Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Monday, January 11, 2010

Shuhaib ra memeluk Islam

Shuhaib dan Ammar memeluk Islam pada waktu yang sama. Ketika itu Nabi saw tinggal di kediaman Arqam. Kedua orang ini sebenarnya tidak datang bersamaan menemui Rasulullah saw, tetapi mereka sering bertemu di pintu rumah Arqam, sehingga keduanya mengetahui maksud masing-masing, yaitu untuk memeluk Islam dan mengambil faedah dari kehidupan Nabi saw.

Setelah memeluk Islam, pada saat-saat jamaah kaum muslimin masih sangat sedikit dan lemah, ia telah berani menunjukkan ke-Islamannya di hadapan umum. Akhirnya ia menerima berbagai macam siksaan dan penderitaan, sehingga memutuskan untuk hijrah ke Madinah. Akan tetapi orang-orang kafir Quraisy tidak suka ia berhijrah dan hidup dengan tenteram, mereka berusaha mencegahnya dengan mengirimkan pasukan untuk memaksanya kembali ke Makkah.

Ketika kaum kafir itu mendekatinya, ia berkata kepada mereka, “Kalian semua tahu, aku adalah pemanah yang sangat handal. Selama aku masih memiliki anak panah, kalian tidak dapat mendekatiku. Apabila anak panahku habis, aku akan menggunakan pedang. Jika kalian suka, pergilah dan ambillah harta dan dua hamba sahaya wanita yang aku tinggalkan di Makkah sebagai penebus diriku.” Mereka menyetujui usulan itu, kemudian Shuhaib ra memberi tahu tempat penyimpanan uangnya di Makkah. Setelah itu dia meneruskan perjalanannya ke Madinah.

Berkenaan dengan perbuatan Shuhaib ini, Allah menurunkan ayat berikut ini kepada Nabi saw :

“Dan di antara manusia ada yang mejual dirinya untuk mendapatkan keridhaan Allah. Dan Allah itu Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.”
(QS.al Baqarah 2:207)

Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah saw sedang berada di Quba. Ketika Nabi saw melihat Shuhaib, Nabi berkata, “Penjualan yang sungguh menguntungkan, wahai Shuhaib.”

Shuhaib ra bercerita : Suatu hari aku menyertai Rasulullah yang sedang makan kurma. Ketika itu satu mataku sedang sakit. Nabi saw bersabda : “Hai Shuhaib, engkau makan kurma ini sedangkan matamu sedang sakit.” “Tetapi saya memakannya dengan menggunakan mata saya yang sehat, ya Rasulullah.” Jawabku. Mendengar jawaban itu Nabi saw tertawa.

Shuhaib ra adalah seorang yang suka menyedekahkan uangnya untuk keperluan orang lain. Umar al Faruq pernah berkata, “Kamu terlalu berlebih-lebihan, wahai Shuhaib.” Shuhaib menjawab “Tetapi saya tidak menggunakannya untuk hal yang sia-sia.” Ketika Umar ra hampir waProxy-Connection: keep-alive
Cache-Control: max-age=0

t, ia meminta supaya shalat jenasahnya dipimpin oleh Shuhaib ra (Asadul ghabah)

No comments:

Post a Comment