There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Monday, February 28, 2011

Amalan-Amalan Kebaikan untuk Mendulang Pahala

بسم الله الرحمن الرحيم

Risalah di bawah ini mengulas sedikit tentang beberapa amalan yang mudah dilaksanakan dan akan mendapatkan ganjaran pahala yang sangat besar dengan karunia dari Allah SWT. Amalan-amalan ini banyak dilalaikan dan diremehkan oleh sebagian besar manusia, padahal di dalamnya terdapat banyak pahala. Adapun amalan-amalan itu adalah sebagai berikut:

1. Memperbanyak sholat di al-Haramain asy-Syarifain (Masjid Haram dan Masjid Nabawi). Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. Rasulullah saw. bersabda: Shalat di masjidku ini lebih afdhal dari 1000 sholat di masjid lainnya kecuali masjid Haram, dan sholat di masjid Haram lebih afdhal dari 100.000 sholat di masjid lainnya. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Dan sholat seorang wanita di rumahnya lebih baik daripada sholat di masjid Haram dan masjid Nabawi.

2. Sholat di masjid Quba`. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang keluar hingga sampai ke masjid ini, masjid Quba`, lalu sholat di dalamnya, maka baginya pahala yang sama dengan (pahala) umroh. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah)

3. Rutin melaksanakan sholat Dhuha. Dan waktu yang terbaik untuk melak- sanakannya adalah ketika matahari sudah semakin terik, Rasulullah saw. bersabda: Sholatnya orang-orang yang bertaubat adalah ketika unta kecil telah merasakan panasnya (matahari). (HR. Muslim)

4. Menggandakan istighfar. Seperti dengan membaca doa: Ya Allah, ampunilah orang-orang mukminin dan mukminat, orang-orang muslimin dan muslimat, baik yang masih hidup di antara mereka maupun yang sudah meninggal. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang meminta ampun untuk orang-orang mukmin dan mukminat maka Allah akan menuliskan untuknya setiap mukmin dan mukminat satu kebaikan. (HR. Thabrani)

5. Qiyamul Lail pada saat Lailatul Qodar. Tahukah Anda bahwa pahala orang yang melaksanakan qiyamul lail pada saat lailatul qodar lebih afdhal dari pahala ibadah selama kira-kira 83 tahun lebih 3 bulan? Allah swt. berfirman: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan ijin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qodar: 1-5)

6. Menggandakan tasbih. Yaitu dengan membaca: Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, keridhoan diri-Nya, seberat Ars-Nya, dan sepanjang kalimat-Nya.

7. Membaca doa ketika akan memasuki pasar. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang memasuki pasar maka hendaklah ia membaca [Laa ilaaha illallahu wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumiitu, wa huwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khoir, wa huwa `alaa kulli syai`in qodiir] (Tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya pujian, Yang menghidupkan dan Mematikan. Ia hidup dan tidak mati, di Tangan-Nya kebaikan dan Ia Maha Kuasa atas segala sesuatu.), maka Allah akan menulis baginya satu juta kebaikan, dihapuskan darinya satu juta kejelekan dan diangkat derajatnya satu juta derajat. Dan dalam riwayat lain disebutkan: Dan akan dibangun untuknya rumah di surga. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)

8. Berumroh di bulan Romadhon. Karena berumroh di bulan Romadhon sama dengan berhaji sekali. Sebagaimana sebda Rasulullah saw. kepada Ummu Sinan: Bila bulan Romadhon tiba maka berumrohlah karena berumroh di saat tersebut sama dengan berhaji sekali. Atau bersabda: sama dengan berhaji bersamaku. (Muttafaqun `alaihi)

9. Mengamalkan adab-adab pada hari Jumat. Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang memandikan atau mandi lalu bersegera dan berjalan kaki, tidak dengan mengendarai sesuatu, lalu mendekati imam, menyimak dan tidak bercanda, maka baginya setiap langkah amal setahun pahala puasa dan sholatnya. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Nasai).

10. Puasa Sunnah. Nabi saw. menganjurkan untuk memperbanyak puasa sunnah dalam beberapa hari tertentu dalam satu tahun, misalnya puasa dua hari (Senin dan Kamis), hari-hari putih (13, 14, 15 setiap bulan Hijriah), bulan Sya`ban, enam hari di bulan Syawal, Muharrom, puasa hari Arafah bagi selain jemaah haji dan pada hari Asyura. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya (dirinya) dari api neraka sejauh 70 tahun perjalanan. (HR. Ahmad)

11. Memberi buka puasa bagi orang-orang yang berpuasa. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang memberi buka pada orang yang berpuasa maka baginya sama dengan pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

12. Memperbanyak ucapan ~Laa haula walaa quwwata illaa billah~ (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah). Karena ucapan ini adalah salah satu kekayaan surga, sebagaimana dijelaskan dalam salah satu hadits Muttafaqun `alaihi dari Rasulullah.

13. Memenuhi kebutuhan manusia. Rasulullah saw. bersabda dalam salah satu hadits yang panjang: Aku berjalan beriring dengan saudaraku sesama muslim dalam suatu keperluan lebih aku senangi daripada beri`tikaf di masjid selama satu bulan. (HR. Thabrani dan ditahsin oleh Al-Albani).

14. Sholat dua rokaat setelah terbitnya matahari. Dari Anas bin Malik ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang sholat subuh berjamaah lalu duduk-duduk berdzikir kepada Allah hingga terbitnya matahari kemudian sholat dua rokaat maka ia akan mendapatkan pahala haji dan umroh. Beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda: Sempurna, sempurna, sempurna. (HR. Tirmidzi dan ditahsin oleh Al-Albani)

15. Menyantuni anak yatim. Dari Sahal bin Saad bahwa Rasulullah saw. bersabda: Saya dan pengasuh anak yatim di surga seperti ini. (HR. Bukhari) Beliau memberi isyarat dengan kedua jarinya, jari telunjuk dan tengah. Dan Anda bisa melakukan itu melalui salah satu yayasan atau lembaga sosial lainnya.

16. Senantiasa sholat jenazah. Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang menghadiri jenazah hingga disholati maka baginya pahala satu qirath, dan siapa yang menghadirinya hingga dimakamkan maka ia akan mendapatkan dua pahala qirath. Dikatakan kepada beliau: Apakah qirath itu? Beliau menjawab: Yaitu seperti dua gunung yang besar. (Muttafaqun `alaihi)

17. Memperbanyak sholawat untuk Nabi saw. Jadi barangsiapa yang bersholawat untuk nabi saw. sekali, maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, dan akan menjadi manusia paling utama nanti pada hari kiamat. Allah swt. mewakilkan malaikat yang berkeliling menyampaikan salam ummatnya kepada nabi mereka.

18. Sholat Isya dan Subuh secara berjamaah. Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa yang sholat isya secara berjamaah maka seakan-akan ia telah melaksanakan sholat tengah malam, dan barangsiapa yang sholat subuh berjamaah maka seakan- akan ia telah melaksanakan sholat sepanjang malam. (HR. Muslim)

19. Membaca tasbih, tahmid, dan takbir. Masing-masing 33 kali pada setiap selesai sholat, lalu membaca: ~laa ilaaha illallahu, wahdahuu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu, wahuwa `alaa kulli syai`in qodiir~. Ucapan ini memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana diriwayatkan dalam hadits tentang orang-orang fakir Muhajirin yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah (hadits panjang Muttafaqun `alaihi) dalam bab Dzikir-dzikir yang dibaca setelah sholat fardhu.

20. Dakwah kepada Allah dan menasihati orang lain. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka ia pun akan menanggung dosa yang sama dengan dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun. (HR. Muslim). Jadi bila Anda menasihati orang lain untuk menuju Allah maka pahala nasihat itu ukan mengalir untukmu selama nasihat itu masih berguna bagi dirinya hingga hari kiamat. Misalnya dengan menyebarkan kebaikan seperti tulisan-tulisan yang ada di hadapan Anda sekarang ini, maka Anda akan mendapatkan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat dengan adzin Allah swt.

21. Sholat empat rokaat sebelum ashar. Sabda Rasulullah saw.: Semoga Allah merahmati seseorang yang sholat 4 rokaat sebelum ashar. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). Empat rokaat itu dilakukan dengan dua salam setelah adzan dan sebelum iqomah.

22. Mengunjungi orang yang sakit. Sabda Rasulullah saw.: Barangsiapa me- ngunjungi orang yang sakit, maka ia akan tetap di khurfah surga. Rasulullah saw. ditanya: Apakah khurfah surga itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Buah surga yang dipetik. (HR. Muslim) Dan Anda akan diampuni oleh 70.000 malaikat. (Sebagaimana yang terdapat dalam hadits panjang.)

23. Puasa, mengikuti jenazah, menengok orang yang sakit, dan memberi makan orang miskin. Bila semua ini terkumpul pada seorang muslim pada satu hari maka ia akan masuk surga dengan karunia Allah, sebagaimana yang terjadi pada diri Abu Bakar ra., di mana Rasulullah saw. bersabda dalam hadits yang panjang: Tidaklah hal itu semua berkumpul pada seseorang kecuali ia akan masuk surga. (HR. Muslim)

24. Mengadakan perdamaian di antara manusia. Allah swt. berfirman: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi shodaqoh atau berbuat ma`ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. (QS. An-Nisa: 114). Dan banyak hadits yang menunjukkan keutamaan hal itu.

25. Memperbanyak ucapan~Subhaanallahi walhamdulillahi walaailaaha illallahu wallahu akbar. Ucapan ini lebih afdhal daripada hari terbitnya matahari, sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Nabi saw.. Ucapan ini juga termasuk yang paling disenangi oleh Allah swt. sebagaimana dalam hadits shohih.

26. Membaca QS. Al-Ikhlas berulang-ulang. Karena surat ini sebanding dengan sepertiga Al-Quran dalam hal pahala dan kandungan maknanya, di mana surat ini mengandung Tauhid, pengagungan dan penghormatan kepada Allah swt.. Rasulullah saw. bersabda: Qul huwallahu ahad, sebanding dengan sepertiga Al-Quran, dan Qul yaa ayyuhal kaafirun, sebanding dengan seperempat Al-Quran. (HR. Thabrani dan ditashih oleh as-Suyuti dan al-Albani). Dan perlu diperhatikan bahwa sepertiga dalam keutamaan tidak berarti merasa cukup membacanya dan meninggalkan bacaan surat-surat Al-Quran lainnya.

27. Shodaqoh jariyah. Misalnya dengan membantu pembangunan masjid, penggalian sumur, madrasah, tempat pengungsian, pendidikan anak tentang agama yang benar dan adab-adab Islam serta pendidikan anak untuk selalu melakukan kebaikan, karena bila anak Adam meninggal maka amalannya akan terputus kecuali tiga hal, di antaranya adalah anak sholeh yang mendoakan orang tuanya. Termasuk pula mencetak, menyebarkan dan membagikan buku-buku dan kaset-kaset yang berguna ataupun memberikan dukungan dana melalui kantor-kantor kerjasama dakwah, penyuluhan dan bimbingan untuk orang-orang asing atau yayasan dan lembaga keagamaan.

28. Sholat empat rokaat sebelum dhuhur dan empat rokaat setelahnya. Dari Ummu Habibah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang senantiasa melaksanakan sholat sunnat 4 rokaat sebelum dhuhur dan 4 rokaat setelah dhuhur maka Allah akan mengharamkan baginya neraka. (HR. Abu Daud dan Tirmidzi) Empat rokaat itu dengan dua salam antara adzan dan iqomah, dan 4 rokaat dengan dua salam setelah sholat dhuhur.

29. Qiyamul Lail, menyebarkan salam dan memberi makan. Dari Abdullah bin Salam ra., Nabi saw. bersabda: Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berilah makan dan sholatlah di waktu malam sementara manusia sedang tidur, maka kalian akan masuk surga dengan selamat. (HR. Tirmidzi) Rasulullah saw. juga bersabda: Sholat yang paling afdhal setelah sholat fardhu adalah sholat lail. (HR. Muslim)

30. Mengikuti ucapan muadzin. Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang membaca ketika mendengar adzan: ~Allahumma rabba hadzihidda`watittaammati washsholatil qooimati aati Muhammadanil wasiilata walfadhiilata wab`atshu maqoomam mahmuudanilladzi wa `adtah~ (Ya Allah, Tuhan pemilik panggilan yang sempurna ini (adzan) dan sholat (wajib) yang ditegakkan ini. Berilah wasilah (derajat yang tinggi) dan fadhilah kepada Rasulullah dan bangkitkanlah beliau pada maqom yang terpuji yang telah Engkau janjikan.) Maka ia berhak mendapatkan syafaatku nanti pada hari kiamat. (HR. Bukhari)

31. Memperbanyak membaca dan menghapal Al-Quran. Allah swt. berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS. Faathir:29). Dari Ibnu Mas`ud ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah maka baginya satu kebaikan dan kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan. Saya tidak mengatakan bahwa `alif laam mim` itu satu huruf, tetapi `alif` satu huruf, `laam` satu huruf, dan `mim` satu huruf. (HR. Tirmidzi dan berkata: Hadits hasan shohih)

32. Memperbanyak dzikir kepada Allah. Sabda Rasulullah saw.: Maukah kalian aku kabarkan kepada kalian amalan yang paling baik dan suci yang kalian miliki, yang paling tinggi dalam derajat kalian, paling baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak dan lebih baik daripada ketika kalian bertemu musuh lalu kalian memenggal lehernya atau mereka memenggal leher kalian? Mereka menjawab: Tentu. Beliau bersabda: Yaitu dzikir kepada Allah Ta`ala. (HR. Tirmidzi)

Catatan: Untuk Nomor 1, Nomor 2, dan Nomor 8, Insya Allah dapat terlaksana jika sekiranya kita berkunjung ke Makkah Al Mukarram (Arab Saudi).

Sunday, February 27, 2011

Fadhilah Atau Keutamaan Dzikir

Hidup di dunia hanyalah "sekedar mampir", dengan kata lain sementara
dan tidak selamanya. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita mengisi
hari-hari kita untuk selalu mengingat Sang Pencipta, Allah Yang Maha
Kuasa. Mengingat Allah tidak hanya ketika shalat saja, ketika makan
minum, bepergian, di waktu luang bahkan disaat sibuk sekalipun,
dikantor atau ketika sedang kerja misalnya. Dan cara yang paling mudah
dan ringan adalah dengan Dzikir.


Lafadz Subhanallah, Alhamdulillah, Laailahaillallah dan Allahu Akbar
adalah lafadz dzikir yang dianjurkan oleh Rasullullah. Ke empat lafadz
yang dikenal sebagai Lafadz Tasbih ini memiliki banyak sekali
keutamaannya. Dan jika dihitung keutamaannya sesungguhnya terdapat
lebih dari seratus fadhilah. Dari ratusan keutamaan itu kami simpulkan
menjadi 59 Keutamaan berikut ini :


1.Dzikir menjauhkan diri dari syetan dan menghancurkan kekuatanya
2.Dzikir menyebaban ia dicintai Allah SWT
3.Dzikir menjauhkan kegelisahan dan kesedihan hati
4.Dzikir menjadikan hati lapang, gembira dan berseri-seri
5.Dzikir menguatkan tubuh dan hati
6.Dzikir menjadikan bercahayanya rumah dan hati
7.Dzikir dapat menarik rizki
8.Orang yang selalu berdzikir akan dipakaikan kepadanya pakaian
kehebatan dan kegagahan yaitu orang yang melihat akan merasa gentar
dan akan merasakan kesejukan
9.Dzikir dapat menumbuhkan perasaan cinta kepada Allah, sedangkan
cinta kepada Allah ini merupakan ruh Islam dan jiwa agama, juga
sebagai sumber keberhasilan dan kebahagiaan, keduanya akan mudah
dicapai oleh orang yang selalu berdzikir. Barang siapa yang ingin
dapat mencintai Allah dengan benar, hendaklah memperbanyak dzikrullah.
Demikian pula, dzikir merupakan pintu cinta kepada Allah
10.Dengan dzikir, kita akan mampu bermuraqabah yang akan menyampaikan
kita kepada derajat ikhsan. Orang yang telah mencapai derajat ikhsan,
dalam ibadahnya seakan-akan melihat Allah SWT
11.Dzikir merupakan sarana untuk kembali kepada Allah yang akan
membawa seseorang berserah diri kepada Allah. Sehinga sedikit demi
sedikit, dalam segala urusan, Allah akan menjadi tempat perlindungan,
rumah dan benteng baginya. Dalam menghadapi musibah juga akan
cenderung berlindung kepadaNya.
12.Dzikir dapat menyebabkan seseorang dekat kepada allah. Semakin
banyak seseorang mengingat Allah, ia akan semakin dekat kepada Allah
Ta'ala. Semakin lalai seseorang dalam mengingatNya, ia akan semakin
jauh dari Allah Ta'ala
13.Dzikir merupakan pintu ma'rifatulah
14.Dengan berdzikir, kehebatan dan kebesaran Allah akan masuk ke dalam
hati, juga sebagai sarana agar bergairah menghadirkan diri di hadapan
Allah.
15.Dzikir merupakan penyebab ingatnya seseorang kepada Allah,
sebagaimana firmanNya "Karena itu ingatlah kamu kepadaKu niscaya aku
ingat pula kepadamu". Di dalam hadits juga disebutkan "Barangsiapa
mengingatKu dalam dirinya, maka aku akan mengingatNya dalam diriKu"
16.Dzikir dapat menghidupkan hati. Hafizh Ibu Taimiyyah rahimullah
berkata bahwa dzikir bermanfaat bagi hati sebagaimana ikan yang
memerlukan air. Kita dapat memikirkan bagaimana jadinya jika ikan
hidup tanpa air.
17.Dzikir merupakan makanan bagi hati dan ruhani. Jika keduanya tidak
memperoleh makanan maka keadannya sebagaimana tubuh yang tidak
memperoleh makanan
18.Dzikir menjauhkan hati dari karat. Sebgaimana disebutkan dalam
hadits bahwa segala sesuatu itu akan berkarat atau kotor. Kotoran hati
adalah keinginan hawa nafsu dan kelalaian. Keduanya akan sulit
dibersihkan kecuali dengan dzikir. Untuk itu, dzikir bermanfaat untuk
membersihkanya.
19.Dzikir menjauhkan diri dari kesusahan dan kesalahan
20.Dzikir dapat menjauhkan diri dari perasaan takut dan was-was.
Apabila seseorang dihinggapi kelalaian, ia kan diselubungi perasaan
takut dan was-was. Bila ia berdzikir, semuanya itu akan menjauh
21.Apabila seseorang berdzikir kepada Allah maka emapat penjuru `Arsy
akan berdzikir kepadaNya.
22.Apabila pada waktu senang seseorang berdzikir mengingat Allah SWT,
maka Allah akan mengingatnya ketika dalam kesusahan
23.Dzikir merupakan sarana untuk menyelamatkan diri dari adzab Allah SWT
24.Dzikir menyebabkan turunnya sakinah serta rahmat. Para malaikat
akan menaungi manjelis dzikir.
25.Dengan berdzikir, lidah seseorang akan terjauh dari ucapan-ucapan
dosa seperti ghibah, memaki, berbohong, perkataan kotor, dan perkataan
sia-sia. Kenyataan telah membuktikan bahwa orang-orang yang sibuk
berdzikir akan selamat dari perbuatan-perbuatan tersebut. Sebaliknya,
lidah yang tidak dibiasakan berdzikir akan terjerumus ke dalam ucapan
yang tercela.
26.Majelis dzikir adalah majelis malaikat, sementara majelis lalai dan
sia-sia adalah manjelis syetan. Terserah kepada pribadi masing-masing
untuk memilih yagn disukainya. Setiap orang tentu menyukai sesuatau
sesuai dengan sifat dan kecenderunganya.
27.Dengan berdzikir, seseorang akan menjadi baik dan bahagia. Demikian
pula orang-orang yang menyertainya. Sebailknya, orang-orang yang
menghabiskan waktunya dengan sia-sia adalah orang –orang yang jahat
dan celaka, demikian pula orang-orang yang menyertainya
28.Pada hari kiamat, orang–orang yang selalu berdzikir akan terhindar
dari bencana dan penyesalan. Untuk itu, disebutkan dalam sebuah hadits
bahwa setiap majelis yang ada di dalamnya tidak ada dzikrullah akan
menyebabkan kesusahan dan kerugian pada hari kiamat.
29.Apabila seseorang berdzikir kepada Allah sendirian sehingga
menangis, pada hari kaiamat nanti, ia akan memperoleh naungan di bawah
`Arsy Ilahi, ketika seluruh manusia sedang dihisab dan merasakan panas
yang sangat menyiksa
30.Orang yang menyibukan diri dengan berdzikir akan mendapatkan
karunia lebih banyak daripada orang-orang yang berdoa, sebagaimana
telah disebutkan dalam hadits, "Barangsiapa karena sibuk berdzikir
sehingga tidak sempat untuk berdoa, maka Aku akan memberikan yang
lebih baik daripada orang �Eorang yang berdoa"
31.Meskipun dzikir merupakan ibadah yang paling ringan, tetapi
mempunyai fadhilah (keutamaan) yang paling utama karena menggerakan
lidah lebih mudah daripada menggerakan anggota badan lainya.
32.Dzikrullah merupakan pohon di syurga.
33.Nikmat dan karunia yang diberikan Allah kepada seseorang karena
berdzikir tidaklah diberikan karena amal-amal lainya.
34.Seseorang yagn berdzikir secara istiqomah (terus menerus) akan
selamat dari melupakan dirinya, yang menyebabkan kecelakaan dunia dan
akhirat. Karena melupakan diri sendiri dan tipuan-tipuanya berarti
melupakan Tuhan, dan orang yang melupakan Tuhan niscaya akan
memperoleh kerugian. Allah memperingatkan dalam firmanNya : "Dan
janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah lalu Allah
menjadikan kamu seperti orang-orang yang lupa kepada diri mereka
sendiri. Merka itulah orang-orang yang fasik" (Al-Hasyr : 19)
35.Dengan berdzikir, seseorang dapat senantiasa mencapai kemajuan dan
kejayaan, baik ketika ia beristirahat atau ketika berada di pasar,
ketika sehat maupun ketika sakit, ketika sibuk mengecap kenikmatan
hidup maupun ketika mengalami berbagai kekurangan. Pendek kata, pada
setiap saat dan keadaan, ia akan memperoleh kejayaan.
36.Cahaya dzikir senantiasa bersama orang yang berdzikir, baik di
dunia maupun di dalam kubur, dan ia membimbing ketika melewati shirath
37.Dzikir adalah intisari ilmu tasawuf, yang diamalkan oleh setiap
ahli thariqah. Jika telah terbuka pintu dzikir bagi seseorang, berarti
telah terbuka baginya jalan menuju Allah. Barangsiapa telah menuju
kepada Allah, niscaya ia telah memperoleh semua yang dikehendakinya,
karena khazanah Illahi tidak akan berkurang sedikitpun.
38.Dzikir merupakan pohon yang setiap waktu menghasilkan buah makrifat
39.Dzikri mendekatkan kepada Dzat yang kepadaNya ia berdzikir,
sehingga orang yang berdzikir akan disertai olehNya
40.Dzikir seimbang dengan memerdekakan hamba, seimbang dengan
membelanjakan harta, dan seimbang pula dengan Jihad Fisabilillah
(berjuang di jalan Allah).
41.Dzikir merupakan sumber syukur
42.Dzikir merupakan obat penyakit hati
43.Dzikir merupakan sumber persahabatan dengan Allah, sebaliknya
melalaikanya merupakan sumber permusuhan dengan Allah
44.Dzikir dapat menambah nikmat Allah dan menyelamatkan dari adzabNya
45.Allah membangga-banggakan orang-orang yang berdzikir di hadapan
para malaikat
46.Barangsiapa senantiasa berdzikir, ia akan masuk syurga sambil
tersenyum-senyum
47.Amalan yang paling utama adalah amalan yang disertai dengan
berdzikir sebanyak-banyaknya
48.Dzikir merupakan pengganti ibadah-ibadah nafilah (sunah)
49.Dzikir merupakan pendorong ibadah-ibadah lainya
50.Dengan dzikir, hal-hal yang berat akan menjadi ringan
51.Dzikir akan menghindarkan semua bentuk ketakutan dan kebimbangan
52.Dzikir menimbulkan dan tenaga istimewa pada manusia
53.Allah SWT sendiri membenarkan dan memuji orang-orang yang berdzikir
54.Dzikir menyebabkan terbangunya rumah di syurga
55.Dzikir merupakan perisai atau penghalang di neraka jahanam
56.Para malaikat beristighfar untuk orang yang berdzikir
57.Memperbanyak dzikir merupakan jalan untuk membebaskan diri dari
kemunafikan
58.Dibandingkan amalan-amalan lainya, dzikir mempunyai kelezatan yang
tidak dimiliki oleh amalan-amalan lain
59.Di dunia, wajah orang yang berdzikir akan nampak gembira dan akan
nampak nur (cahaya) pada hari kiamat.

Dzikir kepada Allah SWT merupakan kiat untuk menggapai ketenangan
jiwa, yakni dzikir dalam arti selalu ingat kepada Allah dengan
menghadirkan nama-Nya di dalam hati dan menyebut nama-Nya dalam
berbagai kesempatan.

insya Allah yang menulis baik, yang menyampaikan baik, yang membaca baik, yang lebih baik lagi yang mengamalkan.

Saturday, February 26, 2011

SIWAK : HUKUM DAN FADHILAH

Termasuk sunnah yang paling sering dan yang paling senang dilakukan oleh Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam adalah bersiwak. Siwak merupakan pekerjaan yang ringan namun memiliki faedah yang banyak baik bersifat keduniaan yaitu berupa kebersihan mulut, sehat dan putihnya gigi, menghilangkan bau mulut, dan lain-lain, maupun faedah-faedah yang bersifat akhirat, yaitu ittiba’ kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan mendapatkan keridhoan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana sabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam:

السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ (رواه أحمد)

Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhoan bagi Rob”. (Hadits shohih riwayat Ahmad, irwaul golil no 66). (Syarhul mumti’ 1/120 dan taisir ‘alam 1/62)

Oleh karena itu Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam begitu bersemangat melakukannya dan sangat ingin agar umatnya pun melakukan sebagaimana yang dia lakukan, hingga beliau bersabda :

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ

Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan wudlu. (Hadits riwayat Bukhori dan Muslim, irwaul golil no 70)

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِي َلأَمَرْتُهُمْ باِلسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَّلاَةٍ

Kalau bukan karena akan memberatkan umatku maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat”. (Hadits riwayat Bukhori dan Muslim, irwaul golil no 70)

Ibnu Daqiqil ‘Ied menjelaskan sebab sangat dianjurkannya bersiwak ketika akan sholat, beliau berkata: “Rahasianya yaitu bahwasanya kita diperintahkan agar dalam setiap keadaan ketika bertaqorrub kepada Allah, kita senantiasa dalam keadaan yang sempurna dan dalam keadaan bersih untuk menampakkan mulianya ibadah”. Dikatakan bahwa perkara ini (bersiwak ketika akan sholat) berhubungan dengan malaikat karena mereka terganggu dengan bau yang tidak enak. Berkata Imam As-Shon’ani : “Dan tidaklah jauh (jika dikatakan) bahwasanya rahasianya adalah digabungkannya dua perkara yang telah disebutkan (di atas) sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ أَكَلَ الثَّوْمَ أَوِ الْبَصَالَ أَوِ الْكَرَّاثَ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا لإَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى بِهِ بَنُوْ آدَمَ

Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah atau bawang bakung maka janganlah dia mendekati mesjid kami. Sesungguhnya malaikat terganggu dengan apa-apa yang bani Adam tergaanggu dengannya” (Taisir ‘alam 1/63)

Dan ternyata Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidak hanya bersiwak ketika akan sholat saja, bahkan beliau juga bersiwak dalam berbagai keadaan. Diantaranya ketika dia masuk kedalam rumah…

رَوَى شُرَيْحٌ بْنُ هَانِئِ قَالَ : سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا بِأَيِّ شَيِءٍ يَبْدَأُ النَّبِيُّ إِذَا دَخَلَ بَيِتَهُ ؟ قَالَتْ : بِالسِّوَاكِ (رواه مسلم)

Telah meriwayatkan Syuraih bin Hani, beliau berkata :”Aku bertanya kepada ‘Aisyah : “Apa yang dilakukan pertama kali oleh Rosulullah jika dia memasuki rumahnya ?” Beliau menjawab :”Bersiwak”. (Hadits riwayat Muslim, irwaul golil no 72)

Atau ketika bangun malam…

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُوْلُ اللهِ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوْسُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

Dari Hudzaifah ibnul Yaman Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : “Adalah Rosulullah jika bangun dari malam dia mencuci dan menggosok mulutnya dengan siwak”. (Hadits riwayat Bukhori)

Bahkan dalam setiap keadaan pun boleh bagi kita untuk bersiwak. Sesuai dengan hadits di atas (السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ). Dalam hadits ini Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memutlakkannya dan tidak mengkhususkannya pada waktu-waktu tertentu. Oleh karena itu siwak boleh dilakukan setiap waktu (Syarhul mumti’ 1/120, fiqhul islami wa adillatuhu 1/300), sehingga tidak disyaratkan hanya bersiwak ketika mulut dalam keadaan kotor (Syarhul mumti’ 1/125).

Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam sangat bersemangat ketika bersiwak, sehingga sampai keluar bunyi dari mulut beliau seakan-akan beliau muntah

عَنْ أَبِي مُوْسَى اَلْأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ وَهُوَ يَسْتَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ قَالَ وَطَرْفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ وَهُوَ بَقُوْلُ أُعْ أُعْ وَالسِّوَاكُ فِيْ فِيْهِ كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ

Dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan dia sedang bersiwak dengan siwak yang basah. Dan ujung siwak pada lidahnya dan dia sambil berkata “Uh- uh”. Dan siwak berada pada mulutnya seakan-akan beliau muntah. (Hadits riwayat Bukhori dan Muslim)

Dan yang lebih menunjukan akan besarnya perhatian beliau dengan siwak yaitu bahwasanya diakhir hayat beliau, beliau masih menyempatkan diri untuk bersiwak sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : دَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِيْقِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى النَّبِيِّ وَ أَنَا مُسْنِدَتُهُ إلَى صَدْرِي - وَمَعَ عَبْدِ الرَّحْمنِ سِوَاكٌ رَطْبٌ يَسْتَنُّ بِهِ – فَأَبَدَّهُ رَسُوْلُ اللهِ بَصَرَهُ، فَأَخَذْتُ السِّوَاكَ فَقَضِمْتُهُ وَطَيَّبْتُهُ، ثُمَّ دَفَعْتُهُ إِلَى النَّبِيِّ فَاسْتَنَّ بِهِ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ اسْتَنَّ اسْتِنَانًا أَحْسَنَ مِنْهُ. فَمَا عَدَا أَنْ فَرَغَ رَسُوْلُ اللهِ رَفَعَ يَدَهُ أَوْ إِصْبَعَهُ ثُمَّ قَالَ : (فِي الرَّفِيْقِ الأَعْلَى) ثَلاَتًا، ثُمَّ قُضِيَ عَلَيْهِ

وَ فِي لَفْظٍ: فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ، وَ عَرَفْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ فَقُلْتُ آخُذُهُ لَكَ ؟ فَأَشَرَ بِرَأْسِهِ : أنْ نَعَمْ

Dari ‘Aisyah berkata : Abdurrohman bin Abu Bakar As-Sidik Radhiyallahu ‘anhu menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersandar di dadaku. Abdurrohman Radhiyallahu ‘anhu membawa siwak yang basah yang dia gunakan untuk bersiwak. Dan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam memandang siwak tersebut (dengan pandangan yang lama). Maka aku pun lalu mengambil siwak itu dan menggigitnya (untuk dibersihkan-pent) lalu aku membaguskannya kemudian aku berikan siwak tersebut kepada Rosulullah, maka beliaupun bersiwak dengannya. Dan tidaklah pernah aku melihat Rosulullah bersiwak yang lebih baik dari itu. Dan setelah Rosulullah selesai dari bersiwak dia pun mengangkat tangannya atau jarinya lalu berkata :

فِي الرَّفِيْقِ الأَعْلَى

Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau wafat.

Dalam riwayat lain ‘Aisyah berkata :”Aku melihat Rosulullah memandang siwak tersebut, maka akupun tahu bahwa beliau menyukainya, lalu aku berkata : ‘Aku ambilkan siwak tersebut untuk engkau?” Maka Rosulullah mengisyaratkan dengan kepalanya (mengangguk-pent) yaitu tanda setuju. (Diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim)

Oleh karena itu berkata sebagian ulama : “Telah sepakat para ulama bahwasanya bersiwak adalah sunnah muakkadah karena anjuran Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan kesenantiasaan beliau melakukannya dan kecintaan beliau serta ajakan beliau kepada siwak tersebut.” (fiqhul islami wa adillatuhu 1/300)

Definisi siwak

Siwak adalah nama untuk dahan atau akar pohon yang digunakan untuk bersiwak. Oleh karena itu semua dahan atau akar pohon apa saja boleh kita gunakan untuk bersiwak jika memenuhi persyaratannya, yaitu :

  • Harus lembut, sehingga batang atau akar kayu yang keras tidak boleh digunakan untuk bersiwak karena bisa merusak gusi dan email gigi.

  • Bisa membersihkan dan berserat serta bersifat basah, sehingga akar atau batang yang tidak ada seratnya tidak bisa digunakan untuk bersiwak

  • Seratnya tersebut tidak berjatuhan ketika digunakan untuk bersiwak sehingga bisa mengotori mulut. (syarhul mumti’ 1/118)

Bolehkah bersiwak menggunakan sikat gigi modern dan pasta gigi ?. Sebagian ulama berpendapat tidaklah dikatakan bersiwak dengan sikat gigi adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam karena siwak berbeda dengan sikat gigi. Siwak memiliki banyak kelebihan dibandingkan sikat gigi. Namun pendapat yang benar bahwasanya jika tidak terdapat akar atau dahan pohon untuk bersiwak maka boleh kita bersiwak dengan menggunakan sikat gigi biasa karena illah (sebab) disyariatkannya siwak adalah untuk membersihkan gigi. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam pernah besiwak dengan jarinya ketika berwudhu, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ali Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam

أدْخَلَ أضصْبِعَهُ عِنْدَ الْوُضُوْءِ وَ حَرَّكَهَا

Beliau memasukkan jarinya (ke dalam mulutnya-pent) ketika berwudlu dan menggerak-gerakkannya. (Hadits riwayat Ahmad dalam musnadnya 1/158. Berkata Al-Hafizh dalam talkhis 1/70 setelah beliau membawakan hadits-hadits tentang siwak dengan jari yaitu dari hadits Anas Radhiyallahu ‘anhu dan Aisyah dan selain keduanya :”Dan hadits yang paling shohih tentang siwak dengan jari adalah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya dari hadits Ali bin Abi Tolib Radhiyallahu ‘anhu”.) (Syarhul mumti’ 1/118-119)

Dan bersiwak dengan menggunakan akar atau dahan pohon adalah lebih baik dan lebih mengikuti sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam karena memiliki faedah yang banyak dan bisa digunakan setiap saat serta bisa dibawa kemana-mana. Namun anehnya banyak kaum muslimin yang merasa tidak senang jika melihat orang yang bersiwak dengan akar atau dahan pohon, padahal tidak diragukan lagi akan kesunnahannya. Mereka memandang orang yang bersiwak dengan akar kayu dengan pandngan sinis atau pandangan mengejek. Apakah mereka membenci sunnah yang sering dilakukan dan dicintai oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bahkan ketika akhir hayat beliau? Tidak cukup hanya dengan membenci, merekapun memberikan olok-olokan yang tidak layak sampai-sampai mereka mengatakan orang yang bersiwak adalah orang yang jorok.

Cara bersiwak

Hendaklah bersiwak dengan menggosok bagian kanan gigi, setelah itu bagian yang kiri. Hal ini sesuai dengan hadits ‘Aisyah :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَفِيْ شَاْنِهِ كُلِّهِ

Adalah menyenangkan Rosulullah untuk memulai dengan yang kanan ketika memakai sendal, menyisir rambut, ketika bersuci, dan dalam semua keadaan”.(Hadits riwayat Bukhori dan Muslim)

Dan siwak termasuk dari bersuci.

Namun para ulama berselisih tentang mana yang lebih afdol, apakah memegang siwak dengan menggunakan tangan kanan atau dengan tangan kiri?.

Sebagian ulama berpendapat bahwa yang lebih afdol adalah dengan tangan kanan. Karena bersiwak adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, dan sunnah adalah ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak layak dilaksanakan dengan yang kiri.

Sebagian ulama yang lain (diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) menganggap yang lebih afdol adalah dengan tangan kiri. Karena bersiwak adalah termasuk membersihkan kotoran sebagaimana beristinja’ dan beristijmar. Oleh karena itu lebih baik menggunakan tangan kiri.

Sebagian ulama yang lainnya (yaitu sebagian para ulama dari madzhab Maliki) memerinci. Jika niat bersiwak untuk membersihkan kotoran maka yang lebih afdol menggunakan tangan kiri, namun jika niatnya hanya sekedar melaksanakan sunnah (walaupun gigi dalam keadaan bersih-pent) seperti bersiwak ketika wudlu atau ketika akan sholat maka lebih baik menggunakan tangan kanan.

Namun tentang masalah ini perkaranya luas (bebas) karena tidak adanya dalil yang jelas yang menunjukan akan hal ini. (Syarhul mumti’ 1/126-127)

Bolehkah seseorang yang berpuasa bersiwak ?

Tentang masalah ini juga terjadi khilaf diantara para ulama’.

Makruh menurut Syafi’iyah dan Hanabilah seseorang yang berpuasa bersiwak setelah waktu zawal (condongnya matahari) atau sejak masuk waktu sholat dhuhur hingga terbenam matahari. Dalil mereka :

  • Hadits Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam:

إِذَا صُمْتُمْ فَاسْتِكُوْا بِالْغَدَاةِ وَلاَ تَسْتَكُوْا بِالْعَشِيِّ

Jika kalian berpuasa maka bersiwaklah ketika pagi hari dan janganlah kalian bersiwak ketika sore hari” (setelah zawal-pent). (Hadits riwayat Daruqutni dari hadits Ali bin Abi Tolib, namun sanadnya dho’if lihat irwaul golil no 67)

  • Hadits Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam:

لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسكِ

Bau mulutnya orang yang berpuasa sungguh lebih baik di sisi Allah daripada bau misik”. (Hadits riwayat Bukhori dan Muslim)

Dan bau mulut tersebut biasanya tidaklah muncul kecuali pada sore hari. Dan bau tersebut muncul dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak selayaknya untuk dihilangkan sebagaimana darahnya para syuhada’ tidak boleh dihilangkan sehingga mereka dikuburkan bersama darah-darah mereka dan tanpa dimandikan.

Dan tidak dimakruhkan sama sekali secara mutlak menurut Malikiah dan Hanafiah seseorang yang berpuasa untuk bersiwak kapan saja. Dan ini adalah pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Berkata Imam Syaukani :”Yang benar disunnahkan orang yang berpuasa untuk bersiwak sejak awal siang hingga akhirnya (dari semenjak pagi sampai terbenam matahari –pent), dan inilah pendapat jumhur para imam.” (fiqhul islami 1/302)

Dalilnya yaitu :

  • Hadits-hadits yang menganjurkan untuk bersiwak itu bersifat umum baik bagi orang yang tidak berpuasa maupun yang berpuasa. Dan tidak ada satu dalilpun yang shohih yang mengkhususkan bahwa tidak dianjurkan bersiwak bagi orang yang berpuasa setelah dhuhur. Sedangkan hadits Ali Radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Daruqutni, hadits tersebut dhoi’f maka tidak bisa dijadikan hujjah.

Syaikh Al-Albani berkata mengomentari hadits Ali yang dho’if ini :”…Dan jika engkau telah mengetahui lemahnya hadits ini maka tidak ada hujjah padanya (hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah akan makruhnya bersiwak bagi orang yang berpuasa setelah zawal-pent). Lagi pula hadits ini bertentangan dengan dalil-dalil yang umum tentang disyari’atkannya siwak yang berlaku bagi orang yang berpuasa pada setiap waktu. Dan betapa baik apa yang telah diriwayatkan oleh At-Thobroni :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ غَنِمٍ قَالَ : سَأَلْتُ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ : آتَسَوَّكُ وَأَنَا صَائِمٌ ؟ قَالَ : نَعَمْ, قُلْتُ : أَيُّ النَّهَارِ ؟ قَالَ : غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّةً. قُلْتُ : إِنَّ النَّاسَ يَكْرَهُوْنَ عَشِيَّةً وَ يَقُوْلُوْنَ إِنَّ رَسُلَ اللهِ قَالَ : لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسكِ ؟ قَالَ : سُبْحَانَ اللهِ لَقَدْ أَمَرَهُمْ بِالسِّوَاكِ, وَ مَا كَانَ بِالَّذِيْ يَأْمُرُهُمْ أَنْ يُنَتِّنُوْا أَفْوَاهَهُمْ عَمْدًا, مَا فِيْ ذَالِكَ مِنَ الْخَيْرِ شَيْءٌ بَلْ فِيْهِ شَرٌّ. قَالَ الحَافِظُ فِيْ التَّلْخِيْصِ (ص 113) : إِسْنَادُهُ جَيِّدٌ

Dari Abdurrahman bin gonim berkata : “Aku bertanya kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu: Apakah aku bersiwak padahal aku berpuasa?” Beliau menjawab :”Ya”, Aku berkata : “Di siang hari kapan?”, Beliau berkata :”Di waktu pagi dan sore”. Aku berkata :”Orang-orang membenci (bersiwak) pada sore hari. Dan mereka berkata bahwa Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Bau mulutnya orang yang berpuasa sungguh lebih baik di sisi Allah daripada bau misik”. Beliau berkata سُبْحَانَ اللهِ Rosulullah sungguh telah memerintahkan mereka untuk bersiwak dan tidaklah layak (bagi mereka) atas apa yang telah mereka telah diperintahkan oleh Rosulullah, mereka sengaja membuat mulut mereka menjadi berbau busuk. Tidak ada pada perbuatan mereka itu kebaikan sedikitpun, bahkan kejelekan yang ada pada perbuatan mereka itu.” Berkata Al-Hafiz dalam “Talkhis” hal 113 : “Sanadnya baik” (Lihat irwaul golil hal 1/106)

  • Hadits

قَالَ عَامِرُ بْنُ رَبِيْعَةَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ مَا لاَ أُحْصِي يَتَسَوَّكُ وَهُوَ صَائِمٌ

Berkata Amir bin Robi’ah Radhiyallahu ‘anhu: Aku telah melihat Rosulullah apa yang tidak bisa aku menghitungnya yaitu beliau bersiwak dan beliau dalam keadaan berpuasa. (Hadits riwayat Abu Dawud).

Namun hadits ini dho’if dan tidak bisa dijadikan hujjah (lihat irwaul golil no 68).

  • Sedangkan diqiaskannya bau mulut orang yang berpuasa dengan darah para syuhada’ adalah qias yang salah. Karena ‘illah dari tidak dimandikannya para syuhada’ adalah pada hari kiamat mereka akan dibangkitkan dalam keadaan luka-luka mereka berdarah dengan warna darah namun mengeluarkan bau misik. Hal ini berbeda dengan puasa, tidak ada dalil yang menunjukan bahwa orang yang berpuasa akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan mengeluarkan bau mulut yang tidak dibersihkan dengan bau yang harum.

  • Adapun mengatakan bahwa bau mulut itu biasanya muncul pada waktu sore hari, ini tidaklah mutlaq. Bukankah terkadang bau itu muncul sebelum dhuhur, karena sebab munculnya bau ini adalah kosongnya lambung. Jika seseorang sahurnya terlalu cepat maka lambungnya akan kosong pada waktu pagi, sehingga di pagi hari mulutnya sudah bau. Seharusnya kalau ‘illah dari larangan bersiwak adalah bau mulut, maka kapan saja mulut itu bau maka tidak boleh bersiwak baik di siang hari maupun di pagi hari. Apalagi ada orang yang tidak memiliki bau mulut ketika berpuasa karena pencernaannya lambat atau karena yang lainnya (maka tentunya tidak mengapa baginya untuk bersiwak -pent). (lihat Syarhul mumti’ 1/121-124)

Berkata Syaikh Ali Bassam : “Tidak ada dalil pada hadits ini (yaitu hadits لَخُلُوْفُ فَمِ …. ). Sebab siwak tidaklah bisa menghilangkan bau yang timbul dari sumbernya yaitu dari lambung, berbeda dengan mulut yang bisa dibersihkan dengan siwak” (Taudihul Ahkam 1/106)

Friday, February 25, 2011

Fadilah Dzikir

Allah SWT Berfirman Dalam surat Al – ahzab 41- 42 yang Artinya : "Wahai Orang-oran gyang beriman sebut-sebutlah nama Allah SWT sebanyak-banyaknya. Sucikanlah nama tuhannya pagi maupun sore hari. “


Dalam Ayat lain Q.S Al – Anfal 45 yang artinya : "Maka sebutlah nama Allah SWT sebanyak – banyaknya demikian itu akan melembutkan dirimu. "


Q.S Al – Imran 141 yang artinya : " Dan mrk ygmenyebut² namaAllah dalam keadaan berdiri dan duduk mengharap ampunan dari Allah SWT."


Bersabda nabi Muhammad SAW yang diwahyukan dari Abu Darda, berkata Rasullah SAW : " Maka Ketahuilah amalan yang paling terbaik dari amal kalian & mengangkat derajat kalian setelah kalian mendirikan solat, berzakat, berpuasa dan berhaji ada yang lebih dari pada itu. “

Berkata Sahabat :"Apa itu ya Rasululla SAW..? "

Maka Rasulullah SAW bersabda : "Ingat kepada Allah dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi".

Dari Abu Daut Al-Khudri bertanya kepada Rasulullah SAW : "Apakah amalan yang lebih utama nanti di hari kiamat..?"

Bersabda Rasulullah SAW : "memperbanyak menyebut-nyebut nama Allah SWT".

Bertanya lagi Sahabat: "Bagai mana dengan jihad fi sabilillah ya Rasulullah…?".

Bersabda Rasulullah SAW : "Walaupun mereka memukulkan pedangnya sehingga keluar darah kepada musuhnya lebih afdol berzikir kepada Allah SWT atas nya dan di angkat derajatnya oleh Allah SWT".

Diriwayatkan dari Turmidzi dari Abdullah bin Umar radiallahuanhuma, sesunguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : "Tidaklah seseorang menyebut di muka bumi Allah SWT ini subahanallah walhamdulillah wa lailahailallah wallahuakbar, tanpa kecuali terleburlah semua kesalahanya walaupun dosanya seluas lautan". (riwayat Hakim shohih).

Menyebut-nyebut nama Allah SWT dan memperbanyak menyebut nama-Nya di dalam membaca Al-Qur'an maupun asmaul husna menjadikan orang tersebut dari kerugian di hari kiamat sebagai mana yang diriwayatkan dari Baihaqi dari Aisah radiallahanha bersabda Rasulullah SAW: "Tidak lah semua anak cucu adam dalam keadaan rugi di hari kiamat kecuali orang yang mengingat-gingat Allah SWT di dalam dunia".

Ketahuilah hati itu bagaikan batu cincin maka gosoklah iya dengan berzikir ke pada Alah SWT sehingga iya mengeluarkan cahaya/kilauan, maka orang yang meninggalkan zikir dia akan mendapatkan dua kegelapan hati :

  1. Kegelapan gugurnya dosa
  2. Kerasnya hati

Tidaklah keduanya akan sirna kecuali dengan berzikir kepada Allah SWT.

Ayat Allah SWT di dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Haj 46 yang artinya : “Sesunguhnya mata-mata mereka tidak buta akan tetapi mata-mata mereka melihat”, apa yang menyebabkan mereka buta mengingat Allah SWT, yang menyebabkan mereka buta adalah mata hati mereka yang ada di dalam dada mereka dalam mengingat Allah SWT”.


Kesimpulan :

Ayat Al-Qur’an & Hadits Rasulullah SAW di atas trelah cukup agar kita sebagai hamba Allah SWT tidak lalai untuk mengingat apa yang telah Allah SWT berikan kepada kita sekalian sebagai hamba-hambanya.

Berzikir berarti salah satu cara bersyukur atas apa yangtelah diberikan Allah SWT kepada hamba-nya.

Mengingat Allah SWT adalah salah satu tanda terimakasih kita kepada-NYa, sesunguhnya kita tidak bias menghitung nikmat-nikmat yang telah di berikannya yang terasa maupun yang tak terasa , yang terlihat maupun yang tak terlihat, yang terdengar maupun yang tak terdengar, begitu banyak nikmat yang telah di berikan Allah SWT kepada hambanya yang di jadikan di muka bumi ini seperti para Nabi, Sahabat, Sholihin mereka dijadikan oleh Allah SWT sebagai kekasihnya dikarenakan mereka banyak mengingat-ingat nama-Nya dan mensiarkan agama-Nya.

Maka ajarkan hati kita , dirikita, keluarga kita, anak kita, sahabat kita, dan seluruh manusia untuk mengingat Allah SWT (Berzikir)

Kekuatan Amal Agama

Amal agama sesungguhnya memilki rahasia kekuatan yang luar biasa. Dalam setiap amal ibadah yang kita buat Allah Ta’ala akan mendatangkan ribuan manfaat kepada setiap orang yang mengamalkannya. Kehebatan amal agama ini banyak sekali diceritakan dalam Al-Quran. Salah satu contoh adalah amalan sholat. Dalam Al-Quran Allah swt. memerintahkan kita untuk menyegerakan sholat apabila kita ditimpa musibah atau kesulitan.


"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk" (Al-Baqarah 45).

Dalam ayat tersebut Allah mengendaki agar kita segera mengamalkan shalat jika kita berada dalam kesulitan. Hasil dari kesungguhan kita dalam mengerjakan perintah Allah tersebut sungguh-sungguh dapat menyelesaikan setiap kesulitan yang ada pada diri kita. Ini adalah tawaran Allah Swt kepada kita. Shalat, adalah satu pilihan dan kesempatan agar setiap masalah kehidupan yang menimpa kita dapat segera Allah ta’ala angkat dari diri kita. Shalat, merupakan salah satu sumber penyelesaian setiap kesulitan. kekhusyuan dalam sholat dapat mendatangkan Rahmat dan pertolongan Allah kepada diri kita. Rahmat Allah Swt. lah yang meyelesaikan masalah-masalah kita. Dan untuk menarik Rahmat Allah Swt. agar datang kepada kita Allah ta’ala berikan satu cara dengan amalan sholat. Jika kita mengerjakannya dengan penuh tertib, sarat dan rukunnya terpenuhi Allah pasti dan pasti akan mendatangkan manfaat yang besar kepada diri kita. Kenapa setiap sholat yang kita kerjakan belum mampu menyelesaikan masalah-masalah kita, karena sholat yang kita kerjakan belum sesuai dengan tertib seperti yang dikehendaki Allah Swt. Sarat dan rukun sholat kita masih belum benar sehingga tak mampu menarik bantuan Allah Swt. Kekhusyuan sholat kita pun masih dalam kadar yang terendah atau bahkan lenyap dari dalam diri kita. Sehingga ketika kita melakukan sholat yang ada di pikiran dan hati kita adalah perkara-perkara selain Allah Swt.. Keagungan Allah Swt tidak ada dalam hati kita, ketakutan kepada Allah Swt tidak ada pada diri kita ketika sholat. Ketika kita sholat tidak ada rasa tawadhu dan merendahkan diri dihadapan Allah Swt. Bahkan kita tak mampu menangis dihadapan Allah Swt. ketika sholat. Apakah dengan kualitas sholat yang semacam itu kita akan berharap besar Allah ta’ala akan datang kepada kita dan menolong kita?

Iman kita yang lemah membuat kita tidak yakin dalam setiap amalan yang kita kerjakan, hingga kadar dan kualitas sholat kita tak mampu membuat penyelesaian dalam setiap masalah. Kualitas sholat kita terlalu buruk sehingga tak mampu membuat Allah Swt. tersenyum dan iba kepada diri kita. Bahkan terlalu buruk sehingga jika selesai sholatpun keresahan dan kesempitan datang lagi menyerang hati kita. Dalam satu hadits diceritakan bahwa sholat yang buruk akan dicampakkan oleh Allah swt. seperti Allah mencampakkan kain yang buruk ke muka kita. Sholat yang buruk tidak memiliki nilai di sisi Allah Swt. Ibarat memberi suatu hadiah maka sudah semestinya kita memberi hadiah yang terbaik buat kekasih kita Allah Swt. Untuk itu kita perlu meningkatkan kualitas sholat kita dihadapan Allah ta’ala.

Bagaimana caranya agar kualitas sholat kita menjadi baik di sisi Allah Swt. Caranya adalah dengan berlatih hari demi hari. Setiap saat kita latih terus menerus dan sedikit demi sedikit sampai ada peningkatan dalam sholat kita. Hal pertama yang harus kita miliki adalah keyakinan yang kuat bahwa dengan sholat akan meyelesaikan masalah-masalah kita. Kita perlu memahamkan ke dalam diri kita bahwa sholat adalah sesuatu yang besar di sisi Allah Swt. Setiap gerakan-gerakan sholat, kekhusyuan dalam sholat adalah sesuatu yang bernilai di sisi Allah Swt. Maka kerjakanlah sholat penuh dengan kekhusyuan dan kehati-hatian (memperhatikan sekali gerakan-gerkan di dalam sholat). Ingat bahwa Allah sesuai dengan prasangka hambaNya. Bagaimana Allah adalah bagaimana perasaan kita menyangkaNya. Jika kita tidak yakin kepada Allah Swt maka Allah pun akan melakukan hal yang sama kepada diri kita. Akan tetapi jika kita berusaha mendekat dan yakin kepadaNya maka langkah Allah akan jauh lebih cepat dari langkah kita. Dalam satu hadits Qudsi dikatakan :

"Aku selalu menuruti sangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku selalu menyertainya ketika ia berzikir kepada-Ku. Dan jika ia ingat kepada-Ku di dalam jiwanya, maka Akupun mengingatnya di dalam Zat-Ku. Dan jika ia ingat kepada-Ku ditempat ramai, Akupun mengingatnya ditempat ramai yang lebih baik daripadanya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku pun mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku pun ingat kepadanya satu depa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku pun akan datang kepadanya dengan berlari cepat "

Dan sholat adalah Dzikir yang terbesar. Ulama mengatakan maksud dari perkataan "Waladzikrullaahi Akbar" adalah sholat. Sholat adalah hak Allah Swt. yang mesti kita tunaikan. Untuk itu setiap datang panggilan adzan kita mesti sadar bahwa Allah ta’ala telah memanggil kita. Dengan kita datang untuk menyambut seruan adzan maka kita telah berlatih untuk belajar menta’ati Allah Swt. Adzan bukan hanya sekedar batasan waktu-waktu sholat, akan tetapi jauh lebih dari itu, adzan adalah panggilan dari Sang Maha Pencipta kepada hamba-hambaNya untuk segera mendatangiNya dan menunaikan hak-hakNya. Andaikata ada satu pemimpin yang adil serta memilki kebaikan ada di depan kita maka ketika adzan datang memanggil kita akan jauh lebih lebih utama bagi kita untuk menunaikan panggilan adzan. Untuk itu kita harus selalu menunaikan panggilan adzan.

Berlatihlah sholat-sholat sunnah hingga lelah. Kelelahan dalam melatih diri dalam amalan sholat-sholat sunnah akan mendatangkan kesukaan Allah Swt. Seorang alim pernah menganjurkan jika kita mempunyai hajat baik dunia maupun akhirat maka kerjakan sholat hajat berulang-ulang. Misalnya dengan kita membuat target dalam sehari atau semalam mengerjakan sholat hajat 20 rakaat selama satu bulan. Maka jika kita kerjakan dalam sebulan penuh sholat hajat yang kita kerjakan akan menjadi 600 rakaat. Jika dalam enam ratus rakaat yang kita kerjakan hajat kita belum dipenuhi Allah Swt, perlu ditambah menjadi 1000 rakaat. Jangan bayangkan 1000 rakaatnya, tapi bayangkan hal yang kecil yaitu 20 rakaat dalam setiap malam. Perlu kita bayangkan juga bahwa dengan kita mengerjakan sholat hajat berkali-kali adalah menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh dalam mengerjakannya dan bersungguh-sungguh dalam berhajat kepada Allah Swt. Jangan berputus asa. Jika kita tidak mampu yang besar kerjakan yang kecil terlebih dahulu, misalnya 4 atau 2 rakaat setiap hari, berikutnya tambah dan tambah lagi sesuai dengan kemampuan diri. Jika belum mapu mengerjakan setiap hari maka kerjakan 2 hari sekali secara rutin. Jangan kita beralasan bahwa hal itu terlalu berat tapi malah kita tidak melakukannya sama sekali. Ini adalah kesalahan yang fatal dan bisikan syaitan yang membuat kita berpikir seperti itu. Ingat syaitan tidak akan pernah berhenti untuk mempengaruhi manusia untuk ta’at kepada Allah Swt. Segala cara akan dibuatnya sehingga kita semakin jauh dan menjauhi Allah Swt.

Janganlah pernah berhenti untuk membuat amalan baik setiap harinya. Jika sholat hajat yang kita kerjakan belum mendatangkan bantuan Allah Swt., maka kita perlu buat juga amalan-amalan yang lain untuk mendukungnya. Sesungguhnya kita tidak mengetahui kantung-kantung keridhoan Allah ta’ala berada dimana. Kita bisa juga berlatih untuk membuat amalan sedekah guna menarik bantuan Allah. Sedekah yang kita kerjakan tidak harus besar dan sesuai kemampuan kita. Kita bisa memperhatikan lingkungan yang ada di sekitar kita dan kita cari orang-orang yang hidup dalam kekurangan serta butuh bantuan uluran tangan kita untuk membantunya. Berilah apa yang kita bisa dam semampu kita. Undang Kesukaan Allah dengan memberi kepada mahkluk Allah Swt. Allah sangat senang kepada orang yang suka memberi. Dan harta kita yang sebenarnya adalah harta yang kita tabungkan dalam bankNya Allah Swt. Dalam satu hadits dikatakan bahwa sedekah akan mendatangkan rizki yang tidak disangka-sangka. Datangnya Rizki bukan sesuai dengan keinginan kita, tapi sesuai dengan maunya Allah ta’ala. Untuk itu amalan yang kita kerjakan senantiasa kita lakukan dengan penuh kesungguhan dan keihklasan. Karena Allah Swt. hanya menerima amalan yang kita kerjakan penuh dengan keihklasan. Jika kita belum memilki keihklasan maka hal ini juga kita perlu latih hingga ihklas ada pada diri kita. Intinya adalah berlatih sedikit demi sedikit. Sehingga ada kecintaan kepada kita untuk selalu berbuat baik. Nantinya jika kita sudah terbiasa melakukan amalan baik maka akan menjadi sifat dalam diri kita untuk berbuat baik. Ada perasaaan hilang dari diri kita jika dalam satu hari kita tidak berbuat baik. Jangan bayangkan perbuatan baik itu susah. Justru sebaliknya perbuatan baik itu mudah dan sangat mudah. Bukankah tersenyum kepada saudara muslim kita yang lain juga bernilai di sisi Allah Swt. Senyum dikatakan dalam sebuah hadits adalah sedekah. Atau kita juga bisa berbuat baik kepada orang tua kita atau saudara kita atau kepada setiap orang yang ada di lingkungan kita. Kita senantiasa harus berusaha memilki kecerdasan dan kejelian dalam melihat peluang untuk berbuat baik dalam 24 jam yang kita miliki. Terus lakukan hal seperti itu sampai Allah Swt membuat keputusan untuk membantu dan menyelesaikan masalah kita.

Hal yang penting juga agar kita selalu memanjatkan doa kepada Allah Swt. Jangan pernah berhenti untuk berdoa walau seburuk apapun kualitas doa kita. Mintalah kepada Allah Swt. agar Allah Swt. memberikan kepada kita sifat-sifat yang baik. Mintalah keimanan, kesabaran, sifat syukur, qona’ah, dan sifat ihklas agar ada dalam diri kita dan menjadi milik kita. Manfaatnya adalah jika hajat kita belum terpenuhi maka Allah ta’ala akan berikan iman, sabar, syukur, qonaah dan ihklas ada dalam diri kita. Masalah-masalah yang berat yang menimpa kita sesungguhnya memerlukan sifat-sifat tersebut agar kita siap dan tabah dalam menghadapinya. Jika kita tidak memilki keimanan yang baik maka jika datang masalah menimpa kita, kita akan lari dan berpaling menjauhi Allah Swt.. Dan pahala kesabaran adalah Surga. Rasa syukur akan menambah dan menarik nikmat-nikmat Allah yang lain. Qona’ah adalah senantiasa menerima apapun yang Allah beri kepada kita. Dan kesemuanya itu perlu keihklasan dalam menjalaninya.
Doa yang kita panjatkan akan menjadi pahala buat kita walau doa kita belum dikabulkan oleh Allah ta’ala. Bersungguh-sungguh dalam berdoa akan membuat Allah ta’ala senang. Allah senantiasa cinta kepada hambaNya yang selalu memanjatkan doa kepadaNya. Menangislah dihadapan Allah Swt. Jika kita belum bisa menangis latih diri kita sampai bisa menangis. Menangis di hadapan Allah Swt. jauh lebih baik daripada menangis dihadapan mahklukNya. Sembunyikan masalah kita terhadap orang lain dan adukan kepada Allah ta’ala. Dengan begitu kita hanya berharap kepada Allah Swt, dan hanya Allah Swt tempat yang pantas buat kita untuk menaruh harap dan cemas. Mungkin masalah kita akan terangkat setelah kita melakukan ratusan atau bahkan ribuan doa kepada Allah ta’ala. Dan yakinlah bahwa doa kita pasti diterima oleh Allah Swt. Karena Allah ta’ala telah menjamin bahwa "Barangsiapa yang berdoa kepadaKu pasti Aku kabulkan". Apakah kita tidak yakin dengan jaminan dan janji Allah? Jaminan dan janji Allah Swt. jauh lebih pasti dari terbit dan terbenamnya matahari.
Dalam membuat amal agama senantiasa kita perlu tawajuh kepada Allah Swt. Hadirkan ke dalam hati kita bahwa Allah ta’ala senantiasa melihat setiap perbuatan kita. Inilah sifat Ihsan dalam amalan. Jangan remehkan setiap amal walau kecill tapi bisa jadi besar dihadapan Allah Swt. asal dikerjakan dengan penuh ihsan dan tawajuh kepada Allah Swt. Semua perbuatan kita tidak ada yang terlewatkan tanpa Allah ta’ala melihatnya. Ihsan memilki sejarah bahwa pelajaran tersebut Allah tunjukkan melalui malaikat Jibril a.s. kepada Rasulullah Saw. didepan para sahabatnya. Ketika itu datang malaikat Jibril a.s. kepada majelis Rasulullah Saw. dan para sahabat dalam wujud seorang pemuda yang tampan berpakaian putih dan bersorban putih menanyakan kepada Rasulullah kepada 3 perkara yaitu islam, iman dan ihsan. Ihsan adalah kita melihat Allah atau merasa dilihat oleh Allah Swt. Maka hadirkan sifat ihsan dalam setiap amalan yang kita buat.

Hal yang tak kalah penting adalah senantiasa kita hadirkan fadhilah/keutamaan amal dalam setiap amalan yang kita buat. Ini adalah untuk melatih kita agar senantiasa bergairah untuk membuat suatu amal. Yakin kepada janji-janji Allah dalam amal agama adalah syarat dari diterimanya suatu amal. Hindarkan keraguan dalam diri kita dalam melakukan suatu amal. Kita mungkin pernah mendengar bahwa seseorang berkata bahwa "saya beramal karena Allah bukan karena pahala". Itu benar akan tetapi jika kita tidak menghadirkan fadhilah maka kita akan lemah dan tidak bersemangat dalam melakukan amalan. Dan seolah-olah kita meremehkan dengan janji-janji Allah Swt. Padahal banyak sekali hadits-hadits Rasulullah Saw. yang berkenaan dengan fadhilah atau keutamaan suatu amal. Maulana Muhammad Zakarriya rh.a. telah menyusun satu kitab yang berkenaan dengan fadhilah amal. Di dalamnya dirangkum hadits-hadits Rasulullah Saw. mengenai keutamaan-keutamaan Sholat, dzikir, bacaan quran, haji, tabligh, sedekah, romadhan dan kisah kehidupan para sahabat serta keruntuhan ummat. Saya merekomendasikan kitab itu untuk kita baca setiap hari dan kita hidupkan menjadi suatu amalan harian untuk membuat taklim di rumah dan masjid kita. Agar diri kita dan ahli keluarga kita serta ahli jamaah di masjid kita senantiasa bergairah dan berlomba-lomba untuk beramal shaleh. Jika amalan shaleh telah kita buat dan menjadi suatu kecintaan kepada suatu masyarakat dan orang berlomba-lomba untuk melakukannya maka Allah t’ala akan menurunkan RahmatNya kepada kita semua. Jika Rahmat Allah ta’ala datang maka siapa yang bakal bisa menolaknya. Maka jika kehidupan kita selalu dipenuhi dengan Rahmat Allah Swt. segala sesuatunya akan menjadi mudah. Segala macam kesulitan akan ditarik dan diangkat oleh Allah ta’ala ke atas langit dan diganti dengan kemudahan-kemudahan serta keberkahan.

Selain mengenai ilmu fadhail kita juga perlu belajar mengenai ilmu masail. Ilmu masail adalah ilmu mengenai tata cara ibadah (ubuddiah) baik mengenai halal dan haram, boleh dan tidak boleh. Ilmu masail sangat penting untuk kita mendapatkannya, agar ibadah-ibadah yang kita kerjakan benar dan sesuai dengan tuntunan Rasullullah Saw. Ilmu masail harus berdampingan dengan ilmu fadhail. Jika seseorang hanya menuntut ilmu fadhail dan melupakan ilmu masail maka ibadahnya bisa jadi salah. Ibadah yang salah akan tertolak oleh Allah Swt. Sebaliknya jika seseorang hanya mementingkan ilmu masail tanpa ilmu fadhail maka dikhawatirkan akan menjadi fasik. Dia tahu perintah-perintah Allah Swt, tapi tidak melaksanakannya. Berapa banyak orang yang sekarang tahu dan mengerti akan perintah-perintah Allah Swt. akan tetapi malah merobohkannya. Dan tidak ada tempat buat orang yang fasik selain neraka. Untuk menuntut ilmu masail maka kita perlu hidupkan di masjid kita dan kampung kita. Kita bisa memanggil seorang ustad atau ulama yang paham mengenai agama sebagai tempat kita bertanya mengenai masalah-masalah agama. Atau kita juga bisa berkunjung secara rutin kepada alim ulama yang ada di sekitar tempat tinggal kita guna menanyakan masalah-masalah agama. Betapa pentingnya ilmu masail sehingga dikatakan jika di suatu kampung tidak ada seseorang yang alim mengenai agama maka masyarakat kampung itu wajib mewujudkan seorang alim ada diantara mereka. Jika mereka tidak berusaha mewujudkannya maka masyarakat itu telah berdosa. Pada jaman Sahabat ra.hum ada beberapa orang sahabat sebagai tempat bertanya. Diantaranya yang terkenal adalah Abdullah bin Mas’ud ra., Adullah bin Umar ra., Ummul Mukminin Siti Aiysah rh.a, Abu Hurairah r.a.dan beberapa sahabat yang lainnya.

Selanjutnya untuk melengkapi itu semua kita senantiasa harus menyampaikan pentingnya amal agama kepada setiap orang. Menyampaikan agama kepada saudara kita yang lain adalah perintah Allah swt. yang nilainya tinggi di sisi Allah Swt. Dakwah adalah nama namalan bukan nama suatu organisasi ataupun lembaga. Rasulullah tidak pernah membuat suatu organisasi atau lembaga dalam berdakwah. Organisasi sudah dibentuk oleh Allah Swt. yaitu islam. Islam adalah organisasi besar yang telah Allah satukan dengan satu kalimat yaitu "Laa ilaha Illallaah". Semua manusia yang memilki kalimah "Laa ilaha Illallaah" adalah anggota organisasi islam. Tidak perlu kartu anggota untuk menjadi bagian dalam organisasi islam. Cukup mengucapkan kalimat "Laa ilaha Illallaah Muhammadur Rasulullaah" sudah bisa menjadi bagian dari ummat islam dan mendapatkan hak untuk masuk ke dalam surgaNya Allah Swt. Dakwah adalah perkara penting dan perkara pertama yang Allah Swt. perintahkan kepada setiap nabi-nabi yang diutus ke muka bumi. Hadits yang mengatakan "Sampaikanlah walau satu ayat" adalah mengenai perkara dakwah. Dalam satu ayat Allah Swt. mengatakan "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" adalah tantangan Allah kepada hambaNya dan jaminan bahwa orang yang senantiasa mengajak kepada Allah (dakwah) adalah perkataan yang paling baik. Orang yang berdakwah senantiasa beramal shaleh dan menyerahkan dirinya bulat-bulat kepada Allah Swt. Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang berkenaan dengan dakwah. Untuk itu kita perlu wujudkan suasana dakwah ke dalam kehidupan sehari-hari. Dakwah adalah maksud hidup kita dan perintah Allah Swt yang mesti kita laksanakan sampai mati. Dalam dakwah ada nusroh ghaibiah dan bantuan Allah Swt. Dakwah yang dikerjakan dengan penuh keihklasan dan ketawajuhan akan mendatangkan manfaat yang besar dalam hidup kita. Seorang da’i yang benar tidak akan meminta bayaran atas seruannya. Bayarannya adalah keridhoan Allah Swt. Bagi da’i keridhoan Allah adalah segala-galanya. Keridhoan Allah teramat mahal dan untuk mendapatkannya diperlukan perjuangan dan pengorbanan. Harta, diri dan waktu kita perlu kita korbankan untuk agama Allah Swt. sebagai tanda bakti kita kepada Allah Swt dan RasulNya. Dan nanti Allah Swt. akan menggantinya dengan Surga. Surga tak sebanding dengan harta dan diri kita yang kita korbankan untuk agama. Untuk mendapatkan surga kita perlu keridhoan Allah Swt. Keridhoan Allah Swt yang terbesar akan datang jika kita mau berkorban atas agama. Sebagaimana nabi Ibrahim yang telah meninggalkan Siti Hajar dan Ismail untuk berkorban atas agama selama 18 tahun. Sebagaimana para sahabat yang telah bersusah payah dan berkorban untuk agama. Jika ada seseorang yang mengatakan bahwa mengorbankan harta dan diri untuk agama adalah sesat maka dia perlu belajar Al Quran lagi. Justru pernyataanya adalah sesat dan menyesatkan. Apakah dia tidak melihat bagaimana nabi-nabi berkorban untuk agama. Apakah dia tidak mendengar bahwa Rasulullah Saw. dan para sahabatnya telah berjuang dan berkorban habis-habisan untuk agama. Abu Bakar As Shidiq telah habis 8 tokonya setelah masuk islam dan berkorban untuk agama. Umar bin Khattab telah mengorbankan separuh hartanya ketika perang tabuk. Semua sahabat telah berkorban atas agama. Jika kita mau mendapatkan keridhoan Allah Swt. sebagaimana para sahabat telah mendapatkannya maka kita perlu meniru perjuangan para sahabat r.hum. Bantuan Allah Swt. akan datang kepada ummat islam jika ummat islam mau meninggalkan rumah dan perkerjaan serta keluarganya untuk menyeru kepada agama Allah. Kita datang ke kampung-kampung dan seluruh negeri dengan berjamaah untuk mengajak manusia kepada agama Allah Swt. Maka dengan bergeraknya ummat islam dari tempat ke tempat lain, dari desa ke kota, dari kota ke desa ibarat seperti air yang mengalir yang mensucikan. Air yang tergenang tidak dapat mensucikan. Air yang mengalir walau sedikit akan mensucikan dan dapat untuk kita berthaharah. Agar kemaksiatan ini sirna dari muka bumi maka kita perlu bergerak dan saling mengajak kepada kebaikan. Ini adalah perintah Allah Swt. yang tidak dapat dibantah dan ditawar. Di dalam perintah Allah ada kerberkahan dan keselamatan. Insya Allah..

Saat Nyawa Dicabut

Sakaratul maut adalah peristiwa sakitnya kematian. Penderitaan yang paling akhir bagi seorang yang hidup. Sebelum nyawa manusia dicabut, terlebih dahulu ia akan mengalami pedihnya sakaratul maut. Itulah proses kematian anak Adam, yaitu ketika terjadi perpisahan antara raga dan nyawa. Setiap anggota tubuhnya akan saling mengucapkan selamat berpisah kepada satu sama lain. Proses itu sungguh menyakitkan dan suatu peristiwa yang sangat dahsyat.

Allah Swt berfirman, “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat pada saat orang-orang zhalim berada dalam tekanan sakaratul maut” ( Al-an’am 93 )

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya semua manusia pasti mengalami sakaratul maut. Dan sesungguhnya sendi-sendi tulangnya, masing-masing mengucapkan salam perpisahan kepada yang lain seraya berkata, “Semoga kamu sejahtera. Kamu berpisah dariku, dan aku pun berpisah darimu sampai hari kiamar.” ( dikeluarkan oleh Said bin Mansur ).

Sungguh sakaratul maut adalah perkara yang sangat menyakitkan. Lebih sakit dari pada dipenggal dengan pedang, atau dingergaji dengan gergaji atau digunting dengan gunting.

Jangankan kita sebagai manusia biasa, para Nabi pun mengalami kejadian yang sama saat nyawa mereka dicabut. Allah bertanya kepada Roh Nabi Ibrahim as, bagaimanakah rasanya kematian? Jawab Ibrahim as, “Bagaikan batang besi pemanggang daging yang dipanaskan, dimasukan ke dalam wol basah, lalu ditarik dengan keras.” Allah berfirman, “Padahal sungguh, Kami telah meringankannya untukmu, wahai Ibrahim,” Begitu juga ketika roh Nabi Musa as. ditanya bagaimanakah rasanya kematian? Musa as menjawab,”Kurasakan diriku seperti seekor burung kecil yang digoreng hidup-hidup di wajan. Tidak mati, maka akhirnya bisa tenang, dan tidak pula selamat, maka akhirnya bisa terbang.” Dalam riwayat lain, Nabi Musa as berkata, “Kurasakan diriku seperti seekor kambing yang dikuliti hidup-hidup oleh tukang jagal ( Al-Muhasibi dalam Ar-Ri’ayah).

Nabi saw bersabda demi Allah yang menggenggam jiwaku, sesungguhnya melihat malaikat maut itu lebih dahsyat dari pada seribu kali pukulan pedang.” .

Malaikat maut itu sendiri ketika Allah mencabut nyawanya kelak, setelah kematian seluruh makhluk, maka ia berkata , “Demi keagungan-Mu, andaikan aku tahu betapa pedih sakaratul maut seperti yang kurasakan kini. Niscaya aku tidak akan mencabut nyawa seorang mukmin pun “

Diriwayatkan dari Abu Maysarah secara marfu’, “Andaikan sakitnya seutas rambut dari orang yang meninggal dunia itu diberikan kepada penduduk langit dan bumi, niscaya mereka akan mati semua.

Al-Qurtubi rah.a menulis dalam At-Tadzkirah-nya, “Saya mendengar, Wallahu a’lam wa ahkam, bahwa malaikat maut itu memandang wajah setiap Bani Adam sebanyak 366 kali. Dan bahwa malaikat maut memandang ke setiap rumah yang berada dibawah naungan langit sebanyak 600 kali. Dan saya mendengar malaikat maut itu mencabut nyawa anak Adam dari bawah setiap anggota tubuhnya, yaitu dari kuku-kukunya, urat-uratnya, dan rambutnya . Dan setiap kali nyawa itu sampai dari sendir-sendi yang lainnya, maka rasa sakitnya lebih dasyat dari pada dipukul 1000 kali.’ Wallahu a’lam.

Semoga Allah Swt dengan kasih sayangnya memberikan kemudahan kepada kita semua dalam menghadapi sakaratul maut.

“ Ya Allah lindungilah kami dari azab kubur , azab jahanam , fitnah dajjal dan kami berlindung kepada-Mu dari fitnah hidup dan mati.”