Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Tuesday, November 10, 2009

Bayan Maulana Mustaqiem


Maulana Mustaqim
Masyaikh India
Malam Markaz Nizammuddin
New Delhi, India

Bayan Maghrib

Ketika orang dilahirkan di dunia ini, walaupun mereka semua dilahirkan dengan cara yang sama yaitu dari rahim seorang ibu, tetapi mereka dilahirkan dengan membawa status yang berbeda-beda. Inilah cara Allah memberi pelajaran pada manusia, walaupun mereka lahir dalam keadaan yang berbeda-beda tetapi semuanya harus tunduk dengan keputusan Allah jika mau mendapatkan yang namanya kebahagiaan. Semuanya dari yang miskin, yang kaya, yang sehat, yang cacat, semuanya kalau mau mendapatkan kebahagiaan harus ikut cara Allah, yaitu dengan agama, tidak ada cara lain. Untuk bisa menjadikan Agama sebagai jalan mendapatkan kebahagiaan ini diperlukan Hidayah dari Allah. Penting saat ini kita fikirkan bagaimana kita berusaha untuk mendapatkan Hidayah. Tidak ada seorangpun yang bisa mendapatkan Hidayah tanpa ada usaha untuk mendapatkannya. Berbeda dengan kekayaan yang bisa didapatkan tanpa usaha seperti melalui warisan dan keturunan dalam tahta kerajaan. Tetapi Hidayah ini hanya bisa didapat dengan melakukan usaha atas hidayah. Jadi usaha yang paling penting bukan usaha atas keduniaan, tetapi usaha atas hidayah. Usaha atas hidayah inilah yang namanya Jalan keselamatan. Apa itu Jalan keselamatan yaitu Jalan Hidayah atau Sunnanul Huda. Allah telah berikan kepada Nabi SAW Sunnanul Huda : jalan-jalan petunjuk atau jalan-jalan hidayah, agar manusia bisa mendapatkan yang namanya kebahagiaan dan keselamatan. Siapa saja yang berjalan diluar Sunnanul Huda niscaya mereka akan tersesat dan jauh dari petunjuk Allah. Jika kita tidak diberi petunjuk maka kita akan sengsara hidup di dunia ini dan di akherat nanti. Seperti orang buta yang kehilangan tongkat, jalannya akan menderita, nabrak sana nabrak sini, terjatuh-jatuh. Begitulah orang yang hidup tanpa hidayah.

Hari ini orang islam banyak yang hidup dengan cara Yahudi dan Nasrani, padahal satu-satunya kehidupan yang di ridhoi Allah dan yang Allah telah jamin hanya kehidupan Nabi SAW. Kehidupan Nabi SAW ini adalah suatu kehidupan yang didasari atas wahyu Allah, langsung petunjuknya dari Allah. Sehingga ketika Nabi SAW mengamalkan petunjuk atau wahyu itu dengan sempurna maka kehidupan Nabi SAW penuh dengan keberkahan dan pertolongan Allah. Beda dengan kehidupan kita hari ini yang penuh dengan kesulitan dan tidak ada pertolongan Allah. Hari ini kita setiap ada masalah baru lari ke ulama minta do’a karena merasa do’anya tidak didengar oleh Allah. Tetapi setelah minta do’a, ketika pulang kehidupannya tidak berubah, sama saja dengan kehidupan Yahudi dan Nasrani. Bagaimana Allah akan tolong kita jika kita masih seperti itu cara hidupnya. Beda dengan sahabat setiap ada masalah langsung lari kepada Allah, diselesaikan dengan sholat dan do’a, maka pertolongan Allah langsung turun saat itu juga. Mengapa doa sahabat ijabah dan sedangkan doa kita tidak ? padahal Tuhannya sama, Nabinya sama, Kitabnya sama, Kiblatnya sama. Ini disebabkan kehidupan yang kita jalani berbeda dengan sahabat RA.

Keyakinan kita kini belum benar karena masih terkait pada Asbab dan Dunia. Seperti keyakinan kita hari ini meyakini bahwa onta ini hanya bisa lahir dari onta yang hidup bukan dari onta yang mati. Padahal Onta ini untuk dapat melahirkan onta berhajat pada Allah Ta’ala. Sedangkan Allah tidak berhajat pada Onta untuk bisa melahirkan onta. Onta tidak bisa melahirkan dengan sendirinya tanpa izin dari Allah Ta’ala. Allah mampu menciptakan onta dengan onta. Dan Allah mampu menciptakan onta tanpa lahir dari seekor onta seperti onta Nabi Sholeh yang keluar dari batu. Inilah kekuasaan Allah, Allah mampu mengeluarkan benda yang hidup dari benda yang mati. Jadi Allah mampu menciptakan onta dari onta ataupun tanpa onta, mudah saja bagi Allah. La Illaha Illallah.

Asbab keyakinan kita yang belum benar ini sehingga Agama saat ini sulit untuk dijalankan secara sempurna. Yakin kita masih bergantung pada logika dan asbab, sedangkan manfaat dari agama ini akan nampak jika kita beramal dengan keyakinan yang sempurna. Sahabat hanya dengan sholat 2 rakaat saja Allah tundukkan alam untuk mereka. Sahabat karena mempunyai yakin yang sempura sehingga ketika beramal, hanya dengan sholat saja dapat menyelesaikan segala masalah. Kini toko-toko kecil telah berkembang menjadi industri asbab meningkatnya keinginan manusia akan kebendaan. Orang-orang yang tadinya hanya bersepeda dan berkuda, kini telah mengendarai mobil-mobil mewah. Semua asbab keduniaan telah mengalami peningkatan qualitas dan kemajuan, tetapi mengapa pada hari ini pengamalan agama oleh manusia malah mengalami kemunduran yang drastis jauh dibandingkan dengan pengamalan agama di jaman Sahabat RA. Mengapa Agama justru mengalami kemunduran, padahal kini kondisi ekonomi jauh lebih baik, teknologi jauh lebih baik, dan fasilitas manusia untuk mengamalkan agama jauh lebih lengkap dari pesawat sampai mesjid yang nyaman. Sangking mundurnya agama, bahkan kini seorang anakpun tidak mampu memandikan jenazah dan memimpin sholat jenazah untuk orang tuanya. Dunia ini telah Allah berikan bahkan kepada musuhnya juga, tetapi Hidayah hanya Allah berikan kepada orang yang mau mengusahakannya. Dunia ini tidak ada nilainya walaupun hanya sebelah sayap nyamuk disisi Allah. Dan barang siapa yang mengejar dunia dengan meninggalkan perintah Allah, maka orang ini akan Allah buat susah mendapatkan apa yang dia ingini. Sedangkan dia tidak akan mendapatkan lebih dari apa yang Allah telah tetapkan di Lauh Mahfudz. Orang yang seperti ini akan menjadi hina disisi Allah karena dia rela meninggalkan sesuatu yang punya nilai disisi Allah demi dunia yang tidak punya nilai disisi Allah. Jadi jangan sampai kita tertipu dan jangan sampai kita salah bergantung. Tawajjuhkan diri kita hanya kepada perintah Allah, nanti Allah akan cukupkan keperluan kita dan Allah akan selesaikan masalah-masalah kita.

Ka’bah adalah rumah pertama yang dibangun untuk Allah di mekkah, padahal Allah tidak memerlukan rumah. Sedangkan rumah terbesar ini adalah hati manusia. Hati ini jika di isi dengan nafsu dan kebendaan walaupun seluruh isi langit dan bumi ini dimasukkan kedalam hati, maka hati ini tetap akan merasa kurang dan tidak akan pernah merasa cukup. Tetapi jika hati ini ada Taqwa, maka nanti Allah yang akan datangkan rasa cukup walapun dia ini hidupnya sehari makan sehari tidak. Hati yang mempunyai Taqwa maka terhadap keduniaan dia akan selalu merasa cukup, sedangkan untuk agama selalu merasa kurang dan ingin tambah lagi. Setan ini adalah mahluk yang telah mempersembahkan hidupnya untuk menjauhkan manusia dari Allah dan Amal Agama. Hari ini banyak sekali manusia yang terperangkap oleh tipu daya setan. Seseorang berkata ketika ditaskil, “Saya akan keluar nanti setelah saya pensiun.” Ini namanya terperangkap oleh setan. Padahal apa jaminannya dia bisa hidup selama itu. Lalu ketika sudah tua nanti dia akan berkata, “saya sudah tua, sudah pikun, dan sudah lemah, sekarang ini adalah tugas yang muda untuk fissabillillah”. Sehingga orang yang sama, bisa mati tanpa pernah buat usaha atas hidayah, mati tanpa ada usaha untuk menyempurnakan agama pada dirinya sendiri. Tanpa usaha atas hidayah atau usaha atas keimanan, seseorang bisa mati seperti orang kafir, tidak ada tanda-tanda keislaman. Amal baik ini akan membuat ruh kita menjadi suci dan bersih, sedangkan amal buruk akan membuat ruh kita kotor dan rusak. Sedangkan Ruh yang dapat memasuki Jannah hanya Ruh manusia yang suci dan bersih dari dosa. Sedangkan Ruh yang kotor dan berdosa tidak akan bisa memasuki Jannah. Jannah ini bukan tempat untuk sesuatu yang kotor, jadi untuk itu harus dibersihkan terlebih dahulu di Neraka. Segala sesuatu di dunia ini agar mempunyai nilai disisi Allah ada adabnya dan do’anya. Dengan demikian maka kehidupan seseorang ini akan bernilai disisi Allah sejauh mana dia mau ikut adab dan do’a yang telah Allah ajarkan kepada Nabi SAW. Kini orang berharap bisa mempunyai anak yang baik dan sholeh, tetapi ketika berhubungan intim dengan istri (Jima’) dilakukan tanpa adab dan do’a. Akhirnya asbab tidak menggunakan adab, maka nutfah kita menjadi tumpangan setan. Binatang dalam melakukan sesuatu tanpa adab oleh sebab itu anaknya tetap seperti binatang. Inilah penting kita mulai segala sesuatu dengan mengucapkan “Bismillah” dan pakai adab.

Jika kita buat kerja atas agama dengan benar maka Allah akan selamatkan kita dari segala musibah sebagaimana Allah selamatkan Nabi Luth dari bencana atas kaumnya. Hari ini fikir kita bukannya justru ingin menjadi da’inya Allah tetapi malah ingin menjadi pengusaha, pedagang, petani, ilmuwan, dokter, ini justru yang kita utamakan. Seharusnya kita tawajjuhkan diri kita terhadap apa yang Allah mau atas diri kita bukan nafsu kita. Jika kita tawajjuhkan diri kita kepada Allah dalam setiap perbuatan dan keputusan yang kita ambil, maka Allah akan bantu kita dan memberi kita jalan keluar bahkan dari arah yang tidak disangka-sangka. Tetapi jika kita tawajjuhkan diri kita pada nafsu dan mahluk maka nanti Allah akan hinakan kita dan akan buat kita bersusah payah mendapatkan apa yang kita ingini. Kedamaian ini hanya dapat datang melalui perintah-perintah Allah. Jika semua orang taat pada perintah Allah maka keinginan terhadap keduniaan dan kebendaan akan berkurang hingga hilang dari diri kita. Ketika ini terjadi, maka tidak akan ada lagi kejahatan dan kebathilan. Sahabat ketika penaklukan Persia, harta ghanimah datang bertumpuk-tumpuk ke pintu rumah mereka tetapi apa yang mereka lakukan ? mereka menangis dikarenakan Nabi SAW tidak pernah mengajarkan kepada mereka untuk menumpuk-numpukkan harta. Jadi keinginan akan dunia dan kebendaan telah Allah angkat dari mereka asbab ketaatan mereka pada perintah-perintah Allah. Kini karena ummat sudah meninggalkan agama maka masalah berdatangan dan kemauan menjadi banyak.

Waktu saat ini adalah jalan menuju masa depan yang akan terlewatkan. Malaikat Maut akan datang menjemput kita pasti dan pasti, walaupun kepada orang yang beriman dan yang tidak beriman. Waktu yang telah terlewatkan, adalah kerugian bagi seseorang jika dilewati tanpa amal. Setiap waktu yang terlewatkan tanpa amal ini bisa menjadi asbab bagi kita mendapatkan hisaban yang keras dari Allah ta’ala. Kebendaan itu bisa datang dan bisa pergi, jika hilang bisa diusahakan kembali, tetapi waktu yang terlewatkan tanpa amal adalah kerugian yang sebenarnya. Amal ini walaupun itu hanya sebesar debu dapat menyelamatkan kita dari Adzab Allah di akherat dan Allah akan balas dengan surga yang luasnya 10 kali lipat lebih besar daripada Dunia beserta isinya. Untuk perkara ini perlu kita fikirkan bagaimana waktu yang akan kita lewati dapat terlewatkan dengan amal-amal agama. Jangan kita ambil kebanggaan dari kebendaan yang kita miliki, status yang kita dapati, atau kekuatan yang kita punyai karena itu semua dapat mejadi asbab kehancuran kita. Kita perlu belajar dari sejarah bagaimana Allah hancurkan musuh-musuhnya karena kesombongan mereka. Seperti Qorun yang mengambil kebanggaan dari hartanya, Firaun dari kekuasaannya, kaum ad dari kekuatannya, dan kaum-kaum yang lain, semuanya Allah musnahkan. Segala yang mereka punya tidak dapat menyelamatkan mereka dari adzab Allah. Allah tidak dapat dibeli oleh apapun dan siapapun.

Kalau kita ingin bahagia kita harus bawa Allah kedalam hati kita karena melalui hati seluruh tubuh kita bergerak. Jika di hati ada kebesaran wanita maka tubuh kita akan kita arahkan geraknya menuju wanita tersebut. Jika di hati ada kebesaran perdagangan maka kita akan bergerak menuju perdagangan. Jika ada kebesaran Allah di hati maka seluruh anggota tubuh kita akan tergerak menuju Allah. Penting kita benarkan hati dan amal kita. Di hati ini tidak boleh ada selain Allah. Jangan sampai hati ini terkesan kepada selain Allah walaupun itu pada air ketika haus. Jika di hati ini hanya ada Allah maka kita tidak akan tertarik untuk mencari yang selain Allah. Jika keyakinan sudah terbentuk maka seseorang siap melakukan apa saja untuk yang dia yakini. Itulah sebabnya ketika di taskil untuk keluar di jalan Allah tidak semua orang siap dan mau. Khalid bin Walid RA sebelum wafat berkata bahwa saya selalu mencari malaikat maut dalam setiap peperangan. Khalid RA sudah pergi dalam banyak pertempuran dan mengambil banyak takaza agama dalam kondisi apapun. Apa yang dia harapkan yaitu mati syahid di jalan Allah. Beda dengan keinginan kita hari ini yang dicari justru kenyamanan dan kemudahan. Siap pergi kalau usahanya tidak terganggu, kalau dapat cuti, kalau tempatnya aman, ini bukan pengorbanan namanya, tidak ada rasa takut pada Allah. Ciri-ciri orang yang Taqwa itu adalah kesiapan dia untuk bermujahaddah menjalankan perintah Allah dimana saja dan kapan saja. Tidak siap dan tidak mau bermujahaddah belum taqwa namanya.

Nabi Zakaria AS selalu berdo’a untuk diberikan anak laki-laki karena dia tau bahwa kerja ini harus ada penerusnya. Sebagaimana Yacob telah Allah berikan Yusuf AS, Daud AS Allah telah berikan Sulaiman AS, Ibrahim AS Allah telah berikan Ishak AS dan Ismail AS. Fikir mereka adalah bagaimana kerja ini dapat diteruskan oleh keturunan mereka. Do’a inilah yang perlu kita minta kepada Allah, agar Allah jadikan keturunan kita sebagai penerus-penerus kerja dakwah. Namun perlu kita sadari bahwa di dalam setiap kerja atau usaha selalu ada ujian dan cobaan yang harus kita lewati. Untuk kerja dunia saja kita akan mengalami berbagai macam ujian dan rintangan. Melalui ujian dan rintangan kita akan memiliki pengalaman, sehingga kita menjadi manusia yang lebih baik. Begitu juga dalam kerja agama, Allah akan beri kita kondisi-kondisi untuk menguji kita. Melalui ujian ini maka seseorang akan menjadi manusia yang lebih baik qualitas sifatnya dan keimanannya. Iman dan Sifat ini akan datang pada kita melalui Mujahaddah atas cobaan yang Allah berikan kepada kita. Semakin Allah cinta pada seseorang maka semakin di uji dia oleh Allah. Semakin sering dia lulus dari ujian yang Allah beri, semakin sempurna Iman dan sifatnya.

Jika seseorang merasa telah membuat maju kerja agama ini dan merasa bahwa keberhasilan kerja agama ini ini adalah asbab usaha dia, maka Allah akan singkirkan dia dari kerja agama ini. Usaha ini bukan usaha atas hasil dan ketrampilan, tetapi ini adalah usaha atas perbaikan diri dan peningkatan qualitas kita sebagai hamba Allah. Hasil dari usaha ini tidak ada hubungannya dengan ketrampilan kita, tetapi semata-mata karena hidayah Allah SWT. Allah yang memberikan hasil dan kita hanya dijadikan sebagai asbab hidayah karena Allah hendak memuliakan kita. Usaha ini adalah Allah yang punya kerja seorang diri dan Allah pulalah yang menjaganya tanpa bantuan yang lain. Allah tidak perlu siapapun dalam menjaga kerja dakwah. Bagi Allah membuat orang taat semudah membalikkan telapak tangan, dalam sekejap semua orang bisa taat. Sedangkan yang Allah mau lihat dari seseorang adalah pengorbanannya dan keinginannya atas hidayah. Usaha ini mulia bukan karena ada orang kaya, orang berpangkat, orang pintar, bukan, tetapi justru asbab usaha agama ini mereka menjadi mulia.

Ketika kita keluar di jalan Allah kita harus banyak buat do’a atas hidayah terutama kepada orang yang kita kunjungi. Jika mereka menjamu kita dengan makanan bagaimana kondisi hati kita, senang atau risau ? mengapa kita harus risau, jangan-jangan Allah ganti doa hidayah kita dengan makanan. Usahakan ketika kita di jalan Allah jangan pernah mengeluh terhadap apapun, cukup do’a saja mengadu kepada Allah. Jika ini bisa kita amalkan ketika keluar di jalan Allah, Insya Allah nanti ketika pulang kita akan mempunyai kekuatan untuk melepaskan gantungan kita kepada mahluk. Jika ketika keluar di jalan Allah saja kita tidak bisa berubah menjadi baik, apalagi ketika kita tidak keluar di jalan Allah yaitu di rumah, akan lebih susah lagi untuk berubah menjadi baik. Jika di mesjid saja kita tidak bisa tawajjuh kepada Allah bagaimana kita bisa tawajjuh kepada Allah di luar mesjid. Jangan kita sampai terkesan pada keadaan senang dan susah, ini hanya keadaan-keadaan saja yang semuanya datang dari Allah. Jangan sampai kita terjebak dalam kondisi-kondisi seperti ketika senang menjadi lalai dan ketika susah putus harap kepada Allah. Sambungkan diri kita dengan Allah dalam setiap keadaan dan jaga diri kita dari perbuatan dosa. Jika kita bisa bersyukur dan bersabar atas semua keadaan yang Allah berikan kepada kita, maka nanti Allah akan tunjukkan QudratNya sebagaimana yang telah Allah tunjukkan QudratNya kepada para sahabat RA.

Semua kekuatan dan kekuasaan didunia ini adalah semu, tidak nyata. Semuanya permainan dan tipuan saja, kelihatannya seakan-akan punya kekuasaan dan kekuatan, padahal sebenarnya selain dari Allah semua kekuasaan dan kekuatan itu tidak ada dan tidak nyata. Semua kekuasaan dan kekuatan itu milik Allah dan datang dari Allah. Jika kita sambungkan diri kita dengan Allah nanti Allah akan ubah segala keadaan dengan QudratNya. Untuk bisa mendapatkan keyakinan ini perlu pengalaman Iman yang didapat melalui ujian dan latihan. Akan datang masa semua kekuatan dan kekuasaan kita akan bertambah diluar batas kemampuan yang dapat kita bayangankan. Kini jika kita melihat matahari saja tidak mampu, nanti di akherat Allah akan tingkatkan kemampuan mata kita, jangankan melihat matahari, bidadari saja yang nurnya dapat membuat matahari cahayanya menjadi redup dan pudar, dapat kita lihat tembus dari lapisan bajunya sampai ke tulang sumsumnya. Tembokpun tidak akan bisa menghalangi mata kita untuk melihat pemandangan dibaliknya. Inilah mata super yang Allah berikan kepada kita yaitu mata tembus pandang. Inilah kekuatan mata manusia surga, belum lagi kekuatan mereka yang lain.

Design dari tubuh manusia ini merupakan teknologi tercanggih yang tidak mempunyai kelemahan. Tujuan penciptaan tubuh manusia yang sangat rumit ini agar manusia dapat menyempurnakan Ibadah kepada Allah Ta’ala. Kecacatan yang ada pada diri kita bukanlah kesalahan atau kelemahan dalam penciptaan tetapi merupakan sarana untuk ibadah kepada Allah. Begitu pula Keterbatasan pendengaran kita dan penglihatan kita semata-mata untuk memudahkan manusia beribadah kepada Allah. Jadi kekurangan pada manusia bukanlah kesalahan atau kelemahan tetapi merupakan bagian dari Ibadah kepada Allah. Binatang mempunyai pendengaran yang tidak terbatas seperti kemampuan pendengaran untuk mendengarkan siksa kubur. Jika manusia mampu mendengarkan siksa kubur bagaimana mereka bisa mampu beribadah. Jadi keterbatasan dan kekurangan ini semuanya Allah ciptakan untuk peribadatan kepada Allah.

Allah mampu ciptakan manusia yang berbeda-beda dari Rahim yang sama. Dari Rahim yang sama manusia bisa lahir membawa perbedaan fisik, sifat, dan ketentuan hidup di dunia dari Allah. Lalu Allah uji mereka dengan keadaan-keadaan agar terlihat mana yang terbaik dari mereka keimanannya. Jadi yang perlu kita lakukan jika ujian itu tiba adalah Sabar dan Tahammul agar bisa bertahan dalam Mujahaddah mempertahankan agama setiap waktu, tempat, dan keadaan. Allah pasti akan beri hidayah dan rahmat kepada seseorang jika selama dia mau berusaha untuk sabar dan tahammul dalam ujian yang Allah kasih. Seseorang ingin punya keluarga dan keturunan maka dia akan berusaha untuk nikah. Namun hasil dari pernikahan berupa keturunan atau anak ini tidak ada jaminannya walaupun kita telah mengusahakannya. Beda dengan usaha atas keturunan melalui pernikahan yang tidak ada jaminannya, usaha atas Iman ini hasilnya mutlak adalah hidayah bagi yang mengusahakannya. Jangan pernah kita putus asa dari hidayah dan rahmat Allah, jaga prasangka baik kepada Allah setiap saat agar Allah jadikan kita hambanya yang terbaik dari Keimanan dan Ketaqwaannya. Syukuri atas segala nikmat yang Allah beri terutama Nikmat Iman dan Islam. Bagaimana kita mensyukuri nikmat Iman dan Islam ini yaitu dengan meningkatkan quantitas dan qualitas amal. Jika kita Allah golongkan sebagai orang-orang yang tau mensyukuri nikmat Allah, maka nanti Allah akan tambah kenikmatan kita dalam mentaati perintah Allah dan menjauhi larangannya. Jangan kita terkesan pada kondisi ketika ada makanan ataupun ketika tidak ada makanan, jadikan segala kondisi sebagai sarana mengenal Allah. Jika manusia tahu bahwa Allah adalah satu-satunya penyebab segalanya terjadi dan pemelihara segala sesuatu, “That Allah is the doers”, maka segala kekhawatiran atas segala sesuatu akan hilang. Ketika itu maka kedamaian akan masuk dan kesusahan sirna dari hati. Sibukkan diri kita hanya dalam amal nanti Allah akan datangkan keadaan-keadaan yang baik untuk kita. Hidupkan dakwah maka amal akan wujud dalam diri kita, kampung kita, tetangga kita, keluarga kita dan manusia seluruh alam.

Nabi SAW selalu mengajarkan keluarganya baik dalam keadaan senang ataupun susah untuk tawajjuh pada amal-amal Agama. Rasullullah SAW lebih senang melihat keluarganya dalam keadaan sabar dan tegar menghadapi kesusahan dibanding dalam keadaan senang yang bisa melalaikan mereka dari tawajjuh pada amal. Walaupun itu terhadap anak kesayangannya sendiri. Suatu ketika Nabi SAW datang kerumah anaknya ternyata Nabi SAW dapati bahwa Fatimah R.ha dan cucunya sudah 2 hari tidak makan. Namun ketika itu Nabi SAW tidak bereaksi dengan marah-marah karena kondisi mereka sehingga mencari Ali RA untuk minta pertanggung jawaban. Tetapi apa yang Nabi SAW nasehatkan kepada mereka adalah untuk bersabar, padahal ini adalah anak dan cucu kesayangannya yang sudah 2 hari tidak makan. Inilah yang Nabi SAW ajarkan kepada mereka yaitu untuk sabar, dan inilah yang disukai Nabi SAW yaitu ketika beliau SAW melihat keluarganya dapat sabar dan tegar menghadapi cobaan. Tidak pernah tercatat dalam riwayat manapun ketika Nabi SAW melihat kondisi keluarganya yang susah lalu memerintahkan Ali RA menantunya untuk mengejar dunia agar dapat merubah kondisi keluarganya yang susah. Sebaliknya Ali RA ketika itu melihat keluarganya belum makan 2 hari diapun segera pergi keluar rumah mencari rezeki Allah dengan kerja atau ikhtiar. Ali RA berhasil mendapatkan pekerjaan dari seorang yahudi dengan imbalan secukupnya. Namun secukupnya sahabat ini benar-bener cukup tidak kurang dan tidak lebih yaitu hanya 4 kurma : 1 untuk istrinya, 1 untuk hasan, 1 untuk hussein, dan 1 untuk dirinya sendiri. Walaupun ketika itu si yahudi menawarkan kerja tambahan atau lembur, dengan tambahan gaji yang lebih tinggi, Ali RA menolaknya dengan alasan bahwa apa yang dia telah terima telah mencukupi bagi keluarganya. Namun hari ini orang kerja lembur, “overtime”, berlebihan mengira bahwa dengan uang lebih dia akan bisa mendapatkan kebahagiaan dan masalahnya dapat terselesaikan. Inilah yang namanya menyelesaikan masalah sengan masalah, sehingga bukannya masalah selesai tapi bertambah. Asbab keyakinan yang seperti ini banyak orang yang terjebak dalam kondisi-kondisi yang menyulitkan mereka sendiri. Waktu dengan keluarga berkurang, kesehatan menurun, beban bertambah dan lain-lain. Sedangkan Ali RA lebih memilih merasa cukup apa adanya sehingga dia tidak terjebak dalam koindisi-kondisi seperti kita saat ini.

Rasullullah SAW hingga akhir hayatnya tidak pernah merasakan perut kenyang dan makanan yang mewah. Beliau SAW lebih memilih hidup untuk bersabar dalam kekurangan dan kesusahan, lalu bersyukur ketika tercukupkan. Makanan beliau saja yang di makan isehari-hari yang kadang-kadang ada dan kadang-kadang tidak adalah roti tepung gandum yang belum di tapis agak kasar, sehingga ketika memakannya memerlukan air untuk menelannya. Tetapi Nabi SAW tidak pernah mengeluh akan kehidupan yang dihadapinya. Bahkan beliau mampu menemukan kenikmatan dari kesusahan yang beliau lewati, salah satunya dengan menjadikan roti seperti itu menjadi roti kesukaannya yang dimakan dengan minyak zaitun. Sedangkan hari ini kita makan tidak pernah puas, padahal makanannya sudah terdiri dari berbagai macam jenis. Namun kita tidak penah peduli akan perbedaan kehidupan kita dengan kehidupan Nabi SAW. Apakah pantas kita mengakui cinta kepada Nabi SAW padahal Nabi SAW hidup dalam keadaan yang sangat terbatas, sementara kita hidup berlebih-lebihan, dan tidak ada sedikitpun kesedihan dihati kita melihat perbedaan ini. Sedangkan :

1. Umar bin Khattab RA saja jika melihat sajian makanan lebih dari 2 jenis makanan maka dia akan langsung meninggalkan jamuan makanan, tidak jadi makan.

2. Aisyah R.ha ketika dihidangkan makanan seperti daging ayam, ia bisa segera menangis, ingat akan Nabi SAW yang tidak pernah makan kenyang dan enak.

3. Abdurrahman bin Auf RA walaupun dia seorang pedagang yang kaya raya, namun ketika makanan mewah dan nikmat disajikan dihadapannya, maka dia akan menangis terisak-isak teringat kehidupannya bersama Nabi SAW dulu.

Sementara kita jika ada makanan mewah kita langsung melihat kesempatan, tanpa ada rasa takut dan risau bisa langsung menyantapnya tanpa pikir-pikir dahulu. Bahkan kalau kurang quantitas dan qualitasnya kita tidak sungkan-sungkan mengeluh. Didalam sebuah hadits dikatakan mahfum barang siapa yang kekurangan makan dan minum ketika di dunia maka Allah akan berbangga dengannya dihadapan para malaikat, seraya berfirman, ”Lihatlah Aku telah uji dia dengan kekurangan makanan dan minuman tetapi dia telah bersabar terhadapnya. Maka saksikanlah bahwa aku akan meninggikan derajatnya di surga mengikuti setiap suap yang dia kurangkan untuk dimakan.” Jadi nilai kesabaran inilah yang menyebabkan Nabi SAW lebih suka melihat keluarganya bersabar terhadap ujian dari Allah berupa kekurangan dan kelaparan walaupun itu terhadap putrinya sendiri. Daripada melihat mereka dalam kesenangan tetapi ganjaran yang Allah berikan kepada mereka tidak semaksimal ketika sabar dalam kesusahan. Dan kesabaran dalam kesusahan, yaitu dengan sehari lapar dan sehari cukup agar beliau SAW bisa sabar ketika tidak ada makanan dan bersyukur ketika cukup, inilah yang dipilih Nabi SAW ketika ditawarkan harta dunia oleh Allah Ta’ala. Nabi SAW bersabda dalam mahfum hadits, “Barangsiapa yang paling kenyang di dunia maka dia akan menjadi orang yang paling lapar di akherat, dan barangsiapa yang paling lapar di dunia naka ia akan menjadi orang yang paling kenyang di akherat.” Untuk mendapatkan kesiapan bersabar seperti Nabi SAW dalam segala kondisi, maka kita perlu latihan keluar di jalan Allah. Tidak bisa hanya dengan 3 hari, 40 hari, atau 4 bulan, tetapi dengan latihan yang terus menerus secara istiqomah sampai mati. Mesin mobil ini jika tidak dipanaskan maka dia akan rusak sehingga tidak bisa digunakan lagi. Begitu juga kesiapan kita, jika tidak dipanaskan atau dilatih maka nanti akan hilang dari diri kita. Tingkatkan pengorbanan, hanya dengan pengorbanan Allah akan beri kita keimanan untuk menghadapi segala ujian.

No comments:

Post a Comment