There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Monday, November 23, 2009

Beberapa Kutipan Hadits tentang Shalat 4


Hadits 7

Imran bin Husahin ra menceritakan : Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw tentang makna ayat al Quran ini : “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar.” Rasulullah saw bersabda “Barang siapa shalatnya tidak mencegah perbuatan keji dan munkar, maka tidak ada shalat baginya.”
(HR. Ibnu Abi Hatim & Ibnu Mardawih – Durrul Mantsur)

Tidak disangkal lagi, shalat adalah satu amalan yang sangat bernilai. Jika dikerjakan dengan tertib akan berhasil mencegah dari hal yang tidak diinginkan. Jika hal ini tidak tercapai, yakinlah, pasti ada kekurangan dalam mengerjakannnya. Banyak hadits yang dimaksudnya menerangkan hal ini. Ibnu Abbas ra berkata, “Shalat mempunyai kekuatan untuk mencegah kecenderungan berbuat dosa.”

Abdullah Aliyah ra berkata “Ada tiga hal yang wajib dilakukan dalam shalat, yaitu : Ikhlas, takut kepada Allah dan mengingat Allah. Bukanlah shalat jika tidak ada ketiga hal itu. Ikhlas mendorong manusia untuk beramal shaleh, takut kepada Allah menjauhkan maksiat dan mengingat Allah adalah membaca al Quran, yang dengan demikian berarti membaca petunjuk kepada jalan kebajikan dan mencegah kemaksiatan.”

Ibnu Abbas ra meriwayatkan, Rasulullah saw suatu kali pernah bersabda, “Shalat yang tidak mencegah perbuatan keji dan munkar akan menjauhkan kita dari Allah bukan mendekati-Nya.”

Ibnu Mas’ud ra menceritakan bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda “Orang yang tidak menyusuli shalatnya, sebenarnya tidaklah mengerjakan shalat. Menyusuli shalat ialah meninggalkan perbuatan keji dan munkar.”

Abu Hurairah ra menceritakan : Seseorang datang menemui Rasulullah saw lalu menceritakan orang yang senantiasa shalat sepanjang malam dan setelah itu mencuri sebelum fajar. Rasulullah saw bersabda “Shalatnya tidak lama lagi akan mencegahnya dari perbuatan dosa itu.”

Hadits ini menerangkan bahwa kebiasaan melakukan maksiat dapat dihentikan dengan cara tekun mendirikan shalat dengan ikhlas. Memang sukar dan memakan waktu lama untuk menghentikan suatu kebiasaan buruk. Tetapi lebih mudah dan lebih cepat apabila segera memulai mendirikan shalat dengan tertib, niscaya dengan rahmat Allah tabiat-tabiat buruk itu akan hilang satu demi satu. Semoga Allah Swt memberikan kekuatan untuk mengerjakan shalat dengan tertib.

Hadits 8
Jabir ra menceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda “ Sebaik-baiknya shalat adalah shalat yang panjang rakaatnya.” (HR. Muslim, Tirmidzi & Ibnu Majah)

Mujahid rah.a menerangkan ayat berikut ini :

“Dan berdirilah sambil berqunut kepada Allah.” (QS.al Baqarah 2:238)

Perkara “qunut” termasuk di dalamnya adalah perkara-perkara ruku, khusyu, rakaat panjang, memandang ke bawah, merendahkan bahu karena menyembah Allah serta takut kepada-Nya.

Apabila seorang sahabat Rasulullah saw berdiri hendak shalat, maka ia tidak akan melihat ke sana sini atau meratakan pasir pada tempat sujudnya, atau melakukan perbuatan-perbuatan lain yang tidak diperlukan, juga tidak memikirkan urusan-urusan dunia, semata-mata karena takut kepada Allah.

Banyak pengertian yang diberikan pada perkataan qunut yang terdapat di dalam al Quran dan Hadits. Salah satu pengertian qunut adalah sunyi. Ketika Islam mulai berkembang, berbicara atau membalas salam ketika shalat masih dibenarkan, tetapi setelah turun ayat ini, berbicara ketika shalat sangat dilarang.

Ibnu Mas’ud ra berkata, “Pada mulanya, apabila aku mengunjungi Rasulullah saw aku mengucapkan Assalamu’alaikum padanya dan baginda menjawab Waalaikumus salam walaupun beliau sedang shalat. Pada suatu hari aku mengunjunginya ketika baginda sedang mengerjakan shalat dan aku pun memberi salam seperti biasa, tetapi baginda tidak menjawab salamku. Aku khawatir kalau-kalau perbuatanku itu menyebabkan Allah Swt murka kepadaku. Bermacam-macam pikiran berkecamuk dalam benakku. Aku berpikir mungkin Rasulullah saw marah kepadaku, bahkan hal yang lebih menyedihkan terlintas dalam pikiranku. Ketika Rasulullah saw selesai mengerjakan shalat, baginda bersabda “Allah memerintahkan sebagaimana yang dikehendaki-Nya, kini Allah melarang berbicara ketika shalat.”

Lalu beliau bersabda, “Kini shalat adalah semata-mata untuk memuji kebesaran serta kesucian Allah.”

Mu’awiyah bin Hakam Salmi ra berkata, “Ketika aku mengunjungi kota Madinah karena hendak memeluk Islam, aku telah belajar banyak hal. Salah satunya ialah hendaknya mengucapkan yarhamukallah apabila seseorang bersin dengan mengucapkan alhamdulillah. Oleh karena aku baru memeluk Islam, aku tidak mengetahui hal itu tidak boleh dilakukan ketika sedang shalat. Suatu ketika kami sedang mengerjakan shalat tiba-tiba seseorang bersin, spontan aku berkata yarhamukallah. Tiba-tiba semua orang melirik dengan marah ke arahku. Oleh karena aku tidak mengetahui bahwa di dalam shalat dilarang berbicara, aku pun membantah dengan berkata, “Mengapa kalian marah kepadaku ?” Dengan memberi isyarat mereka menyuruh agar aku diam, tetapi aku tidak memahami isyarat mereka walaupun kemudian aku terdiam. Setelah shalat selesai, Rasulullah saw memanggilku. Baginda tidak memukul, menghardik atau berlaku kasar kepadaku, baginda hanya bersabda, “Tidak boleh berbicara dalam shalat. Shalat adalah utuk memuji kebesaran Allah, mengagungkan-Nya dan membaca al Quran.” Demi Allah, aku belum pernah menjumpai seorang guru yang begitu penyayang seperti baginda Rasulullah saw.”

Satu lagi pengertian yang diberikan oleh Ibnu Abbas ra ialah qunut artinya khusyu, perkataan Mujahid di atas berdasarkan pada pengertian itu.

Abdullah bin Abbas ra berkata “Pada mulanya Rasulullah saw mengikatkan tali pada badannya ketika shalat tahajjud agar tidak mengantuk. Karena itu, turunlah ayat ini :

“Kami tidak menurunkan al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS.Thaha 20:2)

Beberapa hadits meriwayatkan, kaki Rasulullah saw bengkak-bengkak karena lama berdiri ketika shalat tahajjud. Karena kasih sayang kepada umatnya maka baginda menasehati agar menyederhanakan shalatnya karena khawatir jika terlalu lama akan banyak tertinggal. Suatu ketika ada seorang sahabat wanita yang mengikat badannya dengan tali supaya terhindar dari rasa kantuk, setelah Rasulullah melihat hal itu maka Rasulullah melarangnya.
Akan tetapi hendaknya diingat, shalat dengan rakaat yang panjang memang lebih baik dan lebih bernilai, syaratnya ialah tidak melampaui batas daya tahan. Namun tentu ada maksudnya Rasulullah saw shalat begitu lama hingga kakinya bengkak.

Ketika para sahabat meminta agar Rasulullah saw mengurangi shalatnya karena telah diberi jaminan ampunan dalam surat al Fath.

“Allah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu. Dan ditunjuki-Nya kamu kepada jalan yang lurus.” (QS al Fath 2)

Rasulullah saw bersabda, “Apakah tidak pantas aku menjadi seorang hamba yang bersyukur ?”

Diberitahukan dalam sebuah hadits, apabila Rasulullah saw mengerjakan shalat, dadanya berbunyi seperti bunyi mesin kisar. Dalam hadits lain diriwayatkan bahwa bunyi ini seperti bunyi ceret yang airnya bergolak.

Ali Karramallahu wajhahu meriwayatkan, “Pada suatu petang ketika terjadi perang Badar aku melihat Rasulullah saw berdiri di bawah sebatang pohon, sibuk mengerjakan shalat sambil menangis menghadap Allah Swt sepanjang malam hingga shubuh.

Diriwayatkan pula dalam hadits, Allah Swt sangat suka kepada orang-orang tertentu, salah satunya adalah orang yang meninggalkan tempat tidurnya pada saat tidur bersama istrinya yang dicintai dan dikasihinya, lalu menyibukkan diri mengerjakan shalat tahajjud pada malam hari pada musim dingin. Allah Swt sangat suka kepadanya dan bangga dengannya. Walaupun Allah Maha Mengetahui, Allah bertanya kepada malaikat-Nya, “apakah yang menyebabkan hamba-hamba-Ku itu meninggalkan tenpat tidurnya serta berdiri seperti itu ?” Para malaikat menjawab, “Ia mengharap Rahmat dan Rahim-Mu serta takut akan Kemurkaan-Mu.” Lalu Allah Swt berfirman “Dengarlah! Aku menganugerahkan apa yang ia harapkan serta melindungi dari apa yang ditakutinya.”

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada orang yang diberi Rahmat oleh Allah lebih dari orang yang bangun mengerjakan dua rakaat shalat.”

Di dalam al Quran dan juga hadits sering disebutkan, para malaikat terus menerus beribadah kepada Allah Swt. Sebagian terus menerus ruku sebagian lagi sujud hingga hari Kiamat. Allah Swt mencatumkan cara-cara ibadah para malaikat itu dalam shalat kita agar kita memperoleh bagian dari cara ibadah mereka. Bacaan al Quran dalam shalat kita mengatasi fadhilah shalat mereka. Shalat adalah cara malaikat mengabdikan dirinya kepada Khalik dan shalat akan berhasil baik jika dikerjakan oleh orang yang meniru sifat seperti malaikat. Itulah sebabnya Rasulullah saw bersabda, “Untuk shalat yang baik ringankanlah belakang dan perutmu.” Belakang seseorang dikatakan ringan jika mempunyai beban yang sedikit, dan perutnya dikatakan ringan apabila makan sedikit saja agar tidak malas dan tidak payah.
Sumber : Shalat Khusyu dan Khudud - Fadhilah Shalat - Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi rah.a

No comments:

Post a Comment