There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Saturday, May 29, 2010

Ujian Tiga Peristiwa

Proses mendapatkan iman dan amal shaleh tidak semudah membalik telapak tangan. Bukan dengan kesenangan dan kemewahan. Dari dulu, sekarang dan esok, iman hanya dapat diperoleh lewat “Mujahadah”.

Apa itu Mujahadah ? Kaji berdalil kata bermisal, mengambil contoh kepada yang sudah baik, mengambil tuah kepada yang menang, “Alam takambang menjadi guru”, kata pepatah Minang.

Isi jasmani kita tidak lain rohani yang semata datang dari Allah Swt. Rohani baru bisa diisi yang betul jika dihubungkan dengan al Quran dan Hadits. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan al Quran dan sesungguhnya Kami memeliharanya” (QS. Al Hijr:9)

Sayang, kebanyakan manusia hari ini, lebih mementingkan membaca koran dari pada al Quran. Mereka terpukau dengan ucapan-ucapan makhluk dan tidak terkesan kepada firman Allah Swt dan sabda Rasulullah saw. Salah satu penyebab rusaknya iman dan amal shaleh karena kita telah menjadikan perkara-perkara yang tidak penting menjadi penting.

Jika kita mau memilih benda, tentu kita akan pilih produk mutakhir atau modern. Tapi, jika kita hendak mendapat cara hidup yang benar, harus merujuk kepada cara awal yang dicontohkan Rasulullah saw dan sahabat r.anhum. Insya Allah kita akan berhasil mendapatkan sesuatu yang sangat penting, yaitu iman dan amal shaleh. Ketika terjadi peristiwa menyedihkan yaitu wafatnya Khadijah ra juga paman beliau yang membela kerja dakwah, Abu Thalib, berpulang menghadap Allah Swt. Kepergian kedua sosok ini benar-benar membuat luluh hati kekasih kita Muhammad saw. Tapi kerja dakwah sebagai perintah Allah tetap dilanjutkan.

Walau Baginda Rasulullah saw keturunan Quraisy Makkah, tapi dakwah yang diembannya tidak begitu disambut baik oleh orang-orang Makkah, bahkan ada yang memboikot dan ingin membunuh beliau. Baginda Nabi saw berpikir dan membuat rencana hendak pergi ke kampung halaman almarhum ayahnya, Abdullah, di kota Tha’if. Merupakan kota kedua terbesar di Hijaz.

Karena Tha’if merupakan kampung halaman tumpah darah neneknya dari nasab bapak. Rupanya, rencana Nabi saw tersebut tercium Abu Jahal, musuh bebuyutan Baginda Nabi. Abu Jahal cepat-cepat berangkat ke Tha’if dan menemui tokoh negeri itu serta membuat propaganda, “Akan datang ke negeri ini seseorang bernama Muhammad yang akan membawa agama baru dan akan menukar agama nenek moyang kita.” Abu Jahal tokoh kafir Quraisy itu menambahkan, “Jangan disambut kedatangannya dan usir mereka dari kampung ini.”

Setelah mendapat provokasi buruk dari Abu Jahal, maka orang Tha’if yang dikenal lemah lembut berubah menjadi beringas. Tahun ke-9 kenabianlah beliau di kota Tha’if mencoba menemui kaum Bani Tsaqif, agar menerima Islam yang beliau bawa.

Namun apa yang terjadi ? Mereka bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Nabi saw saja mereka tidak mau. Rasulullah saw diperlakukan kasar dan biadab, diusir, dilempari batu sehingga gigi beliau patah dan berlumuran darah. Dalam perjalanan pulang penuh penderitaan, beliau menjumpai suatu tempat berteduh yang agak aman dari kejaran Bani Tsaqif, lalu berdoa.

“Wahai Tuhanku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhanku Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku ? Kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusan aku. Tidak ada keberatan bagiku asal Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang mulia, menyinari langit dan segala yang gelap. Di atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat dari tertimpanya atas diriku kemarahan-Mu atau turunnya azab-Mu atas diriku. Kepada Engkaulah aku adukan keadaan sehingga Engkau ridha kepadaku, tidak ada daya upaya melainkan dengan Engkau.”

Tiga macam penderitaan yang sangat menyedihkan Baginda Rasul ini merupakan perjalanan hidup untuk mendapat kemuliaan tertinggi, yaitu Baginda Nabi dipanggil Allah Swt menghadap ke Sidratul Munthaha, di Arasy Allah, yang dikenal dengan ‘Isra’ dan Mi’raj’.

No comments:

Post a Comment