There was an error in this gadget

Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Saturday, May 29, 2010

Penderitaan Khabbab bin al Arat r.a

Khabbab adalah seorang sahabat Nabi yang tubuhnya penuh dengan keberkahan karena telah mengalami berbagai ujian dan cobaan. Ia orang kelima atau keenam yang memeluk Islam ketika Islam mulai berkembang, karena itu penderitaan yang dialaminya pun lebih lama. Ia pernah dipaksa mengenakan baju besi dan dibaringkan di atas pasir yang panas, sehingga kulitnya mengelupas terkena sinar matahari yang terik. Khabbab adalah hamba sahaya milik seorang perempuan. Ketika tuannya mengetahui ia sering mengunjungi Nabi saw, kepalanya diselar dengan besi panas yang merah menyala.

Ketika Umar ra menjadi khalifah, ia pernah bertanya kepada Khabbab mengenai penderitaannya pada awal ia memeluk Islam. Sebagai jawabannya ia memperlihatkan parut-parut luka di belakang badannya. Kata Umar ra, “Aku belum pernah melihat punggung manusia seperti ini.”

Melanjutkan ceritanya Khabbab mengatakan bahwa dia pernah diseret di atas timbunan bara api sehingga lemak dan darah yang mengalir dari badannya memadamkan bara api itu.

Ketika Islam telah menyebar di segala penjuru, Khabbab sering duduk menangis sambil berkata, “Nampaknya Allah sedang memberi ganjaran atas segala penderitaan yang telah kita alami. Mungkin di akhirat nanti tidak ada ganjaran lagi yang akan kita terima.”

Khabbab ra pernah bercerita: “Suatu hari Rasulullah saw menjadi imam dalam shalat kami, beliau mengerjakan shalat dengan begitu panjang. Setelah shalat kami bertanya tentang rakaat yang panjang tadi. Rasulullah saw menjawab, “Ini adalah shalat yang penuh harapan dan ketakutan. Saya telah mengajukan tiga permohonan kepada Allah. Dua diantaranya dikabulkan oleh-Nya. Aku berdoa, “Ya Allah, jangan umatku mati dalam keadaan lapar.” Permohonanku yang pertana ini kabulkan-Nya. Kemudian aku berdoa. “Janganlah umatku dibinasakan oleh musuh.” Permohonan kedua ini pun dikabulkan-Nya. Dan ketiga aku memohon kepada Allah, “Ya Allah, janganlah terjadi perpecahan dan perselisihan di antara umat-ku.” Tetapi permohonanku yang ketiga ini tidak dikabulkan-Nya.

Khabbab meninggal pada usia tiga puluh tujuh tahun. Ia adalah sahabat yang pertama kali dikuburkan di Kuffah. Pada suatu hari Ali bin Abi Thalib ra melewati makamnya, ia berdoa, “Ya Allah, rahmatilah Khabbab. Dengan Semangatnya ia telah memeluk Islam, dan dengan ikhlas ia menghabiskan waktunya untuk berhijrah, berjihad, dan mengalami segala penderitaan.

Berbahagialah orang yang senantiasa mengingat hari kiamat, yang senantiasa siap untuk menghadapi hisab di akhirat nanti, yang berpuas hati dengan hidup sederhana di dunia ini, dan perbuatannya mendatangkan keridhaan Allah.

Hikmah : Sesugguhnya keridhaan Alahlah yang menjadi tujuan utama perjuangan hidup para sahabat. Sehingga tidak ada suatu pekerjaanpun dilakukan selama hidup mereka kecuali semata-mata untuk mendatangkan keridhaan-Nya.

No comments:

Post a Comment