Pentingnya Saling Ingat Mengingatkan dan Menyampaikan

PENTINGNYA SALING MENGINGATKAN dan MENYAMPAIKAN...

waltakun minkum ummatun yad'uuna ilaa lkhayri waya/muruuna bilma'ruufi wayanhawna 'ani lmunkari waulaa-ika humu lmuflihuun

[3:104] Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar ; merekalah orang-orang yang beruntung.

qul haadzihi sabiilii ad'uu ilaallaahi 'alaa bashiiratin anaa wamani ittaba'anii wasubhaanallaahi wamaa anaa mina lmusyrikiin

[12:108] Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Saturday, August 21, 2010

TAFAKUR JIWA SEJENAK..... (Sangat Mampu Melembutkan Kerasnya Hati....)

oleh Vicky Robbieyanto Dua

Bismillah Nawaitu Lilahi Ta'ala ....

Mari Sejenak kita lepaskanlah segala hiruk-pikuk dunia....
Lupakanlah semua status, title, dan kedudukan kita saat ini...
Tundukkanlah wajah dan pejamkan mata...
Marilah kita menjelajah waktu, duapulu, tiga puluh, atau empat puluh tahun yang lalu sesaat sebelum kita dilahirkan..
Bayangkanlah seorang wanita yang sedang hamil tua, ya itulah ibu kita . Lelah, letih ibu mengandung selama sembilan bulan....

Dan sekarang, dia sedang meregang kesakitan..
Keringat dingin satu demi satu mulai berjatuhan..
Sekuat tenaga dia tahan untuk tidak berteriak..
Dia gigit bibirnya sekuat tenaga, namun apa daya
Sakit tak tertahankan, sehingga teriakan pun terlontar
Aduuhh.. sakiiit... Ya Allah.. sakiit..aaah..
Semenit, sepuluh menit, satu jam, dua jam, empat jam,
Tujuh jam lebih ibu meregang kesakitan, hingga akhirnya...
Tetes demi tetes darah mengalir....
Mata membeliak, ya seketika ibu bertarung antara hidup dan mati
Hingga akhirnya terlahirlah kita...
Kesakitan yang teramat sangat itu tidak dia hiraukan
Hanya senyum yang menyambut kelahiran kita....

Saudara-saudaraku sekalian.........
Kita lihat sosok wanita itu sekarang...
Kulitnya bertambah keriput, badan sakit-sakitan...
Rambutnya memutih...
Berjalan pun tertatih-tatih...
Itulah ibu kita...

Dimana kita sering meminta upah jika disuruh...
Seringkali kita membantah karena malas....
Menghitung-hitung jasa kita secara materi..
Namun apa jawaban wanita tua itu?

1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan:
GRATIS..

2) OngKos berjaga malam karena menjagamu:
GRATIS....

3) OngKos air mata yang menetes karenamu:
GRATIS...

4) Ongkos khawatir karena memikirkan keadaanmu:
GRATIS....

5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu:
GRATIS...

Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku:
GRATIS.....



Dan suatu saat nisan ibu akan terpancang..
Tak akan ada lagi panggilan merdu dari ibu....
Tak akan ada lagi tatapan sayang dari seorang ibu...
Tak ada lagi kesempatan kita berbakti di dunia...

Dan pada Ibumu, diciptakan bahunya,
agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.

Dan pada Ibumu,
diberikan kekuatan untuk dapat melahirkan dan mengeluarkan bayi dari rahimnya,
walau kerap berulangkali ia menerima cerca dari anaknya itu.

Diberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.

Dan pada Ibumu,
diberikan kesabaran untuk merawat keluarganya walau letih, walau sakit, walau lelah, tanpa berkeluh kesah.

Dan pada Ibumu,
diberikan perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak-anaknya itu melukai perasaan dan hatinya.

Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada bayi-bayi yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.

Saudara-saudara sekalian....

Marilah kita lihat seorang laki-laki di sebelah ibu kita
Ya.. itu ayah kita

Badan yang semula tegap, gagah ,
sekarang mulai membungkuk dimakan usia
Tangan yang semula kekar, kini sudah lemas
Tangan itulah yang selama ini berkerja keras untuk menghidupi kita,
membiayai sekolah kita, hingga mengantarkan kita pada posisi saat ini
Lelah tubuhnya dalam mencari sesuap nasi bagi kita

Takterhitung berapa tetes keringat yang telah ia keluarkan untuk kita
Tak terhitung energi yang yang telah ia keluarkan untuk kita, namun
Tak sekalipun ia mengharap balas budi dari kita

Lihatlah saudara-saudara, tangan yang dulu kokoh
Kini lemah di makan waktu
Jangankan untuk mengangkat beban berat
Untuk mengangkat tangannya sendiri saja gemetar
Namun tak pernah sekalipun dia mengeluh
Ditelannya sendiri kerapuhan badannya

Tertatih ketika berjalan, sesekali terjatuh kepayahan
Tapi dia tetap tegar, tabah,

Disaat yang sama, kita tidur di kasur empuk
Nyaman merasakan sehatnya badan, tertawa riang,

Cukup. Ketuklah sanubarimu sendiri

Lihatlah ayah dan ibumu sekarang
Sangat mungkin besok, satu jam, satu menit, atau saat ini
Kita tak bisa menyapanya lagi.....

Renungkanlah...... insya Allah tulisan ini sanga mampu melembutkan hati yg paling keras sekali pun....

Salam Sejati dalam Keridhaan-Nya

No comments:

Post a Comment