Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Tuesday, November 17, 2009

Anis, Harben dan Amsol


Sebuah keluarga terdiri dari suami istri dan tiga orang anak. Anak pertama bernama “Anis”. Anak kedua “Harben” dan anak ketiga “Amsol”. Anis dan Harben begitu disayang oleh Bapaknya sementara Amsol tidak pernah diperhatikan bahkan terkesan tidak diurus oleh bapaknya. Si bapak begitu membangga-banggakan Anis dan Harben, memanjakannya dan mencurahkan seluruh kasih sayang untuk mengurusnya. Lain halnya perlakuan kepada Amsol, dipinggirkan dan tidak diperdulikan.
Satu waktu si Bapak mengalami sakit parah yang mengharuskan ia dirawat di rumah sakit. Maka ia berpesan kepada ketga anaknya untuk bersedia merawat dan mengurusnya selama ia sakit dan terbaring di rumah sakit. Namun sayang, Anis dan Harben malah menolak untuk mengurus bahkan walau hanya sekedar menemani si Bapak. Lain halnya dengan Amsol, meskipun selama hidupnya bersama si Bapak kurang diperhatikan bahkan terkesan di anaktirikan malah kini yang rajin menemani dan mengurus segala keperluan Bapaknya selama sakit.
Sakit si Bapak tak kunjung sembuh bahkan semakin parah. Si Bapak sudah punya firasat bahwa hidupnya di dunia ini tidak akan lama lagi. Maka dikumpulkanlah ketiga anaknya. Si Bapak berkata kepada ketiga anaknya, “Wahai anak-anakku, sepertinya hidup Bapak tidak akan lama lagi, Bapak akan mati. Bersediakah kalian mengurus jenasah Bapak jika bapak meninggal nanti ? Maukah kalian menemani Bapak sampai jenasah Bapak dibaringkan di dalam kubur ?”
Anis dan Harben menyatakan keengganannya, sedangkan Amsol dengan menggangguk menandakan kesanggupannya. Mendengar jawaban anaknya Anis dan Harben, Bapaknya sangat kecewa. Anaknya yang selama ini dibangga-banggakan, dimanja sampai-sampai lupa mengurus anaknya yang ketiga Amsol, kini saat kematiannya justru tidak mau membantu dan menemaninya. Sedangkan anaknya yang ketiga, Amsol yang selama ini ditelantarkannya malah bersedia menemaninya walaupun harus menemani ke dalam kubur Bapaknya.
“Anis” adalah “Anak Istri” yang hanya menangisi kepergian kita sampai di atas pusara setelah itu mereka akan pulang dan melupakan kita lagi. “Harben” adalah “Harta Benda” yang membuat manusia tersifati oleh sifat-sifat binatang buas untuk mencarinya. Segala cara ditempuh demi mendapatkannya, tak peduli caranya maksiat, tidak halal dan sikut sana sikut sini. Tapi ketika kita meninggal dunia ia hanya mengantarkan jenasah kita sampai di pintu, setelah itu ia berpindah tangan kepada pemiliknya yang lain. “Amsol” adalah “Amal Shaleh” yang setia mengikuti kita dari mulai kehidupan dunia sampai kehidupan kubur kita. Padahal selama ini amal shaleh itu kita telantarkan, tidak diusahakan bahkan disepelekan. Tapi ternyata amal shaleh inilah yang setia menemani dan membantu menyelamatkan kehidupan kubur kita.

No comments:

Post a Comment