunah kehidupan. Manusia tidak mungkin dapat meneruskan kehidupannya karena mengetahui yang gaib melalui naungan akalnya yang terbatas.

Alloh SWT lebih mengetahui kehendak dan kekuatan Nya serta sebatas mana keadaan alam dan kehidupan di dalamnya. Alloh SWT mengetahui apa apa yang tidak dapat dijangkau oleh akal. Di sekitar manusia, banyak hal yang gaib sehingga akal tidak akan dapat menjangkaunya. Meskipun manusia mengkhususkan diri untuk mempelajari yang gaib, seperti roh, tentu ia tidak akan dapat mengetahuinya. Alloh SWT Mahatahu bahwa akal manusia tidak mungkin akan mengetahui apa itu roh dan hakikatnya.

Alloh SWT berfirman :

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit. (QS Al Isra: 85)

Kiamat merupakan perkara yang gaib. Ilmu dan waktunya tidak diketahui manusia, kecuali rosul yang di ridhoi Nya. Dan, di antara para malaikat dan manusia itu, ada seorang rosul yang di khususkan untuk menyampaikan yang gaib.

Alloh SWT berfirman :

(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rosul yang di ridhoi Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui bahwa rosul rosul itu telah menyampaikan risalah risalah Tuhannya, sedang sebenarnya ilmu Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu per satu. (QS Al Jin: 26-28)

Jibril adalah malaikat yang diperlihatkan oleh Alloh SWT pada bagian yang gaib karena sunah penciptaannya tidak menyembunyikan semua yang gaib kepadanya. Namun, penampakan yang gaib kepada Jibril bukan berarti dia mengetahui semua yang gaib. Meskipun Jibril mengetahui sebagian yang gaib, dia tidak akan mengklaim bahwa dialah yang menghendaki. Artinya, pengetahuannya terhadap sebagian yang gaib tidak berpengaruh kepadanya. Sementara itu, jika manusia mengetahui yang gaib, hal itu akan mempengaruhi keberadaannya di dunia, yaitu untuk menerima ujian dan cobaan serta dapat mempengaruhi kesucian hatinya. Selain itu, ujia tersebut juga dimaksudkan untuk mengetahui siapa yang menolong Alloh SWT, beriman kepada Nya, ber iman pada yang gaib, serta taat dan beribadah keapada Nya karena telah diberi akal untuk merenungkannya.

Sesungguhnya, apa yang telah difirmankan oleh Alloh SWT itu benar. Kiamat itu hak (benar), hari perhitungan itu benar, keberadaan surga dan neraka itu juga benar. Dia telah bersumpah dengan semua yang hak tersebut. Mari merenungkan rahmat dan cinta Nya kepada kita. Dia juga berharap agar hati kita tenang. Janganlah bimbang dan ragu terhadap kehendak Nya.

Alloh SWT berfirman :

Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu benar benar akan terjadi seperti perkataan yang kamu ucapkan.

(QS Adz Dzariyat: 23)

Jadi, kiamat dan kejadiannya yang disembunyikan dari kita hanyalah perkara ujian, cobaan, dan untuk menjaga kebersihan hati serta mengetahui orang orang yang beriman, kafir, benar dan dusta. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya dengan beramal sholeh, taat dan beribadah yang di ridhoi-Nya.

Sesungguhnya, kiamat itu merupakan perkara yang sangat kuat kebenarannya. Oleh karena itu, Alloh SWT menganggap orang orang yang meragukan kedatangannya dan mengabaikan kejadian dahsyatnya sebagai orang yang berada dalam kesesatan yang sangat jauh dan kebodohan yang dalam.

Alloh SWT berfirman :

…Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar benar dalam kesesatan yang jauh. (QS Asy Syura: 18)

Tuesday, September 13, 2011

Mengapa Kehidupan Dunia untuk Akhirat ?


Di antara rahmat Alloh SWT terhadap semua hamba Nya adalah Dia menerangkan di dalam kisah Nya yang mulia bahwa dunia merupakan tempat ujian, bukan sebagai tempat tinggal yang abadi. Oleh karena itu, Alloh SWT mengharap para hamba Nya agar tidak tenang tenang di dunia ini karena dunia ini merupakan tempat yang menipu dan perhiasan yang bersifat sementara sehingga akan musnah. Segala yang dipunyai manusia tidak berarti apa apa, meskipun harta mereka sangat banyak dan hidup mereka panjang.

Alloh SWT berfirman :

Dan tidaklah kehidupan ini melainkan main main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang orang yang bertakwa. Maka tidaklah kamu memahami ? (QS Al An’am: 32)

Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah megah di antara kalian serta berbangga banggaan tentang banyaknya harta dan anak… (QS Al Hadid: 20)

Hanya Alloh SWT yang mengetahui apa yang ada di akhirat dan apa yang disediakan bagi hamba hamba Nya yang beriman.

Alloh SWT berfirman :

Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata… (QS As Sajdah: 17)

Dengan demikian, sebenarnya di antara rahmat Alloh SWT adalah perintah Nya terhadap semua hamba Nya agar lulus atau sukses dalam menjalani ujian dunia sehingga memperoleh kemenangan di akhirat kelak, yaitu surga yang penuh dengan banyak kenikmatan.

Alloh SWT berfirman :

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang orang yang bertakwa. (QS Ali Imran: 133)

Berlomba lombalah kamu kepada mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul Nya…. (QS Al Hadid: 21)

Alloh SWT juga menerangkan kepada kita bahwa Dia tidak menghendaki kehidupan dunia, tetapi akhirat. Hal ini sesuai dengan firman Nya :

…Kamu menghendaki harta benda dunia, sedangkan Alloh menghendaki pahala akhirat untukmu… (QS Al Anfal: 67)

Alloh SWT lebih mengetahui apa yang Dia sediakan untuk para hamba Nya di surga yang telah di janjikan Nya. Dalam Hadits qudsi disebutkan :

Aku sediakan untuk hamba hamba Ku yang sholeh, apa apa yang tidak terlihat mata, tidak terdengar telinga, dan tidak terbayangkan dalam benak seseorang. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a)

Rosululloh saw menjelaskan kepada kita tentang nilai kehidupan dunia yang tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat. Kehidupan dunia hanyalah sebagai ujian dan cobaan serta perjalanan yang cepat. Rosululloh saw bersabda :

Seandainya dunia ini semisal dengan lebar sayap nyamuk di sisi Alloh, niscaya Alloh tidak akan memberikan air minum kepada orang kafir. (HR Turmudzi dari Sahl bin Sa’ad r.a)

Ketahuilah sesungguhnya dunia terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali yang mengingat Alloh, yang ditolong Nya, orang yang berilmu, dan yang mencari ilmu. (HR Turmudzi dari Abu Hurairah r.a.)

Tidaklah kehidupan dunia itu jika dibandingkan dengan akhirat, kecuali seperti seorang di antara kalian yang berjalan menuju lautan, lalu memasukkan jari jarinya kedalamnya maka air yang keluar darinya itulah dunia. (HR Hakim dari Mustaurid r.a)

Tempat berhimpunnya air (rawa rawa) di surga itu lebih baik daripada dunia seisinya. (HR Bukhari dari Sahl r.a)

Tidaklah aku dan apa apa yang ada di dunia ini, kecuali seperti seorang yang berjalan, lalu berteduh di bawah pohon, kemudian beristirahat dan meninggalkannya. (HR Turmudzi dari Abdullah bin Mas’ud r.a)

Dari kenyataan yang sebenarnya dan kehendak (iradah ilahiyah) ini, keberadaan manusia di atas bumi hanya untuk diuji sesuai kehendak Nya. Alloh SWT menjadikan ujian itu secara bertingkat, yang paling tinggi adalah (mengesakan Alloh, taat, beribadah, selalu ingat, bertasbih, dan berdoa kepada Nya), lalu yang pertengahan, dan yang paling bawah adalah beramal dan bermuamalah.

Alloh SWT berfirman :

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah Ku. (QS Adz Dzariyat: 56)

Inilah hakikat ujian dan cobaan yang sebenarnya, baik kita ridho maupun tidak, menghendaki maupun mengabaikannya dan menerimanya maupun tidak. Sesuai dengan pemahaman yang merupakan hakekat dari segalanya, kita akan masuk dari beberapa pintu yang luas untuk memahami akhirat dan pengaruhnya terhadap kehidupan seorang muslim.

Pengantar yang sederhana tentang penciptaan manusia dan keberadaannya di dunia ini, mudah mudahan membuat kita tidak bimbang, berdasarkan kadar ilmu kita, dan sasaran kita bukan hanya mencari dunia serta kenikmatannya yang akan sirna tanpa mencari akhirat dan kenikmatan yang abadi.

Do'a : Senjata Orang Beriman


Doa adalah senjatanya orang mukmin. Doa bahkan merupakan pangkal atau ‘otak’nya ibadah. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW. :


“Doa adalah pangkal (otak-)nya Ibadah.” (HR. Tirmidzi)


Secara istilah, doa adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Doa merupakan aktifitas ibadah yang paling agung, sebagaimana hadits di atas. Dengan demikian bisa kita fahami bahwa sebuah ibadah pasti mengandung doa kepada Allah SWT, dan doa tanpa ibadah belumlah sempurna.


Anjuran Berdoa Banyak riwayat dari Nabi SAW yang menganjurkan dan mendorong seseorang hamba untuk berdo’a, diantaranya :


“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah, selain daripada doa.” (HR. Ibnu Majah dan Abu Hurairah)


“Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)


“Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang apabila dimintai (sesuatu).” (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud)


Semua hadits di atas menunjukkan keharusan berdoa yang berupa permohonan hamba kepada Tuhannya, untuk mendapatkan sesuatu.


Doa Pasti Dikabulkan Doa seorang hamba pasti dikabulkan oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman-Nya :

“(Dan) Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS. Al Mukmin : 60) “


(Dan) apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al Baqarah : 186)


Pengabulan doa dari Allah SWT. bersifat pasti, dan hanya Dialah yang dapat mengabulkan doa bukan yang lain. Pengabulan doa bisa sesuai dengan yang diminta hamba-Nya, ditangguhkan hingga hari kiamat, atau dijauhkan dari suatu keburukan. Hal ini sebagaimana Sabda Beliau SAW. :


“Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutus hubungan silaturrahim, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu diantara tiga hal : dikabulkan doanya ; ditangguhkan hingga hari kiamat ; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR. Ahmad dari Abi Said Al Khudri)


“Tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini yang berdoa kepada Allah, kecuali akan dikabulkan doanya atau dijauhkan suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR. Tirmidzi dan Hakim dari Ubadah Ibn Shamit)


Waktu-Waktu Mustajab Untuk Berdoa Dalam Islam dikenal waktu-waktu dan tempat-tempat yang mustajab untuk berdoa, selain dapat dilakukan kapan pun dan dimana pun. Misalnya berdoa di Raudoh, di masjidil Haram maupun di Madinah dianggap sebagai tempat-tempat yang mustajab untuk berdoa. Berdoa di antara dua khutbah, sepertiga malam , adalah diantara beberapa waktu yang mustajab untuk berdoa. Salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa adalah ketika sahur di bulan Ramadhan. Waktu sahur adalah waktu yang sangat mustajab. Allah swt meletakkan kemuliaan yang sangat besar pada waktu tersebut. Sayang, kebanyakan manusia hanya memanfaatkannya untuk makan sahur, tanpa menyisihkan waktu untuk bermunajat kepada-Nya. Mengapa mereka melalaikan sabda Rasulullah saw :


Rabb kita (Allah) SWT. turun pada setiap malam ke langit dunia, pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman, ”Siapakah yang berdo’a kepada-Ku maka aku akan kabulkan baginya, siapa yang meminta kepada-Ku, maka aku beri kepadanya, Siapa yang meminta ampunan maka Aku akan mengampu-ninya” (HR Bukhari dan Muslim)


Sesungguhnya kita sangat membutuhkan waktu-waktu seperti ini, untuk memohon kebaikan hidup di dunia dan akhirat kepada Allah SWT. memohon keselamatan hati kita, dan memohon supaya hidup kita selalu bermakna.


Selain itu, Rasulullah saw memberitahukan bahwa do’a orang yang berpuasa akan mendapatkan prioritas pengabulan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagai-mana disebutkan di dalam hadits nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :


“Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak, di antaranya adalah orang yang berpuasa sehingga ia berbuka, di dalam riwayat lain dikatakan, orang yang puasa ketika hendak berbuka.” (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Demikian juga Allah SWT. meletakkan ayat tentang berdoa di antara ayat-ayat yang menjelaskan tentang puasa. Para ulama menjelaskan rahasia peletakkan ayat ini adalah untuk mengisyaratkan bahwa doa orang yang puasa itu tidak tertolak. Tetapi berapa banyak diantara kita yang memperhatikan hal ini? Padahal doa inilah inti ibadah di dalam Islam. Atau dengan kata lain doa ini akan memberikan sema-ngat baru dalam kehidupan seorang muslim. Bahkan, kalau kita telusuri lebih jauh sejarah Islam, maka kita akan mengetahui bahwa doa adalah senjata orang mukmin.


Doa Senjata Orang Mukmin Kekuatan atau kedahsyatan doa bagi seorang muslim tak terbantahkan lagi. Doa adalah senjatanya kaum muslimin, Ad Dua Silah Al Mu’min. Di saat canggihnya mesin dan persenjataan abad modern, strategi dan manuver peperangan, kekuatan dan kedahsyatan doa tetap tidak terbantahkan dan hanya dimiliki oleh orang-orang beriman. Hal ini dikarenakan orang-orang beriman selain berusaha maksimal dalam setiap amal yang dilakukannya, dia juga tidak pernah lupa menggantungkan seluruh usahanya melalui doa kepada Allah SWT. Doa adalah senjatanya orang-orang mukmin, yang telah dicontohkan mulai dari para Nabi dan Rasul, para sahabat, salafus sholeh.


Doa adalah senjata yang menyelamatkan Nuh a.s. dengan diturunkannya air bah kepada kaummnya. Doa juga senjata yang menyelamatkan Musa a.s. ketika melawan tiran ketika itu, Firaun. Menyelamatkan Sholeh dari kedzoliman kaum Tsamud, menyelamatkan Huud a.s dari kaum Aad, dan menyelamatkan serta memberikan kemenangan kepada Rasulullah SAW. dalam benyak pertempuran yang beliau lakukan. Bahkan dengan kekuatan dan kedahsyatan doa pulalan, negara super power waktu itu, Persia dan Romawi berhasil ditaklukkan oleh kaum Muslimin.


Kedahsyatan dan kekuatan doa bagi orang-orang mukmin akan terus berlangsung, dari zaman Nabi Adam a.s. hingga kini. Contoh kekuatan dan kedahsyatan doa di masa kini banyak dialami oleh para mujahidin di pelbagai bumi jihad. Kita mengetahui kedahsyatan doa para mujahidin Afghanistan, sehingga Syekh Abdullah Azzam merangkumnya dalam buku Ayaturrahman fii Jihadil Afghan. Tentunya hal ini, juga dialami oleh mujahidin di bumi jihad yang lain, seperti di : Irak, Chechnya, Khasmir, Palestina, dan lain-lain. Kisah lolosnya Syekhul mujahid Abu Yahya Al Liby dari penjara Baghram di Afghanistan juga tidak lepas dari kekuatan dan kedahsyatan doa beliau kepada Allah SWT. Di saat-saat kritis, beliau mampu melepas pengikat pintu yang secara akal mustahil dilakukan. Namun dengan doa yang tulus dan ikhlas dan hanya memohon kepadaNya, maka dengan mudah beliau mampu melepas ikatan pintu tersebut dan beliau akhirnya lolos dari penjara Baghram di Afghanistan.


Kedahsyatan dan kekuatan doa beserta dampaknya juga bisa dilihat ketika Syekh Muhammad Muhaisany berdoa di Mekkah Mukarromah pada bulan Ramadhan 1422 H. Doa beliau sungguh dahsyat dan menggentarkan seluruh kaum muslimin di sana bahkan kaum muslimin di mana pun dan kapan pun yang mendengarkan doanya tersebut. Setelah beliau berdoa, rezim toghut Saudi menangkap dan memenjarakan beliau. Dalam doanya tersebut, Syekh Muhaisany banyak memohon kepada Allah SWT. agar menolong mujahidin dimana pun mereka berada dan agar Allah SWT. menghancurkan seluruh kekuatan toghut, terutama Amerika yang beliau sebut sebagai sumber toghut dan malapetaka di dunia ini. Akibat doa beliau yang dahsyat itu, rezim toghut Saudi berang dan memenjarakan beliau. Subhanallah!

Menyikapi Perbedaan Pendapat Dalam Rumah Tangga


Dalam pernikahan, berbeda pendapat adalah suatu hal yang lumrah. namun pada banyak kasus, perbedaan berakhir dengan perseteruan dengan suami.Nah, untuk mengatasi hal tersebut, ada baiknya bila anda menyimak beberapa trik berikut,

Jangan Emosi

Yang anda cari dari sebuah perbedaan adalah titik temu, jadi jaga hati dan kepala anda agar tetap dingin agar jalan keluar bisa diperoleh tanpa harus berkelahi.

Perhatikan nada bicara

Hindari nada tinggi saat anda berbicara karena dapat memancing kemarahan suami. Dalam banyak hal, kelembutan mempunyai efek besar untuk meredam amarah.

Argumentasi

Ungkapkan argumen yang pas, objektif dan masuk akal agar pendapat anda bisa diterima dengan baik oleh suami.

Fokus pada masalah anda

Agar masalah anda cepat terselesaikan, jangan menambah masalah dengan membahas hal-hal yang lain dahulu. Jangan sampai perbedaan pendapat membuat anda membahas semua kekurangan suami dan menjadikan hal itu untuk menyerang suami anda. Hal itu hanya akan memperburuk hubungan anda berdua.

Panggilan Sepenuh Cinta untuk Kekasih Hati


“Suami suka memanggil saya dengan panggilan Nil, Nil,” kata salah seorang teman.

“Artinya apa tuh, Mbak?” tanya saya polos.


“Singkatan dari Kuda Nil, hehehe….” katanya sambil tertawa-tawa.


Sobat muslimah, nama panggilan bagi seseorang bukanlah perkara sepele. Apalagi di antara pasangan suami istri, nama panggilan adalah ungkapan hati. Tak jarang, nama panggilan ini jauh lebih terkenal daripada nama asli seseorang. Apa jadinya nilai diri kita dan pasangan apabila ada orang yang tahu atau bahkan ikut memanggil kita dengan nama binatang? Belum lagi apabila ada anak yang masih balita, tentu dia akan keheranan ibunya dipanggil dan disamakan dengan kuda Nil yang buruk rupa itu.


Mungkin bukan sesuatu yang serius, begitu sebagian orang berpikir tentang nama panggilan bagi suami atau istri. Bahkan beberapa orang menjadikan nama panggilan ini sebagai bahan olok-olok saja. Tapi pernahkah kita berpikir, bagaimana perasaan pasangan ketika kita dengan cueknya memanggilnya dengan seenak sendiri? Bagaimana pula bila nama panggilan binatang itu ditimpakan pada yang memanggil sendiri?

Perempuan setelah menikah, memang berpotensi untuk mekar kondisi tubuhnya. Tapi itu bukan alasan bagi seorang suami untuk ‘melecehkan’ istrinya dengan panggilan nama hewan atau nama apapun yang tidak pantas disematkan untuk ibunya anak-anak. Dari pihak perempuan sendiri, seharusnya dia bisa mengajukan keberatan apabila suami sudah kelewatan.


Dalam sebuah pernikahan, perempuan bukan pihak yang kalah atau dikalahkan. Masing-masing pasangan antara suami dan istri adalah partner dalam kebaikan. Begitu juga dalam hal memanggil nama pasangan, alangkah jauh lebih indah apabila julukan yang dipilih adalah sesuatu yang indah pula.


….pasangan suami dan istri adalah partner dalam kebaikan. Dalam memanggil nama pasangan, lebih indah apabila julukan yang dipilih adalah sesuatu yang indah pula….


Rasulullah memanggil Aisyah dengan panggilan ‘Humairah’ yang artinya kurang lebih ‘yang berpipi kemerah-merahan’. Itu karena Aisyah mudah sekali merasa malu dan bila malu maka pipinya akan langsung bersemu merah merona. Cantik sekali.


Salah seorang teman dipanggil oleh suaminya dengan panggilan ‘Inez’ padahal namanya sama sekali bukan itu. Usut punya usut ternyata suaminya mencomot kosakata entah darimana yang arti dari Inez itu adalah baik hati. Suaminya memuji istrinya dengan nama panggilan itu karena meskipun dia laki-laki miskin dan kekurangan, pengabdian istri padanya tidak pernah kurang. Makanya dia menganugerahi si istri dengan panggilan khusus tersebut. Hmm…so sweet ya.


Lalu ada juga seorang teman yang dipanggil oleh suaminya ‘Beauty’ atau si cantik. Lucunya teman ini kadang suka ketawa-ketiwi sendiri bila suami memanggilnya begitu karena dia sendiri merasa jauh dari cantik yang kategori sinetron. Tapi apa pun itu semua, ada satu hal yang bisa diambil hikmahnya di sini yaitu dalam hal memberi nama julukan pada pasangan, alangkah jauh lebih enak didengar telinga dan dirasakan oleh hati apabila nama indah pula yang diberikan. Karena dalam nama, sesungguhnya ada makna di sana. Dan semoga makna sayang dan cinta yang tergambar di sana, ketika seorang suami memanggil istrinya. Wallahu a’lam.


Suami Realistis Idaman Wanita


UNTUK dicintai suami, ada yang bilang bahwa seorang istri harus pandai memasak dan berdandan. Apakah itu artinya para istri yang tak pandai memasak apalagi berdandan tak bisa mendapatkan cinta suami? Hmm…nanti dulu. Idealnya seorang istri memang bisa memasak dan berdandan untuk suami, tapi apabila tak bisa keduanya, apakah seorang perempuan tak bisa menjadi istri yang baik di mata suami?


Bagi suami yang suka memanjakan selera makan, pandai memasak mungkin menjadi ‘keharusan’ bagi istrinya. Begitu juga bagi para suami yang mempunyai kecenderungan melirik ‘barang bagus’ di jalan, pandai berdandan juga menjadi hal yang mutlak bagi istrinya. Tapi di luar kedua kepandaian di atas, tidak adakah kepandaian lain yang bisa dihadirkan seorang istri pada suaminya?


ADA. Tidak semua laki-laki terpesona oleh kepandaian seorang perempuan memasak atau berdandan. Ada juga sosok laki-laki yang mencintai istrinya apa adanya dengan segenap potensi yang ada pada diri si belahan jiwa. Laki-laki ini tak menuntut si istri untuk pintar memasak apalagi berdandan. Tipe suami jenis ini sudah merasa bersyukur dengan keberadaan istri yang mampu menjadi partner diskusi dan tempat berbagi yang asyik.


….Sosok laki-laki yang bersyukur dan mencintai istri apa adanya dengan segenap potensi yang ada pada diri si belahan jiwa….


Suami jenis ini tak meributkan rasa makanan yang ada. Biarpun sayur yang disajikan istri rasanya terlalu asin atau bahkan terlalu manis, ia selalu tersenyum dan mengucap terima kasih. Bilapun tak menyukai masakan jenis tertentu, ia tak mencela. Ia selalu menjaga perasaan istri dan berusaha membahagiakan semampunya.

Ia tak pernah menuntut istri berdandan karena menurutnya si istri sudah terlihat cantik dengan pesona shalihah yang ada pada dirinya. Tampil alami tanpa riasan membuatnya semakin cinta pada istri karena di luar sana, ia sudah muak dengan tebalnya riasan para wanita. Lagipula bukan karena riasan, dandanan atau ‘make up’ itu yang membuatnya mencintai si istri, tapi keutuhan pribadi sebagai seorang muslimah shalihahlah yang telah menawan hatinya. Jadi cukup itu saja yang ia mau dari perempuan yang telah menjadi belahan jiwanya itu.


….Laki-laki shalih yang menjadikan Muhammad sebagai cermin hidupnya, akan memuliakan perempuan terutama istrinya dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya….


Jadi, untuk para muslimah yang saat ini masih belum terampil memasak dan berdandan, tak usah berkecil hati. Masih ada stock laki-laki shalih yang tak menuntut pada istri. Sebaliknya, ia menghargai sekali keistimewaan pada diri pasangannya yang itu tidak selalu berupa kepandaian memasak dan berdandan. Kualitas seperti ini hanya ada pada diri laki-laki yang menjadikan Muhammad sebagai cermin hidupnya. Laki-laki shalih yang akan memuliakan perempuan terutama istrinya dengan seluruh kelebihan dan kekurangannya. Berdoa saja semoga di antara kalian mendapat salah satu dari laki-laki (suami) idaman ini. Insya Allah


Monday, September 12, 2011

Karena Istri Adalah Wanita Yang Ingin Dipahami


Banyak dari suami yang belum mengetahui atau bahkan tidak mengerti tentang bagaimana seharusnya memperlakukan istri sebagai wanita. Sebagian lain belum tahu bagaimana istri ingin diperlakukan. walaupun sebagian dari mereka merasa cukup tahu tentang teori-teori komunikasi dengan lawan jenis. Intinya wanita itu sangat kompleks dan sulit dipahami, tapi di lain sisi malah wanita yang menganggap laki-laki lah yang sebenarnya sulit untuk dipahami.

Suami adalah makhluk lelaki dengan tipikal yang tidak suka dan tidak terbiasa berbasa-basi. Kalau pun terpaksa harus melakukannya, akan sangat kentara sekali kalau mereka sedang berbasa-basi. Bagi mereka ketika seseorang mengatakan ‘tidak’ berarti ‘tidak’ dan ‘ya’ berarti ‘ya’. Suami tidak terbiasa "bermain-main" dengan ‘bahasa simbol’. dan atau jika mereka mengerti dengan ’simbol’ tersebut, mereka akan tetap mengartikannya secara harfiah dan mencukupkan diri dengan arti yang harfiah itu.

Sebaliknya, bukan rahasia lagi, bagi sebagian suami, istri sebagai wanita terkesan berbelit-belit dalam menyelesaikan masalah, karena seringkali melibatkan perasaan. Hal-hal yang menurut suami sebetulnya sederhana, seringkali jadi ribet. Belanja yang oleh para istri lakukan hanya bisa dilakukan 5 menit, bisa jadi 50 menit. Bahkan terkadang disertai dengan "adegan" tawar menawar yang lama. Atau Gara-gara salah ucap, si istri bisa seharian ngambek, meskipun suami sudah minta maaf. Istri sebagai wanita juga terkesan lebih romantis dengan mengingat hari hari special bahkan sampai detail tanggalnya dan kejadian yang waktu itu terjadi.

Satu lagi bahasa wanita yang sangat terkenal dan terlampau sulit untuk dipahami bagi sebagian suami , yaitu Menangis. Bahkan ada sebagian berpendapat bahwa menangis adalah salah satu bentuk egoisme wanita. Marah sedikit, nangis. Kurang suka sesuatu, nangis. Kalau sedih, pasti nangis. Tidak setuju, nangis. Tersinggung sedikit, nangis. Malu sedikit, nangis. Bahkan, dalam keadaan bahagia pun juga "terharu" (baca:menangis juga). Namun yang mengherankan sebagian besar suami takluk oleh tangisan semacam ini, luar biasa. Bisa jadi suami akan memilih salah satu dari pilihan berikut ini : mengalah dan berusaha merayu istrinya tersebut, atau…bingung! Jika suami yang meninggalkan istri menangis sendirian, bisa jadi dia termasuk kategori yang kedua, suami yang bingung. Atau mungkin ada satu lagi yang akan mereka lakukan membelikan sesuatu sebagai hadiah supaya istrinya tidak menangis lagi.

Memang terkadang wanita tidak mudah untuk dimengerti. Entah karena kemisteriusannya. Diam ataupun tidak, keras atau lembut, wanita tetap sulit dimengerti. Namun seperti sebuah teori perang " pahami musuhmu, sehingga kau tau kelemahannya" Begitu juga dalam memahami istri, suami diharapkan harus lebih dulu mengerti tentang karakter, sifat dan kebiasaan istri

Memang terkadang wanita tidak mudah untuk dimengerti karena kemisteriusannya. Diam ataupun tidak, keras atau lembut, wanita tetap sulit dimengerti. Bahkan bagi mereka yang sudah menikah seorang istripun masih selalu meninggalkan misteri. Akan lebih baik bagi suami jika hal ini diambil sisi positifnya saja, karena justru di situ gregetnya berumah tangga...menggali sedikit demi sedikit. Seperti sebuah teori perang " pahami musuhmu, sehingga kau tau kelemahannya". Begitu juga dalam memahami istri, untuk memahaminya suami diharapkan harus lebih dulu mengerti tentang karakter, sifat dan kebiasaan istri itu sendiri, karena sebagai suami, mau tidak mau akan sangat membutuhkan pendamping. Untuk itu suami harus mencoba untuk bersabar atas segala "kelemahan" istri sebagai makhluk wanita yang berasal dari tulang rusuk lelaki.

Karakter tulang rusuk ini sendiri memang unik. Dibiarkan ia akan bengkok alias melengkung. Ditarik terlalu keras ia akan patah. Cukup pahami istri secara sederhana, dan gunakan bukan cara dalam kaca mata wanita. Gunakan saja cara lelaki. Tak perlu memikirkan sesuatu secara berlebihan karena jika tidak tepat dengan apa yang dipikirkan istri, maka akan terjadi kesalahpahaman yang begitu jauh antara suami dan istri sedangkan jika kita memikirkan secara sederhana, akan mudah memperbaiki kesalahan yang mungkin terjadi.

Seluruh kesulitan suami saat menghadapi beratnya persoalan memahami istri akan hilang seketika begitu ia mempersembahkan ketulusan dan kesucian cintanya. Maksudnya, sejumlah ketidakmengertian akan segera terkalahkan manakala cara pandang yang digunakan tidak sekedar ingin mengerti dan ingin memahami semata. Justru kerelaan berkorban, berbagi serta kemauan memuliakan istri akan meluluhkan kekakuan hubungan yang terjalin. Tetaplah mencintai istri dengan apa adanya, tulus dan penuh kesucian. Karena jika seorang istri diperlakukan seperti itu, maka nanti pasti akan terbuka pintu-pintu perasaan, pikiran, keinginan serta kesetiaan pada para suami, dan itu akan terjadi dan dilakukan oleh istri dengan penuh suka rela.

Berdoa dengan mengangkat tangan


Mengangkat tangan dalam berdoa merupakan etika yang paling agung dan memiliki keutamaan mulia serta penyebab terkabulnya doa.

Dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Sesungguhnya Rabb kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu dari hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya (meminta-Nya) dikembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa”. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Doa 2/78 No.1488, Sunan At-Tirmidzi, bab Doa 13/68. Musnad Ahmad 5/438. Dishahihkan Al-Albani, Shahih Sunan Abu Daud].

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata bahwa lafazh hayyun berasal dari lafazh haya’ yang bermakna malu. Allah memiliki sifat malu yang sesuai dengan keagungan dzat-Nya kita beriman tanpa menggambarkan sifat tersebut. Lafazh kariim yang berarti Maha Memberi tanpa diminta dan dihitung atau Maha Pemurah lagi Maha Memberi yang tidak pernah habis pemberian-Nya, Dia dzat yang Maha Pemurah secara mutlaq. Lafazh an yarudahuma shifron artinya kosong tanpa ada sesuatu. [Mur'atul Mafatih 7/363]

Dari Anas Radhiyalahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berdoa dengan mengangkat tangan kecuali dalam shalat Istisqa. [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa' 2/12. Shahih Muslim, kitab Istisqa' 3/24].

Imam Hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa hadits tersebut tidak menafikan berdoa dengan mengangkat tangan akan tetapi menafikan sifat dan cara tertentu dalam mengangkat tangan pada saat berdoa, artinya mengangkat tangan dalam doa istisqa’ memiliki cara tersendiri mungkin dengan cara mengangkat tangan tinggi-tinggi tidak seperti pada saat doa-doa yang lain yang hanya mengangkat kedua tangan sejajar dengan wajah saja.

Berdoa dengan mengangkat tangan hingga sejajar dengan kedua pundak tidaklah bertentangan dengan hadits di atas sebab beliau pernah berdoa mengangkat tangan hingga kelihatan putih ketiaknya, maka boleh mengangkat tangan dalam berdoa hingga kelihatan ketiaknya, akan tetapi di dalam shalat istisqa dianjurkan lebih dari itu atau mungkin pada shalat istisqa kedua telapak tangan diarahkan ke bumi dan dalam doa selainnya kedua telapak tangan diarahkan ke atas langit.

Imam Al-Mundziri mengatakan bahwa jika seandainya tidak mungkin menyatukan hadits-hadits diatas, maka pendapat yang menyatakan berdoa dengan mengangkat tangan lebih mendekati kebenaran sebab banyak sekali hadits-hadits yang menetapkan mengangkat tangan dalam berdoa, seperti yang telah disebut Imam Al-Mundziri dan Imam An-Nawawi dalam Syarah Muhadzdzab dan Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad. Adapun hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari ‘Amarah bin Ruwaibah bahwa dia melihat Bisyr bin Marwan mengangkat tangan dalam berdoa, lalu mengingkarinya kemudian berkata : “Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lebih dari ini sambil mengisyaratkan jari telunjuknya. Imam At-Thabari meriwayatkan dari sebagian salaf bahwa disunnahkan berdoa dengan mengisyaratkan jari telunjuk. Akan tetapi hadits di atas terjadi pada saat khutbah Jum’at dan bukan berarti hadits tersebut menafikan hadits-hadits yang menganjurkan mengangkat tangan dalam berdoa. [Fathul Bari 11/146-147].

Akan tetapi dalam masalah ini terjadi kekeliruan, sebagian orang ada yang berlebihan dan tidak pernah sama sekali mau meninggalkan mengangkat tangan, dan sebagian yang lainnya tidak pernah sama sekali mengangkat tangan kecuali waktu-waktu khusus saja, serta sebagian yang lain di antara keduanya, artinya mengangkat tangan pada waktu berdoa yang memang dianjurkan dan tidak mengangkat tangan pada waktu berdoa yang tidak ada anjurannya. Imam Al-’Izz bin Abdussalam berkata bahwa tidak dianjurkan mengangkat tangan pada waktu membaca doa iftitah atau doa diantara dua sujud. Tidak ada satu haditspun yang shahih yang membenarkan pendapat tersebut.

Begitupula tidak disunahkan mengangkat tangan tatkala membaca doa tasyahud dan tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan kecuali waktu-waktu yang dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengangkat tangan. [Fatawa Al-Izz bin Abdussalam hal. 47].

Syaikh Bin Baz berkata bahwa dianjurkan berdoa mengangkat tangan karena demikian itu menjadi penyebab terkabulnya doa, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya Tuhan kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, Dia malu kepada hamba-Nya yang mengankat kedua tangannya (meminta-Nya), Dia kembalikan dalam keadaan kosong tidak mendapat apa-apa”. [Hadits Riwayat Abu Dawud].

Dan sanda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya Allah Maha Baik tidak menerima kecuali yang baik dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti memerintahkan kepada para rasul”.

Allah berfirman.

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah”. [Al-Baqarah : 172].

Dan firman Allah : “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Al-Mukminuun : 51]

Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang lusuh mengangkat kedua tangannya ke arah langit berdoa : ‘Ya Rabi, ya Rabbi tetapi makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram serta darah dagingnya tumbuh dari yang haram, bagaimana doanya bisa dikabulkan .?” [Shahih Muslim, kitab Zakat 3/85-86]

Tidak dianjurkan berdoa mengangkat tangan bila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengangkat kedua tangannya pada waktu berdoa seperti berdoa pada waktu sehabis salam dari shalat, membaca doa di antara dua sujud dan membaca doa sebelum salam dari shalat serta pada waktu berdoa dalam khutbah Jum’at dan Idul fitri, tidak pernah ada hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tangan pada waktu waktu tersebut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah panutan kita dalam segala hal, apa yang ditinggalkan dan apa yang dilaksanakan semuanya suatu yang terbaik buat umatnya, akan tetapi jika dalam khutbah Jum’at khatib membaca doa istisqa’, maka dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallah ‘alaihi wa sallam. [Shahih Al-Bukhari, bab Istisqa', bab Jamaah Mengangkat Tangan Bersama Imam 2/21].

Dianjurkan mengangkat tangan dalam berdoa setelah shalat sunnah tetapi lebih baik jangan rutin melakukannya karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak rutin melakukan perbuatan tersebut dan seandainya demikian, maka pasti kita menemukan riwayat dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlebih para sahabat selalu menyampaikan segala tindakan dan ucapan beliau baik dalam keadaan mukim atau safar.

Adapun hadits yang berbunyi :

“Artinya : Shalat adalah ibadah yang membutuhkan khusyu’ dan berserah diri, maka angkatlah kedua tanganmu dan ucapkanlah : Ya Rabbi, ya Rabbi”. [Hadits Dhaif, Fatawa Muhimmmah hal. 47-49].

Dan tidak dianjurkan mengangkat tangan dalam membaca doa thawaf sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkali-kali melakukan thawaf tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa beliau berdoa mengangkat tangan pada saat thawaf.

Sesuatu yang terbaik adalah mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sesuatu yang terburuk adalah mengikuti perbuatan bid’ah.

Cara Mengangkat Tangan Dalam Berdoa.

Ibnu Abbas berpendapat bahwa cara mengangkat tangan dalam berdoa adalah kedua tangan diangkat hingga sejajar dengan kedua pundak, dan beristighfar berisyarat dengan satu jari, adapun ibtihal (istighasah) dengan mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. [Sunan Abu Daud, bab Witir, bab Doa 2/79 No. 14950. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud].

Imam Al-Qasim bin Muhammad berkata bahwa saya melihat Ibnu Umar berdoa di Al-Qashi dengan mengangkat tangannya hingga sejajar dengan kedua pundaknya dan kedua telapak tangannya dihadapkan ke arah wajahnya. [Dishahihkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/147. Dinisbatkan kepada AL-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad tetapi tidak ada].

Ketahuilah Bahwa Doa Istisqa’ Memiliki Dua Cara

Pertama.

Mengangkat kedua tangan dan mengarahkan kedua telapak tangan ke wajah, berdasarkan dari Umair Maula Abi Al-Lahm bahwa dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa istisqa di Ahjari Zait dekat dengan Zaura’ sambil berdiri mengangkat kedua telapak tangannya tidak melebihi di atas kepalanya dan mengarahkan kedua telapak tangan ke arah wajahnya. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Raf'ul Yadain fil Istisqa' 1/303 No. 1168. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud 1/226 No. 1035].

Kedua

Mengangkat tagan tinggi-tinggi dan mengarahkan luar telapak tangan ke arah langit dan dalam telapak tangan ke arah bumi. Dari Anas bahwa beliau melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa saat istisqa dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi dan mengarahkan telapak tangan sebelah dalam ke arah bumi hingga terlihat putih ketiaknya. [Sunan Abu Daud, kitab Shalat bab Raf'ul Yadain fil Istisqa' 1/303 No. 1168. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud 1/226 No. 1035].

[Disalin dari buku Jahalatun nas fid du'a, edisi Indonesia Kesalahan Dalam Berdoa oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih, hal 61-69 terbitan Darul Haq, penerjemah Zaenal Abidin Lc] (Oleh Ismail bin Marsyud bin Ibrahim Ar-Rumaih)

Sunday, September 11, 2011

Do'a Berlindung Dari Kesyirikan



Bismillah...

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أُشْرِكَ بِك وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُك لِمَا لَا أَعْلَمُ

Allaahumma Innii A’udzu bika an Usyrika bika wa Anaa A’lamuhuu wa Astaghfiruka Limaa Laa A’lamu

“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad dan Shahih Abi Hatim serta yang lainnya, shahih)

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ

Allaahumma Innaa Na’uudzu bika min an Nusyrika bika syai anna’lamuhu wa Nastaghfiruka Limaa Laa Na’lamu

“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan kami memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad IV/403 dari Abu Musa al Asy’ari. Dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al Targhib wa al Tarhib I/121-122 no. 36)

Sebab Sebab Penciptaan Serta Rahasia Ujian dan Cobaan


Yang dapat menentukan dan memastikan secara detail tentang penciptaan manusia hanyalah Alloh SWT karena Dialah Sang Pencipta Yang Maha Mengetahui, bukan saja terhadap penciptaan manusia, melainkan setiap penciptaan. Penciptaan unsur paling kecil sekalipun di alam ini, berada dalam pengetahuan Nya yang sangat luas. Dia juga yang berkehendak, menciptakan dan menerangkan kepada kita sebab sebab penciptaan kita dan keberadaan kita. Oleh karena itu, saya tidak berani menjelaskan dan menerangkannya terlebih dahulu. Berikut ini dalah keterangan dan penjelasan mengenai penciptaan.

Pertama, Alloh SWT tidak menciptakan kita dengan main main dan sia sia. Alloh SWT berfirman tentang penciptaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya.

Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan (istri dan anak), tentulah Kami telah melakukannya. (QS Al Anbiya’: 16-17)

Alloh SWT juga berfirman tentang penciptaan manusia :

Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main main saja dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami ? (QS Al Mu’minun: 115)

Kedua, sebagai penguat bahwa penciptaan manusia, langit dan bumi tidak sia sia Alloh SWT menciptakan akhirat dan keberadaannya sebagai balasan, baik bagi orang yang berbuat jahat maupun bagi orang orang yang berbuat baik.

Alloh SWT berfirman :

Dan kepunyaan Alloh lah apa yang ada di langit dan apa yanga ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (QS. An Najm: 31).

Alloh SWT menjadikan iman secara mutlak terhadap akhirat sebagai dasar akidah. Alloh SWT juga bersumpah d dalam kitab Nya bahwa kita akan dibangkitkan, dikembalikan, dihisab.

Alloh SWT berfirman:

Orang orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Tidak demikian, demi Tuhanku, benar benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh. (QS. At Taghabun: 7)

Ketiga, Alloh SWT menciptakan manusia bukanlah untuk dihancurkan, melaikan untuk kekekalan. Kematian hanyalah merupakan suatu periode yang harus dijalani manusia. Dalam ayat al Quran, disebutkan secara jelas bahwa mati hanyalah ciptaan sebagaimana hidup juga ciptaan.

Yang menjadi mati dan hidup… (QS Al Mulk: 2)

Karena mati merupakan ciptaan (makhluk), berarti ia mempunyai ketentuan sebagaimana kehidupan dunia juga mempunyai ketentuan atau ketetapan. Setelah melewati hari kiamat, kehidupan abadi yang sebenarnya dimulai, baik di surga maupun di neraka. Sebagaimana Alloh SWT telah bersumpah atas pengembalian kita, Dia juga menerangkan kepada kita bahwa orang orang kafir dan musyrik akan dimasukan ke dalam neraka jahanam dan mereka kekal di dalamnya. Sedangkan orang orang yang beriman kepada Alloh dan beramal sholeh adalam penghuni surga dan mereka kekal di dalamnya.

Alloh SWT berfirman :

Dan orang orang yang beriman serta beramal sholeh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah: 82)

Sesungguhnya orang orang kafir, yakni ahli kitab dan orang orang musyrik akan masuk neraka jahanam, mereka kekal di dalamnya. Mereaka itu adalah seburuk buruk makhluk. (QS Al Bayyinah: 6)

Dengan kebenaran Ilahi ini, kita telah berada di depan hakikat wujud kita sendiri dan wujud semuanya, yaitu hakikat ujian dan cobaan yang merupakan kaidah dasar tentang wujud.

Alloh SWT berfirman :

Yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Al Mulk: 2)

Dan Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah “Arsy Nya di atas air agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya….(QS Hud: 7)

Dalam ayat lain Alloh SWT juga berfirman :

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS Al Kahfi: 7)

Dengan demikian, keberadaan kita di dunia ini sebenarnya sedang diuji dan diawasi oleh Alloh SWT dalam setiap perbuatan atau amal, dalam gerakan atau diam, baik yang kita rahasiakan maupun kita nyatakan, dan yang kita perlihatkan atau yang kita sembunyikan.

Alloh SWT berfirman:

Sama saja bagi Tuhan, siapa di antara kalian yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapannya itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan menampakkan diri di siang hari. Bagi manusia ada malaikat malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Alloh…(QS Ar Ra’d: 10-11)

Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS Al Mu’min: 19)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS Qaf: 16)

Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaf: 18)

Pada hari itu kamu dihadapkan kepada Tuhanmu, tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi bagi Alloh. (QS Al Haqah: 18)

Padahal sesungguhnya bagi kamu ada malaikat malaikat yang mengawasi pekerjaanmu. Yang mulia di sisi Alloh dan yang mencatat pekerjaan pekerjaan itu. (QS Al Infithar: 10-11)

Tidak ada suatu jiwa pun melainkan ada penjaganya. (QS Ath Thariq: 4)

Berdasarkan kaidah yang jelas mengenai pengawasan yang ketat ini, Alloh SWT juga menerangkan kaidah lain yang merupakan nilai atau hasil dari pengawasan tersebut, yaitu kaidah tentang perhitungan amal yang sangat jeli yang melampaui batas akal dan pengetahuan kita.

Alloh SWT berfirman :

…Dan jika amalan itu hanya seberat biji sawi pun pasti akan Kami mendatangkan pahalanya. Dan cukuplah bagi Kami sebagai Pembuat perhitungan. (QS Al Anbiya’: 47)

…Sesungguhnya jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Alloh akan mendatangkannya (membalasnya)… (QS Luqman: 16)

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya, dan mereka berkata “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan mencatat semuanya dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada tertulis. Dn Tuhanmu tidak menganiaya seorang pun.” (QS Al Kahfi: 49)