Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Wednesday, August 17, 2011

Luka Abadi Itu Bernama Selingkuh


Kebahagiaan dan kedamaian hati adalah cita- cita utama yang ingin didapatkan setiap pasangan menikah. Disana pula terjalin hubungan emosional yang halal dan menyejukkan. Namun seiring dengan berlalunya waktu, tak jarang kebiasaan nakal perselingkuhan pun muncul dan ikut menyemarakkan lika- likunya. Dan sangat disayangkan ketika hal itu pula lah yang akhirnya banyak membawa seseorang pada titik nadir kehancuran mahligai pernikahannya.

Ketika anda mendapati pasangan ternyata telah menikam anda dari belakang, jangan buru- buru memberi putusan dengan seribu satu penghakiman. Ajukan pertanyaan kasih sayang `kenapa` sebagai tanda bahwa anda masih menyayangi dan ingin memahaminya, bahkan dalam keadaan anda terkhianati sekalipun. Seperti halnya kekhilafan yang dilakukan pasangan kita, kita pun mungkin mempunyai kekurangan yang bisa saja lebih banyak dari pada dia. Dan siapa bisa menebak jika kelemahan kita tersebut, mungkin, yang justru menguatkan langkah pasangan kita untuk selingkuh.

Oleh karena itu, komunikasi yang hangat, erat dan akrab antara suami istri, akan meminimalisir kebutuhan untuk selingkuh. Hal ini karena manusiawinya manusia, bahwa kebutuhan kedamaian dalam hati mereka adalah sebuah hal yang tak dapat terelakkan lagi. Dan hati manusia sejatinya hanya bisa diisi oleh satu untuk mendamaikan mereka. Dari banyak hal yang tersayang, pastilah ada satu yang paling disayang. Jika kita telah bisa mengisi kekosongan hati pasangan kita dengan menjadikan diri yang paling disayang baginya, maka InsyaAllah perselingkuhan akan susah untuk terealisasi, bahkan saat kita tidak bersama ataupun mengawasi langsung pasangan kita.

Menjadi yang tersayang baginya, memanglah tidak semudah membalik tangan, apalagi ditambah kebiasaan manusia yang mudah bosan dan sering kali membutuhkan improfisasi dalam hidup. Namun jangan kawatir, tidak semua hal `baru` berarti membarukan hidup menuju lebih baik. Adakalanya justru hal yang `lama` akan lebih dalam mengisi sudut hatinya dan terekam erat dalam ingatan. Hal ini karena waktu jua yang akan membuktikan betapa yang lama tersebut telah melalui serangkaian cobaan, suka dan duka bersama- sama.

Jika perselingkuhan tetap atau telah terjadi dengan alasannya adalah bahwa tidak ada cinta manusia yang abadi, mungkin bagi sebagian orang hal itu wajar. Cinta manusia dapat terkikis dan berpindah tanpa direncanakan. Namun, jika cinta telah benar- benar tak bersisa, maka mungkin pasangan anda tidak ingin mengorbankan diri untuk hanya menjadi sekedar mayat hidup yang mati rasa. Tetaplah berlaku baik, walaupun hal itu sangat sulit. Namun dengan keistiqomahan kita, hal tersebut yang akan membawanya pada sebuah pikiran untuk tidak buru- buru memindahkan pilihan yang lain.

Batin dan mata manusia adalah sangat terbatas untuk melihat sesuatu. Pun hal itu berlaku pula untuknya. Giringlah dia untuk berpikir tentang hal itu lewat semua kebaikan anda, bahwa siapa yang tahu bahwa sesuatu yang `baru` baginya tersebut belum tentu lebih baik dari yang telah dia tinggalkan sebelumnya. Buat dia berpikir matang- matang atas main api yang dilakukannya, karena efeknya akan dia torehkan untuk waktu yang sangat lama, bahkan mungkin lebih lama dari hidupnya sendiri. Kenangan atas kelakuannya akan selalu diingat sepanjang masa. Celakanya hal itu berlaku bagi orang- orang terdekat yang menyayanginya. Setelah itu... hanya bahasa malu yang akan didapatnya seumur hidup dan melekat pada diri. Kalau sudah begitu, akan teramat susah baginya untuk menghapus memori mereka satu persatu, walaupun permintaan maaf sudah seringkali disampaikan.

Ternyata, bersyukur serta menanamkan rasa malu yang sangat kepada Allah berhasil mengikis keinginan setiap manusia untuk selingkuh. Yakinlah bahwa dalam satu kekurangan pasangan kita, masih ada seribu satu kelebihannya. Dan jika kelebihan tersebut belumlah nampak, mungkin pasangan kita yang belum mengetahui atau menyadarinya. Bersabarlah untuk mengasahnya bersama- sama. Bukankah pernikahan adalah tentang melengkapi dan kerjasama?. Disinilah kemudian kesungguhan kita dalam memegang komitmen pernikahan teruji. Apakah anda ingin tahu tentang kualitas diri anda sendiri?... tentu saja anda tidak ingin kelihatan sebagai pecundang, bukan?

Pernikahan adalah tentang melengkapi ketidaksempurnaan. Jikalaulah seorang manusia berselingkuh dengan seribu orang, maka tetaplah hanya satu orang yang dibutuhkannya dan yang dapat mengisi relung hatinya. Hanya satu saja. Maka jalan teraman dan satu- satunya adalah bersyukur. Allah memasangkan kita dengan pasangan kita sekarang, pastilah mengandung maksud yang mungkin pikiran manusia masih sangat dangkal untuk mengertinya. Namun satu hal yang pasti, bahwa apapun yang terjadi adalah yang terbaik untuk kita, pun demikian dengan pernikahan. Allah menganugrahkan pasangan adalah sebagai yang terbaik bagi hidup kita, InsyaAllah.

Dan bagi anda diluar sana yang ternyata sedang dalam ujian Allah untuk sebuah kenyataan dimana jalan hidup membawa anda pada seseorang yang tidak mengerti kata bersyukur, maka tetap tersenyumlah. Bahkan setiap detik yang anda miliki lebih berharga untuk dihabiskan dalam air mata. Percayalah bahwa Allah maha adil, siapa yang menanam, dia pasti akan menuai. dan satu lagi, sadarilah, bahwa anda telah tercipta dengan sangat istimewa. Anda sangat istimewa. Menangislah sampai gemetar, setelah itu tegakkan kepala dan hati anda, dan lanjutkan hidup dengan lebih bahagia dan tetap lakukan yang terbaik. Karena siapapun diri anda, anda adalah yang terbaik.


Sumber : http://m.voa-islam.com/news/article/2011/05/31/15021/luka-abadi-itu-bernama-selingkuh/

Surat Cinta Mujahid: Wahai Calon Istriku, Tegarlah di Tengah Badai

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Kepada calon istriku yang akan mengandung anak-anakku, mendidik mereka dengan tauhid dan akhlak seperti apa yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para penerusnya yang tetap lurus menapaki jalan tauhid dan jihad. Surat ini kutuliskan untukmu agar engkau kelak tidak akan pernah kecewa dan sedih mendapatkan pasangan seperti aku yang penuh dengan kekurangan.

Calon istriku, aku tulis surat ini kepadamu agar engkau lebih mengerti jalan yang akan kita tempuh dan apa yang akan kita tuju sebagai makhluk yang dibebani oleh Allah yang Maha Perkasa di dunia yang tidak kekal ini. Agar kelak kita lebih siap untuk saling memahami, saling mengerti dan mensyukuri setiap apa yang sudah digariskan oleh Allah SWT kepada keluarga kita.

Calon istriku dan calon ibu dari anak-anakku, engkau mungkin sudah tahu jalan apa yang aku tempuh dan kehidupan seperti apa yang aku inginkan. Aku berharap engkau menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan dalam dunia ini untuk tetap istiqamah di jalan para Rasul dan para pengikutnya. Selalu menjadikan seruan tauhid sebagai hal yang paling utama dalam hidup dan mengajarkan kepada manusia pentingnya kembali kepada rujukan utama Dien kita, Islam.

Mungkin nanti akan banyak cobaan, kesusahan dan penderitaan dalam mengarungi rumah tangga kita, sebagai manusia mungkin kita akan mengeluh, menangis dan bisa jadi mengutuki nasib. Namun yakinlah semua itu adalah cobaan untuk menjadikan kita manusia paripurna dan mendidik kita untuk tetap tegar di segala cuaca dan keadaan.

Allah berfirman: “Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (Qs Al-Baqarah 155).

....Aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik dan memenuhi hak-hak sebagai suami. Maka bantulah aku mewujudkan itu walau hanya dengan senyummu...

Calon istriku, bila kelak aku belum bisa membahagiakanmu seperti layaknya para istri lain, maafkanlah aku. Namun aku selalu akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik, memberikan rezeki yang halal walaupun sedikit dan memenuhi hak-hak kepadamu sebagai seorang suami. Maka bantulah aku mewujudkan itu walau hanya dengan senyummu.

Calon istriku, bila suatu saat aku pergi jauh dan lama kembali, jagalah hartaku, belanjakanlah sebagian harta yang ada padamu di jalan Allah dan penuhilah hak-hak saudara seimanmu bila engkau sanggup untuk memenuhinya. Dan jagalah kehormatanku sebagai suamimu, bergaullah dengan para muslimah yang hatinya tertambat ke surga, yang menjaga pandangan di kala sendiri dan bersama orang lain agar aku tenang karena meninggalkan seorang wanita dan seorang ibu yang menjaga apa yang ditinggalkan suaminya.

Calon istriku, engkau tahu aku bukan orang yang sempurna dalam segala hal. Maka bantulah aku menyempurnakannya dengan nasihatmu, kritikanmu dan apa yang bisa menjadikan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya makin bertambah di setiap hari. Jadikan keluarga kita adalah keluarga yang siapa menerima masukan dari siapapun walaupun itu anak kecil. Karena kebenaran dikenali bukan dari siapa yang berbicara tapi apa yang disampaikan.

....Jadikan anak-anak kita kelak seperti singa, yang tak takut membela kebenaran dan selalu tegar di tengah badai...

Yang terakhir calon istriku, jadikan anak-anak kita kelak seperti singa, yang tak takut membela kebenaran, tidak menyerah dengan keadaan dan selalu tegar di tengah badai yang menerpa. Ajarkan kepada mereka menjadi manusia yang marah bila kebenaran dihinakan, ajarkan mereka melawan setiap penindasan kepada siapapun dan didiklah mereka untuk berani berkorban apa saja bahkan nyawa untuk kemuliaan Allah, rasul dan orang-orang beriman.

Mungkin aku terlalu banyak berharap kepadamu, menuntut dirimu dan meminta apa yang mungkin terlalu berat untukmu. Namun percayalah, aku sebagai suami akan berusaha menjadi pendamping yang baik, pendengar setia masukan dan nasihatmu, saling membantu untuk terus taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Suratku ini kutulis dengan segala kelemahanku, segala kekuranganku agar engkau mengerti dengan siapa engkau akan mengarungi hidup ini. Agar engkau tahu bahwa kehidupan rumah tangga tidak selalu madu dan susu. Agar engkau kelak juga tidak menjadi penghalang dalam menunaikan dakwah dan menjadi musuh pertama dalam mengendurkan semangatku untuk berjihad di jalan Allah SWT.

Sebelum kita bertemu sebagai sepasang suami-istri, mari kita selalu memanjatkan doa yang pernah dibaca oleh pahlawan yang menggetarkan takhta tiran, As-Syahid Sayyid Quthub:

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati, 
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
 agar aku tidak terjatuh dalam jurang cinta jemu.

Ya Rabbi, jika aku jatuh hati, jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu.

Ya Rabbal Izzat, jika aku rindu,
 rindukanlah aku pada seseorang yang
 merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
 jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku 
merindukan surga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat 
di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu, jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah
pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
 Kukuhkanlah Ya Allah, 
ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah
 jalan-jalannya. Penuhilah
 hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah
 pudar. Lapangkanlah dada-dada 
kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan
 keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Semoga Allah mengabulkan doaku dan doamu dan mempertemukan kita dalam naungan rahmat-Nya dan menjadikan kita pasukan yang setia kepada-Nya.

Dariku calon suamimu


Sumber : http://m.voa-islam.com/news/article/2011/05/29/14970/surat-cinta-mujahidwahai-calon-istrikutegarlah-di-tengah-badai/

Keberkahan Waktu Sahur

Waktu adalah ibarat pisau atau pedang yang sangat tajam. Jika Anda tidak bisa menggunakannya dengan baik dan tepat, bisa jadi pisau atau pedang itu akan melukai diri Anda sendiri. Itulah salah satu nasihat bijak dari Ali bin Abi Thalib tentang urgensi waktu dalam kehidupan umat manusia.

Karena pentingnya masalah waktu ini, sehingga Allah SWT pun sering bersumpah di dalam Alquran dengan mempergunakan kata-kata waktu. Misalnya "Demi masa." (QS [103]: 1), "Demi waktu dhuha." (QS [93]: 1), "Demi waktu malam." (QS [92]: 1), dan "Demi waktu fajar." (QS [89]: 1).

Di antara waktu yang mendapatkan perhatian Alquran dan as-sunnah adalah waktu sahur. "Orang-orang yang sabar, orang-orang yang jujur, orang-orang yang tunduk dan patuh (pada ketentuan Allah dan Rasul-Nya), orang-orang yang menginfakkan sebagian hartanya, dan orang-orang yang memohon ampun kepada Allah pada waktu sahur." (QS Ali Imran [3]: 17).

Maksudnya, orang-orang yang memiliki kebiasaan atau perilaku tersebut adalah orang-orang yang akan mendapatkan keselamatan dan kesuksesan dalam hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat nanti, salah satunya adalah dengan selalu beristighfar.

Mereka itulah orang-orang yang punya kesadaran tauhid yang tinggi kepada-Nya, kesadaran yang menempatkannya pada posisi merendahkan diri dan selalu merasa banyak dosa di hadapan-Nya. Dengan istighfar ini, orang tersebut ingin membersihkan hati, pikiran, dan perilakunya dari perbuatan maksiat kepada Allah SWT. Apalagi dilakukannya pada waktu sahur, suatu waktu yang tidak banyak orang yang mampu bermunajat dan beristighfar kepada-Nya.

Dalam sebuah hadis Qudsi digambarkan bahwa pada waktu sahur tersebut, Allah dengan para malaikat-Nya turun ke langit dunia sambil berfirman, "Adakah di antara hamba-Ku yang memohon ampun, pasti akan Kuampuni. Adakah di antara hamba-Ku yang memohon pertolongan, pasti akan Kuberikan pertolongan kepadanya."

Salah satu amaliyah di dalam bulan Ramadhan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW (sunnah muakadah) adalah makan pada waktu sahur. "Makan sahurlah kamu sekalian, karena di dalamnya terdapat keberkahan." (HR Imam Bukhari dan Muslim).

Makna keberkahan ini bukan hanya terbatas semata-mata pada makan dan minumnya, tetapi juga pada aktivitas ibadah lainnya yang dilakukan pada waktu sahur tersebut, seperti shalat tahajj\ud, bermunajat kepada Allah SWT, dan membaca Alquran.

Jika bangun pada waktu sahur ini dilakukan satu bulan terus-menerus, diharapkan akan menjadi suatu kebiasaan sekaligus kebutuhan bagi orang-orang yang beriman. Waktu sahur adalah waktu emas (golden time) yang sangat berharga yang harus dimanfaatkan semaksimal mungkin karena di dalamnya terdapat berbagai macam keberuntungan, keindahan, dan kenikmatan. Orang akan khusyu dalam bermunajat kepada Allah SWT, akan khusyu pula dalam beribadah kepada Allah SWT, dan khusyuk pula dalam berzikir kepada Allah SWT.

Oleh karena itu, mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya waktu sahur yang sangat berharga ini. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan hidup kepada kita semua. Amien. Wallahu a'lam.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/08/13/lpuklx-keberkahan-waktu-sahur

Mari Sempurnakan dengan Iktikaf


Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Sudahkah kita jadikan momentum istimewa ini sebagai media untuk benarbenar meraih predikat takwa? Hari terakhir Ramadhan bukanlah saat untuk semata-mata mempersiapkan Lebaran, bekerja kian giat agar bisa belanja pakaian dan makanan, sampai-sampai meninggalkan ibadah iktikaf.

Bagi orang yang benar-benar merasa terpanggil oleh Allah SWT, tentu ia akan jadikan Ramadhan ini benar-benar berarti dalam hidupnya. Ia akan berusaha se mak simal mungkin meraih kerida an Allah SWT. Satu upaya yang harus dilakukan dengan penuh keimanan dan penuh semangat di bulan suci ini ialah iktikaf, terkhusus pada sepuluh hari terakhir. Di penghujung ayat tentang Ramadhan (QS 2: 187), Allah menyebut tentang iktikaf. Ini mengindikasikan bahwa iktikaf adalah hal penting untuk diutamakan seorang Muslim di bulan Ramadhan.

Selain itu, Rasulullah SAW tidak pernah melewatkan momentum Ramadhan untuk iktikaf. Bahkan, pada tahun di mana Beliau meninggalkan umatnya untuk selamalamanya. “Nabi dahulu iktikaf pada sepuluh hari terakhir dari Ramadhan, hingga Beliau diwafatkan Allah SWT, kemudian istri-istrinya iktikaf setelahnya.” (HR Bukhari).

Secara bahasa iktikaf berarti menetapi sesuatu dan menahan diri agar senantiasa tetap berada padanya, baik hal itu berupa kebajikan maupun keburukan.

Sementara secara istilah iktikaf bermakna menetapnya seorang Muslim di dalam masjid untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT.

Secara historis, iktikaf dalam praktiknya juga dilakukan oleh Nabi dan umat sebelum Rasulullah SAW. Kisah ini terdapat dalam firman-Nya: “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk, dan yang sujud.” (QS 2: 125).

Iktikaf akan membantu seorang Muslim mencapai derajat takwa dengan lebih sempurna. Sebab, dengan iktikaf, dia akan senantiasa terdorong untuk melakukan ibadahibadah dengan penuh kekhusyukan. Situasi demikian tentu akan mendorong terjadinya peningkatan kualitas iman dan takwa.

Orang yang iktikaf akan terbantu untuk melakukan shalat berjamaah tepat waktu, shalat tarawih, shalat tahajud, shalat sunah, membaca Alquran, tafakur, zikir, dan beragam bentuk ibadah lainnya. Dengan cara demikian, insya Allah orang yang beriktikaf akan terbantu untuk mendapatkan malam lailatul qadar.

Iktikaf tidak saja mendorong kesa daran untuk melakukan ba nyak ibadah, tetapi juga kesadaran untuk mencintai masjid. Kecintaan kepada masjid adalah salah satu ciri seorang yang ber iman kepada Allah dan hari akhir.

Allah berfirman, Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 9: 18).

Jadi, marilah kita laksanakan iktikaf dengan penuh kesungguhan.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/08/15/lpyc7p-mari-sempurnakan-dengan-iktikaf

Begini Rasulullah Bersikap pada Fakir Miskin dan Anak-anak

Dalam sejarah, Rasulullah SAW dikisahkan punya kedekatan hubungan dengan orang-orang miskin, termasuk anak-anak. Bahkan, ketika masuk ke dalam suatu majelis, Rasulullah memilih duduk dalam kelompok orang-orang miskin.

Rasulullah bersabda, “Siapa yang memakaikan seorang anak pakaian yang indah dan mendandaninya pada hari raya, maka Allah SWT akan mendandani/menghiasinya pada hari kiamat. Allah mencintai terutama setiap rumah, yang di dalamnya memelihara anak yatim dan banyak membagi-bagikan hadiah. Barang siapa yang memelihara anak yatim dan melindunginya, maka ia akan bersamaku di surga.”

Suatu ketika, pada Hari Raya Idul Fitri, Rasulullah seperti biasanya berkunjung ke rumah-rumah warga. Dalam kunjungannya itu, Rasulullah melihat semua orang bahagia. Anak-anak bermain dengan mengenakan pakaian hari raya. Namun, tiba-tiba pandangan Rasulullah tertuju pada seorang anak kecil yang sedang duduk bersedih.

Anak kecil ini memakai pakaian penuh tambalan dan sepatu rusak. Rasulullah lalu bergegas mengham pirinya. Melihat kedatangan Rasulullah, anak kecil itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedusedu. Rasulullah lantas meletakkan tangannya di atas kepala anak kecil itu dan dengan penuh kasih sayang, lalu bertanya, “Anakku, mengapa kamu menangis? Hari ini adalah hari raya bukan?”

Anak itu menjawab, “Pada hari raya yang suci ini semua anak menginginkan agar dapat merayakan bersama orang tuanya dengan bahagia. Anak-anak bermain dengan riang gembira. Aku lalu teringat pada ayahku, itu sebabnya aku menangis. Ketika itu hari raya terakhir bersamanya. Ia membelikanku sebuah gaun berwarna hijau dan sepatu baru. Waktu itu aku sangat bahagia. Lalu suatu hari ayahku pergi berperang bersama Rasulullah. Ia bertarung bersama Rasulullah bahu-membahu dan kemudian ia meninggal. Sekarang ayahku tidak ada lagi. Aku telah menjadi seorang anak yatim. Jika aku tidak menangis untuknya, lalu siapa lagi?

Mendengar cerita itu, seketika hati Rasulullah diliputi kesedihan. Dengan penuh kasih sayang ia lalu membelai kepala anak kecil dan berkata, Anakku, hapuslah air matamu. Angkatlah kepalamu dan dengarkan apa yang akan kukata kan kepadamu. Apakah kamu ingin agar aku menjadi ayahmu? Dan apakah kamu juga ingin agar Fati mah menjadi kakak perempuanmu dan Aisyah menjadi ibumu? Bagaimana pendapatmu tentang usul dariku ini?

Anak kecil itu langsung berhenti menangis. Ia memandang dengan penuh takjub orang yang berada tepat di hadapannya. Namun, entah mengapa ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya dapat menganggukkan kepalanya sebagai tanda menerima tawaran Rasulullah. Kemudian, anak kecil itu bergandengan tangan dengan Rasulullah menuju ke rumah.

Sesampainya di rumah, wajah dan kedua tangan anak kecil itu lalu dibersihkan. Ia kemudian diberi pakaian yang indah dan makanan, serta uang. Lalu ia diantar keluar agar dapat bermain bersama anakanak lainnya. Sikap Rasulullah ini menunjukkan Islam sangat menonjolkan kepedulian sosial.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/08/16/lq0hqu-begini-rasulullah-bersikap-pada-fakir-miskin-dan-anakanak

Drama Sang Drama Queen


Alloh selalu punya skenario yang Maha hebat untuk menguji hamba-hambaNya. Namun dibalik semua cobaan itu, Alloh memberikan cobaaan justru untuk perbaikan hambaNya yang mau belajar dan atau mengambil pelajaran darinya. Tapi sayang, banyak dari kita yang tiada menyadari untuk memberikan sikap terbaik saat cobaan itu datang. Seringkali apabila kita terpojok pada suatu keadaan, maka muncullah kita sebagai drama queen. Kita jadi terlalu mendramatisir keadaan dengan menunjukkan reaksi emosi yang berlebihan entah dengan tujuan untuk mengambil perhatian, simpati dan empati orang lain sehingga pendapat mereka berbelok membela dan mengasihani kita. Memang itulah manusia, tempatnya salah dan lupa.

Sang drama queen tidak akan ada habisnya mengolah sikap, kata dan perbuatan yang hiperbola atas sebuah kejadian. Hatinya terkadang terlalu sensitif dengan ketidaksetujuan lingkungan sekitar atas apapun pendapatnya.Seringkali juga ketika dia terlibat dalam suatu masalah, dia tak segan- segan menunjukkan perubahan emosi secara cepat didepan orang lain. Selain itu, secara konstan dia mencari pembenaran dan pernyataan setuju dari orang lain. Kesemuanya dia lakukan karena besarnya kebutuhan atas pengakuan keberadaan dirinya dihadapan orang lain. Entah dalam posisi benar atau salah, dia tidak terlalu perduli, malah kalau bisa dia akan terlihat selalu benar dan terlalu sempurna untuk disalahkan.

Tapi selanjutnya timbul pertanyaan, sebegitu pentingkah Ridho dan penghormatan manusia atas diri kita? Padahal penghormatan atas diri yang diberikan manusia memanglah baik, tapi tak selalunya mendatangkan kebaikan. Seribu manusia, pastilah memiliki seribu pendapat dan sudut pandang yang berbeda dalam melihat sebuah masalah. Namun yang pasti Alloh Azza wa Jalla yang memiliki hak mutlak atas nilai penilaian dan atau salah dan benarnya kita. Pengakuan dan ridho dari Alloh adalah yang paling mutlak untuk kita.

Walaupun biasanya penghormatan dari manusia atas kita biasanya menjadi simbol terhadap atas baik buruknya kita, tapi mereka notabene sama dengan kita yang masih juga memiliki kekurangan. Dan tidak mungkin pula bahwa penilaian mereka bisa saja salah. Rasa puas yang kita miliki setelah terlihat wah dan atau benar dihadapan makhluk, sayang sekali, hal ini biasanya menghentikan proses untuk perbaikan diri. Betapa ruginya,

Meletakkan ridho dan harapan kita sepenuhnya untuk sebuah pengakuan kepada para makhluk sama saja memasang bom waktu kekecewaan yang setiap saat bisa meledak dan berbalik melukai kita.

Kebaikan manusia tidak selalunya tampak dari penampilan, walaupun kebaikan memunculkan kesopanan. Kebaikan manusia tak selalunya tampak dari perkataan walau kebaikan memunculkan kedamaian dalam nasehat yang diberikan. Kebaikan tak selalunya tampak dari amal kecuali yang dilakukan ikhlas hanya karena Alloh saja.

Maka dari itu, Maha Suci Alloh yang menciptakan rasa hati bernama kesabaran. Kesabaran untuk kita tidak buru- buru menghakimi orang lain atas apapun yang mereka lakukan, dan atau menghakimi diri sendiri atas apa yang telah kita lakukan. Maha Suci Alloh yang mengajarkan berprasangka baik atas apapun yang saudara kita lakukan dan atau berikan.

Hati manusia siapa yang dapat meraba, kebaikan atas niat dan perbuatan manusia hanyalah mutlak Alloh yang mengetahuinya. Tak perlu risau ataupun panik apalagi sampai mendramatisir keadaan jika kebaikan kita tidak dilihat atau kita tidak dikukuhkan sebagai pemilik kebenaran atas sebuah keadaan walaupun sebenarnya kita benar. Cukup katakan pada hati bahwa kebaikan itu hanya ikhlas kita lakukan demi mencari keridhoan Allah. Dan keikhlasan selanjutnya memunculkan kebaikan yang lebih banyak lagi. InsyaAlloh.

Begitu pula, jangan mudah menghakimi orang lain atas apapun yang mereka lakukan atau menimpa mereka. Jangan sampai penghakiman kita tersebut memancingnya untuk menjadi sang drama queen atas keadaan yang sedang dialaminya. Hati yang baik akan selalu akan dipenuhi dengan doa yang baik.

Cukuplah doakan yang baik- baik dan yang terbaik untuknya dan kekuatan bagi diri kita, jika mungkin giliran kita mengalami musibah yang sama.

Damailah Hanya bersama Alloh yang maha mendamaikan. Cukuplah Alloh menjadi tolak ukur atas apapun yang kita lakukan. Sama sekali tidak ada alasan yang logis untuk mengudang hadirnya pendramatisiran sikap dan atau kepanikan serta hiperbola dalam menyikapi sebuah keadaan demi meraih ridho manusia. Jangan risau bila tidak dipandang baik oleh manusia, kecuali memang kita jelas-jelas melakukan kejahatan. Namun jangan pula selalu memandang baik diri sendiri, karena manusia adalah makhluk yang penuh dengan kekhilafan.

Penuhilah hati hanya dengan Alloh. Karena hati yang selalu mengakrapi tuhannya, akan selalu tenang. Ibarat Lautan yang dalam dan luas, dia akan menampung segala permasalan dari berbagai penjuru dengan tenang. Hati yang jauh dari Alloh akan selalu beriak. Dia akan sibuk mencari pembenaran dengan menyikapi keadaan dengan cara apapun agar seolah pengakuan orang lain akan menguntungkannya.

Padahal kesemua itu adalah semu, walaupun kita dalam keadaan benar. Dan jika kita dalam posisi bersalah, tidak lain dia sedang membohongi diri sediri, karena hatinya jelas- jelas mengetahui bagaimana keadaan yang sesungguhnya. kehausannya atas perhatian dan pengakuan manusia justru menjauhkannya semakin jauh dengan Alloh. Dan hal itu tidak akan selesai, sampai akhirnya hatinya menyadari bahwa apapun yang datang kepadanya adalah bentuk ujian dari Alloh, yang seharusnya disusul dengan penyikapan terbaik dengan yang diridhoi Alloh. Saja. Insyaalloh kesadaran seperti itu akan membawa lebih banyak kebaikan. Bukan hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk makhluk Alloh yang lain disekitarnya.

Kebaikan memang tak selalunya tampak baik dan disikapi dengan baik dihadapan manusia lain. Namun jangan sampai hal itu menghadirkan nafsu kita untuk berbicara lewat pendramatisiran keadaan dari diri kita dengan menghalalkan segala cara. Memaafkan dan belajar jujur kepada diri sendiri atas apapun yang telah kita lakukan dan menyadari bahwa manusia yang lainpun juga melakukan kekhilafan insyaAlloh akan selalu memunculkan sikap yang baik. Hal ini juga menghindarkan saudara kita untuk menjadi sang drama queen agar terlihat lebih elegan dihadapan kita, sehingga menghilangkan kebaikan dari kesadarannya bahwa Ridho Alloh adalah diatas segala- galanya.

Bersalah itu manusia dan manusiawi. Hanya Alloh yang selalunya akan benar. Lari dari masalah dan atau mendramatisirnya justru memperlihatkan kedangkalan kita. Menyesal, Meminta maaf, bukanlah hal yang memalukan, hal itu sangat manusia sekali. Dan kedua hal itupula justru yang memuliakan diri kita sendiri.


Sumber : http://m.voa-islam.com/news/article/2011/06/14/15276/drama-sang-drama-queen/

Nak... untuk putra putra dan putri ku...:)



Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu.
Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang ayah kepada anaknya yang sesungguhnya bukan miliknya, melainkan milik Tuhannya.
Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia.
Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini.
Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta.
Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

Nak, menjadi ayah itu mulia.
Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit.
Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku,
aku seperti menemui keberadaanku,
makna keberadaanmu,
dan makna tugas kebapakanku terhadapmu.
Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah
dan paling aku banggakan di depan siapapun.
Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan denganNya,
hingga saat usia senja ini.

ketika engkau suatu kali telah mampu berkata:
"TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya.
Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak.
Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu.
Engkau adalah milik Tuhan.
Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu.
Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku
dan siapa engkau.
Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi,
kusesali kesalahanku itu sepenuh-penuh air mata dihadapan Tuhan.
Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.

Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah .......
mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya.
Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan pemilikmu.
Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu.
Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain,
tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.......

Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu
dekat dengan Tuhan.
Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan.
Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua,
tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam.
Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain.
Agar dapat kau rasakan perjalanan rohaniah yang sebenarnya.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti.
Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti.

Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu,
ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan,
dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia.
Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan.
Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.
Dari ayah yang senantiasa merindukanmu...