Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Friday, September 7, 2018

Umat menghadapi kenaikan harga

pesan Rasulullah Shalalahu Alaihi Wassalam saat umat menghadapi kenaikan harga barang ...

hakikatnya krisis kenaikan harga barang telah berlaku kepada manusia sejak pada zaman Rasulullah dan telah direkam dalam hadist sahih ...

dari Anas bin Malik ra. dia berkata, “Harga barang menjadi mahal pada zaman Nabi SAW, lalu mereka (para sahabat) berkata, ‘Wahai Rasulullah, harga telah menjadi mahal maka tetapkanlah harga untuk kami.’” (Riwayat Abu Dawud)

peristiwa ini berlaku apabila harga barang di pasar di Madinah naik, maka para sahabat bertemu Rasulullah meminta supaya Baginda menetapkan harga supaya orang-orang miskin dapat membeli barang dengan harga yang mereka mampu. Lalu apa jawab Rasulullah? Baginda bersabda:

“Sesungguhnya Allah, Dialah yang menetapkan harga itu, Dialah Allah yang melapangkan, Dialah Allah yang menyempitkan, serta Dialah Allah yang memberikan rezeki. Dan sesungguhnya aku berharap agar aku bertemu Allah SWT dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku di dalam kezaliman terhadap darah mahupun kezaliman terhadap harta.”
(Sahih. Riwayat Abu Daud)

kenaikan harga barang tidak mengubah rezeki seseorang. Nabi menyatakan bahawa Allah-lah yang melapangkan rezeki seseorang hamba dan Dia juga yang menyempitkan rezeki mana-mana hamba yang dikehendakiNya. Ini selaras dengan firman Allah SWT, “Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Ra’d: 26)

“Jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya tentulah mereka melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui hamba-hambaNya lagi Maha Melihat.” (As-Syura: 27)

jadi tidak usah khawatir kerana rezeki setiap manusia pasti dicukupkan dan tidak dikurangkan sedikit pun , kenaikan harga sama sekali tidak mempengaruhi rezeki yang ditetapkan.

Ini seperti mana sabda Nabi SAW, “Wahai manusia, sesungguhnya salah seorang kamu tidak akan mati sehingga dia mendapat seluruh rezekinya secara sempurna. Maka janganlah kamu tidak sabar dalam mendapatkan rezeki. Bertakwalah kepada Allah, wahai manusia! Carilah rezeki secara baik, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.”
Riwayat Al-Hakim, Sahih.

“Ajaibnya urusan orang Mukmin, seluruh urusannya adalah kebaikan dan ini tidak terdapat kecuali pada seorang Mukmin. Jika mendapat kesenangan dia bersyukur dan ini baik baginya, jika ditimpa musibah dia bersabar dan ini juga baik baginya.” (Riwayat Muslim)

jadi hakikatnya krisis kenaikan harga barang bukan fenomena baru, karena sudah berlaku di zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya , oleh karena itu , kita harus sabar dan terus berdoa ke hadrat Allah SWT agar keluarga kita sentiasa dimurahkan rezeki...

insyaAllah ...

Wednesday, July 25, 2018

Ana Khoirum Minhum

Ana Khoirum Minhum
===

Jawaban dari Ustadz Abdul Somad ketika ditanya oleh Aa Gym di Eco Pesantren Darut Tauhid tempo lalu cukup membuatku paham, betapa sulit perjuangan para Dai dalam menyampaikan dakwah.

"Kesulitan apa yang paling Ustadz Abdul Somad rasakan selama berdakwah?"

Ustadz Abdul Somad mengambil mic, "Paling berat adalah menyadarkan umat ini yang sering sekali menghabiskan waktu, pikiran dan tenaga untuk membahas masalah khilafiyah. Tentang qunut atau tidak qunut. Tentang pakai usholli atau tidak saat berniat sholat. Kita sering ribut di wilayah itu terus. Berabad-abad kita mengurusi hal itu, bahkan jamaah ustadz satu mengolok-olok jamaah ustadz lain, sampai lupa orang di luar kita sudah melaju cepat, menguasai seluruh aspek kehidupan dunia. Mulai dari politik, ekonomi. Umat islam tertinggal jauh."

"Lalu apa solusinya, Tadz?"

"Untuk menjinakkan buaya, maka para pawang harus berkumpul."

Aa Gym nampak bingung, "Maksudnya gimana, Tadz? Kok pakai ada buaya sama pawang segala?"

Ucapan itu disambut gelak tawa jamaah.

"Begini, itu hanya perumpamaan. Buaya ibarat jamaah, sedangkan Ustadz adalah pawangnya. Jika ingin jamaah akur satu sama lain, maka para asatidz harus kumpul. Bisa buat kajian bareng satu panggung. Memperlihatkan pada masyarakat bahwa mereka tak ada masalah antara satu dengan yang lain. Dengan begitu jamaah akan melihat, oh itu ustadz kita aja kumpul. Kenapa kita jamaahnya pada ribut?"

Aa Gym mengangguk. Tanda paham.

***

Miris melihat jamaah di sosmed begitu kasar terhadap Ustadz yang dianggap tidak sejalan dengan golongannya. Padahal Allah-lah nya sama, Nabinya sama, syahadatnya sama, tapi tak segan mereka akan menuduh, "Ustadz Ahli Syubhat."

Padahal Ustadz yang diolok-olok, merupakan lulusan Al-Azhar Kairo, mendapat beasiswa master di Maroko untuk bidang studi ilmu hadits.

Sedangkan aku yakin, para pengolok ini, sekolah agama pun cuma ala kadar. Metode dakwah juga tidak pernah belajar. Hanya berbekal nonton video ceramah di Youtube. Langsung merasa paling 'sunnah'. Celakanya, di saat yang sama mereka menyebut muslimin di luar jamaahnya dengan sebutan "Ahlus Syubhat."

Bahkan, andaikan ada orang yang mengikuti kajian 'Ustadz Sunnah', namun juga masih berguru kepada Ustadz di luar golongannya, mereka tak ragu-ragu menjuluki, "Orang bermanhaj lalat. Suka nemplok-nemplok."

Apakah seperti ini ulama salaf mengajarkan sopan santun? Hey, mereka yang kalian olok-olok itu masih muslim, loh. Bukankah muslim dengan muslim yang lain adalah saudara?

Hebatnya, orang-orang ini juga tak canggung mencibir ustadz, karena cara penyampaian tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

Mereka tidak tahu, betapa Ustadz Abdul Somad harus menyiapkan materi-materi lucu sebagai selipan kajian agar pendengar tidak merasa jenuh.

Mungkin mereka juga takkan mau mengerti, betapa Ustadz Hannan Attaki harus belajar memahami karakter anak-anak muda, mengamati kebiasaan-kebiasaan pemuda zaman now, lalu menyesuaikan tema dan cara tutur agar dakwah dapat diterima.

Atau Ustadz Adi Hidayat yang berkali-kali berpesan, agar kita berhenti mencari perbedaan, dan fokus pada persamaan. Agar umat ini bersatu. Agar tak ada lagi saling olok sesama muslim. Mau sampai kapan? Mau sampai kapan kita tercerai berai menyikapi perbedaan mazhab? Padahal para pendiri madzhab itu pun saling menghormati, saling memuliakan.

Para asatidz melakukan itu supaya siraman hidayah bisa tercurah bagi semua orang. Bukan cuma untuk beberapa kalangan. Sukses dunia bersama, masuk surga bareng-bareng.

Jadi mengapa kita harus membatasi diri dari ilmu? Silakan ambil ilmu dari Ustadz Firanda, atau Ustadz Abdul Somad, atau Ustadz Hannan Attaki, atau Ustadz Adi Hidayat, atau Ustadz Khalid Basalamah, atau Ustadz Felix Siauw, dan lain-lain. Kita bisa ambil isi ceramah yang baik, dan mengabaikan yang buruk, tanpa perlu menghina Ustadz tersebut. Sebab mereka juga manusia. Lidah mereka bisa terpeleset. Walaupun begitu, jangan sampai satu kesalahan menutup jutaan sumbangsih mereka terhadap dakwah ini.

Akan aku akhiri tulisan ini dengan mengutip nasehat dari Ustadz Salim A. Fillah,

"Mungkin kita bisa berhenti sejenak dari kesibukan, lalu bertanya pada diri masing-masing, apakah setelah mengaji kita mulai merasa, "Ana Khoirum Minhum", "Aku lebih baik darimu". Jika iya, maka atur ulang niat mengaji Anda. Pasti ada yang salah pada niat itu. Sebab kata-kata "Ana Khoirum Minhum" adalah ucapan yang membuat Iblis terusir dari Surga. Namun berbahagialah bagi Anda yang setelah mengaji, kemudian membuat Anda tersungkur sambil berucap, "Robbana dzolamna anfusaha wa illam taghfirlana watarhamna lanakunanna minal khosirin". "Ya Allah, selama ini ternyata kami dzolim pada diri sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan menyayangi kami, pasti kami akan jadi orang yang merugi." Berbahagialah, karena doa itu adalah sebuah kesadaran yang membuat Nabi Adam mendapatkan kembali kenikmatan yang sebelumnya dicabut oleh Allah di Surga."

Semoga kita mau merenungi nasehat ini...

***

Malang, 22 Juli 2018
Fitrah Ilhami

Perempuan

_*perempuan*_

saat kecil
ia membuka pintu surga untuk ayahnya..

saat dewasa
ia menyempurnakan agama untuk suaminya

saat menjadi _ibu,_
ia menjadi penggerak semua doa

oleh karena itu
ia dimuliakan Allah dengan menempatkan surga ditelapak kakinya

ketika seorang _perempuan_ sudah menjadi _IBU,_
maka _ALLAH_ akan menganugerahkan kepadanya satu senjata yang sangat ampuh di muka bumi ..

_"Tahukah apa itu?"_

Itu adalah _Lisannya.._

_Lisannya_ akan menjadi _Berat timbangannya_..

_Lisannya_ akan menjadi _pembuka pintu-pintu langit_..

Ucapannya akan _diijabah.._
_doanya akan melesat tanpa penghalang_..

doa _ibu_ akan mampu menjadi _penghancur kesulitan bagi anak keturunannya_..

Dan _mengeluhnya_ seorang ibu akan menjadi _pemberat langkah setiap anggota keluarganya,_ termasuk bagi _suaminya_..

Maka _pantang_ bagi seorang ibu untuk _mengeluh,_
karena keluhannya pun akan menjadi kenyataan,
_sebagaimana harapan dan doanya_ pun akan menjadi kenyataan..

ucapan buruknya akan menjadi kendala bagi _dirinya dan keluarganya_

_Lisan_ seorang ibu layaknya _mukjizat para nabi.._
atau _Karomah para kyai_..

Maka berhati-hatilah
wahai para ibu
ketika Anda menggunakan
_senjata terampuh ini_..

gunakan untuk bermunajat meminta kepada _ALLAH_ agar suamimu dimudahkan dalam _mencari nafkah_..

Jangan mengeluhkan tentang dirinya.

Itu justru akan _semakin memberatkan_..

Gunakan untuk bermunajat meminta kemudahan dan _Kesalehan  atas   anak-anakmu_
jangan mengeluhkannya.

Karena itu akan menjadi benar adanya..

*Subhanallah*

Tuesday, July 24, 2018

Perbedaan pendapat

Subhaanallaah...
indahnya 😍😍😍

*_"Guru Dan Murid Tertawa Karena Beda Pendapat" ttg REZEKI_*
.
Imam Malik ( guru Imam Syafii ) dalam majlis menyampaikan :

*Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan meberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya.*
.
Sementara Imam Syafii ( sang murid berpendapat lain) :

*Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki.*

*_Guru dan murid bersikukuh pada pada pendapatnya._*
.
Suatu saat tengah meninggalkan pondok, Imam Syafii melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Diapun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafii memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

*Imam Syafii girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi pemberian itu telah menguatkan pendapatnya. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki. Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.*
.
Bergegas dia menjumpai Imam Malik sang guru. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita. . Imam Syafii sedikit mengeraskan bagian kalimat  *“seandainya saya tidak keluar pondok dan melakukan sesuatu (membantu memanen), tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”*
.
Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan.
*“Sehari ini aku memang tidak keluar pondok...hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur.* ......Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. *Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”*
.
Guru dan murid itu kemudian tertawa. Dua Imam madzab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.
Begitulah cara Ulama bila melihat perbedaan, bukan dengan cara menyalahkan orang lain dan hanya membenarkan pendapatnya saja..

Semoga dapat menjadi pelajaran buat kita semua..Aamiin..

Friday, July 6, 2018

Komentarmu menentukan nasibmu

#selfreminder 🙏🏻

*KOMENTAR MU MENENTUKAN NASIB MU, bukan nasib orang yang kamu komentari.*

Ubahlah cara berpikirmu maka Nasibmu akan segera berubah.

******
Seorang murid bertanya pada gurunya;

"Guru kenapa ya hidup ini selalu banyak masalah?"

Guru:  "Bukan hidup yang banyak masalah tapi pikiranmulah yang bermasalah...?" 

"Kamu selalu berprasangka buruk pada apa saja dan siapa saja, itulah sebenarnya masalahnya"

Murid: "Tapi faktanya aku selalu mendapat masalah dalam hidupku"

Guru:  " Ya itu karena pikiranmu bermasalah",  Setiap kejadian dalam hidup itu netral pikiran kamulah yang menilai itu "bermasalah" atau "menguntungkan".

Murid : "Maksudnya?"

Guru :  "Misalnya apakah Hujan itu bermasalah atau malah menguntungkan".

Murid : "Bagiku bermasalah, karena kalau aku naik motor dan lupa bawa jas hujan pasti basah kuyup"

Guru :  "Lantas kalau hujan bagi tukang Baso dan Tukang Payung apakah itu bermasalah?"

Murid : " Tentu saja tidak", bagi mereka malah menguntungkan.

Guru :  "yang jadi masalah Hujannya atau orangnya...?

Ingatlah selalu

Ketika kita selalu berprasangka baik/Husnudzon maka hal-hal baiklah yang akan kita jumpai di sepanjang waktu kehidupan kita.

dan ketika kita selalu berprasangka buruk/Suudzon maka hal-hal buruklah yang akan selalu kita jumpai setiap hari.

Jadi jangan mengeluh jika kita termasuk orang-orang yang selalu merasakan pengalaman yang negatif dan tidak menyenangkan di sepanjang hidup kita.

Karena kita dan pikiran kita sendirilah penyebabnya.

Bisa jadi ketika kamu membaca tulisan ini sebenarnya Tuhan sedang mencoba membantu kamu untuk memperbaiki cara berpikirmu, agar hidupmu tidak selalu dirundung masalah.

Jadi mari kita ubah cara berpikir kita saat ini juga agar kita tidak lagi menjumpai pengalaman negatif dan tidak menyenangkan. 

Nah sekarang mari kita cek cara berpikir  kita masing2 yang tercermin dari komentar-komentar kita setiap hari :

1.  Melihat rekan kerjanya naik jabatan
*Orang postif :*
Saya akan belajar dari dia.
*Orang negatif:*
Pasti dia  pinter banget cari muka

2.  Melihat orang pergi Haji
*Orang positif :?*
Ya Allah semoga kelak aku bisa seperti dia
*Orang negatif:*
Hajinya paling cuma buat pamer-pamer doang.

3. Membaca status di WA/FA
*Orang Positif :* terimakasih untuk infonya izin share ya
*Orang negatif:*
ah infonya basi saya sudah pernah baca kok

4. Membaca status humor di WA/FB
*Orang positif:* terimakasih telah bisa membuat saya tersenyum pagi ini
*Orang negatif:* Garing ! gak lucu !

5.  Turun Hujan
*Orang Positif :* Alhamdullilah udaranya jadi sejuk
*Orang Negatif :*
Ah kalo pas lagi perlu terang malah hujan, Dasar Sial !!

6.  Dapat Gaji
*Orang positif :*  Alhamdullilah bisa buat bayar-bayar kebutuhan
*Orang Negatif:* Percuma gajian juga gak cukup buat bayar2 kebutuhan

7.  Punya Suami baik
*Orang Positif :* Alhamdullilah meskipun gajinya tidak besar tapi suamiku baik dan penuh perhatian.
*Orang negatif :* Percuma punya suami baik, kalo gak bisa cukupin kebutuhan rumah tangga.

8. Melihat orang berpakaian Sederhana
*Orang positif :*
duh dia orang yang sederhana sekali ya meskipun pejabat.
*Orang Negatif:* Pejabat Tinggi  tapi penampilannya kok kampungan gitu sih.

9. Punya Motor
*Orang Negatif :*
Begini neh kalo naek motor,  kalo pas ujan basah kuyup gak kayak orang yang punya mobil.

*Orang Positif:* Alhamdullilah punya motor, enaknya naik motor itu kalo pas panas gak kehujanan dan kalo pas hujan gak kepanasan.

10. Membaca postingan ini
*Orang Positif:* Terimakasih sudah diingatkan, mohon izin sharing ya biar manfaat bagi yang lain.

*Orang Negatif:* 
"Gak mau baca" karena dianggap menyindir dan menyinggung atau terlalu kasar.

Tipe yang manakah kita....? 
akan menentukan nasib kita.

*Mau ubah nasib ?*
*Segera ubah cara berpikir kita dan komentar kita setiap hari.*

di tulis dari pengalaman pribadi setiap hari bertemu dengan orang-orang berpikir positif dan negatif.

*Dari Sahabat*

Thursday, June 28, 2018

Ruh

*RUH*

Sahabat...
Suatu saat seorang Ulama menerangkan tentang hakikat kehidupan kepada para santrinya...
Bahwa segala sesuatu itu *hidup* karena ada *ruh* jika tidak ada ruhnya, misal manusia maka dikatakan mati sekalipun jasadnya lengkap...

Matanya, telinganya, mulutnya, tangan, kaki, jantung, otak dst... masih ada... tapi sdh tdk bisa melihat, mendengar, bicara, bergerak, berdetak, berpikir dst.
Maka manusia tsb dikatakan sdh mati, tubuhnya sdh tidak lagi dikatakan badan tapi jenazah atau mayat.

_Segala sesuatu atau *jasad* jika *masih ada ruh-nya* maka dikatakan *hidup*_
_Segala sesuatu atau *jasad* jika *tidak ada ruh-nya* maka dikatakan *mati*_

Begitu juga kehidupan ini...
Ada jasad ada ruh...

*Dunia ini jasad... Ruhnya adalah Dienul Islam (Agama)*
Hidup di alam dunia tanpa Amal Agama, maka sama saja dengan mati alias zombie 😊

*Agama ini jasad... Ruhnya adalah Dakwah*
Dakwah adalah _tulang punggung agama_... tidak _tegak_ Agama tanpa dakwah... Sebagaimana tidak tegak tubuh ini tanpa tulang punggung.
Ciri orang hidup itu _bergerak_ maka dakwah inilah yg _menggerakkan_ Agama ini di muka bumi.

*Dakwah itu jasad... Ruhnya adalah Silaturahmi*
Tidak akan hidup dakwah tanpa silaturahmi, tanpa saling bertemu di mesjid2, di rumah2, dimanapun... tanpa pembicaraan & akhlaq mulia...
Karena kita bisa enak kenal Allah & RasulNya, syahadat, Shalat, shaum dan Ibadah lainnya...karena ada orang2 terdahulu yg memperkenalkannya.
Agama ini tidak datang dibawa angin, air atau udara... Tapi asbab *pengorbanan* Rasulullah SAW & Para Sahabat RA serta orang2 yg mengikutinya dari masa ke masa Kerja dakwah sampaikan Agama ini ke seluruh Alam.

*Silaturahmi itu jasad... Ruhnya adalah Ikhlas*
Siapapun kita datangi tanpa pilih2...
Sebagaimana Rasulullah SAW contohkan...
Abu Bakar RA didatangi dan diajak kpd Allah...
Abu Lahab pun didatangi dan diajak kpd Allah...
Rakyat jelata didatangi, begitupun Raja/Tokoh/Bangsawan...
Laki2/Perempuan, Tua/Muda, Kaya/Miskin, Orang yg menyenangkan/tidak menyenangkan, Satu suku, bangsa atau beda suku atau bangsa... semua didatangi utk diajak beriman kpd Allah & RasulNya.
Dan semua itu dilakukan dgn Ikhlas... tidak melihat siapa yg didatangi...tapi semata2 krn Perintah Allah.

*Ikhlas itu jasad... Ruhnya adalah Sunnah Rasulullah SAW*
Amalan ikhlas dilakukan berdasarkan Sunnah (contoh) Rasulullah SAW & Para Sahabat RA dan arahan Para Ulama selaku warisatul Anbiyya (Pewaris Nabi).

Maka jika ingin "HIDUP"
Hiduplah dalam *Dienul Islam atau Amal Agama yg Sempurna*
Jangan sholeh sendirian, *Dakwahlah/Ajaklah* Keluarga, Tetangga dan sebanyak2nya orang lain kpd Allah & RasulNya
Hidupkan *Silaturahmi*, makmurkan mesjid2, peduli kpd Tetangga, jadilah Ahli Sedekah, berjamaah lah ... Ber silaturahmi lah sd Semesta Alam bukan hanya Semesta Bandung, Jabar, Indo, Arab... tapi Semesta Alam....

*Ikhlas* lah dalam setiap Amal Agama.
Jangan beramal karena pertimbangannya *Makhluk* tapi beramal sholeh lah karena pertimbangannya utk gapai *RidhoNya*

Kita baik sama orang lain bukan krn orang tsb baik ama kita... Tapi kita baik sama orang lain karena kita diperintahkan oleh Allah utk baik kpd orang lain. Titik!
Perkara orang yes membalas kebaikan kita atau tidak, atau bahkn dzolimin sekalipun... itu urusan ybs dgn Allah bukan lagi urusan kita 😊

Amalkan *Sunnah Rasulullah SAW*
Kita tiru habis2an Rasulullah SAW & Para Sahabat RA, Kita belajar & minta bimbingan Para Ulama selaku pewaris Nabi SAW sbg orang yg paham ilmu agama ini shg kita Sempurnakan terus menerus amal Agama ini untuk memancing Ridho Allah Ta'ala dan smoga kita smua beroleh Ridho Allah Ta'ala.... Aamiin

Tuesday, June 26, 2018

Penguasa/Raja adalah cerminan dari rakyatnya

*PENGUASA/RAJA ADALAH CERMINAN DARI RAKYATNYA*

Karena _Allah Ta'ala akan beri *Pemimpin Sholeh* jika *Rakyatnya Sholeh*._
Sebaliknya...
Allah Ta'ala akan _beri *Pemimpin Dzalim* jika *Rakyatnya Dzalim*_

Pemimpin adalah *produk* dari *rakyatnya*
Pemilu bagi Da'i adalah sepanjang hayat bahkan diteruskan smp akhir zaman dari generasi ke generasi... mengajak Ummat kepada Allah & RasulNya.

Allah ta’ala berfirman:

“وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ”

_“Dan kami jadikan sebagian orang zalim itu pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan kezaliman dan maksiat yang mereka kerjakan”_
(Al An’am:129)

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah ketika menjelaskan ayat ini

“Perhatikanlah hikmah Allah Ta’ala yang menjadikan pemimpin, penguasa dan raja segenap hamba-Nya berdasarkan jenis amal yang mereka kerjakan. Bahkan seolah-olah *penguasa adalah CERMINAN dari perbuatan rakyatnya.*

Jika umat istiqomah berjalan diatas kebenaran maka demikian pula penguasanya. Jika masyarakat berlaku adil, maka yang memimpin mereka pun insan yang adil. Bila tipu daya dan makar tersebar dan dipraktekkan secara luas oleh rakyat, maka rajanya pun demikian -gemar menipu rakyatnya-.

Bila rakyat TIDAK menunaikan hak-hak Allah, bakhil dalam mengeluarkan zakat dan ENGGAN menunaikan kewajibannya sebagai hamba…. Maka pemimpin yang menguasai mereka akan berlaku demikian terhadap mereka. Tidak mau menjalankan kewajibannya sebagai pemimpin dan enggan menunaikan hak-hak rakyat.

Andai rakyat mempraktekan hukum rimba. Dimana yang lemah diantara mereka diambil haknya secara paksa oleh yang kuat. Maka penguasa yang memimpin mereka akan berlaku serupa. Yakni mengambil harta rakyat secara zalim. Semakin keji pemeras menguras harta yang lemah. Semakin besar tekanan dan paksaan penguasa dalam rangka mengambil kekayaan rakyatnya tanpa alasan yang benar

Ketika kondisi umat bercampur. Ada diantara mereka yang zalim, dan sebagian yang lain adalah orang baik. Maka pemimpin yang menguasai mereka pun bergilir -terkadang orang saleh, dilain waktu orang fasik.

Pemimpin kita itu SESUAI dengan kondisi kita. Dan penguasa orang-orang sebelum kita -para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in- sesuai dengan keadaan mereka (saleh, adil, tidak suka menipu sesama, tidak gemar bermaksiat, ed).

Sekian penuturan Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah

oOo

Bila kita berharap dikuasai oleh orang-orang saleh, adil dan jujur. Maka PERBAIKI KONDISI KITA agar menjadi RAKYAT yang SHOLEH, tidak gemar menipu dan berdusta kepada sesama dan tidak MENZALIMI orang lain.

Pemimpin BERIMAN lahir dari Rakyat yg BERIMAN, maka jangan BERMIMPI lahir pemimpin yg baik kalo rakyatnya tdk baik juga.
Jadi kritiklah diri kita habis2an supaya segera bertobat dan koreksi diri, lalu hidupkan DAKWAH yaitu saling ajak utk sama2 tobat & islah diri… saling ASAH, ASIH, ASUH…dalam kebaikan…

Save your ENERGY… utk memperbaiki diri dan ummat/rakyat, jangan kau sia2kan energi mu utk berkeluh-kesah, menghujat sana-sini…apalagi meng-kafir-kan orang/kelompok lain, karena menjaga martabat/kehormatan sesama Muslim adalah Keutamaan.

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: _"Apabila seorang laki-laki mengkafirkan saudaranya, maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dengan membawa kekufuran tersebut."_

Jadi jika ada orang yg menganggap kafir sesama saudara muslimnya...dan ternyata yg dituduh kafir tsb, *di mata Allah tidak kafir* maka SI penuduh tsb lah yg menjadi kafir akibat dari tuduhan yg dibuatnya. Na'udzubillah

(HR. Muslim: 91) - http://hadits.in/muslim/91

Para pemimpin zolim adalah CERMINAN kita rakyat yg banyak melakukan kezaliman…yang sudah lama tinggalkan DAKWAH…,sudah lama tinggalkan saling ajak mengajak dalam kebaikan, sudah lama tinggalkan SILATURRAHIM…tinggalkan MESJID sbg jantungnya ummat, tinggalkan SEDEKAH, tinggalkan PERSAUDARAAN sesama muslim, tinggalkan AKHLAQ mulia…, tinggalkan Islam sebagai Rahmat bagi Semesta Alam yg menyebarkan Kasih Sayang krn Allah & RasulNya kpd seluruh alam…, bukan hanya kpd sesama muslim…tapi kepada seluruh alam dan isinya… menebarkan kedamaian, keadilan, dan teladan yg luhur & mulia…

Bahkan sembarang menuduh, berprasangka, walaupun bukan masalah kafir/laknat/munafik juga masalah besar.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ  اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا   ۗ  اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ   ۗ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ   ۗ  اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 12)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Saturday, June 23, 2018

Malu

*MALU*

Sahabat...
Malu adalah salah satu ciri keimanan.
Adalah Ustman Bin Affan R.A yg terkenal dengan sifat malunya sehingga Para Malaikat yg mulia pun malu padanya... bahkan Iblis laknatullah pun ... malu utk menggodanya.

Orang beriman akan malu pada Allah Ta'ala... karena merasa bersyukur mendapat Kasih SayangNya yg Sempurna, slalu dicukupi rejekinya, diberi curahan nikmat dari segala penjuru...

Sehingga *malu jika tidak TAAT pada Allah Ta'ala*, malu kalo ngga nurut ama Perintahnya sangat malu jika sampai maksiat.

_Malu kalo ngga yakin sempurna PadaNya_ sementara pembuktian KekuasaanNya & KebenaranNya tak henti2 diperlihatkan & dibuktikan.

Malu _ngga shalat_ padahal shalat ada pertemuan Hamba dgn Tuhannya, shalat utk kebaikan kita sendiri dlm rangka mencegah perbuatan  keji & mungkar, shalat menyelesaikan sgala permasalahan kita, shalat adalah tiang agama... tegakah kita meruntuhkan agama yg mulia ini dgn merobohkan tiangnya yaitu shalat?

_Malu masih mau memilih yg haram sementara Allah sediakan banyak pilihan yg halal._

Malu kalo _susah maafin kesalahan orang lain..._ sementara *Allah Maha Pemaaf Pengampun* dan _mencintai HambaNya yg bertobat sungguh2 sekalipun dosa2nya sebanyak buih2 ombak di lautan._

_Malu meminta2 dan berharap kpd makhluk padahal Allah Maha Kaya, Maha Pemberi, Pengasih & Penyayang dan Allab senang dipinta dan janjinNya pasti._

Malu kalo _takut kepada selain Allah_ padahal Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa yg menciptakan segala yg ada... menghidupkan sgala yg hidup, menggerakkan sgala yg bergerak, mematikan sgala yg mati, menghidupkan kembali sgala yg dihidupkan kembali.

Malu jika akhlaq buruk karena agama ini _mengajarkan sgala kebenaran, kebaikan & keindahan, memberi petunjuk selamat alam dunia yg sekejap ini dan akhirat yg abadi.

Malu jika ngga dakwah, ngga mau berbagi kebaikan sementara kita merasakan lezatnya iman & amal sholeh, paham jalan selamat dunia akhirat...

Malu pada Rasulullah SAW, pada Para Sahabat RA dan orang2 yg mengikutinga yg mana mereka mengorbankan segalanya demi menyelamatkan sebanyak2nya ummatnya sd akhir zaman.

Malu kalo lebih senang meminta daripada memberi krn tangan di atas lebih mulia daripada tangan di atas.

Malu kalo mengeluh, ngga bersyukur padahal setiap detik umur kita tdk akan pernah cukup utk bersyukur atas sgala nikmatNya jika kita menyadarinya.

Malu kalo ngga sabar krn Allah menguji sesuai kapasitas kita, ngga mungkin salah dosis, dan ada hikmah dibalik setiap keadaan & kejadian.

Malu jika kita pandai lihat keburukan orang lain tapi bodoh lihat keburukan diri.

Malu jika tidak bertobat karena sadar diri penuh dosa & khilaf.

Malu lah pada Allah & RasulNya sampai akhirnya Allah pun malu untuk hisab diri kita

Monday, May 28, 2018

Lapar n Nafsu

Puasa melatih kita utk membedakan mana lapar &  mana nafsu.

Nafsu itu semua dibeli buat buka.. akhirnya banyak sisa ngga kemakan...

Lapar itu.. selesai pake teh manis & bala2... :)

Jadi selama ini yg kita beri makan itu... lapar atau hawa nafsu kita?

Puasa mengajarkan kita tentang cukup... karena kalo lebih batas

Ternyata malah hawa nafsu yg kita beri makan sehingga
menjadi semakin kuat

Wednesday, May 16, 2018

Ramadhan

*RAMADHAN*

Assalamualaikum Wr Wb
Sahabat...

Puasa Ramadhan sebentar lagi akan kita jalani.
Sudah seberapa jauh persiapan kita menyambut bulan suci? Sudahkah memaknai puasa sebagai sebetul-betulnya ibadah, bukan sekadar menahan lapar belaka?

Ibadah puasa ramadhan adalah jalan menuju ilmu *“makan sejati”*
Puasa membantu kita *memberi jarak antara makan dengan nafsu*.
Puasa pula yang akan membuat kita mengerti bahwa ilmu makan sebetulnya hanya perlu dipenuhi oleh sesuatu yang dapat meredakan lapar. Tidak kurang dan tidak lebih hanya itu saja.

Kita pasti pernah dengar ungkapan *“makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”.*
Ilmu ini datang dari baginda Rasulullah SAW dan diketahui oleh kita semua sebagai umatnya sebagai ilmu makan yang turun-menurun.

Ketika berpuasa kita menahan lapar setelah sahur dan sangat menantikan waktu berbuka puasa tiba. Sepanjang puasa itu, kita membayangkan banyak makanan untuk berbuka di magrib, nanti. Nasi goreng, mi goreng, soto, ayam penyet, bakso, sate, semua terasa menggiurkan untuk disantap. Padahal ternyata, ketika sampai di rumah untuk berbuka, teh manis saja terasa sudah lebih dari cukup, bukan?

Pertanyaannya adalah mengapa di hari lain yang tanpa puasa, sarapan apa pun selain nasi membuat kita seakan belum makan apa-apa? Sebetulnya apa yang kita beri makan selama ini: *perut atau nafsu?*

Jika pertanyaannya seperti itu, sebenarnya jawabannya pun sederhana.
Kita hanya perlu memahami ilmu “makan sejati” yang sederhana ini: “makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang”.
Jika kita cermat memahami makan sebagai pemenuh kebutuhan perut, maka makanan apa pun harusnya terasa cukup. Jika es teh manis cukup, mengapa memaksakan harus ada nasi padang sebagai dalih pelengkap?

Disadari atau tidak, selama ini, _kita lebih sering menuruti nafsu alih-alih memenuhi kebutuhan._
Kita dituntut oleh berbagai hal di luar diri yang mengharuskan kita untuk mencapai “lebih” dan bukan sekadar “cukup”.
Ketika makan siang dengan client, misalnya, kita punya budaya “malu” pasti enggan mengajak makan siang di warung tenda pinggir jalan dan lebih memilih makan di restoran.

“Alangkah sedih menyaksikan betapa dunia ini diisi oleh banyak manusia yang tak henti-hentinya makan, padahal ia tak lapar, serta oleh banyak manusia yang tidak habis-habisnya makan padahal ia sudah amat kekenyangan.”

Maka marilah di momentum Ramadhan ini, jadikan ibadah puasa sebagai tempat berlatih untuk mencapai ilmu “makan sejati”.

Menjadikan bulan ramadan sebagai tempat untuk *menguji keberhasilan kita untuk selalu merasa “cukup” dan tidak menuntut “lebih”.*

PUASA itu melatih “tidak” karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan “ya”. Sekurang-kurangnya mengendalikan “ya”. Mental manusia lebih berpihak pada “melampiaskan” dibanding “mengendalikan”.

Padahal, keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan, tata kelola manajemen, kepengurusan negara dan kemasyarakatan lebih mengacu pada *pengendalian* daripada *pelampiasan*.

Bahkan idiom “kemerdekaan” kita selama ini sedemikian tidak terkontrol sehingga identik dengan “pelampiasan”. Maka Ramadhan menjadi sangat penting untuk melatih “tidak” itu.

_Matahari berdzikir, angin bertasbih dan pepohonan memuji keagungan-Mu._
_Semua menyambut datangnya malam Seribu Bulan._
_Selamat datang Ramadhan, Selamat beribadah puasa._
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Hukum meminta maaf sebelum Romadhon

*Hukum minta maaf sebelum Ramadhan*

Ketika Rosululloh sedang berkhotbah pada suatu Sholat Jum'at (dalam bulan Sya'ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasulullah mengatakan amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan amin.

Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasulullah berkata Aamin sampai tiga kali.

Ketika selesai sholat Jum'at para sahabat bertanya kepada Rosululloh, kemudian menjelaskan: "ketika aku sedang berkhotbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasulullah
amin-kan doaku ini", jawab Rasulullah.

Do'a Malaikat Jibril adalah sbb: Yaa Alloh tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

- Tidak memohon ma'af terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

- Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami isteri;

- Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasulullahpun amin sebanyak 3 kali.

(Hadis shahih diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ahmad, dan Al Baihaqi dari sahabat Abu Hurairah ra)

Dari lubuk hati yang paling dalam, memohon maaf untuk...

lisan yg tidak berkenan...
janji yg terabaikan..
.hati yg berprasangka buruk..
sikap yg menyakitkan...

Mohon maaf atas semua kekhilafan  🙏🙏🙏

*Alllhumma baariklanaa fii Rojaba wa Sya'bana wa ballighnaa Romadhoona waghfirlanaa dzunuubanaa...*

Aamiin yaa Robbal Alaamiin.
*1 Sha'ban 1439*

Istana Sang Pemaaf

*ISTANANYA SANG PEMAAF...*

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya...
Di tengah perbincangan dengan para sahabat, tiba-tiba Rasulullah SAW tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya.

Umar r.a. yang berada di situ, bertanya :
" apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah ?"

Rasulullah SAW menjawab :
" Aku diberitahu Malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah SWT."

"Salah seorang mengadu kepada Allah sambil berkata :

‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku."

Allah SWT berfirman :
"Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikitpun..?"

Orang itu berkata,:
" Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya"

Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca.
Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya.

*Beliau menangis...*

Lalu, beliau Rasulullah berkata,:
*_"Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosa nya."_*

Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya.

Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi :

*" Sekarang angkat kepalamu.."*

Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata :

" _Ya Rabb, aku melihat di depan ku *ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan puri dan singgasananya yang terbuat dari emas & perak bertatahkan intan berlian*..! "_

" _Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb?"_

_" Untuk orang shiddiq yang mana, ya Rabb?

_"Untuk Syuhada yang mana, ya Rabb?"_

Allah SWT berfirman :
*_" Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya."_*

Orang itu berkata,:

*_"Siapakah yang  mampu membayar harganya, ya Rabb?"_*

Allah berfirman :

*"Engkaupun mampu membayar harganya."*

Orang itu terheran-heran, sambil berkata,:

*_" Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?"_*

Allah berfirman,:

_*‘CARAnya, engkau MAAFkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.*_

Orang itu berkata,:

*_"Ya Rabb, kini aku memaafkannya."_*

Allah berfirman :

_*'Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu..."*_

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah Saw. berkata,:

*_"Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian SALING BERDAMAI dan MEMAAFkan, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin."_*

*(Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih.)*

oOo

*Saudaraku tercinta...*
Amalan hati yang nilainya tinggi di hadapan Allah adalah *meminta maaf, memberi maaf, dan saling memaafkan...*

*"Maafkan diriku, keluargaku ya sahabat2ku dan saudaraku sekiranya pernah menyakitimu. Semoga kita bersama-sama masuk syurga..."*

*salam persaudaraan*
آمِيّنْ  آمِيّنْ  آمِيّنْ  يَا رَبَّ العَـــالَمِيْن.....

_Mohon maaf lahir bathin_
_Selamat menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan_

Thursday, May 10, 2018

Iktiar Vs Hasil

*IKHTIAR VS HASIL*

Assalamu'alaikum Wr Wb
Sahabat...

Allah Ta'ala telah menetapkan segala sesuatu yang terjadi 50.000 tahun sebelum Alam Semesta ini diciptakan.

Allah tetapkan takdir yg tidak bisa ditolak, seperti kita ditakdirkan lahir dari Ibu & Bapak kita, di suatu negeri, dengan wajah & jasad seperti ini tanpa bisa menolak & memilih. 

Allah tetapkan umur kita di Alam dunia ini, sesuai dengan jatah rejekinya. Jika orang tsb mati, berarti memang jatah/qouta rejekinya sudah habis.  Orang tsb masih hidup karena memang jatah/quota rejekinya belum habis.

Allah juga tetapkan nasib yang mana kita diberi ruang untuk usaha & mengubahnya, singkat kata...nasib adalah takdir yang Allah tetapkan dengan mempertimbangkan usaha yang kita lakukan.
Allah tidak mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mengubahnya.

Jadi ikhtiar adalah sarana _amal sekaligus ujian_ juga bagi kita. Karena ikhtiar adalah Perintah Allah tapi hasil dari yg kita usahakan...itu Allah yg tetapkan.
Ujiannya adalah bagaimana kita _yakin tetap lurus kepada Allah bukan kepada Ikhtiar yg kita lakukan._

Yang menyembuhkan kita itu Allah bukan _dokter & obat._
Tapi kita berobat bertemu dokter dan minum obat adalah _ikhtiar yg merupakan Perintah Allah_ jua.

Yang beri rejeki itu Allah, bukan kantor, ladang, Toko, bisinis kita.
Tapi usaha menjemput rejeki dgn bekerja, dagang dst... itu juga Perintah Allah.

_Meninggalkan Ikhtiar itu Haram_
_Yakin kepada Ikhtiar itu Musyrik_

_Wajah menghadap dunia_
_Hati menghadap Allah_

Orang beriman adalah orang yg _sibuk bersyukur_ sampai dirinya _tidak punya waktu untuk mengeluh._

Ikhtiar adalah bentuk _syukur & doa terbaik kita._

Orang yang bersyukur akan _mengoptimalkan segala Anugerah yang Allah berikan kepada kita._

Orang yg bersyukur akan _mempersembahkan Ikhtiar Terbaiknya._

Janji Allah kepada orang yg bersyukur adalah akan _ditambah nikmatnya._
Maka Tak heran jika orang2 yg bersyukur dengan mempersembahkan Ikhtiar Terbaiknya akan Allah beri kesuksesan dunia & akhirat.

Perkara hasil, itu urusan Allah yg tetapkan karena Dia Maha Tahu yg Terbaik bagi kita... Allah pasti tetapkan hasil yg terbaik & tercocok buat kita, tidak mungkin salah ukuruannya, dosisnya, waktunya dst.
Allah yg menciptakan Kita, pasti lebih tahu tentang apa yg kita butuhkan persisnya daripada kita sendiri.

Anak kita saja yg sedang sakit flu, ngga akan kita beri eskrim sekalipun dia mengangis & merengek2... Karena kita sebagai orang tuanya, tahu eskrim tidak baik buat anak kita yg sedang sakit flu tsb.  Nanti jika sudah sembuh, baru Kita bawa dia ke mall utk memilih eskrim mana saja yg dia sukai....😊

_Yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah_
_Yang buruk menurut kita, belum tentu buruk menurut Allah_

Ikhtiar apapun yg kita lakukan...itu urusannya karena Allah bukan yang lain.
Kita makan bukan karena lapar & ingin kenyang tapi semata2 karena Perintah Allah.
Kita menikah bukan karena harta, tahta, keturunan, kecantikan dst...tapi semata2 karena Perintah Allah.
Apapun aktivitas & usaha Kita...semuanya adalah urusannya ibadah, makan Ibadah, dagang Ibadah dst.

Usaha yg kita lakukan adalah usaha atas agama bukan usaha atas dunia
Usaha dunia yang dilihat _hasilnya_, untung atau rugi, menang atau kalah, panen atau gagal panen dst.

Tapi usaha atas agama, yg ALLAH pandang adalah _prosesnya,_ apakah Kita tetap taat KepadaNya, apakah yakin Kita tetap lurus PadaNya?

Jadi ketika kita Ikhtiar lalu _menjaga yakin Sempurna PadaNya, mempersembahkan yg terbaik dan menerima apapun hasil Ketetapannya karena kita jaga Prasangka Baik PadaNya, yakin bahwa Allah pasti berikan yg terbaik....maka saat itu juga kita sudah sukses._

Mari kita Ikhtiar menggapai RidhoNya dengan cara kita Ridho untuk taat PadaNya di segala situasi dan keadaan.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Sunday, May 6, 2018

Dunia Ini Cermin

*DUNIA INI CERMIN*

Assalamu'alaikum WR WB
Sahabat...

Ibnu Athailah dalam Kitab Al Hikam menggambarkan dunia ini ibarat cermin.

Misal muka kita kotor/cemong lalu kita bercermin...
Lalu kita melihat dan tau ada kotoran/cemong...
Lalu kita ambil lap tapi yg kita lap/bersihkan malah cerminnya ... apakah akan hilang kotoran/cemong di muka kita? Tentu saja tidak 😊
Kalau mau bersih yang di bersihkan bukan cerminnya sekalipun cermin tsb bisa jadi kotor... tapi utamanya adalah muka kita yg kotor/cemong tsb lah yg semestinya harus dibersihkan.

Itulah gambaran dunia...

Jika kita melihat keburukan di rumah misalnya, istri/suami kok begini... anak kok begitu...
Terlihatnya mereka yg jelek padahal mereka semua itulah "cerminan" kita, maka segeralah bersihkan diri kita dengan bertobat, perbanyak istighfar, koreksi diri dst.

Begitu juga jika melihat Lingkungan sekitar rumah kok begini...di kantor kok begitu... Rejeki seret atau banyak tapi ngga jelas habisnya dst.... Terlihatnya karyawan kita yg jelek, bos yg jelek, tetangga yg jelek dst.

Mereka itu cerminan kita juga, maka bertobat lagi, istighfar lagi, koreksi/islah diri lagi...terus begitu.

Situasi keadaan buruk di luar diri kita ini, diperlihatkan oleh Allah kepada kita ... adalah salah satu cara Allah Ta'ala untuk *menegur kita, mengingatkan kita agar kita sibuk bertobat & islah diri bukan sibuk melihat keburukan orang lain.*

Allah Ta'ala menciptakan _masalah_ berikut dengan _solusinya_, seperti Allah ciptakan _penyakit_ dengan _obatnya_, _malam_ dan _siang_, _pria_ dan _wanita_ dst... selalu berpasang-pasangan krn Allah Maha Adil.

Seringkali *solusi* yang telah Allah sediakan atas *masalah* yang sedang kita hadapi ... jadi tidak terlihat karena *terhalang/tertutup* oleh dosa2 kita.

Seperti orang yg menutup hidungnya dengan tangannya sendiri, lalu berteriak," Aku tidak bisa bernafas, tidak ada udara!"
Padahal kalau dia buka tangannya sendiri yg menutupi hidungnya sendiri maka dia bisa bernafas, bukan karena tidak ada udara 😊
_Tangan kita yg menutupi hidung kita sendiri, itulah gambaran dosa-dosa yg menutupi kita, menutupi solusi yg sebenarnya sudah Allah sediakan._

Itulah sebabnya Rasulullah SAW menganjurkan *perbanyak istighfar*, khususnya jika menghadapi masalah.

Keburukan sebesar gunung sekalipun di orang lain, itu bahayanya ya... di orang lain tsb
Tapi Keburukan walau hanya setitik pada diri kita, ini bahayanya kepada diri kita

_Maka sibuklah melihat aib diri sehingga kita tidak sempat lagi melihat aib orang lain_
Sibuklah bertobat & islah diri...smp akhir hayat.

Orang yg terus bertobat akan _semakin bersinar, dirinya akan menjadi cahaya penerang bagi sekelilingnya._
Semakin _terang cahayanya_, semakin _sirna kegelapan._
*Semakin kita bertobat & koreksi diri... Semakin Allah perbaiki keadaan kita & segala urusan kita...*

Nabi Yunus AS sibuk bertobat dalam perut ikan, maka Allah keluarkan beliau AS dari 3 kegelapan yaitu : _Gelapnya perut ikan, Gelapnya dalam lautan & Gelapnya malam._

Allah damparkan Nabi Yunus AS ditepi pantai...
Allah tumbuhkan seketika pohon untuk meneduhinya dari terik matahari...
Allah gerakkan binatang2 untuk suplay makananan kpd Nabi Yunus AS...

Setelah Nabi Yunus AS cukup kuat utk berjalan, beliau kembali kpd kaummnya yg menolak dakwahnya selama ini... Allah balikan hati mereka semua sehingga seluruh kaum tsb masuk Islam.

_Allah selesaikan seluruh urusan Nabi Yunus AS, urusan pribadinya dan urusan pekerjaannya asbab dari *bertobat sungguh2 dan koreksi diri sungguh2*_

Nabi Musa AS sepertinya tidak punyai apa2...
Firaun sepertinya miliki segalanya... Kerajaan, Kekuasaan, Bala tentara, Kekayaan, Tekhnologi dst.
Tapi Nabi Musa AS miliki satu hal yg tidak dimiliki oleh Firaun yaitu _Yakin Sempurna kepada Allah Ta'ala sehingga datanglah *Pertolongan Allah.*_

Sepertinya kebutuhan kita itu banyak...😬
Padahal kebutuhan kita itu cukup satu saja...😊
Yaitu *Pertolongan Allah disegala situasi dan keadaan*

_Punyai Allah maka punyai segalanya..._
_Tidak punyai Allah maka kehilangan segalanya..._

Semoga kita semua tergolong sebagai Ahli Tobat karena Ahli Tobat akan *dicintai oleh Allah Ta'ala* dan *ditolong segala urusannya oleh Allah*....
Aamiin Ya Robbal'aalamiin

Wassalamu'alaikum WR WB

_sahabathikmah_

Thursday, May 3, 2018

Apa yang difikirkan itulah yang akan terjadi

*APA YANG DIFIKIRKAN ITULAH YANG AKAN TERJADI*

"Suatu hari, Rasulullah saw menjenguk seseorang yang sedang sakit demam. Beliau menghibur dan membesarkan hati orang tersebut.

Beliau bersabda,
_"Semoga penyakitmu ini menjadi penghapus dosamu"._

Orang itu menjawab,
_"Tapi ini adalah demam yang mendidih, yang jika menimpa orangtua yang sudah renta, bisa menyeretnya ke lubang kubur"._

Mendengar keluhan orang itu, Rasulullah saw bersabda,
_‘Kalau demikian anggapanmu, maka akan begitulah jadinya’._
(HR. Ibnu Majah)

Sungguh indah apa yang disabdakan Rasulullah saw.
Perhatikan pesan-pesan Rasulullah berikut ini :

_"Barangsiapa yang ridha, maka keridhaan itu untuknya. Barangsiapa mengeluh, maka keluhan itu akan menjadi miliknya"_
(HR. at-Tirmidzi)

_"Salah satu kebahagiaan seseorang adalah keridhaannya menerima keputusan ALLAH."_
(HR. Ahmad)

Jika kita memikirkan bahagia, maka kita akan bahagia.

Jika kita berpikiran sedih, maka kita menjadi sedih.

Jika kita berpikiran gagal, kita menjadi gagal

Jika kita berpikiran sukses, maka kita niscaya sukses.

Jika kita berpikiran sakit, kita juga menjadi sakit.

Jika kita berpikiran sehat, maka kita pun akan sehat.

Inilah _*The Law of Attraction*,_ Hukum Tarik Menarik,  merupakan _*Sunnatullah*_ yang berlaku di alam semesta.

_*You are what you think*_
Anda adalah apa yang Anda pikirkan.

Selalulah berpikir yang positif dan jangan pernah biarkan pikiran negatif membelenggu otak dan kehidupan kita.

_Jadi tetap semangat dan jangan pernah menyerah pada keadaan._

Tugas kita hanya 2, yaitu : *Berusaha optimal dan berdoa*.
Sedangkan selanjutnya itu karsa ALLAH SWT.

Nabi SAW bersabda :
_"Ketika seorang hamba berkata *Laa Haula Wa Laa Quwwata Ila Billah*, maka ALLAH berfirman, "Lihatlah (hai para malaikat), orang ini telah menyerahkan urusannya kepadaKu"._
(HR. Ahmad).

*******

Pentingnya silaturahim

*🌟Kenapa Tahajjudku, Shalatku, dan Shaumku tak tercatat oleh Malaikat?*..

Luangkanlah waktu anda 5 menit membaca kisah ini dan ambil lah pelajaran darinya.

Pada zaman dahulu ada seorang ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yang kuat sekali tahajudnya.

Hampir bertahun-tahun dia tidak pernah meninggalkan solat tahajud.

Pada suatu malam ketika hendak mengambil wudhu untuk tahajud, Abu dikejutkan oleh kehadiran satu makhluk yang duduk di tepi telaganya.

Abu bertanya, “Wahai hamba Allah, siapakah Engkau?”

Sambil tersenyum, makhluk itu berkata; “Aku Malaikat utusan Allah".

Abu Bin Hasyim terkejut sekaligus bangga kerana telah didatangi oleh malaikat yang mulia.

Abu lalu bertanya, “Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”

Malaikat itu menjawab, “Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.”

Melihat Malaikat itu memegang sebuah kitab tebal, Abu lalu bertanya;

“Wahai Malaikat, buku apakah yang engkau bawa?”

Malaikat menjawab; “Di dalamnya terdapat kumpulan nama hamba-hamba pencinta Allah.”

Mendengar jawapan Malaikat, Abu bin Hasyim berharap dalam hati moga-moga namanya ada di situ.

Maka ditanyalah kepada Malaikat. “Wahai Malaikat, adakah namaku di situ ?”

Abu menjangka namanya ada di dalam buku itu, kerana amalan ibadahnya yang tidak putus-putus, selalu mengerjakan solat tahajud setiap malam, berdo’a dan juga bermunajat kepada Allah SWT di sepertiga malam, setiap hari.

“Baiklah, biar aku lihat,” kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan, ternyata Malaikat itu tidak menemukn nama Abu bin Hasyim di dalamnya.

Tidak percaya, Abu meminta Malaikat mencari sekali lagi.

“Betul... namamu tidak ada di dalam buku ini!” kata Malaikat.

Abu bin Hasyim pun gementar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat.

Dia menangis semahunya.

“Rugi sekali diriku yg selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud dan munajat, tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba pencinta Allah,” ratapnya.

Melihat itu, Malaikat berkata, “Wahai Abu bin Hasyim! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam ketika yang lain tidur, engkau mengambil air wudhu dan menahan kedinginan ketika orang lain terlelap dalam kehangatan buaian malam.

Tapi tanganku dilarang Allah menulis namamu.”

“Apakah gerangan yang menjadi penyebabnya?” tanya Abu bin Hasyim.

“Engkau memang bermunajat kepada Allah, tapi engkau pamerkan dengan rasa bangga ke mana-mana.

Engkau asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Sedang di kanan kirimu ada orang sakit, ada orang lapar, ada orang sedang sedih, tidak engkau tengok tidak engkau ziarah.

Mereka itu mungkin ibumu, mungkin adik beradikmu, mungkin sahabatmu, malah mungkin juga cuma saudara , atau mungkin   mereka menjadi tetanggamu.

Tidak engkau peduli pada mereka, kenapa?

Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pencinta Allah kalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allah?” kata Malaikat itu.

Abu bin Hasyim seperti​ disambar petir di siang hari.

Dia tersedar hubungan ibadah manusia tidaklah hanya kepada Allah semata (hablumminAllah), tetapi juga kepada sesama manusia (hablumminannas) dan juga kepada alam.

_*JANGAN BANGGA DENGAN BANYAKNYA SOLAT, PUASA, DAN ZIKIR KERANA ITU SEMUA BELUM MEMBUAT ALLAH SENANG !!!*_
_*``TAHU APA YANG MEMBUAT ALLAH SENANG?*_
*_Nabi Musa: Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membuat Engkau senang?_*
*_Allah SWT:_*
*_SOLAT? Solat mu itu untukmu sendiri, kerana dengan mengerjakan solat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan mungkar._*
*_ZIKIR? Zikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang._*
*_PUASA? Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri._*
*_Nabi Musa : Lalu apa yang membuat Mu senang Ya Allah?_*
*_Allah SWT: SEDEKAH, INFAQ, ZAKAT serta PERBUATAN BAIK-mu._*
_Itulah yang membuat AKU senang, kerana tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, AKU hadir di sampingnya. ---Dan AKU akan mengganti dengan ganjaran 700 kali (Al-Baqarah 261-262)---_

*_Saudara-Saudara, jika kamu sibuk dengan ibadah ritual dan bangga akan itu... maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukan Allah._*
*_Tapi, bila kau berbuat baik dan berkorban untuk orang lain... maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah senang dengannya._*
*_Buatlah Allah senang maka Allah akan limpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidup kita lapang dan bahagia_*
*(Dikutip dari Kitab Mukasyafatul Qulub Karya Imam Al Ghazali)*

Pentingnya Silaturra'him.

Wednesday, May 2, 2018

Kebutuhan kita hanya Satu

Sahabat...
Sepertinya kebutuhan kita itu banyak...
Padahal kita hanya butuh *satu saja*...
Yaitu *Pertolongan Allah Ta'ala di segala situasi & keadaan*

Karena lapar maka kita butuh makanan, nampak seperti itu...

Hakikatnya kita butuh pertolongan Allah untuk menghilangkan lapar, untuk mendapat makanan yg halal & toyyib, untuk mulut & gigi mengunyah, utk lidah bisa merasa, untuk perut mencerna dan mengurai makanan dalam tubuh, yg baiknya dikonsumsi sedang sisanya dibuang. Butuh pertolongan Allah agar makanan yg kita makan memberi manfaat, kekuatan dan kesehatan.
Kalau tdk ada pertolongan Allah maka bisa jadi makanan haram yg dimakan, proses makan dari mulai mulut sd ke perut sd terurai sd pembuangan akan bermasalah.  Makanan malah jadi penyakit dst?

Kita butuh Pertolongan Allah disgala urusan...
Tanpa pertolongan Allah maka kita tidak bisa apa2...
La hawla walaaquwwata illa billah...

Oleh karena itu...
Mari perbaiki terus _hubungan kita dengan Allah Ta'ala_ maka kehidupan kita, segala urusan kita akan diperbaiki oleh Allah Ta'ala.

Thursday, April 26, 2018

Sukses

*SUKSES*

Assalamu'alaikum WR WB

Sahabat...
Kita semua tau bahwa sukses adalah cita2 semua orang. Hanya saja definisi dan ukuran tentang sukses setiap orang ini berbeda2.
Kebanyakan orang mengukur sukses itu dari pencapaian duniawi, seperti : harta, jabatan, kekuasaan, populeritas dst.
Ukuran tsb membentuk keyakinan & cara berpikir sehingga menjadi budaya dan peradaban materialistik.

Sehingga tersepakatilah ukuran sukses secara umum karena kesamaan keyakinan & cara berpikir yaitu sbb:

Jadi orang *kaya -> sukses*,  Kalo jd *miskin -> gagal*
Kalo *sehat -> beruntung*, Kalo *sakit -> tdk beruntung*
Jadi *pejabat -> sukses*, Kalo *ngga punya jabatan -> berarti ngga jadi orang* 😊
Jadi *populer -> sukses*
Istri cantik, Suami tampan, Anak lucu -> sukses dst.

Sah-sah saja sebetulnya jika ingin mendapatkan pencapaian materialistik tsb, asalkan jangan jadi *tujuan* karena kita akan *kehilangan hakikat sukses yg sesungguhnya.*

Sukses itu kalo kita *selamat di Akhirat.*

Selamat di *Alam Kubur*, tidak disiksa disana, tdk dihimpit tanah, dst tapi dilapangkan kuburnya, ditemoatkan di Taman syurga, ditemani Amal sholeh smp Kiamat tiba.

Selamat di *Padang Mahsyar*, yg mana smua orang dikumpulkan dalam keadaan maha panik, ada 7 matahari yg sangat dekat, lantainya tembaga, smua orang kebingungan mencari pertolongan. Kita selamat karena mendapat Syafaat Rasulullah SAW, bernaung dibawahnya Arsy  Allah dikala kebanyakan orang tak ada tempat bernaung.

Selamat di *Alam Mizan*, di Makhkamah Illahi yg semua amal2 kita yg baik maupun buruk diperlihatkan kpd semua makhluk dan ditimbang bobotnya, selamat jika Amal sholeh Kita lebih berat daripada Amal buruk, selamat jika Rasulullah SAW memberi Syafaatnya, jika Allah mencurahkan RahmatNya.

Selamat di *jembatan shiroth* yg mana kebanyakan orang terjatuh ke jurang Neraka seperti air hujan jatuh dari langit, selamat melintasi jembatan shiroth setipis rambut dibelah tujuh, selamat karena melintas secepat kilat.

Selamat *masuk Syurga* yg tidak Ada lagi kesusahan selamanya, yg dikumpulkan dengan keluarga anak, istri, suami, ibunda, ayahanda, dgn saudara2 Muslim yg selamat, berkumpul dengan Para Nabi & Rasul, Para Syuhada, Shalihin, Shidqqin, dgn Para Bidadari, yg kenikmatannya takkan pernah terbayangkan, berkumpul bersama Kekasih kita Nabi Muhammad Rasulullah SAW, bertemu dan memandang Wajah Allah Ta'ala.

Selamat *tidak masuk Neraka*, tempat kesusahan, kesengsaraan, kepedihan & penyesalan yg tdk akan pernah bisa terbayangkan yg disana selama2nya... Na'udzubillah

Sukses adalah ketika *Allah Ta'ala RIDHO kpd kita*.
Sukses jika kita *hidup dalam Amal Agama yg Sempurna*
Sukses jika kita *amalkan Al Quran dan As Sunnah*
Hidup *cara Nabi SAW dan Para Sahabat RA.*
Sukses jika kita *taat pada Allah disgala situasi & keadaan*

Maka semestinya berubahlah ukuran sukses itu, bukan diukur berdasarkan materialistik tapi nilai2 ketaatan yg dijalani disetiap keadaan.

Kaya belum tentu sukses, miskin belum tentu gagal. *Kaya/Miskin akan sukses kalo kita taat pada Allah & RasulNya tapi akan gagal jika tidak taat.*

Sehat belum tentu beruntung, malah celaka jika sehatnya dipakai lalai apalagi maksiat.
Sakit belum tentu tdk beruntung, malah beruntung jika dalam jalani sakitnya dia tetap taat pd Allah & RasulNya, sakitnya jd penggugur dosa, doa2nya makbul, panca inderanya istirahat dari godaan kemaksiatan dst.

Sukses kalo kita taat pada Allah & RasulNya disgala keadaan & situasi. Dan Allah ridho pada Hamba2Nya yg taat PadaNya.

Semoga kita semua mendapat pertolongan Allah Ta'ala & Syafaat Rasulullah SAW utk sukses di Alam dunia yg sekejap ini & di Alam akhirat yg abadi.
Aamiin Ya Robbal'aalamiin

Wassalamu'alaikum WR WB

Tuesday, April 10, 2018

Harta yang mendekatkan dan menjauhkan

*HARTA YG MENDEKATKAN & MENJAUHKAN*

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Sahabat...

Seorang mukmin hendaknya memandang harta sebagai sebuah _Sarana_ bukan _Tujuan._

Oleh karena itu harta terbaik bukan dinilai dari _banyaknya jumlah_ tapi _seberapa sering dengannya kita bisa membantu sesama._

*Harta terbaik* adalah harta yang _dimiliki seorang yang shalih_ yang dengannya ia *semakin dekat dengan Allah Ta'ala dan manusia.*

Sedangkan *harta terburuk* adalah harta yang dengannya ia *menjadi terbelenggu dari kebaikan,jauh dari Alloh dan jauh dari manusia, harta yang melalaikan diri dari berdzikir hanya akan menjauhkan kita dari RahmatNya.*

_Dekatkan harta untuk *menggapai ridhoNya*_ dan _lepaskan semua belenggunya yaitu *hak orang lain yang masih tersimpan*,_ niscaya _Allah Ta'ala akan menggantinya dengan *harta berkah* yang melimpah, *hati yang tenang* dan *keluarga yang tentram dan  bahagia*._

Jemputlah rezeki yg telah Allah Ta'ala sediakan bagi kita dari _*sumber* yang baik, dengan *cara* yang baik dan *dibelanjakan* dengan baik._

_When Allah Ta'ala blessing you financially_
_Don't rise your *Standard of Living*_
_Rise your *Standard of Giving*_

_It's not about how much *money* you give_
_But it's about how much *love* you put in your give_

_sahabathikmah_

Monday, March 26, 2018

Menebar angin menuai badai

*Menebar Angin Menuai Badai*

Assalamualaikum
Sahabat...
Amal seorang manusia yg dilakukan sepertinya kecil/sepele/tdk berdampak luas, padahal amalan manusia itu ibarat _angin_ yg seketika berdampak _badai_

Amal itu ada amal baik (sholeh) ada juga amal buruk (lalai & maksiat)

Seseorang beramal sholeh maka dia sedang *menebar angin sholeh* maka dan akan *menuai badai kebaikan...*

Sebaliknya...

Seseorang beramal buruk maka dia sedang *menebar angin keburukan* maka dan akan *menuai badai keburukan...*

Karena amalan manusia ini *menembus batas ruang & waktu, menumbus 7 petala langit & 7 petala bumi, menembus alam sd akhirat*

Amalan manusia ini begitu pentingnya sehingga diutus malaikat yg mulia agar *tiada satupun perbuatan & ucapannya* yg tidak dicatatnya.

Amalan manusia ini begitu pentingnya karena *dilakukan, diketahui, didengar & dilihat langsung oleh Allah yg Maha Tahu, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Besar & Kuasa...*

Amalan manusia ini begitu pentingnya sehingga segala _amalan yg dilakukannya di Alam dunia yg sekejap ini... *menentukan nasibnya di Akhirat yg selama-lamanya*_

Amalan manusia ini begitu pentingnya sehingga kelak diadakan *Makhkamah Illahi...*

Hakimnya Allah Ta'ala sendiri...
Pembelanya... Rasulullah SAW bagi orang2 yg tergolong ummatnya (syafaat).

Semua saksi dihadirkan dari mulai golongan manusia, Jin, malaikat, tanah, Batu, gunung, udara, tumbuhan, hewan dst ...yg semuanya akan menjadi saksi atas amal manusia yg dilakukannya ketika di dunia.

Setiap amalan manusia akan diaudit & ditimbang bobotnya di alam mizan dengan seadil-adilnya, seteliti-telitinya, sedetail-detailnya dan disaksikan seluruh makhluk ciptaan Allah.

Sahabat...
Mari kita menebar Amal sholeh disetiap saat, disetiap tepat, situasi & keadaan... Agar InsyaAllah kita dapat menuai badai kebaikan, keselamatan & kesuksesan dunia akhirat.

Aamiin Ya Robbal'aalamiin

Friday, March 9, 2018

Dunia ini cermin

*DUNIA INI CERMIN*

Assalamu'alaikum
Sahabat...

Ibnu Athailah dalam Kitab Al Hikam menggambarkan dunia ini ibarat cermin.

Misal muka kita kotor/cemong lalu kita bercermin...
Lalu kita melihat dan tau ada kotoran/cemong...
Lalu kita ambil lap tapi yg kita lap/bersihkan malah cerminnya ... apakah akan hilang kotoran/cemong di muka kita? Tentu saja tidak 😊
Kalau mau bersih yang di bersihkan bukan cerminnya sekalipun cermin tsb bisa jadi kotor... tapi utamanya adalah muka kita yg kotor/cemong tsb lah yg semestinya harus dibersihkan.

Itulah gambaran dunia...

Jika kita melihat keburukan di rumah misalnya, istri/suami kok begini... anak kok begitu...
Terlihatnya mereka yg jelek padahal mereka semua itulah "cerminan" kita, maka segeralah bersihkan diri kita dengan bertobat, perbanyak istighfar, koreksi diri dst.

Begitu juga jika melihat Lingkungan sekitar rumah kok begini...di kantor kok begitu... Rejeki seret atau banyak tapi ngga jelas habisnya dst.... Terlihatnya karyawan kita yg jelek, bos yg jelek, tetangga yg jelek dst.

Mereka itu cerminan kita juga, maka bertobat lagi, istighfar lagi, koreksi/islah diri lagi...terus begitu.

Situasi keadaan buruk di luar diri kita ini, diperlihatkan oleh Allah kepada kita ... adalah salah satu cara Allah Ta'ala untuk *menegur kita, mengingatkan kita agar kita sibuk bertobat & islah diri bukan sibuk melihat keburukan orang lain.*

Allah Ta'ala menciptakan _masalah_ berikut dengan _solusinya_, seperti Allah ciptakan _penyakit_ dengan _obatnya_, _malam_ dan _siang_, _pria_ dan _wanita_ dst... selalu berpasang-pasangan krn Allah Maha Adil.

Seringkali *solusi* yang telah Allah sediakan atas *masalah* yang sedang kita hadapi ... jadi tidak terlihat karena *terhalang/tertutup* oleh dosa2 kita.

Itulah sebabnya Rasulullah SAW menganjurkan perbanyak istighfar, khususnya jika menghadapi masalah.

Keburukan sebesar gunung sekalipun di orang lain, itu bahayanya ya... di orang lain tsb
Tapi Keburukan walau hanya setitik pada diri kita, ini bahayanya kepada diri kita

Maka sibuklah melihat aib diri sehingga kita tidak sempat lagi melihat aib orang lain
Sibuklah bertobat & islah diri...smp akhir hayat.

Orang yg terus bertobat akan semakin bersinar, dirinya akan menjadi cahaya penerang bagi sekelilingnya.
Semakin terang cahayanya, semakin sirna kegelapan.
Semakin kita bertobat & koreksi diri... Semakin Allah perbaiki keadaan kita & segala urusan kita...

Nabi Yunus AS sibuk bertobat dalam perut ikan, maka Allah keluarkan beliau AS dari 3 kegelapan yaitu : gelapnya perut ikan, gelapnya dalam lautan & gelapnya malam.
Allah damparkan Nabi Yunus AS ditepi pantai...
Allah tumbuhkan seketika pohon untuk meneduhinya dari terik matahari...
Allah gerakkan binatang2 untuk suplay makananan kpd Nabi Yunus AS...
Setelah Nabi Yunus AS cukup kuat utk berjalan, beliau kembali kpd kaummnya yg menolak dakwahnya selama ini... Allah balikan hati mereka sehingga seluruh kaum tsb masuk Islam.
Allah selesaikan seluruh urusan Nabi Yunus AS, urusan pribadinya dan urusan pekerjaannya asbab dari bertobat sungguh2 dan koreksi diri sungguh2.

Semoga kita semua tergolong sebagai Ahli Tobat karena Ahli Tobat akan dicintai oleh Allah Ta'ala dan ditolong segala urusannya oleh Allah....
Aamiin Ya Robbal'aalamiin

Wednesday, February 28, 2018

Pentingnya tabayyun

Renungan senin ..pagi
                                                                             *Matinya Singa Tanpa Tabayyun*

Dulu sekali.
Tepatnya waktu saya masih di bangku Sekolah Dasar.
Ada sebuah cerita rakyat menarik. Alurnya sangat menyentuh dan membekas.

Jujur, saat membaca cerita itu saya menangis.
Bahkan rasa sedih terbawa setiap hendak tidur.
Sungguh, banyak hikmah yang bisa dipetik.

Ceritanya bertutur tentang seorang petani miskin yang menemukan anak singa yang ditinggal mati induknya.

Lantaran iba, petani itu memungut dan merawatnya sepenuh hati, layaknya anak sendiri. Tidak dapat dilukiskan ikatan kedua makhluk Alloh itu. Jiwa mereka seakan bersatu. Sang Singa pun telah menganggap petani itu sebagai orang tuanya.

Waktu merangkak cepat. Anak singa itupun telah dewasa. Di waktu bersamaan, sang petani pun mendapat karunia besar. Isterinya melahirkan seorang bayi lelaki mungil dan lucu.

Seluruh anggota keluarga begitu bahagia, tak terkecuali sang singa. Gerak- gerik dan pancaran sinar matanya, menyiratkan Kebahagiaan luar biasa.
Maka mulai saat itu, sang singa mendapat tugas baru, menjaga "adiknya" kala sang petani dan isterinya berangkat ke ladang.

Suatu hari, saat petani miskin Itu bekerja di ladang dat isterinya mencari kayu bakar di hutan, tiba-tiba terdengar jeritan bayi mereka dari dalam pondok.
Sang petani terlonjak kaget.
Firasatnya memburuk.

Secepat kilat ia menyambar goloknya, lalu bergegas menuju sumber jeritan tadi.

"Apa yang terjadi? Dimana singa itu?" Batin sang petani.

Setibanya di halaman pondok, ia tidak mendengar suara apapun. Senyap...
Hanya suara nafasnya menderu saling memburu.

Hatinya galau. Ketakutan mulai merayapi pembuluh darahnya. Dan pada saat yang sama, sang singa keluar dari pondok.
Mulut, taring dan cakarnya belepotan darah.

Seperti biasa, setiap sang petani pulang, Singa itu segera mendekat. Menggerak-gerakkan ekornya, lalu mengelus manja di kaki "Ayahnya".

Jangan-jangan..., Ia telah memangsa bayiku??!!, Jerit batin sang petani.

Menyaksikan hal  ini, sang petani kalap.
Darahnya seakan berkumpul di ubun-ubun. Sambil berteriak, ia mengayunkan goloknya ke arah sang singa

"Makhluk terkutuk, tidak tahu balas budi kau..". Singa itu tidak berusaha menghindar, apalagi lari menjauh. Bahkan tatapannya memelas, memohon agar "ayahnya* tidak melakukan hal bodoh itu.

Namun seluruhnya sudah terlambat. Dalam sekejap singa itu roboh berlumuran darah. Kepalanya sobek akibat sabetan golok sang petani, menggelepar, lalu mati seketika.

Sang petani, segera menghamburkan diri menuju pondok miliknya. Tiba-tiba langkahnya terhenti di depan pintu. Samar-samar ia menangkap celoteh dan tawa bayinya. Hatinya mulai ragu.

Ia menengok ke belakang. Di sana sang singa telah terkapar mati. Sambil gemetar, ia mendorong pintu. Sungguh pemandangan yang sangat mengejutkan.

Sekujur tubuhnya dingin...
Lututnya goyah...
Pandangan matanya kabur...

Ternyata, bayinya masih hidup. Di samping pembaringan bayi itu, tergeletak bangkai seekor ular besar.

"Ya Alloh, apa yang telah aku lakukan??!! Celaka diriku, celaka diriku...". 

Ia berbalik dan lari ke arah singa yang telah kaku itu. Dipeluknya tubuh sang singa. Ia menangis, meratap dan meraung-raung, sembari mengutuki dirinya.

Hingga isterinya kembali dari hutan, sang petani masih duduk memeluk jasad singa yang malang itu.

Air matanya telah kering meninggalkan perih di kelopak matanya. Penyesalan meruangi hatinya. Namun apa mau di kata, ibarat nasi telah menjadi bubur. Semua sudah terlambat.

Saudaraku, begitu pentingnya Tabayyun itu. Keputusan tanpa proses Tabayyun (Klarifikasi), di pastikan melahirkan penyesalan.
Ya penyesalan tak berujung dan abadi sepanjang hidup.

Karena kita menimpakan keburukan atas diri orang lain. Padahal, mungkin saja mereka berlepas diri darinya.

Makanya, Alloh ta’ala tegas menyuruh agar selalu mengedepankan tabayyun.

Dan hikmahnya jelas,

“… agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum, tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurot, 49 : 6).

Menulis ulang cerita ini emosi saya kembali teraduk-aduk. Bagaimana jika petani itu adalah diriku?
Bagaimana menjalani sisa-sisa hidup di bawah bayang-bayang rasa bersalah yang menghimpit.
Terlebih pada orang yang telah berjasa dalam hidupku.

Sungguh, andai ada satu permintaan, sudah tentu sang petani akan memohon supaya waktu memutar kembali.

Namun begitulah, penyesalan itu, selamanya pasti kan datang terlambat.

Allohu a’lam ...

hidup adalah ujian
مسلم_انتيد@

Rizki ku ada di langit bukan di tempat kerja

("Rizki-ku ada di langit, bukan di tempat kerja.!")

📚Belajar Tawakal Kepada Putri 10 Tahun

Hatim Al Ashom, ulama besar muslimin, teladan kesederhanaan dan tawakal.

Hatim suatu hari berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi utk menuntut ilmu.

Istri dan putri putrinya keberatan. Krn siapa yg akan memberi mereka makan.

Salah satu dari putri-putri itu berusia 10 tahun dan hapal Al Quran.

Dia menenangkan semua: Biarkan beliau pergi. Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!

Hatim pun pergi
Hari itu berlalu, malam datang menjelang...

Mereka mulai lapar. Tapi tdk ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri 10 tahun yg tlh mendorong kepergian ayah mereka.

Putri hapal Al Quran itu kembali meyakinkan mereka: Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!

Dlm suasana spt itu, pintu rumah mereka diketuk. Pintu dibuka. Terlihat para penunggang kuda. Mereka bertanya: Adakah air di rumah kalian?

Penghuni rumah menjawab: Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air.

Air dihidangkan. Menghilangkan dahaga mereka.

Pemimpin penunggang kuda itu pun bertanya: Rumah siapa ini?

Penghuni rumah menjawab: Hatim al Ashom.

Penunggang kuda terkejut: Hatim ulama besar muslimin.....

Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi uang dan dilemparkan ke dalam rumah dan berkata kpd para pengikutnya: Siapa yg mencintai saya, lakukan spt yg saya lakukan.

Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong mereka yg berisi uang. Sampai pintu rumah sulit ditutup, krn banyaknya kantong-kantong uang. Mereka kemudian pergi.

Tahukah antum, siapa pemimpin penunggang kuda itu...?
Ternyata Abu Ja'far Al Manshur, amirul mukminin.

Kini giliran putri 10 thn yg telah hapal Al Quran itu memandangi ibu dan saudari-saudarinya. Dia memberikan pelajaran aqidah yg sangat mahal sambil menangis:

JIKA SATU PANDANGAN MAKHLUK BISA MENCUKUPI KITA, MAKA BAGAIMANA JIKA YG MEMANDANG KITA ADALAH AL KHOLIQ!
***
Terimakasih nak, kau telah menyengat kami yg dominasi kegelisahannya hanya urusan dunia.
Hingga lupa ada Al Hayyu Ar Rozzaq

Hingga lupa jaminan Nya: dan di LANGIT lah RIZKI kalian...

Bukan di pekerjaan...bukan di bank...bukan di kebun...bukan di toko...tapi DI LANGIT!

Hingga kami lupa tugas besar akhirat
اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا

Duhai Allah, jangan Kau jadikan dunia sebagai kegundahan terbesar kami.....
Barokallahu fiikum....

Saturday, February 24, 2018

Aku Malu

*AKU MALU...*

Aku malu PadaMu karena lebih sering yakin pada _makhluk ciptaanMu_ daripada _Engkau yang menciptakan segalanya_ padahal makhluk tidak bisa apa2... Engkau yg Maha Kuasa...
Sgala yg ada karena Engkau adakan, sgala yg hidup karena Engkau hidupkan, sgala yg bergerak karena Engkau gerakkan, sgala yg mati karena Engkau matikan, sgala yg hidup kembali karena Engkau hidupkan kembali.

Aku malu PadaMu karena lebih yakin pada _uang yang hanya berupa kertas bertuliskan angka_ daripada Engkau _Sang Pemberi Rezeki._

Aku malu PadaMu karena lebih sering _mengeluh_ daripada _bersyukur_ padahal Engkau nikmat hambaMu yg bersyukur dan Engkau benci hambaMu yg mengeluh karena kuffur nikmat.

Aku malu PadaMu karena lebih sibuk _membangun dunia_ yang pasti kutinggalkan daripada _membangun akhirat_ yang pasti abadi.

Aku malu PadaMu karena lebih sibuk melihat _aib orang lain_ daripada _aib diri._sehingga aku malah sibuk _mengkritik orang lain_ daripada _bertobat._

Aku malu PadaMu karena ketika ku _bersujud dihadapanMu_ ketika  shalat sekalipun... namun _pikiranku melayang kepada hal selain dariMu._ padahal sujud dalam Shalat adalah sedekat-dekatnya jarak antara DiriMu dengan HambaMu

Aku malu PadaMu karena aku tahu bahwa memberi itu Mulia...tapi aku ternyata lebih senang _diberi_ daripada _memberi_... lebih senang _dilayani_ daripada _melayani_... lebih senang _dimuliakan_ daripada _memuliakan_...

Aku malu PadaMu karena _sulit memaafkan kesalahan orang lain_ sementara aku ingin mudah Engkau ampuni atas dosa2ku yg lebih banyak daripada buih-buih ombak di lautan... lebih besar dari seluruh gunung di muka bumi...

Aku malu PadaMu Ya Allah Ya Ghofururrohim...
Maka ampuni aku...
Besarkan rasa malu ku PadaMu sehingga aku bertobat sungguh2, taat PadaMu & RasulMu sungguh2, bersyukur sungguh2, menjadi Rahmat bagi Semesta Alam... Aamiin Ya Robbal'aalamiin

_sahabathikmah_

Tuesday, February 13, 2018

Ujub

UJUB

Ujub ialah PERASAAN kagum atas diri sendiri. Merasa diri HEBAT. Bangga diri. Terpesona dengan kehebatan diri. Perasaan ujub boleh datang pada bila-bila masa.

Orang yang rajin ibadah merasa kagum dengan ibadahnya.
Orang yang berilmu, kagum dengan ilmunya.
Orang yang cantik, kagum dengan kecantikannya.
Orang yang dermawan, kagum dengan kebaikannya.
Orang berjawatan tinggi, kagum dgn jawatannya.
Orang yg bijak berpidato, kagum dgn pidatonya,
Orang yang berdakwah, kagum dengan dakwahnya.
Orang yang pandai masak, kagum dengan masakannya.
Orang yang pandai menjahit, kagum dengan jahitannya.
Orang yang pandai menghias, kagum dengan hiasannya.

Walhal semua kelebihan atau keistimewaan itu adalah milik Allah dan diberikan kepada manusia.

Sufyan at-Tsauri mengatakan ujub adalah perasaaan kagum pada dirimu sendiri sehingga kamu merasa bahawa kamu lebih mulia dan lebih tinggi darjat.

Muthrif rahimahullah telah berkata, “Kalau aku tidur tanpa tahajud dan bangun dalam keadaan menyesal, adalah lebih baik dari aku bertahajud tetapi berasa kagum dengan amalan tahajud tadi.”

Seorang sahabat Nabi Abu Ubaidah al-Jarrah yang menjadi imam. Setelah selesai beliau berkata, “Syaitan sentiasa menghasut aku supaya merasa aku ini lebih hebat dari orang di belakangku. Aku tidak mahu jadi imam sampai bila-bila.”

Ingatlah, semua kelebihan adalah anugerah dari Allah, oleh itu kagumlah hanya kepada Allah, bukan diri sendiri.
Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri."
(Surah An-Nisaa', sebahagian ayat 36)

Nabi saw. bersabda, "Apabila seorang lelaki sedang berjalan dengan memakai baju yang kemas dan rambut yang disikat menyebabkan dia rasa kagum dengan pakaian dan dandanan rambutnya (perasan lawa). Lalu Allah tenggelamkan dia ke dalam muka bumi dan dia terus ditenggelamkan sampai hari kiamat.”
(HR Bukhari dan Muslim)

Nabi saw. bersabda, "Ada tiga hal yang dapat membinasakan diri seseorang iaitu kedekut yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujub (rasa kagum dengan diri sendiri).”
(HR Al-Bazzar dan Al-Baihaqi)

Imam Nawawi rahimahullah berkata,”ketahuilah bahwa keikhlasan niat terkadang dihalangi oleh penyakit ujub. Sesiapa ujub dengan amalnya sendiri maka akan terhapus amalnya".
(Syarh Arba’in)

Uang 5000 dan Rejeki kita

UANG 5000 DAN REZEKI KITA

Hari itu Sabtu. Sekitar empat bulan usia pernikahan kami di tahun 2009. Pagi-pagi setelah matahari mulai meninggi, saya dan suami mulai dengan beres-beres rumah bersama-sama. Kemudian kami sarapan. Usai sarapan, suami tanya,

"Kamu masih pegang uang kan?" Tanyanya.

Gajian hari Senin besok, diberikan cash di kantor suami, sejumlah 1.750.000. Artinya uang gajian baru resmi bisa digunakan secepat-cepatnya Senin malam. Sejak awal pernikahan, suami sendirian yang gajian. Saya mah ngga.

Saya jawab, "Ada, 5000 lagi." Sedetik berikutnya saya bertanya balik, "Aa masih pegang uang kan?"

Suami saya bukannya menjawab malah bengong menatap saya kelu.

"Sepeser pun aa ga pegang uang lagi, De. Aa kira kamu masih punya"

"Ya Allah, gimana dong? Kita ngga punya apa-apa juga buat makan"

"Aa juga perlu beli bensin lagi, buat Senin kerja"

Saat itu untuk transport saya berangkat sekolah profesi, saya tenang. Kartu langganan bulanan Abo kereta untuk praktik ke RSCM masih bisa digunakan.

Kami terhenyak. 5000 rupiah. Dihitung dengan cara apapun juga, kami tetap pada kesimpulan uang itu tidak cukup. Kami sadar ini keteledoran dan kelemotan finansial, ngga cerdas sama sekali.

Saat itu adalah hari di mana kami berdua sekere-kerenya jadi orang. Waktu mahasiswa saja, ngga pernah-pernahnya kami ada di posisi itu. Uang tinggal 5000. Saldo di ATM pun sudah sampai di jumlah minimum tak bisa ditarik lagi. Benar-benar cuma punya uang 5000 selembar itu.

Kami sepakati tak meneruskan pembahasan. Mau gimana lagi, makin dibahas makin mumet. Pinjam sama orang tua juga malu. Padahal kalau saya bilang ke Papa, haqul yakin langsung ditransfer detik itu juga. Tapi suamiku malu. Tunggu dulu, katanya. Apalagi baru beberapa bulan menikah begini, rasanya jaim luar biasa. Pingin sekali menunjukkan ke orang tua kalau muda-muda begini, kita bisa juga membiayai hidup sendiri.

Berikutnya Sidqi mengajak saya untuk sholat dhuha saja. Minta petunjuk agar hati tenang, agar uang 5000 itu cukup. Entah bagaimana caranya. Begitulah, iman ini memang hanya setipis kulit bawang, kalau lagi nelangsa ngga punya apa-apa rasanya khusyuk banget dhuha-nya.

Selepas salam dan berdoa, kami merapikan alat sholat. Belum selesai saya melipat sajadah, telefon genggam saya berbunyi.

"Halo mbak Mia, ini Mamanya Obi (bukan nama sebenarnya). Mba Mia tinggal di mana sekarang? Apa masih di Depok?" kata suara di ujung sana.

Lalu obrolan lewat telefon itu berlanjut. Ia adalah orang tua murid yang setahun sebelumnya, anaknya pernah saya ajari les privat matematika. Tiba-tiba saja, Sabtu itu ia menelepon saya, menanyakan alamat kontrakan, lalu minta tolong agar anaknya dilatih lagi beberapa soal matematika menjelang tes di sekolah. Tak banyak pertimbangan, langsung saja saya iyakan. Toh saya dan Sidqi akhir pekan itu tidak akan pergi kemana-mana. Uang tinggal 5000 pula kan.

Beberapa jam kemudian, mereka tiba di kontrakan kami. Obi anak SD kelas 3 waktu itu membawa beberapa buku. Sebelum les, orang tua Obi pamit dan berjanji akan menjemput anaknya kembali dalam dua jam kedepan. Alhamdulillah juga rasanya mereka pamit, jadi ngga perlu ada apa-apa yang perlu saya suguhkan. Hiks. Saya mempersilakan dan selanjutnya asik membahas soal-soal matematika bersama putranya.

Waktu berlalu sampai les matematika dadakan itupun selesai. Tiba waktu dzuhur. Saya tahu Sidqi sudah lapar. Saya pun begitu. Tapi kami sama-sama paham, uang 5000 itu kita perlu pikir dengan cermat mau dibelanjakan apa untuk makan tiga hari ini plus hari beli bensin. Gajian masih hari Senin!

Seperti yang dijanjikan, Ayah dan Ibunya Obi pun datang menjemput. Mereka izin pamit pulang dan berterima kasih saya bisa dihubungi untuk les dadakan.

"Maaf ya mba Mia sudah diganggu waktunya libur-libur begini", kata sang Ibu sambil pamit pulang. Obi, ayahnya dan adiknya sudah duluan jalan ke arah mobil mereka.

Saya dan Sidqi melambaikan tangan kepada mereka. Tangan kiri saya masih menenteng satu plastik besar berisi pemberian Mamanya Obi tadi.

Alangkah terkejutnya hati kami, ketika dibuka, plastik itu berisi tiga buah dus makanan. Satu dus besar berisi delapan buah aneka roti manis, satu dus berisi ayam bakar satu ekor beserta lalapan dan sambalnya, dan satu dus lagi berisi nasi dan lauk matang siap makan yang dibungkus plastik kecil-kecil. Masih juga terselip amplop berisi 150.000 rupiah.

MasyaAllah! Allahu akbar!

Saya dan Sidqi cuma bisa tertegun dan menangis haru. Kami berpelukan. Betapa Mamanya Obi memberikan bayaran yang sangat overpaid untuk les matematika anak kelas 3 SD selama dua jam. Allah ini ya.. kok bisa-bisanya atur skenario yang ngga masuk akal begini? duh gustii.. asli cuma bisa nangis waktu itu.

Sampai hari ini, saya masih belum bisa menahan haru bila ingat peristiwa hari itu. Kejadian yang selalu jadi pengingat buat saya dan suami, tentang rezeki. Rezeki kami, rejeki kita semua.

Bahwa konon rezeki tak pernah tertukar,  adalah benar adanya. Bahwa Allah memberikan rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka, yakin nyata benarnya. Pagi hari itu, siapa yang mengira kalau kami akan mendapat makanan segitu banyak dan uang 30 kali lipat dari selembar 5000?

Allah Maha Kasih, Allah Maha Kaya. Sangat mudah bagi-Nya memberi kita rezeki dari jalan apa saja yang mungkin tak masuk dalam hitungan manusia.

Barangkali kawan-kawan tidak pernah berada dalam posisi saya, tentu tidak apa-apa. Barangkali juga juga teman-teman tidak percaya bahwa gaji suami yg hanya lebih sedikit dari UMR Jakarta tahun 2009 saat itu masih dapat menghidupi kami berdua saat itu. Tidak masalah.

Saya hanya menyampaikan apa adanya. Buat apa?

Setidaknya, bagi kami, postingan seorang Ibu tentang ilustrasi pengaturan uang belanja 2.500.000 biasa-biasa saja. Lha wong pernah gaji suami kurang dari dua juta, komo deui uang belanjanya tah. Ngga usah dibuat ilustrasinya lah ya, berat. Biar aku saja. Hehehe

Tentu bukan hanya itu ya, pengalaman uang 5000 ini menghunjam dalam hati tentang jangan takut kekurangan rezeki. Jika kita sedang mengalami kesempitan rezeki jangan minder jangan takut. Kita mah memang miskin, da yang kaya mah Allah. Ngga perlu malu. Malu itu, kalau ragu dan takut besok ngga makan, sebab  jangan-jangan kita sudah menghina Ia yang Maha Kaya. Yang penting ikhtiarnya tetap dijalankan, kerja jangan malas, doa juga kuat.

Banyaknya harta, Allah bisa ambil kapan saja. Sedikitnya harta, Allah bisa cukupkan lewat bagaimana saja caranya. Semudah mengantarkan Mamanya Obi ke kontrakan saya waktu itu. Meski tentu saja, berencana dan mengatur keuangan dengan cermat juga keharusan.

Peristiwa uang 5000 dulu itu, masih berguna juga sampai saat ini dan insyaAllah selamanya. Misalnya, ada kalanya suami pulang kantor mengabarkan, dia tidak jadi berangkatkan ke negara A, kemudian digantikan oleh koleganya. Atau ia tidak jadi perjalanan dinas ke tempat B, karena satu dan lain hal. Padahal jika misalnya jadi berangkat, ratusan hingga ribuan dollar bisa ia terima sebagai uang dinas. Saat seperti itu, kenangan uang 5000 ini menjadi penenang hati kami.

Santai saja, selama tidak ada hak yang dilanggar, tidak perlu ada yang dituntut. Rezeki ngga akan kemana. Toh jika kita memaksakan diri mengambil rezeki orang lain, kita tentu lebih takut jika Allah yg mengambil paksa lagi dari kita bukan? Jadi santai saja... insyaAllah hak kita dan rezeki halal akan berkah.

Selain bagi diri sendiri, pengalaman uang 5000 ini juga mengingatkan diri untuk mengerti dan memahami rezeki orang lain.

Misalnya suatu ketika ustadz yg rutin mengisi kajian datang ke kompleks rumah kami di Depok dengan mobil yang tak biasanya ia gunakan. Waktu itu kami candai, "Mobil baru nih stadz?",

Pak ustadz kemudian bercerita. Semalam sebelumnya ada hamba Allah yg kaya datang ke rumah ustadz. Ustadz sendiri tidak kenal, tapi katanya ia pernah datang di salah satu kajian ustadz. Ia punya 3 mobil di rumahnya, dan mobil ini (ustadz menunjuk Innova putih itu) yang paling sering nganggur, tidak digunakan. Ia bilang, mobil itu untuk ustadz saja. Biar ustadz pakai saja untuk kegiatan ustadz pengajian, biar lebih bermanfaat daripada nganggur di garasi rumahnya.

Ia ingin dapat berkahnya dari setiap putaran roda mobil itu tiap kali ustadz ngisi kajian. Sementara mobil ustadz yg lama digunakan untuk operasional pesantren. "Yah itu rizqi dari Allah. Semoga bagi yang memberikan mobil ini Allah berikan keberkahan selalu rezekinya. Ustadz sih belum kebeli mobil begini", katanya menutup cerita tentang mobil itu.

MasyaAllah yah rezeki itu seringkali serba misterius. Setidaknya ketika orang bilang bahwa rezeki itu tidak bisa dihitung matematis, yang mengangguk bukan lagi kepala kami, tapi hati juga ikut meyakini: leres pisan.

Tos ah panjang teuing. Hepi wiken!

Bern, Swiss
11 Februari 2018
Mia Saadah

*foto : uang 5000 rupiah, ceritanya di foto dengan latar belakang turun salju. tapi failed. 😂 hihihi*

Thursday, February 8, 2018

Kisah Sahabat Khalid Al Walid ra

Kisah Sahabat Rasulullah ﷺ

"The Undefeated."
Kisah Khalid Al-Walid (r.a)

Impian Khalid bin al-Walid r.a untuk syahid tetapi beliau wafat di tempat tidurnya.

Khalid bin al-Walid r.a memeluk Islam pada tahun 8 Hijrah, saat perjanjian Hudaibiyah sedang berlangsung. Dia turut serta dalam Perang Mu’tah. Nabi ﷺ memuji Khalid dalam perang tersebut dengan sabdanya,

"Bendera perang dibawa oleh Zaid lalu berperang hingga syahid. Kemudian bendera diambil oleh Ja’far dan berperang hingga syahid. Setelah itu, bendera perang dibawa oleh Saifullah (pedang di antara pedang-pedang Allah iaitu Khalid bin Walid) hingga Allah memenangkan kaum muslimin."

Dalam Riwayat Bukhari, Khalid r.a menceritakan betapa dahsyatnya Perang Mu’tah dengan mengatakan, "Sembilan pedang di tanganku telah patah kecuali pedang buatan Yemen."

Sejak saat itu Khalid r.a dikenali sebagai Saifullah.

Saat kematian hendak menjemputnya, dia berkata, "Aku telah turut serta lebih kurang dalam 100 perang. Tidak ada satu jengkal pun di tubuhku, kecuali terdapat bekas luka pukulan pedang, hujaman tombak, atau tusukan anak panah. Namun lihatlah aku sekarang, akan wafat di atas tempat tidurku. Maka janganlah mata ini terpejam (wafat) sebagaimana terpejamnya mata orang-orang penakut. Tidak ada suatu amalan yang paling aku harapkan daripada 'Laa ilaaha illallah' dan aku terus menjaga kalimat tersebut."

Pada tanggal 18 Ramadan 21 Hijrah, Khalid bin al-Walid r.a wafat.

Muhasabah diri

Orang buta celaka bukan karena _tidak melihat_ tapi karena _tidak mau mendengar_

Seringkali orang celaka bukan karena _kelemahan yang disadarinya_ tapi karena _kelebihan yang disombongkannya_

oOo

Seseorang sedang berjalan menuju mesjid lalu melihat orang lain sedang memegang minuman keras dipinggir jalanan, lalu orang yg ke mesjid tsb bergumam dalam hatinya "Dasar pemabuk Ahli maksiat, sungguh hinanya kau... Beruntung aku lebih mulia daripada orang itu karena aku ahli mesjid!"

Sementara sang pemabuk yg melihat orang tsb yg sedang berjalan menuju ke mesjid, bergumam dalam hatinya... "Sungguh mulianya orang itu, dia pergi ke mesjid, sementara aku malah mabuk, hinanya aku ini... Ya Allah aku bertobat!"

Lalu pemabuk tsb bertobat sungguh2, menjadi Ahli Tobat & Ahli Ibadah bahkan sibuk dakwah/mengajak teman2nya yg masih mabuk agar bertobat.
Allah mencintai Ahli Tobat

Sementara Sang Ahli mesjid malah terjangkit penyakit hati yaitu ujub & takabur karena merasa sudah mulia dan menghinakan/merendahkan orang lain...
Allah melaknat orang yg sombong, na'udzubillah...

_Hati yang terbuka atas kebenaran_ walaupun dirinya masih berada dalam _suasana kemaksiatan_... *masih lebih baik* daripada _hati yang tertutup atas kebenaran_ sekalipun dirinya berada dalam _suasana ketaatan_

Pemabuk yang _Hatinya terbuka atas kebenaran_... *masih lebih baik* daripada orang yang _hatinya tertutup atas kebenaran_ sekalipun dirinya sudah duduk di dalam mesjid

Karena pemabuk tsb punyai peluang besar untuk bertobat karena hatinya yg terbuka, sementara Ahli mesjid tsb punyai peluang besar menjadi ujub & takabur karena hatinya yg tertutup/berpenyakit

Padahal semestinya sebagai orang beriman dan Ummat Rasulullah SAW...

Yang kita benci adalah _kemaksiatannya_ bukan _orangnya..._
Musuh kita itu _Penyakitnya_ bukan _Pasiennya..._
Pasien harus ditolong, dirawat & dibantu spy sembuh.

Nikmat ketaatan pada Allah & RasulNya yang sedang kita jalani adalah _semata2 karena Kasih SayangNya_+ bukan karena _kehebatan diri kita_... sehingga sama sekali tak layak utk disombongkan justru harus Kita syukuri dengan sgala kerendahan hati & suburnya kasih sayang kepada ummat sd Semesta Alam sebagai perwujudan dari cinta kita kepada Allah & RasulNya.

Wednesday, January 31, 2018

Pentingnya bersahabat

Pentingnya Bersahabat

Diriwayatkan, bahawa :
Apabila penghuni Syurga telah masuk kedalam Syurga, lalu mereka tidak menemukan sahabat2 mereka yang selalu bersama mereka dahulu sewaktu di Dunia. Mereka pun bertanya tentang sahabat mereka kepada Allah:
"Yaa Rabb..
Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia solat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami."
Maka Allah berfirman:
"Pergilah kamu ke Neraka, lalu keluarkanlah sahabat2 mu yang di hatinya ada iman walaupun hanya sebesar zarrah"
(HR : Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd").

Al-Hasan Al-Basri berkata:
"Perbanyaklah sahabat2 mukminmu, kerana mereka memiliki Syafa'at pada hari Kiamat nanti".

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat2 nya sambil menangis:
"Jika kalian tidak menemukanku nanti di Syurga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku:
"Wahai Rabb Kami.. Hamba-Mu si fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU..
Maka masukkanlah dia bersama kami di Syurga-Mu"

SAHABAT Ku..
Mudah2an dengan ini, aku telah mengingatkanmu Tentang Allah ..
Agar aku dapat besertamu kelak di Syurga & Redha-Nya..

‎آمِيّنْ. يَا رَبَّ العَالَمِينْ

Ya Allah
Aku Memohon kepada-Mu.. Kurniakanlah kepadaku sahabat2 yang selalu mengajakku untuk tunduk patuh & taat Kepada Syariat-Mu..
Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat kelak...
Carilah seberapa ramai sahabat yang baik yang menunjukkan jalan2 ke Syurga & jalan2 kebaikan.

WAHAI SAHABATKU
JANGAN LUPA BERTANYA TENTANGKU NANTI...JIKA AKU TIADA DI SYURGA NANTI ..😭😭😭