There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Sunday, February 15, 2009

Hak ke dua orang tua 1


Sabda Rasulullah saw : “Tidak ada seorang mukmin yang mempunyai dua orang tua, di mana pada waktu pagi ia berbuat baik kepada keduanya itu, di mana pada waktu pagi ia berbuat baik kepada keduanya itu, melainkan Allah membukakan dua pintu surga kepadanya. Dan Allah tidak akan ridha kepadanya manakala ia menyakiti salah satu dari keduanya sebelum keduanya ridha”. Ada seseorang bertanya : “Walaupun orang tuanya itu orang yang zhalim ?” Ia menjawab : “Meskipun orang tuanya itu orang yang zhalim”. Hadist ini diriwayatkan pula dengan riwayat yang marfu’, di mana di dalamnya terdapat tambahan : “Dan tidaklah ia berada di waktu pagi sedangkan ia menyakiti hati dua orang tuanya, melainkan Allah membukakan dua pintu neraka kepadanya, dan bila satu diantara dua orang tuanya, maka yang dibukakan juga hanya satu pintu neraka”.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, dari Nabi saw, di mana ia berkata : “ada seseorang datang kepada Nabi saw. Lantas berkata : ”Sesungguhnya saya ingin berjihad”. Beliau bertanya : “Apakah dua orang tuamu masih hidup ?” Ia menjawab : “Ya”. Beliau bersabda : “Layanilah dua orang tuamu itu, maka berjihadlah di dalam melayani itu”.

Hadist ini menunjukkan bahwa berbakti kepada dua orang tua itu lebih utama daripada berjihad pada jalan Allah SWT, karena Nabi saw menyuruh seseorang yang datang kepadanya itu untuk tidak berjihad dan supaya ia mengurusi dua orang tuanya. Dengan demikian seseorang tidak boleh keluar jihad pada jalan Allah bila dua orang tuanya tidak mengizinkannya. Jadi, berbakti kepada kedua orang tua itu lebih utama daripada keluar untuk berperang.

Rasulullah saw bersabda : “Seandainya Allah mengetahui sesuatu perkataan yang lebih ringan daripada kata “ah” yang termasuk pendurhakaan terhadap orang tua, niscaya Allah akan melarang yang demikian itu. Orang yang durhaka kepada orang tua itu boleh berbuat apa saja yang ia inginkan, maka ia tidak akan masuk surga, dan orang yang berbakti kepada orang tua itu boleh mengerjakan apa saja yang ia inginkan, maka ia tidak akan masuk neraka”.

Barang siapa yang bersyukur kepaad Allah, akan tetapi ia tidak bersyukur kepada kedua orang tuanya, maka syukurnya kepada Allah tidak akan diterima , sesuai dengan firman Allah : “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu”. (QS.Luqman:14)

Diriwayatkan dari Rasulullah saw, di mana beliau bersabda : “Sesungguhnya kutukan kedua orang tua itu memutuskan asal anak kedua orang tua itu apabila anak itu durhaka kepada keduanya. Barang siapa yang merasa senang kepada kedua orang tuanya, maka berarti ia merasa senang kepada Dzat Penciptanya dan barang siapa yang merasa marah kepada kedua orang tuanya, maka berarti ia merasa marah kepada Dzat Penciptanya. Barang siapa yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah satu di antara keduanya, kemudian ia tidak berbuat baik kepada keduanya, maka ia masuk neraka, lantas Allah menjauhkannya dari rahmat-Nya”

Nabi saw pernah ditanya : “Apakah amal perbuatan yang paling utama itu ?” Beliau menjawab : “Salat pada waktunya, kemudian berbuat baik kepada kedua orang tuanya, kemudian berjuang pada jalan Allah”.

Ada seseorang datang kepada Nabi saw lantas berkata : “wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku mengigau di tempatku, kemudian aku memberinya makan dan minum dengan tanganku, serta aku mewudhuinya dan mengangkatnya di atas bahuku, maka apakah yang demikian itu berarti aku membalasnya ?” Beliau bersabda : “Belum, belum satu persen pun. Akan tetapi kamu telah berbuat baik, dan Allah akan memberi pahala yang banyak terhadap amalmu yang sedikit itu”.

Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari ayahnya, di mana ia berkata : Tertulis di dalam hikmah : “Terkutuklah orang yang mengutuk ayahnya. Terkutuklah orang yang mengutuk ibunya. Terkutuklah orang yang menjauhkan diri dari jalan yang benar, atau orang yang menyesatkan jalan terhadap orang yang buta. Terkutuklah orang yang menyembelih binatang dengan tidak menyebut nama Allah. Terkutuklah orang yang merubah batas-batas tanah”.

Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya di antara dosa besar adalah bila seseorang mencaci maki kedua orang tuanya”. Ditanyakan kepada beliau : “Bagaimanakah seseorang mencaci maki kedua orang tuanya?” Beliau bersabda : “Seseorang mencaci maki ayah orang lain, maka orang lain itu mencaci maki ayahnya, ia mencaci maki ibu orang lain, maka orang lain mencaci maki ibunya”.

Friday, February 13, 2009

Hati Manusia :



Yang membedakan kita sebagai manusia dan makhluk-makhluk lainnya adalah bahwa manusia itu di karuniai hati, di mana hati ini di ibaratkan sebagai sebuah kolam yang mempunyai 4 buah saluran. Apabila dari ke empat saluran tersebut di isi dengan air yang bersumber baik dan bersih, misalnya mata air, air sumur , air pam dan lain sebagainya, maka akan baik dan bersih pula kolam tersebut. Tetapi apabila salah satu sumber dari kolam tersebut kotor, misalnya terkontaminasi oleh air selokan yang kotor, maka bisa di pastikan air di dalam kolam tersebut akan kotor.

Begitu pula dengan hati manusia, hati manusia juga memiliki empat buah saluran, yaitu pikiran, mata, telinga, dan mulut. Apabila pikiran kita baik dan bersih, penglihatan kita dipergunakan untuk melihat yang baik-baik, telinga kita dipergunakan untuk mendengar yang baik-baik, mulut kita dipergunakan untuk membicarakan dan makan yang baik-baik serta halal, maka hasilnya hati kita pun akan baik pula, namun apabila ada salah satu dari saluran tersebut dipergunakan untuk yang tidak baik, maka bisa dipastikan bahwa hati kita akan terkontaminasi dan akan menjadi kotor.

Maka dari itu, marilah kita sama-sama memperbaiki hati kita dengan selalu menjaga ke empat saluran tadi. Kita sama-sama memperbaiki niat kita, dimana niat akan terlaksanakan dengan gerak, jadi tidak cukup hanya dengan niat tanpa gerak.

Tentang Wanita 1


Seorang wanita shalihah itu lebih baik daripada 70 orang wali.


Dua Rakaat shalat wanita hamil lebih baik daripada 30 rakaat shalat wanita yang tidak hamil.


Wanita yang menyusui anaknya maka akan mendapatkan pahala dari setiap tetes air susu yang diberikannya.


Seorang isteri yang menghabiskan malamnya dengan tidak tidur karena menjaga anaknya yang sedang sakit maka akan mendapatkan pahala seperti membebaskan 20 anak budak.


Wanita yang mendorong suaminya untuk berjuang di jalan Allah SWT dan menjaga rumah tangganya, maka akan masuk surga 500 tahun lebih awal daripada suaminya dan menjadi pemimpin dari 70.000 malaikat dan bidadari. Wanita itu akan dimandikan di dalam surga lalu menunggu suaminya sambil menaiki kuda yang dibuat dari permata yaqut.


Wanita yang kurang tidur pada malam hari karena menjaga anak yang sedang sakit, maka seluruh dosanya akan diampuni oleh Allah SWT dan bila dia menghibur hati anaknya, maka Allah SWT memberinya 12 tahun pahala ibadah.


Wanita yang menyapu lantai dengan berdzikir akan mendapatkan pahala seperti menyapu Baitullah.


Wanita yang menjaga shalat, puasa dan taat pada suaminya. Maka Allah SWT akan memasukkannya ke dalam surga dari pintu mana saja yang dia sukai.


Pahala bagi wanita hamil sama seperti berpuasa pada siang hari dan seperti beribadah pada malam hari.


Wanita yang melahirkan akan mendapatkan pahala 70 tahun shalat dan puasa, setiap kesakitan pada uratnya Allah SWT akan memberikan satu pahala haji.


Apabila ada seorang wanita yang meninggal saat melahirkan, maka dianggap mati syahid.


Jika seorang wanita menyusui anaknya sampai jangka waktu 2 tahun maka malaikat dari langit akan datang membawa kabar gembira bahwa surga wajib baginya.


Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah SWT di akhirat, tetapi Allah SWT sendiri akan datang kepada wanita yang shalehah.



Tentang Wanita 1

Seorang wanita shalihah itu lebih baik daripada 70 orang wali

Dua Rakaat shalat wanita hamil lebih baik daripada 30 rakaat shalat wanita yang tidak hamil

Wanita yang menyusui anaknya maka akan mendapatkan pahala dari setiap tetes air susu yang diberikannya.

Seorang isteri yang menghabiskan malamnya dengan tidak tidur karena menjaga anaknya yang sedang sakit maka akan mendapatkan pahala seperti membebaskan 20 anak budak.

Wanita yang mendorong suaminya untuk berjuang di jalan Allah SWT dan menjaga rumah tangganya, maka akan masuk surga 500 tahun lebih awal daripada suaminya dan menjadi pemimpin dari 70.000 malaikat dan bidadari. Wanita itu akan dimandikan di dalam surga lalu menunggu suaminya sambil menaiki kuda yang dibuat dari permata yaqut.

Wanita yang kurang tidur pada malam hari karena menjaga anak yang sedang sakit, maka seluruh dosanya akan diampuni oleh Allah SWT dan bila dia menghibur hati anaknya, maka Allah SWT memberinya 12 tahun pahala ibadah.

Wanita yang menyapu lantai dengan berdzikir akan mendapatkan pahala seperti menyapu Baitullah.

Wanita yang menjaga shalat, puasa dan taat pada suaminya. Maka Allah SWT akan memasukkannya ke dalam surga dari pintu mana saja yang dia sukai.

Pahala bagi wanita hamil sama seperti berpuasa pada siang hari dan seperti beribadah pada malam hari.

Wanita yang melahirkan akan mendapatkan pahala 70 tahun shalat dan puasa, setiap kesakitan pada uratnya Allah SWT akan memberikan satu pahala haji.

Apabila ada seorang wanita yang meninggal saat melahirkan, maka dianggap mati syahid.

Jika seorang wanita menyusui anaknya sampai jangka waktu 2 tahun maka malaikat dari langit akan datang membawa kabar gembira bahwa surga wajib baginya.

Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah SWT di akhirat, tetapi Allah SWT sendiri akan datang kepada wanita yang shalehah.

Hati Manusia

Yang membedakan kita sebagai manusia dan makhluk-makhluk lainnya adalah bahwa manusia itu di karuniai hati, di mana hati ini di ibaratkan sebagai sebuah kolam yang mempunyai 4 buah saluran. Apabila dari ke empat saluran tersebut di isi dengan air yang bersumber baik dan bersih, misalnya mata air, air sumur , air pam dan lain sebagainya, maka akan baik dan bersih pula kolam tersebut. Tetapi apabila salah satu sumber dari kolam tersebut kotor, misalnya terkontaminasi oleh air selokan yang kotor, maka bisa di pastikan air di dalam kolam tersebut akan kotor.

Begitu pula dengan hati manusia, hati manusia juga memiliki empat buah saluran, yaitu pikiran, mata, telinga, dan mulut. Apabila pikiran kita baik dan bersih, penglihatan kita dipergunakan untuk melihat yang baik-baik, telinga kita dipergunakan untuk mendengar yang baik-baik, mulut kita dipergunakan untuk membicarakan dan makan yang baik-baik serta halal, maka hasilnya hati kita pun akan baik pula, namun apabila ada salah satu dari saluran tersebut dipergunakan untuk yang tidak baik, maka bisa dipastikan bahwa hati kita akan terkontaminasi dan akan menjadi kotor.

Maka dari itu, marilah kita sama-sama memperbaiki hati kita dengan selalu menjaga ke empat saluran tadi. Kita sama-sama memperbaiki niat kita, dimana niat akan terlaksanakan dengan gerak, jadi tidak cukup hanya dengan niat tanpa gerak.

Hati Manusia

Yang membedakan kita sebagai manusia dan makhluk-makhluk lainnya adalah bahwa manusia itu di karuniai hati, di mana hati ini di ibaratkan sebagai sebuah kolam yang mempunyai 4 buah saluran. Apabila dari ke empat saluran tersebut di isi dengan air yang bersumber baik dan bersih, misalnya mata air, air sumur , air pam dan lain sebagainya, maka akan baik dan bersih pula kolam tersebut. Tetapi apabila salah satu sumber dari kolam tersebut kotor, misalnya terkontaminasi oleh air selokan yang kotor, maka bisa di pastikan air di dalam kolam tersebut akan kotor.

Begitu pula dengan hati manusia, hati manusia juga memiliki empat buah saluran, yaitu pikiran, mata, telinga, dan mulut. Apabila pikiran kita baik dan bersih, penglihatan kita dipergunakan untuk melihat yang baik-baik, telinga kita dipergunakan untuk mendengar yang baik-baik, mulut kita dipergunakan untuk membicarakan dan makan yang baik-baik serta halal, maka hasilnya hati kita pun akan baik pula, namun apabila ada salah satu dari saluran tersebut dipergunakan untuk yang tidak baik, maka bisa dipastikan bahwa hati kita akan terkontaminasi dan akan menjadi kotor.

Maka dari itu, marilah kita sama-sama memperbaiki hati kita dengan selalu menjaga ke empat saluran tadi. Kita sama-sama memperbaiki niat kita, dimana niat akan terlaksanakan dengan gerak, jadi tidak cukup hanya dengan niat tanpa gerak.

Wednesday, February 11, 2009

Rahmat Allah SWT 2


Ada empat ayat di dalam surat An-Nisaa yang bagi kaum muslimin lebih baik daripada dunia beserta isinya. Empat ayat yang dimaksud adalah :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar” (QS.An-Nisaa:48)

“Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu Muhammad, lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang”. (QS.An-Nisaa:64)

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)”. (QS.An-Nisaa:31)

“Dan barang siapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS.An-Nisaa:110)

Nabi saw bersabda : Syafa’atku adalah bagi orang-orang yang mengerjakan dosa-dosa besar dari umatku. Barang siapa yang mendustakannya, maka ia tidak akan mendapatkannya”.

Diriwayatkan dari Muhammad bin Al-Munkadir dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra, dimana ia berkata : Rasulullah saw keluar mendatangi mereka lalu bersabda :

“Karibku Jibril as. Baru saja datang kepadaku dan berkata : “Wahai Muhammad, demi Dzat yang mengutusmu sebagai Nabi dengan benar, sesungguhnya ada salah seorang diantara hamba-hamba Allah yang beribadah kepada Allah SWT selama 500 tahun di puncak suatu gunung yang lebar dan panjangnya 30 hasta dan dikelilingi oleh laut seluas 4.000 tahun perjalanan, dari setiap penjuru Allah memancarkan sumber air segar dengan lebar satu jari yang mengalirkan air segar kepadanya yang menggenang dari bawah gunung itu, dan Allah juga mengaruniakan pohon delima yang setiap hari mengeluarkan sebuah delima. Setiap waktu sore ia turun untuk wudhu dan memetik delima itu lantas memakannya, kemudian mengerjakan salat dan memohon kepada Tuhannya agar dicabut nyawanya dalam keadaan sujud, serta memohon agar badannya tidak tersentuh oleh bumi yang lain sampai nanti dibangkitkan. Sewaktu ia sedang sujud, Allah mengabulkan permohonannya itu. Jibril as. Berkata : “Apabila kami melewatinya, baik sewaktu kami turun maupun naik, ia selalu tetap berada dalam keadaan yang sama, yakni dalam keadaan bersujud.” Jibril as. Berkata : “Kami mendapatkan dalam ilmu bahwa dia nanti pada hari kiamat akan dibangkitkan, lalu dihadapkan di hadapan Allah SWT , lantas Allah Yang Maha Pemberkah lagi Maha Tinggi berfirman : “Masukkanlah hamba-Ku ini karena rahmat-Ku”. Orang itu menjawab : “Yang benar adalah karena amalku”.. Allah SWT lantas berfirman kepada malaikat-Nya : “Hitunglah amal hamba-Ku ini yakni antara nikmat-Ku dengan amal perbuatannya”. Kemudian didapatkan bahwa nikmat penglihatan saja sudah meliputi ibadahnya selama 500 tahun, padahal masih banyak nikmat-nikmat tubuh yang lainnya, maka Allah berfirman : “Masukkanlah hamba-Ku ini ke dalam neraka”. Orang itu lalu ditarik ke dalam neraka, dan ia berkata : “Wahai Tuhanku. Karena rahmat-Mu masukkanlah saya ke dalam surga”. Allah lantas berfirman : “Kembalikanlah ia”. Kemudian ia dibawa di hadapan-Nya, lalu Allah bertanya : “Wahai hamba-Ku, siapakah yang menciptakan kamu di mana kamu tadinya tidak ada ?” Ia menjawab : “Engkau wahai Tuhanku”. Allah bertanya : “Siapakah yang menempatkan kamu di tengah-tengah kebun, mengeluarkan air tawar dari tengah-tengah air asin, siapakah yang mengeluarkan buah delima pada setiap malam, di mana delima itu hanya keluar setahun sekali, dan kamu memohon kepada-Ku agar Aku mencabut nyawamu sewaktu kamu sedang bersujud, dan Aku telah melakukannya. Siapakah yang melakukan semua itu?” Ia menjawab : Engkau wahai Tuhanku”. Allah berfirman : “Itu semua adalah rahmat-Ku, dan karena rahmat-Ku pula Aku memasukkan kamu ke dalam surga”. Jibril as. Berkata :”Segala sesuatu itu adalah karena rahmat Allah”.

Abu Hurairah ra berkata bahwasanya Nabi saw bersabda : “Seseorang di antara kamu sekalian tidak bisa selamat karena amalnya”. Para sahabat bertanya : “Tidak pula engkau wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab : “Dan tidak pula aku, melainkan bila Allah melingkupi aku dengan rahmat-Nya. Maka sedang-sedanglah kamu dan tepatkanlah segala perbuatanmu, beramallah di waktu pagi dan sore, dan sedikit di waktu malam, sederhanalah dan sederhanalah, niscaya kamu akan sampai ke tujuan”/

Anas bin Malik meriwayatkan dari Nabi saw, dimana beliau bersabda : “Permudahlah dan jangan mempersulit, gembirakanlah dan jangan menggusarkan”.

Nabi saw bersabda lagi : “Kelak pada hari kiamat ada seruan dari bawah ‘arasy yang menyerukan : “Wahai umat Muhammad, adapun dosa yang dulu kamu lakukan maka kini telah Aku maafkan bagimu, dan yang tersisa hanya dosa yang berhubungan di antara sesama kamu, maka maaf-memaafkanlah dan masuklah ke dalam surga karena rahmat-Ku”.

Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Dawud as. : “Wahai Dawud, gembirakanlah orang-orang yang berbuat dosa dan peringatkanlah orang-orang yang benar”. Dawud berkata : “Kenapa saya harus menggembirakan orang-orang yang berbuat dosa dan memperingatkan orang-orang yang benar?” Allah berfirman : “Gembirakanlah kepada orang-orang yang berbuat dosa karena tidak ada rasa berat bagi-Ku untuk mengampuni dosa-dosa mereka, dan peringatkanlah orang-orang yang benar untuk tidak merasa heran dengan amal perbuatan mereka, karena bila Aku meletakkan keadilan dan hisab-Ku atas seseorang niscaya ia akan binasa”.

Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Aku adalah Allah, Dzat yang menguasai semua raja, hati para raja itu berada di tangan-Ku. Setiap bangsa yang Aku rela kepadanya, maka Aku jadikan hati para raja itu merupakan rahmat bagi bangsanya, dan setiap bangsa yang Aku murka kepadanya, maka Aku jadikan hati para raja itu siksaan bagi bangsanya. Maka janganlah kamu sibuk untuk mencaci maki para raja, dan bertobatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku lunakkan hati mereka atas kamu”.

Dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda : “Seandainya orang yang beriman mengetahui siksaan yang berada di sisi Allah, niscaya tidak akan ada seorang pun yang berharap akan masuk surga, dan seandainya orang yang kafir mengetahui rahmat yang berada di sisi Allah, niscaya tidak akan ada seorang pun yang berputus asa dari rahmat-Nya”.

Monday, February 9, 2009

Rahmat Allah SWT 1


Rasulullah saw bersabda : “Allah menjadikan rahmat seratus bagian, lantas Dia menahan di sisi-Nya 99 bagian dan menurunkan satu bagian ke bumi. Dengan satu bagian itu saja makhluk berkasing-sayang satu dengan yang lainnya, sehingga kuda mengangkat kakinya karena khawatir menginjak anaknya”.

Pada sabda lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seratus rahmat, Allah turunkan satu rahmat diantaranya ke bumi untuk semua penghuni dunia, maka rahmat yang satu itu membuat lapang bahagia kepada mereka sampai ajal mereka. Nanti pada hari kiamat Allah mencabut rahmat yang satu itu, lalu menggabungkannya dengan yang 99, maka lengkaplah seratus rahmat yang kemudian diberikan kepada kekasih-kekasih Allah dan orang-orang yang taat kepada-Nya”.

Allah berfirman : “Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan”. (QS.Al-A’raaf:56)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman : “Maka barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan….” (QS.Al-Kahfi:110)

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu” (QS.Al-A’raaf:156)

Maksudnya segala sesuatu mendapat bagian dari rahmat Allah.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, di mana ia berkata : Ketika ayat ini turun, iblis menonjol-nonjolkan diri, seraya berkata : “Saya termasuk salah satu dari sesuatu itu, maka saya akan mendapatkan bagian rahmat-Nya”, demikian pula orang-orang Yahudi dan Nasrani pun menonjol-nonjolkan diri. Namun ketika turun ayat : “maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami” (QS.Al-A’raaf:156)

Maka iblis berputus asa dari rahmat-Nya. Sedangkan orangorang Yahudi dan Nasrani berkata : “Kami merasa tidak menyekutukan Allah, menunaikan zakat dan beriman kepada ayat-ayat-Nya”.

Kemudian turun ayat : “Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi tidak bisa baca tulis.” (QS.Al-A’raaf:157)

Maka orang-orang Yahudi dan Nasrani berputus asa. Jadi rahmat itu semata-mata hanya bagi orang-orang yang beriman. Oleh karena itu, wajib atas setiap orang yang beriman untuk memanjatkan puji syukur kepada Allah atas iman yang dikaruniakan kepadanya dan namanya tercatat dalam kelompok orang-orang yang beriman, disamping ia harus senantiasa bermohon kepada Allah agar dijauhkan dari perbuatan-perbuatan dosa.

Rasulullah saw bersabda : “Ada seseorang masuk surga padahal ia sama sekali tidak mengerjakan kebaikan, hanya saja sewaktu ia hendak mati, ia berkata kepada keluarganya : “Apabila saya mati maka bakarlah saya dengan api, kemudian taburlah abunya separuh di daratan dan separuhnya lagi di lautan” Ketika ia mati, keluarganya mengerjakan apa yang dipesankannya itu. Allah lantas memerintahkan kepada daratan dan lautan untuk mengumpulkan abunya itu, dan berfirman : “Apa yang menyebabkan kamu berbuat seperti itu?” Orang itu menjawab : “Wahai Tuhan, karena saya takut kepada-Mu”. Kemudian Allah mengampuni dosa-dosanya karena takutnya kepada Allah itu.”

Sabda Rasulullah saw : “Sewaktu kami tertawa terbahak-bahak, Rasulullah saw melihat kami lantas bersabda : “Kenapa kamu tertawa terbahak-bahak, sedangkan api neraka menanti di belakang mu. Demi Allah, aku tidak senang melihat kamu tertawa terbahak-bahak” Kemudian beliau meninggalkan kami, lalu seolah-olah ada burung di atas kepala kami. Kemudian beliau datang kembali kepada kami dengan berjalan mundur lalu bersabda : “Jibril as datang dan berkata : Sesungguhnya Allah SWT berfirman : “Kenapa kamu mematahkan hati hamba-Ku dari rahmat-Ku. Beritahukanlah kepada hamba-Ku, bahwa Aku adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, akan tetapi sesungguhnya siksa-Ku, adalah siksaan yang sangat pedih”.

Dalam hadist lain dikemukakan, bahwa Nabi saw : “Sesungguhnya Allah SWT tidak menganggap besar tidak merasa berat untuk mengampuni dosa hamba-Nya. Ada seseorang yang sebelum kamu telah membunuh 99 orang, kemudian ia mendatangi seorang pendeta dan berkata : “Aku telah membunuh 99 orang, maka apakah ada jalan bagiku untuk bertobat?”. Pendeta itu berkata : “Tidak, sungguh kamu telah melampaui batas”. Kemudian ia bangkit dan membunuh pendeta itu. Setelah itu ia mendatangi pendeta yang lain dan berkata : “Aku telah membunuh seratus orang, maka apakah ada jalan bagiku untuk bertobat ?” Pendeta itu berkata : “Sungguh kamu telah melampaui batas, namun aku tidak tahu. Hanya saja di sini ada dua desa yang salah satu di antara nya bernama Bushra dan yang satunya lagi bernama Kafrah. Penduduk desa Bushra itu senantiasa mengerjakan amalan-amalan ahli surga, di mana tidak ada orang lain yang menetap di sana, sedangkan penduduk desa Kafrah itu adalah orang-orang yang mengerjakan amalan-amalan ahli neraka, di mana tidak ada orang yang menetap di sana. Apabila kamu mendatangi desa Bushra lantas kamu mengerjakan amalan-amalan mereka, maka janganlah ragu dengan tobatmu itu, kemudian ia berangkat menuju desa Bushra. Sewaktu berada di antara dua desa itu, ia meninggal dunia. Dengan kematian orang itu, maka terjadi silang pendapat antara malaikat penyiksa dan malaikat rahmat, kemudian malaikat itu bertanya kepada Tuhan lantas mereka mendapatkan jawaban : “Ukurlah jarak antara kedua desa itu, ke desa mana ia lebih dekat, maka di situlah ia termasuk penghuninya. Kemudian para malaikat itu mengukurnya dan mereka mendapatkan bahwa orang itu lebih dekat ke Bushra kira-kira seujung jari, maka ia dicatat sebagai penduduk Bushra yang berarti tobatnya diterima”.

Abdullah bin Mas’ud ra berkata : “Ada tiga macam hal yang saya berani bersumpah atasnya dan yang keempatnya saya berani bersumpah bila saya memang benar. Pertama, Allah tidak akan memelihara seseorang di dunia, kemudian diserahkan kepada yang lain-Nya nanti pada hari kiamat. Kedua, Allah tidak akan menyamakan orang yang mempunyai andil dalam Islam dengan orang tidak mempunyai andil. Ketiga, tidak ada seseorang yang mencintai sesuatu kaum, melainkan nanti pada hari kiamat ia bersama mereka. Sedangkan keempat, yaitu Allah tidak akan menutup dosa seseorang sewaktu di dunia, melainkan Dia akan menutupinya nanti di akhirat.”

Sunday, February 8, 2009

keadaan Surga dan Penghuninya 3


Dari Anas bin Malik ra dari Nabi saw, bahwasanya beliau bersabda : “Barang siapa yang mohon surga kepada Allah SWT tiga kali, maka surga itu berkata : “Wahai Allah, masukkanlah ia ke dalam surga”. Dan barang siapa yang memohon dihindarkan dari neraka tiga kali, maka neraka itu berkata : “Wahai Allah hindarkanlah dia dari neraka”.

Nabi saw juga bersabda : “Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat pasar yang tidak dipergunakan untuk berjual-beli. Disana penghuni surga berkumpul dengan berkelompok-kelompok menyebut-nyebut bagaimana keadaan dunia, bagaimana cara beribadah kepada Tuhan, bagaimana keadaan penghuni dunia yang miskin dan kaya, bagaimana kematian itu, bagaimana bisa sampai ke surga setelah lama busuk di dalam kubur”.

Dari Ibnu Mas’ud ra, dimana ia berkata : “semua manusia akan datang dengan berdiri di sekitar neraka, kemudian meniti titian sesuai dengan amal perbuatan mereka. Ada di antara mereka yang melewatinya bagaikan kilat, ada yang melewatinya bagaikan angin kencang, ada yang melewatinya bagaikan larinya kuda yang bagus, ada yang melewatinya bagaikan orang yang lari, sampai pada akhirnya ada seseorang yang melewatinya dengan menggunakan dua ibu jari kakinya, kemudian jatuh tersungkur ke dalam neraka. Titian itu sangat tajam setajam pedang, berduri, dan di kanan kirinya ada malaikat yang membawa bantolan untuk membantol menyeret manusia. Ada diantara manusia itu yang selamat, ada yang luka-luka tetapi masih selamat, dan ada yang langsung jatuh tersungkur ke dalam neraka. Para malaikat berdoa : “Wahai Tuhan, selamatkanlah, selamatkanlah”. Ada seseorang yang melewatinya dan ia adalah orang terakhir yang masuk surga. Ketika ia selamat tidak ada tempat baginya di dalam surga. Melihat keadaan yang seperti itu, ia berdoa : “Wahai Tuhan, tempatkanlah saya di situ”. Allah berfirman kepadanya : “Bila Aku menempatkan kamu di situ, kemungkinan besar nanti kamu akan minta yang lain”. Ia menjawab : “Tidak, demi kemuliaan-Mu”. Kemudian ia ditempatkan di situ. Setelah itu diperlihatkan kepadanya tingkatan yang lebih mulia, demikian seterusnya sampai empat kali. Ketika berada pada tingkatan yang keempat, dan diperlihatkan kepadanya tempat yang lebih mulia lagi dan ia merasa rendah dengan segala apa yang telah diberikan kepadanya, namun ia diam, tidak berani minta tempat yang lebih mulia lagi. Kemudian Allah bertanya kepadanya : “Kenapa kamu tidak minta”. Ia menjawab : “Saya sudah minta sampai saya merasa malu”. Kemudian Allah SWT berfirman : “Bagimu sebesar dunia dan sepuluh kali, dan ini adalah tempat yang paling rendah di dalam surga”.

Abdullah bin Mas’ud berkata : “Nabi saw setiap kali membicarakan masalah ini, beliau tertawa sehingga gigi-gigi gerahamnya kelihatan”.

Diriwayatkan dalam sebuah hadist, bahwa di antara wanita-wanita dunia ada yang kecantikannya melebihi bidadari-bidadari di dalam surga, karena amal perbuatannya ketika berada di dunia.

Allah SWT berfirman : “Kami menciptakan mereka bidadari-bidadari itu secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan yang penuh cinta dan sebaya umurnya, untuk golongan kanan”. (QS.Al-Waaqi’ah:35-38)

keadaan Surga dan Penghuninya 2


Ikrimah berkata : “Penghuni surga itu bagaikan orang yang berusia 33 tahun baik yang laki-laki maupun yang perempuan, tingginya 60 hasta, setinggi Nabi Adam as, selalu dalam keadaan muda, bersih tidak berjenggot, matanya bersinar, mereka memakai 70 perhiasan yang warnanya berubah-ubah setiap jam dengan 70 macam warna. Ia dapat melihat mukanya sendiri pada muka, dada dan betis istrinya, dan istrinya dapat melihat mukanya sendiri pada muka, dada dan betis suaminya. Mereka tidak pernah berludah, beringus dan apalagi yang lebih jijik seperti kencing atau buang air besar”.

Dalam riwayat lain disebutkan, seandainya seorang wanita surga atau penghuni surga memperlihatkan telapak tangannya dari langit, niscaya segala apa yang berada di antara langit dan bumi itu akan terang benderang.

Ada seorang ahli kitab datang kepada Nabi saw. Dan berkata : “Wahai Abul Qasim, apakah kamu mengira bahwa penghuni surga itu makan dan minum?” Beliau bersabda : “Benar”. “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman-Nya, Sesungguhnya salah seorang diantara mereka itu dikaruniai kekuatan seratus orang dalam hal makan, minum dan bersetubuh”. Ahli kitab itu berkata : “Sesungguhnya orang yang makan dan minum itu mempunyai hajat perlu ke kamar kecil, sedangkan di dalam surga tidak ada kotoran sama sekali”. Beliau bersabda : “Hajat salah seorang di antara mereka itu dikeluarkan melalui keringat yang baunya harum bagaikan harumnya kesturi”.

Dari Abu Hurairah ra Nabi saw bersabda : “Rombongan pertama yang akan masuk surga di antara umatku bagaikan bulan purnama, kemudian yang berikutnya bagaikan bintang yang sangat cemerlang, kemudian sesudah itu sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Mereka tidak kencing dan tidak buang air besar, tidak meludah dan tidak beringus. Sisir rambut mereka terbuat dari emas, dan ukup-ukup mereka dari kayu cendana yang harum. Keringat mereka berupa minyak kesturi dan bentuk mereka seperti bentuk seorang dengan tinggi badan seperti Nabi Adam as. Yakni 60 hasta”.

Setiap kekasih Alah itu mempunyai 70 perhiasan yang beraneka ragam warnanya. Pada jari-jari mereka terdapat sepuluh cincin dengan ditulisi :

Pada cincin pertama tertulis : “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu”
(QS. Ar-Ra’d:24)

Pada cincin kedua tertulis : “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman”.
(QS.Al-Hijr:46)

Pada cincin yang ketiga tertulis : “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan” (QS.Az-Zukhruf:72)

Pada cincin keempat tertulis : “Dihilangkan dari kamu segala kesedihan dan duka-cita”.

Pada cincin kelima tertulis : “Kami pakaikan intan dan berbagai macam perhiasan kepadamu”.

Pada cincin keenam tertulis : “Kami kawinkan kamu dengan bidadari yang cantik jelita”.

Pada cincin ketujuh tertulis : “Dan bagimu di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh hati dan sedap dipandang mata dan kamu kekal didalamnya”.

Pada cincin kedelapan tertulis : “Kamu berteman dengan para nabi dan orang-orang yang benar”.

Pada cincin kesembilan tertulis : “Kamu akan muda terus, tidak akan tua”.

Pada cincin kesepuluh tertulis : “Kamu bertempat tinggal di tengah-tengah tetangga yang mana tidak ada tetangga yang akan mengganggu kamu”.

Barang siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan seperti tersebut diatas, maka ia harus senantiasa mengerjakan lima hal, yaitu :

Mencegah dirinya dari semua jenis kemaksiatan, Allah SWT berfirman : “Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya”. (QS. An-Naazi’aat:40-41)

Rela dengan keadaannya yang sangat sederhana. Diriwayatkan dalam sebuah hadist : “Harga surga itu adalah meninggalkan dunia”.

Sangat senang untuk mengerjakan ketaatan kepada Allah, di mana segala aktifitasnya dikaitkan dengan ketaatan itu dengan harapan bahwa ketaatannya itu akan menjadikan sebab ampunan dan mendapatkan surga. Firman Allah SWT : “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan”. (QS.Az-Zukhruf:72)

Dalam ayat lain disebutkan :

“Sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan” (QS.As-Sajdah:17)

Mencintai orang-orang shaleh dan orang-orang yang baik, di mana dia senantiasa bergaul dan berkumpul bersama mereka, karena ada di antara mereka bila memohon ampun kepada Allah, niscaya akan memberikan syafa’at kepada kawan-kawan dan saudara-saudaranya, sebagaimana diriwayatkan dari Nabi saw, dimana beliau bersabda : “Perbanyaklah saudara, karena sesungguhnya setiap saudara itu bisa memberikan syafa’at nanti pada hari kiamat”.

Memperbanyak doa dan mohon ampun kepada Allah SWT agar mengaruniai surga dan menjadikan akhir hidupnya baik (Husnul khatimah). Amin.

Sebagian orang-orang yang bijaksana berkata : “Orang yang cenderung kepada dunia padahal ia mengharapkan pahala adalah suatu kebodohan, dan orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam beramal setelah ia mengetahui pahalanya adalah suatu kelemahan. Sesungguhnya di dalam surga itu ada suatu istirahat yang tidak akan diperoleh, melainkan oleh orang yang sewaktu di dunia tidak pernah istrirahat untuk beribadah, dan di sana ada suatu kekayaan yang tidak akan diperoleh, melainkan oleh orang yang tidak mementingkan dunia dan merasa cukup dengan keadaannya yang sangat sederhana”.

Salah seorang zahid bercerita bahwa ia makan sayuran dan garam saja tanpa roti, kemudian ada seseorang yang berkata : “Kamu cukup makan hanya seperti ini saja?” Orang zahid itu menjawab : “Saya jadikan makan ini hanya sekedar untuk menguatkan tubuh agar dapat mengerjakan ibadah semoga saya bisa masuk surga, sedangkan kamu jadikan makanan yang enak-enak itu untuk menuju ke kamar kecil (wc).”

Dari Ibrahim bin adham, bahwasanya ia hendak masuk ke kamar mandi, kemudian dilarang oleh pemiliknya seraya berkata : “Kamu harus membayar bila mau masuk”. Kemudian Ibrahim menangis dan berkata : “Wahai Allah, saya tidak diizinkan untuk masuk ke rumah setan dengan gratis, maka bagaimana mungkin saya dapat masuk rumah para nabi dan orang-orang yang benar dengan gratis”.

Disebutkan dalam sebagian wahyu yang diturunkan kepada sebagian nabi-nabi-Nya : “Wahai manusia, kamu mau membeli neraka dengan harga yang mahal, sedangkan kamu tidak mau membeli surga dengan harga yang murah”.

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata : “Meninggalkan dunia itu memang berat, akan tetapi meninggalkan surga itu jauh lebih berat daripadanya. Sesungguhnya maskawin surga itu adalah meninggalkan dunia”.

keadaan Surga dan Penghuninya 1


Dari Abu Hurairah ra Nabi saw bersabda : “Kami bertanya : “Wahai Rasulullah, surga itu dibuat dari apa ?” Beliau menjawab : “Dari air”. Kami berkata : “Beritahukanlah kepada kami tentang bangunan surga itu”. Beliau bersabda : “Satu bata dari emas dan satu bata dari perak, lantainya berupa minyak kesturi yang semerbak harum, tanahnya berupa za’faran, kerikilnya berupa mutiara dan permata. Barang siapa yang masuk kedalamnya, maka ia selalu berada dalam keadaan senang dan tidak pernah susah, kekal dan tidak pernah mati, bajunya tidak pernah rusak, dan masa mudanya tidak akan berlalu”

Kemudian Nabi saw bersabda : “Ada tiga macam kelompok manusia yang doanya tidak akan ditolak, yaitu pemimpin yang adil, orang yang berpuasa ketika berbuka puasa, dan doa orang yang dianiaya. Doa itu diangkat keatas awan, lalu Tuhan yang sempurna keagungan-Nya melihat lantas berfirman : “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolong kamu, walaupun tidak sekarang”.

Dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw, Beliau bersabda :
“Sesungguhnya di dalam surga itu ada suatu pohon yang bila seseorang yang berkendaraan berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun niscaya ia tidak akan terputus daripadanya. Perhatikanlah ayat : “Dan naungan yang terbentang luas” (QS.Al-Waaqi’ah:30) Di dalam surga ada kenikmatan yang tidak pernah dipandang mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati seseorang. “Perhatikanlah ayat : “Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu bermacam-macam nikmat yang menyenangkan hati” (QS.As-Sajdah:17) Dan sungguh tempat cemeti di dalam surga itu lebih baik dari pada dunia dan isinya,. Perhatikanlah ayat : “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan” (QS. Ali ‘Imran:185)

Dari Ibnu Abbas ra, dimana ia berkata : “Sesungguhnya didalam surga itu ada bidadari yang diciptakan dari empat macam bahan yaitu : minyak kesturi, ‘anbar, kafur, dan za’faran, dan tanahnya dicampur dengan air kehidupan. Semua bidadari itu sangat mempesonakan, dan seandainya mereka berludah ke laut, niscaya air laut itu menjadi tawar, dan di leher bidadari itu tergantung tulisan yang berbunyi : “Siapa yang ingin mempunyai istri seperti aku, maka hendaklah ia taat kepada Tuhanku”.

Mujahid berkata : “Bumi surga itu terbuat dari perak, debunya dari minyak kesturi, urat-urat daunnya dari perak, dahan-dahannya dari mutiara dan batu permata, serta daun dan buahnya berada dibawah dahan. Barang siapa yang memakannya dengan berdiri, maka ia tidak akan mengalami kesulitan, siapa yang memakannya dengan duduk, maka ia tidak akan mengalami kesulitan, dan siapa yang memakannya dengan berbaring, maka ia pun tidak akan mengalami kesulitan sedikit pun”, dan kemudian ia membaca ayat yang berbunyi : “Dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik buahnya” (QS.Al-Insaan:14)

Maksudnya buahnya itu dekat, sehingga mudah digapai baik oleh orang yang berdiri maupun duduk.

Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw, Beliau bersabda : “Demi Dzat yang menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad saw., sesungguhnya penghuni surga itu selalu bertambah bagus dan tampan, sebagaimana mereka selalu bertambah tua sewaktu berada di dunia”.

Rasulullah saw bersabda : “Apabila penghuni surga telah masuk ke dalam surga dan penghuni neraka telah masuk ke dalam neraka, maka ada suara yang berseru : “Wahai penghuni surga, sesungguhnya Allah bermaksud untuk melaksanakan janji-Nya kepadamu”. Mereka berkata : “Apakah itu, bukankah Dia telah memberatkan timbangan kami, mencemerlangkan wajah kami, memasukkan kami ke dalam surga, dan mengeluarkan kami dari neraka”. Nabi saw melanjutkan sabdanya : “Kemudian Allah menyingkapkan tabir, maka mereka dapat melihat-Nya. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Allah tidak memberikan sesuatu yang lebih disenangi kepada mereka daripada melihat kepada-Nya”.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. Di mana ia berkata “Malaikat Jibril datang kepada Nabi saw. Dengan membawa sebuah cermin putih yang disitu ada sebuah titik hitam, maka Nabi saw bertanya : “Apakah cermin putih itu?” Jibril menjawab : “Ini adalah hari Jum’at, dan titik hitam ini adalah saat yang ada pada hari Jum’at yang telah dikaruniakan Allah kepadamu dan kepada umatmu, sehingga umat-umat yang sebelum kamu, maksudnya orang-orang Yahudi, dan Nasrani, berada di belakangmu. Pada hari Jum’at itu ada suatu saat yang apabila seseorang mukmin memohon sesuatu yang baik kepada Allah SWT bertepatan pada saat itu, niscaya permohonannya itu akan dikabulkan oleh Allah, dan bila ia berlindung diri dari sesuatu yang tidak diinginkan niscaya Allah akan melindunginya”’ Jibril berkata : “ Bagi kami (para malaikat), hari Jum’at itu diberi nama hari tambahan?” Rasulullah bertanya, “apakah hari tambahan itu?” Jibril berkata : “Sesungguhnya Allah telah membuat suatu lembah di dalam surga yang didalamnya ada bukit dari minyak kesturi,. Apabila datang hari Jum’at, maka lembah itu dikelilingi dengan mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya yang diduduki oleh para Nabi, dan juga dikelilingi dengan mimbar-mimbar dari emas yang bertahtakan permata dan mutiara yang diduduki oleh para orang yang benar, orang yang mati syahid, dan orang yang shaleh. Orang-orang yang berada di dalam kamar itu turun lalu duduk di belakang mereka pada bukit itu. Mereka berkumpul menghadap kepada Tuhan lantas memanjat puja dan puji kepada-Nya, kemudian Allah SWT berfirman kepada mereka : “Ajukanlah permintaan kepada-Ku” Mereka berkata : “Kami memohon keridhaan-Mu” Allah SWT berfirman : “Aku telah memberikan keridhaan-Ku kepadamu yang mana Aku akan menempatkan kamu di rumah-Ku, dan Aku muliakan kamu”. Kemudian Allah menampakkan diri kepada mereka sehingga mereka melihat-Nya. Maka tidak ada suatu hari yang lebih mereka sukai daripada hari Jum’at karena pada hari Jum’at itu mereka mendapatkan tambahan kemuliaan”.

Allah berfirman kepada malaikat-Nya : “Berilah makan kekasih-kekasih-Ku”. Kemudian berbagai macam makanan dihidangkan kepada mereka. Mereka dapatkan pada setiap jenis makanan itu suatu kelezatan yang tidak terdapat pada makanan yang lain. Apabila mereka selesai makan, maka Allah SWT berfirman kepada malaikat-Nya : “Berilah mereka minum”. Kemudian berbagai macam minuman dihidangkan kepada mereka. Mereka dapatkan pada setiap jenis minuman itu suatu kenyamanan yang tidak terdapat pada jenis minuman yang lain. Apabila mereka telah selesai minum, maka Allah SWT berfirman kepada mereka : “Aku adalah Tuhanmu, Aku telah melaksanakan janji-Ku. Ajukanlah permintaan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya”. Mereka berkata : “Wahai Tuhan kami, kami mohon keridhaan-Mu”, mereka mengulanginya dua atau tiga kali. Kemudian Allah SWT berfirman : “Aku telah memberikan keridhaan kepadamu, dan pada hari ini Aku memberikan tambahan kenikmatan kepadamu, dimana Aku memuliakan kamu dengan suatu kemuliaan yang lebih besar daripada semua kenikmatan”. Kemudian Allah menyingkapkan tabir dan mereka dapat melihat Dzat-Nya. Masya Allah. Mereka semua bersungkur sujud kepada-Nya. Ketika mereka sedang bersujud , Allah berfirman kepada mereka : “Angkatlah kepalamu. Saat ini bukanlah saat untuk beribadah. Mereka lupa terhadap segala kenikmatan yang sudah dinikmatinya didalam surga karena melihat Dzat-Nya adalah suatu kenikmatan luar biasa yang tiada bandingannya.

Kemudian mereka pulang ke tempat masing-masing diiringi dengan hembusan angin yang sangat harum dari bawah ‘arasy dari bukit yang terbuat dari kesturi putih yang bertaburan di atas kepala mereka dan pada ubun-ubun kuda mereka. Ketika mereka sampai pada istri mereka, istri mereka melihat mereka itu lebih tampan daripada sebelum meninggalkannya. Istri itu berkata : “Kamu kembali dengan lebih tampan daripada sewaktu berangkat”.

Saturday, February 7, 2009

Ikhlas 5


Orang yang baik itu akan selalu mengingatkan dan memperingatkan kepada sesamanya dengan tiga persyaratan :


Barang siapa yang beramal untuk akhiratnya, maka Allah akan mencukupi urusan dunianya.


Barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.


Barang siapa yang memperbaiki apa yang tersembunyi, maka Allah akan memperbaiki apa yang nampak.

Apabila Allah menghendaki kehancuran seseorang, maka Allah menyiksanya dengan tiga hal :


Allah memberinya ilmu, namun ia tidak mau mengamalkannya.

Allah memberinya bisa bergaul dengan orang-orang yang shaleh, namun ia tidak mau mengerti hak-hak mereka.

Allah memberinya kesempatan untuk mengerjakan ibadah, namun ia tidak ikhlas dalam ibadahnya itu.

“Hal yang demikian itu bisa terjadi disebabkan oleh jahat niatnya dan jelek hatinya, karena seandainya niatnya itu benar, niscaya Allah akan mengaruniainya ilmu yang bermanfaat, ikhlas dalam beramal dan mengerti (penghormatan) kepada orang-orang yang shaleh”.

Apabila seseorang mengerjakan amal-amal perbuatan yang wajib karena perasaan riya, di mana seandainya bukan karena riya ia tidak akan mengerjakannya maka ia benar-benar orang munafik dan orang semacam itulah disinyalir oleh Allah melalui firman-Nya :

“Sungguh, orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka” (QS.An-Nisaa:145)

Maksudnya mereka akan ditempatkan di neraka Hawiyah bersama sama dengan keluarga Fir’aun, karena seandainya tauhidnya benar dan mempunyai rasa ikhlas, niscaya ia tidak akan enggan sama sekali untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban. Kedua, apabila seseorang mengerjakan amal-amal perbuatan yang wajib, di mana apabila diketahui orang lain ia akan mengerjakannya dengan sempurna, sedangkan bila tidak diketahui orang lain ia akan mengerjakannya dengan kurang sempurna, maka ia mendapatkan pahala dari amalan yang kurang sempurna itu, dan tidak akan diberi pahala dari amalanya yang sempurna itu yang ia kerjakan karena ada orang lain, bahkan nanti akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya yang karena orang lain itu, dan amalnya akan diperhitungkan sesuai dengan niatnya.

Wallaahu a’lam.

Ikhlas 4


Dari Ibnu Abbas ra dari Rasulullah saw bersabda :

“Ketika Allah menciptakan surga Adn, Dia menciptakan di dalamnya apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tak pernah terlintas dalam hati manusia. Kemudian Allah berfirman kepadanya : “Berbicaralah kamu”. Maka ia mengucapkan : “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, tiga kali dan ia mengucapkan : “Sesungguhnya aku haram bagi setiap orang yang kikir, munafik dan riya (pamer)”.


Bentengnya amal itu ada 3 :

Hendaknya seseorang berpendapat bahwa amal itu datangnya dari Allah SWT untuk menghilangkan ujub (rasa heran terhadap diri sendiri).

Hendaknya dengan amal itu ia mengharap ridha Allah untuk menghilangkan hawa nafsu.

Hendaknya ia mengharap ridha, pahala/balasan amal-nya itu hanya dari Allah, sehingga tidak menimbulkan tamak dan riya.

Dengan ketiga hal ini, maka ikhlas dalam beramal. Yang dimaksud dengan “amal itu dari Allah”, yaitu bahwa Allah SWT yang memberikan petunjuk dan kekuatan untuk mengerjakan amal. Yang dimaksud dengan “amal itu mengharap ridha Allah” yaitu sebelum beramal hendaknya melihat, apabila amalnya itu karena Allah dan mengandung keridhaan, maka ia mengerjakannya, supaya ia tidak mengerjakan amal dengan menuruti hawa nafsunya, karena Allah SWT berfirman “Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan” (QS.Yuusuf:53).

“Mengharap pahala balasan amalnya itu hanya dari Allah” Hendaklah ia beramal ikhlas karena Allah semata dan tidak peduli dengan ucapan orang, sebaiknya orang yang mengerjakan sesuatu amal itu mengambil contoh dari penggembala kambing, karena penggembala kambing tidak menginginkan pujian dari kambingnya. Demikian pula orang yang beramal jangan mengharapkan pujian dari orang lain maupun diri sendiri.

Seorang bijak berkata amal perbuatan memerlukan empat hal :

Mempunyai ilmu sebelum memulai pekerjaan, karena amal perbuatan itu tidak akan benar dan sempurna kecuali dilandasi dengan ilmu. Amal perbuatan yang tanpa ilmu itu akan lebih banyak salahnya dari pada benarnya.

Niat pada saat memulai pekerjaan, karena amal perbuatan itu tidak akan sah kecuali dengan niat, sebagaimana Rasulullah saw bersabda :
“Sesungguhnya amal-amal perbuatan itu tergantung dengan niatnya, dan seseorang itu akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan”
Puasa, salat, haji, zakat dan ibadah-ibadah lain itu tidak sah tanpa dibarengi dengan niat. Oleh karena itu seseorang hanrus berniat sewaktu memulai suatu amalannya supaya amalnya menjadi sah.

Sabar sewaktu mengerjakan amal perbuatan, karena amal yang tidak ikhlas itu tidak akan diterima dan hanya amal yang dikerjakan dengan ikhlas saja yang di terima oleh Allah SWT.

“Sesungguhnya apabila Allah SWT mencintai seseorang, maka Ia berfirman kepada Jibril : “Sesungguhnya Aku mencintai Fulan maka cintailah dia”. Kemudia Jibril berkata kepada penghuni langit : “Sesungguhnya Tuhanmu mencintai Fulan, maka cintailah dia”, maka penghuni langit pun mencintainya, dan penerimaannya itu diletakkan disebar di bumi. Dan apabila Allah memurkai seseorang, maka Dia bertindak pula seperti itu.”

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan saya ini orang shaleh, maka bagaimana saya bias mengetahui bahwa saya ini orang shaleh atau bukan ?”

Tampakkanlah sikap dan perbuatan yang selama ini kamu sembunyikan di hadapan orang-orang shaleh. Apabila mereka senang dengan sikap dan perbuatan itu, maka itu pertanda bahwa kamu adalah orang shaleh, tetapi bila ia tidak menyukainya, maka itu pertanda kamu bukan orang shaleh.
Tawarkanlah dunia pada hatimu, apabila hati itu menolaknya, maka itu pertanda bahwa kamu orang shaleh.
Tawarkanlah kematian pada dirimu, apabila dirimu menginginkannya, maka itu pertanda kamu adalah orang shaleh.

Apabila ketiga hal itu berada dalam dirimu, maka mohonlah kepada Allah agar riya tidak masuk ke dalam amal perbuatanmu karena riya itu akan merusak amal-amal perbuatanmu.

Sabda Nabi saw : “Tahukah kamu siapakah orang yang beriman ? Para sahabat menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu”. Beliau bersabda: “Yaitu seseorang yang tidak mati sebelum Allah memenuhi pendengaran-pendengarannya dengan apa yang ia sukai. Seandainya seseorang itu mengerjakan ibadah karena taat kepada Allah dalam kamar yang berada didalam suatu rumah sampai 70 rumah yang masing-masing rumah itu mempunyai pintu dari besi, niscaya Allah akan memakaikan selendang amalnya sehingga orang-orang membicarakan yang demikian itu dan mereka menambahi” Ditanyakan : “Wahai Rasulullah, kenapa mereka menambahi?” Beliau menjawab : “Sesungguhnya orang yang beriman itu senang bila amalnya itu bertambah”. Kemudian beliau bersabda lagi : “Tahukah kamu siapakah orang yang jahat itu ?” Para sahabat menjawab : “ Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Belia bersabda : “Yaitu seseorang yang tidak mati sebelum Allah memenuhi pendengaran-pendengarannya dengan apa yang ia benci. Seandainya seorang mengerjakan suatu maksiat kepada Allah dalam kamar yang berada didalam suatu rumah sampai 70 rumah yang masing-masing rumah itu mempunyai pintu dari besi, niscaya Allah akan memakaikan selendang amalnya sehingga orang-orang membicarakan yang demikian itu dan mereka menambahi”. Ditanyakan : “Wahai Rasulullah, kenapa mereka menambahi”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya orang yang jahat itu senang bila kejahatannya itu bertambah”.

Friday, February 6, 2009

Ikhlas 3


Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi saw :

“Sesungguhnya nanti pada hari kiamat Allah Yang Maha Pemberkah lagi Maha Tinggi mengadili semua makhluk-Nya, dan setiap makhluk bertekuk lutut di hadapan Nya. Orang yang pertama dipanggil adalah seseorang yang membaca dan memahami al-Quran, seseorang yang berperang pada jalan Allah, dan seseorang yang mempunyai banyak harta. Allah SWT berfirman kepada orang yang pandai membaca al-Quran : “Bukankah Aku telah mengajarkan kepadamu apa yang Aku turunkan kepada utusan-Ku?” Ia menjawab : “Benar wahai Tuhanku”. Allah bertanya : “Kemudian apa yang kamu kerjakan terhadap apa yang kamu ketahui?” Ia menjawab : “Saya mengerjakannya sepanjang siang dan malam” Kemudian Allah SWT berfirman kepadanya : “Kamu bohong” Malaikat pun berkata : “Kamu bohong, kamu hanya ingin dikatakan bahwa si Fulan pandai membaca al-Quran, dan yang demikian itu telah diucapkan orang”.

Dan kepada orang yang mempunyai harta yang Aku berikan kepadamu? “Ia menjawab: “Saya telah menyambung hubungan persaudaraan dan bershadaqah dengannya”. Kemudian Allah SWT berfirman : “Kamu bohong”. Malaikat pun berkata : “Kamu bohong, kamu hanya ingin dikatakan bahwa si Fulan pemurah, dermawan dan tidak bakhil, dan yang demikian itu telah diucapkan orang”. Dan orang yang berperang pada jalan Allah didatangkan, lantas Allah bertanya kepadanya : “Karena apa kamu berperang?” Ia menjawab : “Saya berperang pada jalan-Mu sehingga saya terbunuh” Allah berfirman : “Kamu bohong” Kamu hanya ingin dikatakan bahwa si Fulan itu pemberani dan yang demkian itu telah dikatakan kepadamu. Setelah itu Rasulullah saw memukul lututku, dengan tangannya, lantas bersabda: “Wahai Abu Hurairah, tiga kelompok itulah yang merupakan makhluk Allah yang pertama yang nanti pada hari kiamat akan dinyalakan api”.

Abu Hurairah berkata lagi : Berita tersebut sampai kepada Mu’awiyah, kemudian Mu’awiyah menangis sejadi-jadinya dan berkata : Allah dan Rasul-Nya benar, lantas ia membaca ayat :

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan balasan penuh atas pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah disana apa yang telah mereka usahakan di dunia dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan” (QS.Huud:15-16)

“Pada hari kiamat Allah SWT berfirman : “Bukankah Kami telah menyegerakan balasanmu? Bukankah Kami telah melapangkan kedudukanmu? Bukankah dunia merupakan segalanya bagimu? Bukankah Kami telah memberikan kesuksesan dalam berjual-beli? Bukankah kamu seperti itu ? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang serupa”

Ada seorang bijak yang ditanya :

“Siapakah orang yang ikhlas itu?” Ia menjawab : “Orang yang ikhlas yaitu seseorang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekan-kejelekannya”

Apakah tanda ikhlas itu ? Ia menjawab : “Apabila seseorang didalam beramal tidak ingin dipuji oleh orang lain”

Kapankah seseorang itu bisa diketahui bahwa ia termasuk pilihan Allah yang telah dipilih oleh-Nya ? Ia menjawab : “Ia bisa diketahui dengan empat hal, yaitu: Apabila ia meninggalkan waktu untuk istirahatnya, ia memberikan apa yang ada, ia menyukai derajat duniawi yang rendah, ia sama saja baik dipuji maupun dicela”

Rasulullah bersabda :

“Pada hari kiamat ada sekelompok manusia yang disuruh untuk ke surga. Ketika mereka dekat dengan surga, telah mencium harumnya surga dan melihat istana-istananya serta apa yang dijanjikan Allah bagi penghuninya, maka mereka diseru agar berpaling dari surga karena mereka tidak berhak tinggal didalamnya. Kemudian mereka kembali dengan perasaan menyesal dan kecewa, di mana tidak pernah ada orang-orang terdahulu maupun terkemudian yang mempunyai rasa semacam itu bila disuruh kembali, lalu mereka berkata : “Wahai Tuhan kami, seandainya Engkau memasukkan kami ke neraka sebelum Engkau memperlihatkan kepada kami balasan yang Engkau janjikan kepada kekasih-kekasih-Mu yang telah kami lihat, (maka hal itu akan lebih baik bagi kami)” Allah SWT lantas berfirman : “Aku menghendaki yang demikian itu bagi kamu, karena kamu bila berada ditempat sunyi maka kamu terang-terangan kepada-Ku dengan melakukan dosa-dosa besar, dan bila kamu bertemu dengan orang banyak kamu menemui mereka dengan penuh penghormatan. Kamu pamerkan amal-amal kebaikanmu kepada manusia, berbeda dengan apa yang terkandung di dalam hatimu. Kamu menganggap hebat kepada sesama manusia, tetapi tidak mengagungkan-Ku, kamu meninggalkan kejahatan karena manusia dan kamu tidak meninggalkannya karena Aku. Maka pada hari ini Aku menyiksamu dengan siksaan-Ku yang sangat pedih serta mengharamkan keagungan balasan-Ku kepadamu.”

Ikhlas 2


Barang siapa yang mengerjakan tujuh hal tanpa dibarengi dengan tujuh hal, maka apa yang ia kerjakan itu tidak akan membawa manfaat, yaitu:

Seseorang yang beramal dengan takut, namun tidak memelihara diri. Ia mengatakan:”Saya takut siksaan Allah, tetapi ia tidak meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa. Maka ucapannya itu tidak membawa manfaat sama sekali bagi dirinya.

Seseorang yang beramal dengan penuh harapan, namun tidak beusaha. Ia mengatakan:”saya mengharapkan pahala Allah, tetapi ia tidak berusaha mencapainya dengan amalan-amalan shaleh. Maka apa yang ia ucapkan itu tdk ada gunanya.

Niat tanpa realisasi. Di dalam hati ia berniat untuk mengerjakan ibadah dan perbuatan baik, namun ia tidak merealisasikannya dengan tindakan. Maka apa yang ia niatkan itu tidak akan membawa manfaat bagi dirinya.

Doa tanpa kesungguh-sungguhan. Ia berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, namun ia tidak bersungguh-sungguh untuk mengerjakannya. Maka doanya itu tidak ada gunanya. Yang lebih penting hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam beramal, maka Allah akan memberinya ia kekuatan, firman Allah : “Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS.Al-Ankabuut:69)

Mohon ampun tanpa penyesalan. Ia mengucapkan “saya mohon ampun kepada Allah” namun ia tidak menyesali dosa-dosanya. Maka permohonannya itu sia-sia saja.

Dalam hal-hal yang kelihatan, ia kerjakan dengan baik, namun dalam hal-hal yang tidak diketahui orang, ia tidak mengerjakannya dengan baik. Tindakan semacam ini menunjukkan bahwa perbuatannya itu tidak membawa kebaikan kepada pelakunya.

Seseorang yang beramal dengan sungguh-sungguh tanpa ikhlas. Maksudnya ia bersungguh-sungguh dalam menerjakan ibadah, namun amal ibadahnya tidak ikhlas karena Allah SWT. Maka amalan-amalannya yang tidak ikhlas itu tidak akan bermanfaat apa-apa bagi dirinya, bahkan yang demikian itu merupakan penipuan bagi dirinya sendiri.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan dari Nabi saw, Beliau bersabda : “Pada akhir zaman akan keluar orang-orang yang dalam menghimpun dunia itu seperti pemerah susu” dalam naskah yang lain disebutkan “memakan dunia dengan menggunakan agama” dalam naskah yang lain disebutkan “Mereka menghimpun dunia, kemudia berpakaian seperti bulu domba didalam kehalusannya, mulut (ucapan) mereka lebih manis daripada gula, namun hati-hati mereka adalah laksana hati-hati serigala” Allah berfirman : “Apakah dengan Aku kamu menipu atau apakah kamu memperdayakan Aku penuh keberanian?” Di mana ia menjadikan dirinya itu gagah berani tanpa berfikir dan bertanya-tanya. (Firman Allah) : “Maka dengan nama-Ku Aku bersumpah bahwa sungguh Aku menimpakan fitnah kepada mereka yang mana orang-orang bijaksana dan berakal yang berada di tengah-tengah mereka terheran-heran”

“Ada seseorang datang kepada Nabi saw, lantas berkata :’Wahai Rasul Allah, sesungguhnya saya mengerjakan suatu amal, kemudian saya menyembunyikannya kemudia amal itu diketahui orang, maka hal yang demkian itu menimbulkan rasa bangga bagiku, maka dalam hal ini apakah saya mendapatkan pahala?’ Beliau bersabda:’Dalam hal yang semacam ini kamu memperoleh pahala diam-diam dan pahala diketahui orang’.”

Segala sesuatu didunia ini adalah bergantung kepada niatnya, apabila baik niatnya maka akan baik pula hasilnya, tetapi apabila niatnya buruk maka akan buruk pula hasilnya, bagaikan bola yang dilemparkan ke tembok, kira-kira kemanakah bola tersebut akan kembali ?

Selalu berusaha memperbaiki niat, diawal amalan, ditengah amalan, dan pada akhir amalan, hendaknya jangan disebut-sebutkan.

Sedangkan orang yang merasa bangga bila orang lain melihat amal perbuatannya tidak dengan maksud agar diikuti / ditiru orang lain, maka dikhawatirkan pahala amal yang demikian akan lenyap.

Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya para malaikat mengangkat amal salah seorang dari hamba-hamba Allah, dimana mereka menganggap banyak dan suci atasnya, sehingga mereka sampai ke tempat yang dikehendaki oleh Allah dari kekuasaan-Nya, Allah lantas mewahyukan kepada mereka dengan firman-Nya. “Sesungguhnya kamu yang menjaga amal hamba-Ku, sedangkan Aku yang menilai apa yang ada didalam jiwanya. Sesungguhnya hamba-Ku yang ini tidak ikhlas kepada-Ku dalam amalnya, maka tulislah ia dalam Sijjin. Dan para malaikat naik dengan membawa amal salah seorang hamba di mana mereka menganggap sedikit dan sepele atasnya, sehingga mereka sampai ke tempat yang dikehendaki Allah dari kekuasaan-Nya, Allah lantas mewahyukan kpada mereka dengan firman-Nya: “ Sesungguhnya kamu yang menjaga amal hamba-Ku, sedangkan Aku yang menilai apa yang ada didalam jiwanya. Sesungguhnya hamba-Ku yang ini ikhlas karena Aku dalam amalnya, maka tulislah ia di dalam “Illiyyin”.”

Hadist diatas menunjukkan bahwa amal yang sedikit yang disertai dengan ikhlas karena Allah itu lebih baik daripada amal yang banyak yang tidak ikhlas karena Allah. Sebab amal sedikit yang ikhlas akan dilipatgandakan oleh Allah atas kemurahan-Nya.

Allah berfirman : “Dan jika ada kebaikan sekecil zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya” (QS.An-Nisaa:40)

Sedangkan amal yang banyak yang dikerjakan tidak ikhlas karena Allah, maka tidak akan mendatangkan pahala bagi pelakunya, bahkan tempat kembalinya adalah neraka jahannam.

Ikhlas 1


Sabda Nabi s.a.w: “Sesuatu yang paling aku kwatirkan atas kamu adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu? Beliau bersabda: “RIYA”. Allah akan berfirman kepada mereka pada hari dibalasnya para hamba atas amal-amal perbuatan mereka: “Pergilah kamu kepada orang-orang yang kamu pameri sewaktu di dunia, maka lihatlah apakah kamu dapat memperoleh sesuatu kebaikan dari mereka”

Mereka dikatakan seprti itu karena amal mereka sewaktu di dunia itu hanya tipuan belaka, dimana mereka beramal untuk akhirat hanya tipuan saja, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah : “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka” (QS.An-Nisaa :142)

Maksudnya adalah Allah akan membalas mereka dengan balasan tipuan, maka hilanglah pahala amal mereka dan dikatakan kepada mereka “Pergilah kamu kepada orang-orang yang kamu beramal karena mereka, karena sesungguhnya amal-amalmu tidak ada pahala sama sekali disisi-Ku”

Semua itu disebabkan amalan mereka tidak ikhlas karena Allah. Apabila seseorang beramal karena yang lain, maka disitu berarti ada penyekutuan terhadap Allah, oleh karenanya Allah terlepas daripadanya.

Sabda Nabi Muhammad s.a.w: “Allah berfirman:Aku adalah dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu syirik. Aku tidak membutuhkan amal yang didalamnya terkandung persekutuan kepada selain Aku. Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal perbuatan yang didalamnya terkandung persekutuan selain Aku. Maka Aku lepas daripadanya.”

Apabila amal itu tidak ikhlas, maka ia tidak akan menerimanya, dan di akhirat tidak ada pahala-pahala baginya dan tempat kembalinya adalah neraka jahannam.

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya didunia ini (QS. Al-Israa:18)

Namun demikian masing-masing dari dua kelompok manusia itu baik yang beramal bukan karena Allah maupun yang beramal ikhlas karena Allah senantiasa mendapatkan kemurahan Allah yang tidak bisa dihalangi oleh siapapun. Maksudnya, Allah tetap mengaruniakan rezeki-Nya kepada siapa saja, baik orang mukmin dan orang yang baik maupun orang kafir dan orang jahat. Pada ayat diatas dijelaskan bahwa barangsiapa yang beramal bukan karena Allah, maka ia tidak akan mendapat balasan di akhirat dan tempatnya adalah neraka jahannam.

Sabda Nabi: “Seringkali ada orang yang berpuasa yang ia tidak memperoleh bagian apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga, dan kadang-kadang ada orang yang mengerjakan salat malam yang ia tidak memperoleh bagian apa-apa dari salat malamnya itu kecuali jaga malam dan letih”

Maksudnya, apabila puasa dan salat itu dikerjakan bukan karena Allah, maka tidak ada pahala baginya, sebagaimana yang diceritakan oleh sebagian orang bijak, bahwasanya ia mengumpamakan orang yang mengerjakan ibadah karena riya (pamer kepada orang lain) dan sum’ah (menginginkan kepopuleran) adalah seperti orang yang pergi ke pasar yang memenuhi kantongnya dengan kerikil, kemudian orang-orang berkata “betapa penuhnya kantong orang itu” namun ia sendiri tidak bisa mengambil manfaat kecuali hanya pujian orang saja. Bila ia ingin membeli sesuatu, maka kerikil itu sama sekali tidak bisa dipergunakan sebagai alat beli dan ia tidak mendapatkan apa-apa. Demikian pula bagi orang yang beramal karena riya dan sum’ah, ia tidak akan bisa mengambil manfaat apa-apa dari amalannya kecuali hanya pujian orang saja, dan ia nanti tidak akan memperoleh pahala nanti di akhirat sebagaimana fiman Allah :

“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami akan jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan” (QS.Al-Furqaan:23)

“Ada seseorang datang kepada Nabi s.a.w dan berkata: “Wahai Rasul Allah, sesungguhnya aku bershadaqah dengan sesuatu shadaqah, kemudian dengan shadaqah itu saya mengharap keridhaan Allah dan saya juga ingin dikatakan orang yang baik oleh orang lain”, kemudian turunlah ayat, “Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS.Al-Kahfi:110)

Maksudnya, barang siapa yang menginginkan pahala dari Allah, maka hendaknya ia mengerjakan amal shalihnya dengan ikhlas dan tidak mempersutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Tuhannya.

Akhlak 2


Kadang seseorang beranggapan bahwa dirinya adalah pemberani. Padahal dia adalah orang yang nekat dan ngawur serta sembrono. Ada juga yang merasa dirinya jujur dalam ucapan dan selalu berbicara benar. Padahal dia sering menebar isu dan mengadu domba. Ada juga orang yang terlalu lembut dan terlalu merendah, hingga menjadi orang yang kalah, lemah dan tak berdaya. Bersikap keras dalam kondisi yang dibutuhkan sikap kelembutan termasuk sikap yang sembrono dan kasar. Bersikap lembut dalam kondisi yang membutuhkan ketegasan, termasuk dari kelemahan.

Kadang kedermawanan seseorang sampai pada sikap boros juga kurang baik, namun dia merasa sebagai orang yang dermawan dan terpuji. Ada juga yg beranggapan telah memberikan manfaat kepada orang lain dengan pujian yang berlebihan. Padahal dia telah memenggal leher orang lain dan menyembelihnya tanpa pisau.

Manusia memiliki karakter yang berbeda-beda dan cara yang berbeda dalam berinteraksi dengan mereka. Agar seseorang dapat beradaptasi dalam interaksinya dengan orang lain, maka ia harus memahami penyakit dan obatnya. Sebisa mungkin dia harus memahami al-Quran, Sunnah, sejarah hidup Rasullullah s.a.w dan para sahabatnya juga cara bergaul dengan Rasulullah dan dengan orang banyak. Juga harus memahami kondisi orang lain dan mampu meletakkan dalil dari al-Quran dan Sunnah dengan tepat. Harus mampu menyikapi setiap peristiwa dengan sikap yang baik. Inilah yang dinamakan dengan hikmah. Bagian dari hikmah adalah meletakan dalil yang benar pada tempat yang benar juga.

Banyak orang yg cukup mengerti tentang al-Quran dan Sunnah, tapi tidak mampu meletakkan dalil tertentu sesuai pada tempatnya. Mirip apoteker yang mempunyai banyak obat tapi memberikan obat yang salah, sudah pasti pesakit akan menjadi tambah sakit bukan sembuh. Dia harus meletakan dalil pada tempatnya yang tepat. Benar apa yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w dalam riwayat Bukhari “Berapa banyak mubalig (orang-orang yang menyampaikan) yang menyampaikan (sesuatu) kepada orang yang lebih paham akan sesuatu itu daripada dirinya.

Dalam riwayat Bukhari dan Muslim terdapat “Jika Allah menginginkan kebaikan pada diri seseorang,maka dia akan diberikan kepahaman agama”

Firman Allah :”Allah memberikan hikmah kepada orang yang dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang mampu mengambil pelajaran,kecuali orang-orang yang berakal”
(QS.Al-Baqarah:269)

Ayat-ayat al-Quran dan Sunnah adalah mata yang dipergunakan oleh hati seorang hamba untuk melihat segala sesuatu. Bagaikan cahaya yang menerangi mata manusia dari kegelapan dunia.

Rasululluah s.a.w bersabda : Allah akan membahagiakan seseorang yang mendengar ucapanku kemudia dia sadar dan melaksanakannya seperti yang didengar olehnya”

Keutamaan berbudi luhur dan kebutuhan mendesak akan adanya aturan (fikih) tentang akhlak, maka dari itu saya disini belajar untuk menyampaikan apa yang selama ini saya dapatkan, bukan bermaksud untuk menggurui seseorang, tetapi hanya sekedar saling mengingatkan sebagai saudara seiman. Agar supaya kita dapat berbahagia di dunia dan di akhirat kelak. Aamiin.

Allah SWT telah meletakan kejayaan, kesuksesan umat manusia di dunia dan diakhirat kelak hanya pada amalan agama yang sempurna, jadi bukan pada harta kekayaan, bukan pada tingginya jabatan, bukan pada miskin dan kayanya seseorang, bukan pula dari rupa dan fisik tubuhnya. Tetapi semuanya tergantung niat dan amalan agamanya semata. Subhanallah.. Maha Adil-Nya Allah SWT.

“Kelangsungan hidup suatu bangsa tergantung pada akhlaknya, jika tidak ada akhlaknya, maka hancurlah mereka”

“Perbaiki selalu hubungan kita dengan Allah, maka Allah akan perbaiki hubungan kita dengan mahluk-mahlukNya”