There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Tuesday, November 10, 2009

Keutamaan Ramadhan 3


Dari Ibnu Mas’ud ra, di mana ia berkata : “Tidak ada seorang hamba yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan tenang dan diam, selalu dzikir kepada Allah SWT, mengerjakan pekerjaan yang diperbolehkan dan meninggalkan pekerjaan yang diharamkan, serta tidak melakukan perbuatan yang keji, melainkan ia keluar dari bulan Ramadhan dengan telah diampuni semua dosanya, dibangunkan baginya dari setiap tasbih dan tahlil yang ia ucapkan, sebuah rumah di surga yang dibuat dari zamrud hijau yang didalamnya ada mutiara merah yang di dalam mutiara itu ada tenda dari permata yang berlubang yang di dalamnya ada bidadari yang memakai dua gelang emas yang bertahtakan permata merah yang dapat menerangi bumi.”

Nabi saw bersabda , ketika bulan Ramadhan hampir datang :
“Seandainya hamba-hamba itu mengetahui keutamaan yang berada di dalam bulan Ramadhan, niscaya umatku akan menginginkan bulan itu sepanjang tahun.” Ada seseorang dari suku Khuza’ah berkata : “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami keutamaan yang berada di dalam bulan Ramadhan.” Beliau bersabda “ Sesungguhnya surga itu dihias pada bulan Ramadhan dari tahun ke tahun. Pada awal malam pertama bulan Ramadhan, angin berhembus dari bawah ‘Arasy, maka daun pepohonan surga bergesekan dengan bunyi nyaring, lalu para bidadari melihatnya dan berkata : “Wahai Tuhan, karuniailah kami pada bulan ini suami di antara hamba-hamba-Mu, di mana dengan suami itu kami akan bahagia dan mereka pun akan bahagia bersama kami.” Maka tidak ada seorang pun yang berpuasa, melainkan akan dikawinkan dengan dua istri dari bidadari yang cantik jelita yang berada di dalam tenda yang terbuat dari permata yang berlubang, sebagaimana yang dilukiskan oleh Allah SWt di dalam kitab-Nya : “Bidadari-bidadari yang dipelihara di dalam kemah-kemah.” (QS. Ar-Rahmaan 55:72) Setiap wanita di antara bidadari-bidadari itu memakai 70 pakaian yang masing-masing berbeda warnanya, dan diberi 70 macam minyak wangi. Setiap wanita di antara mereka itu berada pada tempat tidur yang terbuat dari mutiara merah yang disulam dengan permata. Pada tempat tidur itu terdapat 70 permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Setiap wanita itu mempunyai 70 pelayan. Ini semua sebagai balasan dari satu hari, di mana ia berpuasa pada bulan Ramadhan, selain kebaikan-kebaikan lainnya yang ia kerjakan.”

Diriwayatkan dari Nabi saw, bahwasanya beliau bersabda :

“Rajab adalah bulan umatku dan keutamaannya atas bulan-bulan yang lain seperti keutamaan umatku atas umat-umat yang lain. Sya’ban adalah bulanku dan keutamaannya atas bulan-bulan yang lain seperti keutamaanku atas nabi-nabi yang lain. Dan Ramadhan adalah bulan Allah dan keutamaannya atas bulan-bulan yang lain seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.”

“Bahwasanya Nabi saw keluar sementara orang-orang sedang bertengkar, kemudian Nabi saw bersabda : “Aku datang bermaksud untuk memberitahu kepadamu tentang lailatul qadar hanya saja aku khawatir kamu akan bersandar padanya dan barangkali akan menjadi lebih baik. Carilah lailatul qadar itu pada malam tanggal 21,23,25,27 dan pada malam terakhir. Tanda-tandanya, yaitu bahwa malam itu udaranya terang dengan cahaya yang tidak tajam. Barang siapa yang menghidup-hidupkan malam itu dengan iman dan mengharap ridha Allah, maka Allah mengampuni dosanya yang sebelumnya itu.”

Nabi saw mempersyaratkan adanya iman dan mengharap ridha Allah dalam berpuasa pada siang hari fdan beribadah pada malam hari. Iman adalah pembenaran terhadap adanya pahala yang dijanjikan Allah kepadanya, sedangkan yang dimaksud dengan mengharap pahala dari Allah, yaitu hendaknya ia benar-benar khusyuk dan ihlas di dalam mengerjakan puasa dan ibadah malam. Apabila seseorang ingin mendapatkan pahala dan keutamaan-keutamaan yang disebutkan oleh Nabi saw, maka ia harus mengetahui kemuliaan bulan Ramadhan dengan menjaga lisannya dari dusta, menggunjing dan berbicara yang tidak ada gunanya, menjaga anggota tubuhnya dari perbuatan dosa dan kesalahan-kesalahan, serta menjaga hatinya dari perasaan dengki dan memusuhi sesama kaum muslimin. Apabila ia telah melaksanakan yang demikian itu, maka hendaknya ia merasa khawatir apakah Allah berkenan menerimanya atau tidak. Diceritakan dari sebagian orang yang bijaksana, bahwasanya ia berkata : “Wahai Tuhanku, Engkau telah menjamin pahala bagi orang yang tertimpa musibah baik di dunia maupun di akhirat. Wahai Tuhanku, seandainya Engkau menolak puasa ini kepada kami, janganlah kami terhalang untuk memperoleh pahala musibah, wahai Dzat yang terkenal dengan kebaikan-Nya.”

Abu Dzarr Al-Ghiffari ra berkata :
“Kami puasa bersama-sama dengan Rasulullah saw dan ketika berada pada malam 23, beliau bangun malam dan mengerjakan salat sampai habis sepertiga malam. Kemudian pada malam 24, beliau tidak keluar kepada kami, lantas pada malam 25, beliau keluar kepada kami dan mengerjakan salat dengan kami sampai tengah malam. Kemudian kami berkata : “Seandainya kami teruskan ibadah pada malam ini”. Beliau lantas bersabda ; “Barang siapa yang keluar dan mengerjakan shalat bersama-sama dengan imam hingga imam pulang, maka dicatat baginya pahala seperti beribadah sepanjang malam.” Kemudian pada malam 26, beliau tidak keluar, lantas pada malam 27, beliau bangun malam dan mengajak semua anggota keluarga serta mengerjakan salat bersama-sama dengan kami hingga kami khawatir kalau-kalau kami kehabisan waktu untuk sahur.”

No comments:

Post a Comment