There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Wednesday, July 14, 2010

Maulid Nabi SAW

Assalamualaikum WRB

Segala Puji hanya milik Dzat yang Maha Mulia, yang ditanganNya tergenggam nyawa-nyawa seluruh mahluk semesta alam..yang Maha Kekal sebelum segala sesuatunya ada, dan akan tetap Kekal setelah segala sesuatunya tiada.Kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampunanNya.Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan dan keburukan amal perbuatan kita.

Shalawat dan Salam kepada Baginda Rasulullah SAW, Kekasih Allah juga para ahlul bait dan para sahabat2 beliau yang kita sebagai ummatnya, saudara seIman mereka di masa sekarang ini belum pernah melihatnya tapi tetap merasakan kehadirannya dan senantiasa merindukan perjumpaan dengannya.

Suatu ketika malaikat Jibril a.s bertanya kepada Rasulullah, "Ya Rasulullah, apakah engkau ingin menjadi Mulkan Nabiyyan (Hamba yang raja) ataukah seorang Abdan Rasullan (Seorang Hamba yang Hamba (Miskin))..maka Rasulullah sabdakan "Saya lebih senang lapar sehari dan kenyang sehari, ketika lapar saya bersabar dan ketikan kenyang saya bersyukur.
Rasulullah pun terkenal tidak pernah ingin dipuji atau diagungkan apalagi ingin Harta ataupun jabatan, seperti dikisahkan kaum Quraish yang menawarkan kepada Rasulullah Harta, pangkat dan wanita cantik agar Rasulullah berhenti untuk da'wah maka Nabipun menolak mentah-mentah dengan mengatakan "”Seandainya matahari ditaruh di tangan kiriku dan rembulan di tangan kananku, niscaya tidak akan merubah pendirianku untuk menyebarkan Islam.”

Nabipun dikisahkan menjahit bajunya sendiri dan juga mencari sendalnya sendiri tanpa pernah sekalipun Menyuruh orang lain, ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang rendah hati walaupun ia sangat teramat pantas untuk dipuji dan dimuliakan.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang orang yang mengharap (rahmat ) Allah, dan ( kedatangan ) hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah” ( QS. Al Ahzab,21 ).

Rasulullah pun terkenal seorang yang pemalu, hingga dikisahkan ketika tersingkap betis beliau wajah beliau yang putih memerah karena malu.

Mengenai Maulid Nabi SAW, kita sebagai ummatnya tidak wajib merayakan hanya dengan memperingati sehari saja, tapi wajib kita peringati setiap saat dalam setiap waktu dan setiap keadaan untuk menandakan cinta kita kepada Rasulullah.

Kebanyakan perayaan maulid yang diadakan adalah berlebihan dan menambah-nambah dalam menyanjung Nabi SAW. Padahal Nabi SAW melarang hal tersebut.

Rasulullah bersabda,”Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam. Aku tak lebih hanyalah seorang hamba, maka katakanlah (padaku), Abdullah (hamba Allah) dan RasulNya.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam peringatan maulid Nabi tersebut, banyak terjadi ikhtilath (laki-laki dan perempuan di satu tempat, masing-masing tidak dipisahkan dalam tempat khusus), hal yang sesungguhnya di-haramkan oleh Islam.

Uang yang dibelanjakan untuk keperluan dekorasi, konsumsi, transportasi dan sebagainya terkadang mencapai jutaan. Uang banyak yang habis dalam sekejap itu –padahal mengumpulkannya sering dengan susah payah sesungguhnya lebih dibutuhkan umat Islam untuk kepentingan yang lain.
Seperti membantu fakir miskin, memberi beasiswa belajar bagi anak-anak orang Islam yang tidak mampu, menyantuni anak yatim dan sebagainya. Disamping, dalam peringatan maulid tersebut, sering terjadi pemborosan. Sesuatu yang amat menyenangkan orang-orang kafir, karena barang produksi mereka laku. Padahal Rasulullah melarang secara tegas menyia-nyiakan harta.

"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya" (Al Israa' 27).

Dan untuk memperingatipun sangatlah mudah, yaitu bagaimana kita menghidupkan sunnah-sunnah Beliau, membicarakan pentingnya menghidupkan sunnah-sunnah beliau, mengamalkan sunnah-sunnahnya. Dan kita tambah korban kita lagi untuk bagaimana Ummat muslim lainnyapun ikut mengamalkan sunnah-sunnah beliau yang telah banyak ditinggalkan ummatnya.

Merayakan maulid Nabi tidak mutlak harus dengan merayakan, berkumpul-kumpul, menyiapkan makanan tertentu apalagi sampai dzikir bersama.

Karena hal-hal tersebut bisa membuat kita terjebak dalam hal baru yang telah Nabi peringatkan kepada kita ummatnya.
“Kamu semua harus berpegang teguh pada sunnahku (setelah Al qur’an) dan sunnah Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk Allah sesudahku, berpeganglah dengan sunnah itu, dan gigitlah dengan gigi geraham kalian sekuat kuatnya, serta jauhilah perbuatan baru ( dalam agama ), karena setiap perbuatan baru itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” ( HR. Abu Daud dan Turmudzi ).

Allahpun menyatakan.
“Dan apa yang dibawa Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah ia, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksaan- Nya” ( QS. Al Hasyr 7 ).

Sahabat adalah generasi emas, yang paling takwa terhadap Allah, yang paling Cinta kepada Nabi, ahli-ahli penegak Sunnah dan merekalah yang berjumpa dengan Nabi, tapi tak satupun dari mereka yang merayakan kelahiran Nabi seperti halnya Imam yang 4.

“Orang orang terdahulu lagi pertama kali (masuk Islam ) diantara orang orang Muhajirin dan Anshor dan orang orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan itu, Allah ridho kepada mereka, dan merekapun ridho kepadaNya, serta Ia sediakan bagi mereka syurga syurga yang disana mengalir beberapa sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar” ( QS, At taubah, 100 ).

Mengapa kita dilarang membuat hal yang baru, karena Agama yang Rasulullah diemban atasnya telah Allah SWT semprunakan.
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu sebagai agama bagimu” ( QS. Al Maidah, 3 ).
Berarti dengan menambah suatu amalan maka secara tidak langsung kita menganggap apa yang dibawa oleh Nabi SAW belumlah sempurna.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan risalahnya secara keseluruhan, tidaklah beliau meninggalkan suatu jalan menuju syurga, serta menjauhi diri dari neraka, kecuali telah diterangkan oleh beliau kepada seluruh ummatnya sejelas jelasnya.

Sebagaimana telah disabdakan dalam haditsnya, dari Ibnu Umar rodhiAllah ‘anhu bahwa beliau bersabda

“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada umatnya jalan kebaikan yang telah diajarkan kepada mereka, dan memperingatkan mereka dari kejahatan ( hal hal tidak baik ) yang telah ditunjukkan kepada mereka” ( HR. Muslim ).

Tidak dapat dipungkiri, bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi terbaik diantara Nabi Nabi lain, beliau merupakan penutup bagi mereka ; seorang Nabi paling lengkap dalam menyampaikan da’wah dan nasehatnya diantara mereka itu semua.

Jika seandainya upacara peringatan maulid Nabi itu betul betul datang dari agama yang diridloi Allah, niscaya Rasulullah menerangkan kepada umatnya, atau beliau menjalankan semasa hidupnya, atau paling tidak, dikerjakan oleh para sahabat.

Maka jika semua itu belum pernah terjadi, jelaslah bahwa hal itu bukan dari ajaran Islam sama sekali, dan merupakan seuatu hal yang diada adakan ( bid’ah ), dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah memperingatkan kepada umatnya agar supaya dijauhi, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam dua hadits diatas, dan masih banyak hadits hadits lain yang senada dengan hadits tersebut, seperti sabda beliau dalam salah satu khutbah Jum’at nya :

“Adapun sesudahnya, sesungguhnya sebaik baik perkataan ialah kitab Allah (Al Qur’an), dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan sejelek jelek perbuatan ( dalam agama) ialah yang diada adakan (bid’ah), sedang tiap tiap bid’ah itu kesesatan” ( HR. Muslim ).

Maka Insya Allah semoga dengan asbab kita membaca pesan ini kita lebih berhati-hati terhadap amalan-amalan yang hendak kita lakukan.

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (Al Hujuraat :6)

..Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma wabihamdika AsyaduAllahilaha illa Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..

No comments:

Post a Comment