Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Wednesday, August 17, 2011

Hikmah Dari Sebuah Menghargai

Menikah, tak selalunya tentang kesamaan. Justru karena banyaknya perbedaan disana, manusia belajar banyak hal yang baru dan membarukan hidup mereka. Banyak dari pasangan suami istri yang setelah beberapa tahun menikah, akhirnya menilai bahwa pasangan mereka bukanlah pasangan hatinya. Dari sana timbul keinginan untuk menyibukkan diri guna sekedar membunuh waktu dan atau malah ada yang menyia- nyiakan diri untuk jatuh dalam dosa demi kesenangan pribadi. Saat hari demi hari rasa manusiawi kita mengharapkan penghargaan dan pembalasan yang lebih baik sudah sedemikian lelah menunggu, selanjutnya ujian atas kesabaran menjadi tahap berikutnya yang harus kita lalui. Disana muncul penggarapan proyek tentang bagaimana mengolah akal untuk meredakan kebosanan dan menegakkan kembali rasa yang sudah lunglai untuk bergairah kembali.

Padahal kesediaan menerima teman hidup apa adanya, memberikan cita rasa baru dalam hidup dan membunuh rasa bosan. Bukankah pernikahan adalah ladang amal kita untuk menggapai Ridho Allah? dalam prosesnya pastilah ada cobaan lengkap dengan serba- serbi kesulitannya. Bayangkan ketika kita memiliki seribu pasangan, pastilah hanya satu saja yang kita butuhkan untuk mendamaikan hati kita.

Mendapatkan kebahagiaan dengan membahagiakan orang lain adalah yang lebih membahagiakan diri kita. bukan hanya sebatas itu, kemauan membahagiakan pasangan dengan memberikan yang terbaik dari kita karena Allah lah, juga dapat menjadikan diri kita lebih baik dari sebelumnya. karena disana kita belajar ikhlas dan mengikhlaskan diri untuk kesenangan orang lain.

Namun bagi para pribadi egois, dari pernikahan pula mereka dapat melakukan pengukuran kilat tentang berapa rata- rata kedangkalan hatinya, jika tidak sedang mendapatkan balasan yang terbaik dari pasangan. Belum lagi rencana pembalasan lebih kejam, dan atau trik perendahan yang sedemikian rapi disusunnya. Padahal jikalau mereka menyadari, kesemuanya itu tidak lebih adalah perendahan atas diri mereka sendiri. manusia yang lainpun akan menilai, pantas saja pasangannya meninggalkannya, karena kenyataan akhlak yang dia realisasikan sendiri.

Maka tiada guna membalas kejahatan dengan kejahatan pula. Memang terkadang sangat menyakitkan jika hal itu terjadi. Namun hal itu akan seolah terobati jika kita menillik kembali niat pernikahan yang hanya karena Allah, yang pasti ketika hitungan logika untung dan rugi itu datang, pikiran kita akan tetap mengatakan kita tidak akan rugi. Betapapun tiada penghargaan atas jerih payah dan pengorbanan kita kepada pasangan, namun sesungguhnya Allah yang maha Menghargai hambanya dan paling akurat atas detail perbuatan kita.

Tak perlu ragu untuk memberikan senyum, meskipun semua tak terbalas dengan senyum pula. Cukuplah ridho Allah sebagai penyejuk dan sebaik- baik pembalas dari semua itu. Semua orang akan memanen kebaikan dan atau kejahatan mereka sendiri- sendiri. Dan pertangguan jawabpun akan digelar dihadapan Allah atas mereka, sendiri- sendiri. Tidak ada yang gratis, tidak ada yang sia- sia, tidak ada yang terbuang percuma. Semua akan ada konsekuensi dan akibat, serta pertanggungan jawab. Maka jika sudha begitu, mengapa kita mempersiapkan semua dengan baik. Berkatalah dengan baik, dan perlakukanlah pasangan anda dengan baik-baik. karena kebaikan akan menimbulkan rasa malu bagi orang lain, jika dia tidak dapat membalasnya dengan yang baik pula.

Benar- benar, pernikahan adalah proyek seumur hidup yang menguras kemampuan manusia habis- habisan. Namun disana terkandung maksud membaikkan manusia tersebut, jika dia mau belajar dan mengambil pelajaran. Disana pula terdapat penghargaan paling tinggi yaitu dari Allah subhanahu wata`ala saat keduanya berhasil tetap merekatkan tangan dan hati mereka kepada jalur yang semestinya.

Maka jangan jadikan pernikahan sebagai ajang untuk membentuk pasangan anda menjadi orang yang jahat karena tidak adanya penghargaan atas apapun yang telah dilakukan atau dikorbankan untuk anda. Dia adalah sebatas manusia yang punya rasa, seperti halnya anda. Maka baikkanlah hidupnya dan jadikan dia pribadi yang lebih baik kedepannya dengan menghujani kasih sayang dalam bentuk penghargaan, yang kesemuanya kita lakukan karena Allah subhanahu wata`ala.

Sumber : http://m.voa-islam.com/news/article/2011/06/11/15248/hikmah-dari-sebuah-menghargai/

No comments:

Post a Comment