There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Sunday, December 27, 2009

Menuju Perjalanan Abadi




Puji syukur aku panjatkan kehadirat-Mu yaa Allah atas limpahan rahmat dan karunia-Mu, atas petunjuk dan hidayah-Mu, aku hamba-Mu yang penuh kelemahan dan keterbatasan ini dapat menyusun sebuah karya kecil yang aku niatkan untuk memberi bahan renungan bagi saudara-saudaraku, keluarga, handai tolan dan semua kaum muslimin, agar mereka tidak tertipu dan terus menerus mengikuti keinginan hawa nafsunya.

Wahai saudaraku… Kau datang dari tiada, datang hanya singgah sementara, untuk mempersiapkan diri menuju perjalanan abadi. Tujuanmu bukan di sini, bukan untuk bermegah diri dan bersusah-susah untuk memperkaya diri. Dunia ini bukan tempat tinggal yang sebenarnya, dunia ini hanya untuk mempersiapkan bekal. Bekal yang akan kau bawa pulang ke negeri asalmu, mau atau tidak, kau pasti akan dipaksa untuk meneruskan perjalananmu.

Saudaraku…Mati adalah pintu yang paling tipis, yang membatasi dunia dan akhiratmu. Sedikit saja kau terpeleset, boleh jadi kau tersungkur menabrak pintu itu. Setelah kau mati barulah kau sadar.

Wahai saudaraku yang ingin selamat dalam perjalanan abadi di akhirat. Siapkan dirimu untuk menghadapi perjalanan yang dahsyat itu. Jangan kau abaikan keselamatanmu yang sesungguhnya.

Saudaraku… Di dunia ini banyak sekali contoh perjalanan manusia yang bisa kau ambil sebagai perbandingan menempuh perjalanan di akhirat nanti. Kau perhatikan itu, mereka yang terlunta-lunta di tengah jalan kehidupan. Kau amati itu, mereka yang kepayahan mencari kesenangan. Kau tanyakan kepada mereka yang pernah menderita karena mengejar harta. Kau tanyakan kepada mereka yang pernah sengsara. Bahkan kau bisa belajar dari perjalanan hidupmu sendiri.

Kau amati terus wahai saudaraku, orang yang menderita kelaparan berbulan-bulan. Kau perhatikan itu, mereka yang mengungsi ke negeri lain untuk menyelamatkan diri. Kau perhatikan pengungsi besar-besaran yang melanda bumi afrika. Kau lihat itu, mereka yaProxy-Connection: keep-alive
Cache-Control: max-age=0

menderita akibat perang.

Kau juga boleh bertanyProxy-Connection: keep-alive
Cache-Control: max-age=0

Mengapa setiap orang yang baru kembali dari perjalanan, selalu ingin menceritakan suka duka perjalanan yang baru dialami. Atau kalau ada orang yang akan melakukan suatu perjalanan, pasti dia akan bertanya kepada orang lain yang sudah melakukan perjalanan itu. Dia ingin mengetahui bagaimana kiranya suka duka perjalanan yang akan di tempuh ini, apa saja persiapan-persiapan yang harus dibawa agar tidak kesulitan dalam perjalanan.

Atau setiap orang yang akan menempuh perjalanan panjang, apalagi kalau perjalanan itu akan ditempuh berbulan-bulan, sudah pasti dia akan mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya. Dia tidak ingin kehabisan bekal, dia tidak ingin menderita dalam perjalanan, dia tidak ingin kelaparan dan kehausan, dia tidak ingin terlunta-lunta di negeri orang.

Saudaraku…Pernahkah engkau mendengar orang bertanya tentang “perjalanan abadi” di akhirat ? Bukankah perjalanan akhirat itu diceritakan langsung oleh pemiliknya ?

Wahai engkau saudaraku yang memiliki rasa. Wahai engkau yang berakal. Wahai engkau saudaraku yang tidak ingin menderita dalam “perjalanan abadi” di akhirat. Wahai engkau saudaraku yang tidak ingin menyesal dalam penyesalan yang tidak pernah berkesudahan.

Bagaimana pun sengsaranya perjalanan dunia ini. Betapapun sulitnya hidup ini, masih ada tempat untuk mencari perlindungan, masih ada jalan keluar dari segala kesulitan dan masih banyak pohon yang tumbuh. Banyak buah-buahan yang bisa dimakan. Banyak air yang bisa diminum. Banyak barang kebutuhan kita yang tersedia di mana-mana.

Kalau kehabisan bekal, ada teman yang bisa membantu. Kalau ditimpa musibah ada saudara yang bisa menolong. Kalau menderita sakit, ada obat sebagai penawar dan ada keluarga sebagai penghibur. Kalau lemah tak berdaya, kalau sakit semakin parah, ada kendaraan yang akan membawa ke rumah sakit.

Wahai saudaraku yang ingin mengambil ibarat dari perjalanan ini…

Wahai saudaraku yang pernah menderita dalam hidup ini…

Wahai saudaraku yang pernah kelaparan…

Wahai saudaraku yang pernah meraung-raung kesakitan…

Wahai saudaraku yang pernah terlunta-lunta sepanjang hari…

Betapapun sakitnya di dunia ini, masih belum berarti apa-apa bila dibandingkan dengan kesengsaraan akhirat.

Mengapa saudaraku, berbulan-bulan engkau hanya mempersiapkan bekal untuk perjalanan dunia ?

Mengapa engkau lupakan yang akan kau bawa dalam perjalanan abadimu…? Perjalanan bukan sejuta tahun, bukan pula satu trilyun tahun, melainkan perjalanan dalam waktu yang tak terbatas.

Renungkan ini wahai saudaraku….Hidupmu hanya sebentar, berapa pun lamanya kau tidak abadi di dunia ini, kau pasti akan meneruskan perjalananmu.

Ke sana…

Ke akhirat itulah tujuan kita semua.

Alangkah ruginya hidupmu, kalau kau tidak memikirkan ini. Alangkah menyesalnya nanti, kalau kau tidak memanfaatkan hidupmu untuk mempersiapkan bekal yang akan kau bawa dalam menempuh perjalanan abadimu. Alangkah sengsaranya nanti, kalau kau abaikan keselamatanmu yang sesungguhnya. Kau akan mengangis dalam tangisan darah yang berkepanjangan. Kau akan menyesal dalam penyesalan yang tidak berkesudahan.

Manfaatkan hidupmu yang singkat ini dengan berbuat kebajikan. Tidak lama kau beramal, tidak juga susah kau berbakti, tidak pula rugi kau dalam ibadah.

Kalaupun tujuh puluh tahun kau menderita karena ibadah, biarlah menderita, tapi kau yang akan merasakan nikmat abadi sesudah matimu. Kau tidak akan menyesal. Kau malah akan berkata, biar seribu tahun aku menderita di dunia karena mengharap ridha Allah, sungguh semuanya tidak berarti apa-apa dibanding dengan kesengsaraan akhirat.

Saudaraku… Kemana pun kau akan pergi, kau pasti bertemu “mati”. Mati adalah sebuah pintu, setiap yang hidup pasti akan melewatinya. Siapapun engkau, apakah orang besar yang diagungkan, atau orang kaya yang berlimpah harta, atau dokter ahli yang mengobati penyakit, atau anak muda yang sehat segar, kalau maut sudah menjemput, kaupun pasti akan mati. Sebab mati itu bukan mencari orang sakit, bukan merenggut orang yang sedang kepayahan, melainkan mencabut nyawa orang yang telah tiba ajalnya.

Mati adalah “program: Allah yang tiada satupun makhluk yang bisa menghindarinya. Silahkan kau panggil semua dokter yang ada di dunia ini untuk mengobati orang yang sangat kau cintai. Silahkan kau habiskan seluruh hartamu untuk menyembuhkan berbagai penyakit, tetapi pasti dan pasti tidak ada dokter yang dapat menyelamatkan seseorang dari “ajal”, tidak ada dokter yang dapat mengobati penyakit yang namanya “mati”.

Perhatikan wahai saudaraku…. Perjalanan ruh di saat akan berpisah dengan jasadmu dan meninggalkan dunia yang fana ini.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA diterangkan bahwa Allah SWT telah menciptakan satu bangsa “Malaikat Rahmat” yang membuat senang orang yang memandangnya karena wajahnya yang cerah, putih berseri-seri, sifatnya yang hormat dan peramah. Di samping itu, Allah SWt juga menciptakan satu bangsa “Malaikat Adzab”, Malaikat yang sangat menakutkan orang yang melihatnya, karena wajahnya hitam, matanya biru, nampak bengis dan kejam.

Apabila Malaikat Maut akan mencabut ruh orang yang shaleh, maka Allah menugaskan malaikat rahmat untuk mendapinginya. Setelah ruh itu keluar dari jasad, maka ruh itu diserahkan oleh malaikat maut kepada malaikat rahmat, yang kemudian membawanya menghadap hadirat Allah Swt dengan sopan dan hormat, sehingga ruh itu merasa aman dan bahagia, apa lagi mendapat pujian dari para malaikat yang dilaluinya.

Kemudia setelah ruh itu dihadapkan, lalu Allah memerintahkan malaikat rahmat agar membawa kembali ruh tersebut ke tempat asalnya secara baik-baik dan menempatkannya di tempat kediamannya. Di situlah ruh itu bisa melihat semua keluarga dan familinya yang hadir, sehingga tahu siapa diantara mereka yang sibuk bekerja dan siapa yang hanya ngobrol sambil tertawa-tawa. Ruh itu juga mendengar orang-orang yang sedang melayat. Ruh berkata selamat tinggal dan mohon maaf kepada ahli familinya yang hadir. Ucapan ruh itu bisa didengar oleh seluruh makhluk, kecuali jin dan manusia.

Demikianlah, ruh itu bisa melihat dan mendengar pembicaraan orang-orang yang masih hidup, tetapi orang yang hidup tidak melihatnya dan tidak mendengar ratap tangisnya.

Sebaliknya, ruh orang kafir atau ruh orang yang banyak dosanya itu, setelah dicabut oleh malaikat maut, ruh itu diserahkan kepada malaikat adzab untuk dibawa kehadirat Allah Swt secara kasar, kejam dan ganas, sehingga sepanjang perjalanan ruh itu menjerit-jerit kesakitan, sementara para malaikat yang dilewatinya mencela dan mengutuk ruh celaka itu.

Setelah sampai ke hadirat Allah SWT, maka Allah memerintahkan malaikat adzab agar membawa kembali ruh itu ke tempat asalnya, dan meletakkannya di tengah ruangan rumah. Ruh itu pun melihat jasadnya sendiri serta sanak familinya yang hadir. Di situlah ruh tersebut melihat dan mendengar apa-apa yang mereka bicarakan. Ruh itu mohon maaf serta menyatakan penyesalannya atas segala dosa-dosa dan kesalahan yang telah ia lakukan selama hidup di dunia. Jerit tangisnya didengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia. (Daqaaiqul Akhbaar).

Bersambung…

No comments:

Post a Comment