There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Monday, July 5, 2010

MENJAGA RUTINITAS RUHIYAH DALAM RUMAH TANGGA

"يَآأَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوآ أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلآئِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ".



“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (Q.S. At-Tahrim/66 : 6)

Ayat yang mulia ini begitu menguncang orang-orang mu’min yang membacanya, terlepas dari keangkeran malikat Malik Alaihis Salam, dan neraka yang memang sangat menakutkan, tetapi lebih dari itu, cobalah perhatikan kalimat ini “jagalah dirimu dan keluargamu…”. Al-Imam Ali Radhiyallahu Anhu mengomentari ayat ini dengan mengatakan, “Bentuklah adab mereka dan ajarkan mereka (agama yang mulia ini)”. Di kesempatan lain Ibnu Abbas mengatakan, “Ajaklah keluargamu untuk taat kepada Allah, takut-takutilah mereka untuk berbuat ma’siat, dan perintahkan untuk selalu mengingat Allah, niscaya Dia akan menyelamatkan kalian dari api neraka”. Walhasil kata menjaga berarti aktivitas yang tidak akan berhenti kecuali kalau waktunya telah habis, untuk ukuran manusia tentunya sampai kematian datang menjemputnya. Tugas membentuk akhlak yang baik, menjaga keluarga dari kemaksiatan dan melanggengkannya untuk selalu taat kepada Allah, adalah aktivitas yang tidak gampang, diperlukan komitmen dan ilmu yang baik. Setiap anggota keluargapun mempunyai kewajiban yang sama untuk saling mendukung aktivitas ini, walau konteks ayat yang mulia ini mengedepankan suami sebagai pemeran utama, karena kata ahlikum maknanya adalah istri kalian, yang berarti ayat ini ditujukan kepada para suami. Hal ini bisa dipahami karena kesuksesan terbesar dari program ini manakala suami sebagai kepala rumah tangga telah memulainya, dan di tangannya ada kekuasaan untuk memaksa dan mengarahkan istri serta anak-anaknya untuk taat kepada Allah. Namun dalam beberapa nash-nash syar’I menunjukan bahwa semua anggota keluarga mempunyai kewenangan dalam menjaga rutinitas ruhiyah dalam rumah tangga. Seorang suami memperingatkan istrinya, begitu pula istri mengingatkan suaminya, bapak memperingatkan anak-anaknya, begitu pula anak memperingatkan orang tuanya, begitu seterusnya sehingga seluruh anggota rumah tangga siap menjadi pelayan Allah, karenanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda,

“Allah merahmati seorang suami yang bangun malam untuk qiyamullaili kemudian ia juga membangunkan istrinya untuk itu, Allah merahmati seorang istri yang bangun malam untuk qiyamullaili dan ia membangunkan suaminya.”

Dalam riwayat lain diceritakan bagaimana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bangun malam dan membangunkan Fathimah yang kala itu sudah bersuamikan Ali Radhiyallahu Anhu. Hal ini menunjukan bahwa perhatian seorang ayah untuk membina keluarganya tidak lantas terhenti ketika sang anak telah menikah.

Beliau pun bersabda, “Perintahkan anakmu untuk shalat ketika ia berumur tujuh tahun dan pukulah kala ia berumur dua belas tahun”.

Di dalam Al-Qur’an diceritakan bagaimana Ibrahim Alaihis Sallam memperingatkan bapaknya Azzar untuk tidak mempersekutukan Allah”.

Sekarang ini tidak asing kalau anak kadang lebih lancar membaca Al-Qur’an, lebih rapat menjaga auratnya ketimbang orang tuannya, dan ini adalah fenomena yang baik yang hendaknya menggugah para orang tua untuk juga taat kepada Allah. Dari semua ini maka program penjagaan rutinitas ruhiyah dalam rumah tangga tidak lagi menunggu perintah dari atas (Baca bapak) tapi lebih kepada siapa yang telah siap dan diberikan hidayah oleh Allah. Ketika suami yang taat maka ia yang memulai, begitu pula sebaliknya. Bahkan ketika anak sudah mengenal hukum-hukum Allah maka tidak jadi halangan baginya untuk memperingatkan keluarga untuk taat kepada Allah.

Rutinitas ibadah yang harus dijaga dalam rumah tangga diantaranya adalah membiasakan untuk saling bertausiyah kepada kebaikan dan kesabaran. Alangkah bahagianya kalau seorang suami selesai shalat duduk sebentar memberikan sedikit nasehat kepada istri dan anak-anaknya, atau dalam berbagai kesempatan lainnya. Diantara rutinitas lainnya seperti membaca Al-Qur’an, karena betapa besar pengaruhnya dalam menerangi hati seluruh anngota keluarga. Rumah yang sering dibacakan Al-Qur’an akan membentuk penghuninya gampang menerima hidayah dan kebaikan. Tak kalah pentingnya adalah membiasakan diri untuk bangun malam, ambil waktu sedikit untuk khusus munajat kepada Allah perbanyak istigfar, karena rumah tangga adalah biduk yang sedang mengarungi bahtera yang penuh ombak besar, kapan saja biduk ini akan bisa tenggelam, dan bisa anda bayangkan apa yang diingat orang kala itu? Allah yang maha agung, pertolongan dan penjagaanNya lah yang sangat diharapkan, maka akan sangat naïf seorang hamba yang lemah ini membangun keluarganya hanya mengandalkan kemampuan pribadi saja, maka jangan heran banyak biduk yang tenggelam sebelum sampai tujuan.

===== Salam Sabar ===

K Boris

No comments:

Post a Comment